Di Balik Penobatan

867 Kata
KERAJAAN AIR Permaisuri Delita sudah tidak tahan lagi. Ia sangat penasaran dan ingin mencari jawaban. Wanita itu mencari-cari ke mana perginya Pangeran Air setelah acara penobatan tadi. Ia tak lagi menemukan pria itu di istana laut. "Mohon ampun, Yang Mulia. Hamba melihat Pangeran Air berada di kamarnya," ucap seorang pengawal kerajaan. Peemaisuri Delita mengangguk singkat. Ia langsung menuju kamar putranya itu. Setelah sampai. Permaisuri Delita langsung masuk ke kamar Pangeran Air. "Ternyata kau di sini. Ibunda penat mencari kau ke mana-mana." "Ampunkan ananda, Ibunda." "Ya. Tidak masalah, Putraku." "Lantas, ada apa Ibunda kemari?" tanya Pangeran Air. "Ibunda mau menanyakan sesuatu padamu. Apakah diizinlan?" "Tentunya, Ibunda." Permaisuri Delita menarik napas sebentar, lalu mengusap bahu Pangeran Air pelan. "Bukankah kekuatan air kau sudah tiada?" tanya Permaisuri Delita yang membuat Pangeran Air menegang. "Da--darimana Ibunda tahu?" "Ibunda tahu apa yang terjadi padamu, Putraku. Terbukalah pada Ibunda. Apa yang sebenarnya terjadi?" "Tidak ada, Ibunda." "Ibunda bilang terbukalah, Putraku." Pangeran Air hanya diam membisu. Ia tak ingin menceritakan perihal ini kepada siapa pun, tetapi ia juga tak bisa menutupi ini pada Ibundanya. Apakah Pangeran Air akan menceritakan semuanya? "Ehm ... semuanya berkat cincin ini, Ibunda," ucap Pangeran Air memperlihatkan cincin yang melekat di jari manisnya. "Cincin apa itu?" tanya Permaisuri Delita heran. "Aku menemukan cincin ini di dalam kotak." "Kotak apa yang kau maksud?" "Kotak yang diberikan Empu Eyang padaku, Ibunda." Permaisuri Delita mengerurkan keningnya. Apa hubungannya dengan cincin dan kekuatan Pangeran Air? Ia masih dilanda kebingungan. "Putraku, berceritalah dengan jelas." "Mohon ampun, Ibunda." Pangeran Air membungkukkan badannya, mengakui kesalahan yang ia perbuat, terlalu bertele-tele dalam berbicara. Pangeran Air bangkit, lalu mengambil sebuah kotak yang terletak di dalam lemarinya. Pangeran Air lalu membawa kotak itu duduk di dekat Permaisuri Delita. "Sebenarnya, kotak ini tidak bisa dibuka, Ibunda. Ananda mencoba membuka kotak ini dengan kalung yang diberikan Empu Eyang, tetapi tidak ada kecocokan sama sekali. Kalung yang ananda pakai juga tidak bersinar, sebagaimana kata Empu Eyany, jika kalung itu berada pada pemiliknya, maka kalung itu akan bercahaya." Permaisuri Delita hanya mengangguk, senantiasa mendengarkan putranya itu bercerita. Permaisuri Delita tak ingin menyela, biarlah Pangeran Air menyelesaikan terlebih dahulu ucapannya. "Ananda bertemu dengan seorang gadis yang merupakan Putri Kerajaan Van Vuur, Ibunda." Permaisuri Delita langsung tersenyum, ia yakin jika gadis itu adalah putri kandungnya. "Lalu?" tanya Permaisuri Delita makin penasaran. "Ananda disuruh menjaga dia, karena kami berdua ditempatkan di wilayah yang jauh dari istana." "Namanya siapa?" "Princess Pricilia Xeory Van Viur," jawab Pangeran Air lengkap. Dalam hati perasaan Permaisuri Delita menghangat mendengar nama itu disebutkan, seakan jiwa seorang ibu-nya langsung merespons begitu saja. "Lalu apa hubungannya, Putraku?" "Dia juga mempunyai kotak yang sama denganku, Ibunda. Bahkan dia juga memiliki kalung sama sepertiku." "Lalu?" "Ananda baru menyadari, jika lambang yang ada di kalung ananda adalah simbol Kerajaan Van Vuur." Jantung Permaisuri Delita langsung berdegup kencang. "Lalu, bagaimana?" "Ananda akhirnya sepakat menukar kalung kami untuk mencoba membuka kotak itu. Akhirnya, kotak itu terbuka memakai kalung yang kami tukarkan." "Isi kotak itu adalah sebuah cincin. Aku mendapatkan cincin berwarna merah, sedangkan Pricil mendapatkan warna biru. Ananda berinisiatif mencoba memakai cincin itu, tetapi malah api yang bermunculan dari tubuhku." Permaisuri Delita tercengang bukan main. Sayang sekali ia tak bisa melihat langsung. Permaisuri Delita beralih menatap ke jari manis Pangeran Air, di sana tersemat cincin bewarna biru tua. "Lalu, kenapa kau memakai cincin bewarna biru?" tanya Permaisuri Delita heran. "Kami sepakat menukar cincin kami, karena mungkin saja cincin yang ada di kotak itu tertukar." Permaisuri Delita melongo tak percaya mendengar ucapan anaknya. Apakah Pangeran Air dan Putri Api tidak sadar, jika diri merekalah yang sebenarnya tertukar. Sebenarnya hanya kalung yang mereka tukar, agar kota itu bisa terbuka, tetapi malah bersama cincinnya sekaligus yang mereka tukar. "Lalu, cincin kau sekarang berada pada gadis itu?" tanya Permaisuri Delita. "Iya, Ibunda. Gadis itu juga kehilangan kekuatannya. Mungkin ini petunjuk dari Empu Eyang, agar kami bisa mendapatkan kekuatan kembali melalui cincin ini." "Setelah ini, kau harus tukar kembali cincin itu!" suruh Permaisuri Delita. "Kenapa, Ibunda? Bukankah cincin ini memang milikku? Kekuatan dari cincin ini adalah air, sama sepertiku." "Cincib itu akan membuat api kau padam!" ucap sebuah suara yang muncul tiba-tiba. Pangeran Air dan Permaisuri Delita lantas langsung bangkit membungkukkan badan menghormati Sang Empu Eyang. "Salam hamba, Yang Terhormat Empu Eyang," salam Permaisuri Delita dan Pangeran Air bersamaan. "Kenapa kau tukar cincin itu?" "Ampunkan hamba, Yang Terhormat Empu Eyang. Hamba hanya ingin kekuatan air hamba kembali," jawab Pangeran Air. Walaupun tindakan Pangeran Air dan Putri Api salah, tetapi kesalahan mereka telah menyelamatkan diri mereka sendiri. Empu Eyang bangga dengan kepintaran mereka mencari jalan keluar. "Setelah ini kau harus tukar kembali cincin itu, Pangeran Air!" tegas Empu Eyang. "Baik, Empu Eyang." Sebenarnya Pangeran Air heran, apa tujuan Empu Eyang? Apa alasannya? Kenapa dirinya harus kembali menukar cincin itu? Sedangkan cincin merah yang ia dapatkan adalah menunjang kekuatan api. *** Hallo, Guys! Maaf ya segini dulu, in sya Allah besok akan dipanjangin lagi chapternya. Semoga masih ada yang nungguin cerita ini hehe. Aku ngebut bikinnya di sekolah sebelum bel wkwkwk. Bagi yang baca sampe part ini, kasih komentarnya dong, sarannya untuk aku. Aku sangat membutuhkan saran dari kalian, jangan sungkan untuk memberikan kritiknya ya. Terima kasih semuanya. Salam kenal, ya ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN