Acara Penobatan Pangeran Air

1050 Kata
KERAJAAN AIR Acara penobatan akan digelar beberapa menit lagi. Pangeran Air sudah bersiap. Ia tampak lebih tenang sekarang. Pria itu mengusap cincin yang tersemat di jari manisnya. Pikiran Pangeran Air tertuju pada gadis dari Kerajaan Api itu. Entah kenapa Pangeran Air terus memikirkannya. Apakah ia baik-baik saja? Itulah yang terus dipikirkan Pangeran Air. "Putraku, apa yang sedang engkau pikirkan?" tanya Permaisuri Delita menatap heran. Sejak tadi Pangeran Air hanya melamun. "Mohon ampun, Ibunda. Ananda tidak memikirkan apa-apa." "Apakah kau gugup, Putaku?" "Hanya sedikit, Ibunda." "Kau tak perlu khawatir. Semua pasti akan baik-baik saja." Mungkin Permaisuri Delita bisa berucap seperti itu, tetapi dalam hatinya sekarang sangat mengkhawatirkan Pangeran Air. Bagaimana nanti jika lambang istana laut malah terbakar olehnya? Semua orang pasti akan teekejut dan terheran. Permaisuri Delita belum siap itu terjadi, ia masih belum siap untuk berpisah dengan putra tampannya itu. Walaupun Permaisuri Delita sedikit kecewa, karena tak jadi bertemu dengan sang putri sekarang, tetapi Permaisuri Delita tak mempermasalahkan. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. "Bersiaplah, Putraku. Sebentar lagi ibunda akan menjemputmu. Ibunda pamit sebentar." "Baik, Ibunda." Permaisuri Delita memilih menemui Empu Eyang terlebih dahulu, agar pikirannya sedikit tenang. Setelah Permaisuri Delita keluar. Pangeran Air kembali memikirkan gadis itu. Sepertinya Putri Api sudah menyita isi pikiran Pangeran Air. "Mohon ampun, Pangeran. Apa yang sedang Pangeran pikirkan?" "Tidak ada." "Apakah Pangeran takut pada acara penobatan nanti?" "Tidak." "Apakah Pangeran takut tak bisa menyentuh lambang istana bawah laut?" "Tidak." "Apakah Pangeran merasa gugup?" "Tidak." "Apakah Pangeran memikirkan gadis Kerajaan Van Vuur?" "Ti--" Ucapan Pangeran Air terpotong. Mark jadi semakin yakin, jika Pangerannya itu sudah jatuh cinta. "Pangeran suka sama Putri Api?" "Tanyakanlah pertanyaan yang lebih bermutu, Mark!" tegas Pangeran Air. "Ini soal perasaan, Pangeran. Tentang rasa dan cinta juga diperlukan dalam kehidupan." "Mark berhentilah berbicara!" "Tidak bisa, Pangeran. Ham--" Mark langsung terdiam, karena takut melihat tatapan tajam Pangeran Air. Ia seakan ditelan hidup-hidup oleh pria dingin itu. Mark bergidik ngeri dibuatnya. *** "Bagaimana ini, Ayahanda? Apa yang harus kita lakukan?" Empu Eyang hanya terdiam tak tahu harus memberikan jawaban apa kepada Pernaisuri Delita. "Ayahanda juga tak tahu, Putriku Delita. Sekarang ada dua orang yang harus kupikirkan. Bagaimana pula Putri Api di sana yang akan melaksanakan penobatan." Empu Eyang dilandasi rasa dilema. Ia tak tahu harus memantau siapa dahulu. Tetapi Empu Eyang yakin, Putri Api pasti bisa mencari jalan keluarnya, karena gadis itu memiliki seribu satu cara untuk melakukan apa yang ia inginkan. "Pangeran Air tampak terlihat biasa saja, Ayahanda. Apakah dia sudah pasrah saja?" Permaisuri Delita menghela napas gusar. Kepalanya berdenyut pelan. "Acara akan dimulai!" "Mari ke istana bawah laut, acaranya akan segera dimulai." "Semuanya ayo ke istana bawah laut!" Panggilan dan sorak-sorai pengawal istana terdengar oleh Permaisuri Delita. "Beberapa saat lagi." "Sepertinya kita harus siap, Putriku Delita." "Benar, Ayahanda." "Ya sudah, panggilkan Pangeran Air dan bawa ia menuju tempat acara." "Baik, Ayahanda. Hamba akan memanggilkan Pangeran Air." Permaisuri Delita membungkukkan badan, lalu segera berlalu dari situ. "Aku harus siap," ucap Permaisuri Delita yang malah gugup. "Aku yakin, semua pasti akan baik-baik saja," ucapnya lagi menenangkan pikirannya. *** Pangeran Air berdiri kokoh di depan kamarnya dengan baju kebesarannya. Sebentar lagi ia akan disahkan menjadi Putra Mahkota. "Putraku, apakah kau sudah siap?" tanya Permaisuri Delita menghampiri putranya, lalu menggandeng tangan Pangeran Air. "Ananda siap, Ibunda." "Ibunda percaya padamu, Putraku. Lakukan yang terbaik!" "Terima kasih, Ibunda." "Ya sudah, yuk!" ajak Permaisuri Delita. Mereka langsung berjalan beriringan. Saat mereka berjalan bersama, semua pelayan dan prajurit membungkukkan badan menghormati. Banyak yang menyapa Pangeran Air, tetapi hanya diabaikan oleh pria itu. *** Acara Penobatan pun dimulai. Raja Dafta memulai membuka acara dengan kata penyambutan. Raja Dafta juga menyapa raja-raja yang hadir pada acara itu. Semua tampak ramai tak sabar menunggu Pangeran Air dinobatkan sebagai Putra Mahkota. Wina tersenyum bangga, karena ia bisa duduk paling depan, menyaksikan Pangeran Air. Ia juga memberitahu semua orang, jika dirinya akan bertunangan dengan Pangeran Air. Semua perkataan Wina hanya dianggap angin lalu oleh orang, karena omongan gadis itu tak bisa dipercaya. Lagi pula, mereka tahu, jika Pangeran Air sama sekali tidak tertarik pada Wina. Gadis itu saja yang selalu menarik perhatian Pangeran Air. "Pengucapan janji Kerajaan!" ucap pembawa acara mempersilakan Pangeran Air. Pemuda berwajah dingin itu langsung berdiri tegap dan menatap semua orang dengan tatapan tajam yang neyakinkan. "Saya Pangeran Dafta Van Water, berjanji untuk mengabdi pada Kerajaan sampai akhir hidup. Saya akan memajukan Kerajaan Van Water dengan kebijakan yang saya terapkan. Saya akan berdamai dengan seluruh kerajaan di daratan, karena saya membenci PERMUSUHAN!" Semua orang menatap takjub mendengar janji-janji yang diucapkan Pangeran Air. Akan tetapi Permaisuri Delita merasakan ada kejanggalan dalam janji tersebut. Membenci permusuhan? Apakah putranya itu sudah mau berdamai dengan Kerajaan Api? "Acara selanjutnya. Penobatan Putra Mahkota. Selamat menyaksikan. Kepada Pangeran Dafta dipersilakan maju dan kepada hadirin dipersilakan berdiri untuk menyaksikan." Pangeran Air menghela napas, lalu mengembuskannya pelan. Ia lalu mulai memusatkan pikiran, mengumpulkan semua kekuatannya. Sebuah cahaya tampak bersinar terang dari cincin yang dikenakan Pangeran Air. Pria itu tersenyum singkat dan semakin yakin. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia langsung menempelkan telapak tangannya pada titik sumbu lambang kerajaan itu. Gelembung-gelembung mulai bermunculan, sampai akhirnya tampak gelembung yang sangat besar dan air di sumbu itu berkeliaran liar sangat deras. Semua tamu undangan hanya bisa ternganga dan berdecak kagum. Mereka sangat terpukau oleh persembahan Pangeran Air. Tepuk tanga meriah langsung memenuhi tempat. Pada acara ini, hanya orang-orang dari kerajaan air yang lain saja yang bisa datang menyaksikan, karena rakyat biasa tak mungkin bisa bernapas di dasar laut seperti ini. Raja Dafta menatap bangga pada putranya. Ia langsung memasangkan mahkota kerajaan turun temurun yang akan dipakai oleh Pangeran Air mulai sekarang. "Ayahanda bangga padamu, Nak." "Terima kasih, Ayahanda." Pangeran Air beralih melangkah ke tempat Permaisuri Delita untuk dipasangkan jubah tanda kebesaran pangkatnya sekarang. Permaisuri Delita memasangkan jubah itu pada Pangeran Air. Ia mengusap bahu putranya itu pelan. "Selamat, Putraku." "Terima kasih, Ibunda." Pangeran Air membungkukkan badan dan Permaisuri Delita mencium kening putranya itu tanda kasih sayang seorang ibu. Dalam hati Permaisuri Delita dibuat penasaran. Bagaimana caranya Pangeran Air mendapatkan kekuatannya kembali? Bagaimana mungkin ia bisa menghidupkan gelembung yang sangat besar? Semua pertanyaan itu menghantui pikiran Permaisuri Delita. Ia akan menanyakan itu nanti. *** HAIII! JAM 00.49 aku selesai nulis ini. Semoga suka, ya, silakan muncul yuk di komentar. Makasih yang udah mau baca Salam, ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN