Setelah acara penobatan. Putri Api dan Pangeran Air sepakat untuk bertemu kembali di suatu tempat yang sudah mereka sepakati.
"Berhasil?" tanya Pangeran Air berjalan mendekati Putri Api. Gadis itu lalu menoleh menatap Pangeran Air.
"Berhasil. Kau bagaimana?"
"Ya, sama."
Pangeran Air lalu memilih duduk di samping Putri Api. Mereka berada di tepian pantai. Pantai ini adalah perbatasan wilayah Vuurland dan Land water. Maka dari itu, mereka memilih tempat ini yang adil bagi mereka.
"Apa yang kita lakukan sudah benar?" tanya Pangeran Air.
"Tidak tahu benar atau salah, yang pasti ini adalah yang terbaik. Kita terpaksa melakukannya demi kerajaan."
Pangeran Air mengangguk saja, setuju dengan ucapan Putri Api.
"Kau tahu, apa mimpiku semalam?" tanya Putri Api.
"Tentu tidak," jawab Pangeran Air yang membuat Putri Api mendengkus kesal.
"Aku bermimpi tengah memakai mahkota Kerajaan Van Water," ucap Putri Api. Namun, Pangeran Air masih menatap lurus ke depan tanpa melihat ke arah Putri Api.
Angin yang kencang menerpa muka mereka, menerbangkan rambut panjang Putri Api ke belakang.
"Aku juga bermimpi seperti itu," ucap Pangeran Air yang membuat Putri Api menoleh ke arahnya.
"Mimpi apa? Mimpi kau memakai mahkota Kerajaanku?"
"Bukan," bantah Pangeran Air cepat. Lagi, Putri Api mendengkus.
"Lalu, kau mimpi apa?"
"Mimpi melihat kau memakai mahkota," ucap Pangeran Air.
"Kau juga bermimpi yang sama dengan mimpiku? Bagaimana bisa?"
"Entah."
Kesal memang berbicara dengan Pangeran Air. Putri Api lalu mengambil ranting yang berserakan di sana lalu mengukir asalan di pasir itu.
"Aku bosan menjadi seorang putri," ucap Putri Api tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Aku tak bisa sebebas gadis desa yang hidupnya tidak diatur oleh kehidupan kerajaan. Aku ingin menikmati hidup seperti berkeliaran di pasar, bermain ke kebun sepuasnya, berenang di sungai, dan bebas melalukan apa saja."
"Kau tak pernah membayangkan, jika gadis desa itu ingin di posisi kau sekarang?"
Putri Api terdiam.
"Kau seorang putri, panutan rakyat, dihormati, hidup berkecukupan, tinggal makan dan tidur saja tanpa memikirkan bagaimana caranya mencari makanan hari ini untuk makan."
Putri Api tetap terdiam. Ia sedikit tercengang, karena Pangeran Air bisa berbicara sepanjang itu. Apa ia kesurupan?
"Manusia memang tak pernah merasa puas," ucap Pangeran Air menohok.
Segera Putri Api berjalan ke tepi pantai, membasahi kakinya dengan air ombak yang melaju ke bibir pantai.
Putri Api lalu mengambil air itu dan membasuh mukanya. Pangeran Air langsung menghampiri Putri Api. Apa yang sedang ia lakukan?
"Kau sedang apa?"
"Aku ingin membasuh omonganku tadi, sangat tidak bersyukur!" ucap Putri Api, lalu berkumur-kumur dengan air itu.
"Hei, tapi itu airnya kotor!" ucap Pangeran Air.
"Ah, tidak peduli!"
Pangeran Air lalu memutar tangannya dan mengarahkan telapak tangannya ke muka Putri Api. Siraman air langsung membasahi muka gadis itu dan air itu berasal dari Pangeran Air.
"Hei, apa ini!" ucap Putri Api, karena air itu tiba-tiba menyiramnya.
"Aku ingin membersihkan mukamu dengan air suciku, kau tak berpikir jika air laut itu kotor, tidak baik kena kulit."
Putri Api mengiyakan saja, ia menghampiri Pangeran Air.
"Terima kasih,"
"Untuk apa?"
"Ya untuk airnya, karena udah kasih air bersih," ucap Putri Api memperjelas.
"Ya."
"Aku ingin pulang!" ucap Putri Api, takut berlama-lama di sini, takut keluarganya khawatir dan panik mencarinya.
"Kenapa terburu-buru?" tanya Pangeran Air.
"Karena ... sudah tidak ada lagi yang dibicarakan. Aku pikir pertemuan kita sudah cukup kali ini."
"Apa kau tak ingin melihat matahari terbenam dahulu?" Pangeran Air lalu menunjuk matahari yang tampaknya akan segera turun.
Putri Api berpikir sebentar, lalu ia memutuskan untuk kembali duduk di sana. Pangeran Air ikut duduk di samping Putri Api.
"Apa yang kau takutkan di dunia ini?" tanya Pangeran Air.
"Kehilangan," jawab Putri Api.
"Kehilangan, apa?"
"Apa saja. Orang, benda, atau hewan yang pernah kutemui lalu hilang tak bisa bertemu lagi."
"Kau takut kehilangan siapa saja?" tanya Pangeran Air.
Ada apa dengan Pangeran Air? Kenapa ia menjadi kepo seperti ini? batin Putri Api. Laki-laki itu memang tak tertebak, tiba-tiba saja berubah.
"Kehilangan orang tuaku, Yaya, dan ... kau," ucap Putri Api yang membuat Pangeran Air terdiam. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Ada apa dengan jantungku? batin Pangeran Air.
"Kau takut kehilanganku?" tanya Pangeran Air.
"Ya, begitulah."
"Kenapa?"
"Kenapa, bagaimana?"
"Kenapa kau takut kehilanganku?"
"Ya--ya karena kau adalah orang yang pernah kutemui," ucap Putri Api gelagapan. Pangeran Air tersenyum kecil.
"Apa kau tak menyadari, jika ada Mark dan Yaya di ujung sana!" ucap Pangeran Air menunjuk dua sejoli yang tampak sedang bercanda gurau di ujung sana. Tampaknya dua insan itu tak menyadari adanya Putri Api dan Pangeran Air di sini.
"Sejak kapan mereka ada di sana!" ucap Putri Api terkejut.
"Aku rasa, sejak tadi."
"Kira-kira mereka ngapain di sana!"
"Entahlah."
Di balik itu, Yaya dan Mark sedang asyik berduaan. Mereka tak sengaja bertemu di sini.
Awalnya Yaya melihat Putri Api yang tampak ingin kabur dari acara. Ia pun akhirnya memilih mengikuti sang tuan putri secara diam-diam. Ternyata Putri Api ke sini bertemu dengan Pangeran Air.
Namun, hal serupa juga terjadi pada Mark. Ia sengaja mengikuti sang pangeran diam-diam sampailah ia di sini. Mark tak sengaja melihat Yaya yang sedang bersembunyi, Mark yang tak ingin ketahuan oleh Pangeran Air pun akhirnya menghampiri Yaya saja.
"Jadi, kau suka makan apa?" tanya Yaya, karena sejak tadi pertanyaan itu tak dijawab oleh Mark. Ia hanya mengatakan semua makanan yang enak.
"Aku suka semua," jawab Mark lagi.
"Padahal, jika kau menyebutkan satu nama makanan saja, maka aku akan memasakkannya untuk kau suatu hari nanti, tapi kau tak mau memberitahuku."
"Aduh, Nona manis. Aku suka makan apa saja apalagi yang masakin itu kau, Nona. Pasti akan terasa lebih nikmat," ucap Mark.
"Tidak. Kau harus menyebutkan satu."
"Aku suka ...."
"Suka apa?"
"Eum ... aku suka ...."
"Ah, lama."
"Aku suka ... kamu," ucap Mark segera memalingkan mukanya, karena malu. Ia tak berani menatap Yaya.
Gadis itu langsung tersipu, pipinta merah merona dan tangannya langsung memainkan rambutnya yang terkucir.
"KALIAN SEDANG APA?" tanya sebuah suara serentak yang membuat Yaya dan Mark terkejut bukan main. Lebih parahnya lagi yang bertanya itu adalah Putri Api dan Pangeran Air.
"Kalian kok bisa ada di sini?" tanya Putri Api menatap Yaya dan Mark yang tampak gerogi.
"Aku hanya tanya, kalian lagi apa, bukan menghakimi, jadi tak usah takut," ucap Putri Api meyakinkan.
"HAYYO, LAGI APA?" teriak Putri Api malah menggelitiki Yaya membuat gadis itu tertawa. Setelah itu, Putri Api lari dan dikejar oleh Yaya. Mereka berlarian di bibir pantai asyik kejar-kejaran.
Sedangkan Mark dan Pangeran Air hanya berdiri mematung pada posisi tadi.
"Kenapa?" tanya Pangeran Air karena Mark menatapnya lain.
"Pangeran tidak mau main kejar-kejaran juga kan sama saya?" tanya Mark serius.
"Tidak," jawab Pangeran Air singkat dan lugas.
Saat Pangeran Air berbalik, tiba-tiba Putri Api menabraknya yang membuat gerakan refleks terjadi. Pangeran Air menangkap badan Putri Api yang hampir terjatuh.
Bola mata mereka saling menatap satu sama lain. Aksi tatap-tatapan berlangsung sedikit lama yang membuat Yaya dan Mark tersenyum senag dan menggoda mereka.
"Cieee ... cieee."
Segera Pangeran Air membantu Putri Api berdiri dan mereka berdua salah tingkah.
"Sudah, semuanya ayo pulang!" suruh Pangeran Air mencoba mengalihkan perhatian.
Sedangkan Putri Api diam-diam tersenyum dengan rona malu di pipinya.
Apakah ini pertanda ia sudah menaruh hati?
***
BERSAMBUNG
***
HALLO SEMUA. Terima kasih yang udah mau baca, yuk baca next chapternya ya. Jangan lupa like da komennya ya. Terima kasih semua. Semoga suka. Maaf jika tidak sesuai ekspetasi kalian hehe.
Salam hangat,
~Amalia Ulan