Sebenarnya Pangeran Air heran, apa tujuan Empu Eyang? Apa alasannya? Kenapa dirinya harus kembali menukar cincin itu? Sedangkan cincin merah yang ia dapatkan adalah menunjang kekuatan api.
Pangeran Air lantas pamit undur diri.
Empe Eyang menatap Permaisuri Delita. Ia lalu berkata, "harusnya putramu tak menukar cincin itu. Dia sama sekali tidak mengerti hal tersirat yang kusampaikan melalui kotak itu."
"Mohon ampun, Ayahanda. Mungkin Pangeran Air terlalu sulit mencerna maksud, Ayahanda, karena perihal ini memang sangat sulit dipahami. Dia pasti tak akan menyangka jika dia adalah bayi yang ditukar."
"Hmm ya. Kau benar, Putriku Delita. Sekarang, kita harus pelan-pelan memberitahunya, bagaimana pun caranya itu."
"Baik, Ayahanda."
***
Pangeran Air menemui Mark, ia butuh solusi dari teman sekaligus pengawal pribadinya itu.
Pangeran Air menemukan Mark yang sedang asyik memperhatikan wadah kaca yang berisikan ikan emas.
"Sejak kapan kau mempunyai peliharaan?" tanya Pangeran Air tiba-tiba yang membuat Mark terkejut.
"Ampun, Pangeran. Kehadiran Pangeran tiba-tiba membuat hamba terkejut. Pangeran sekarang suka membuat jantung hamba ketar-ketir."
Pangeran Air mendengkus pelan. Mark selalu saja seperti itu.
"Ada apa, Pangeran?" tanya Mark, mengetahui apa maksud Pangeran Kerajaan Van Water itu menemuinya. Pasti ada yang ingin disampaikan.
"Tidak ada."
Mark tidak yakin jika Pangeran Air datang menghampirinya tanpa adanya sesuatu yang ingin ia bicarakan.
"Ikan kau kurus sekali, apa tidak kau kasih makan?" ucap Pangeran Air yang membuat Mark menghela napas. Datang-datang menghina ikannya saja, batin Mark.
"Ikannya masih kecil, Pangeran. Lagi pula, Pangeran juga tidak gemuk, bukan?" balas Mark tak terima ikannya diejek seperti itu.
"Dari mana kau mendapatkan ikan ini?" tanya Pangeran Air, sengaja berbasa-basi terlebih dahulu.
"Teman hamba yang memberikannya, Pangeran. Emangnya Pangeran juga mau? Nanti hamba mintakan kembali pada teman hamba."
"Tidak usah, terima kasih." Pangeran Air lalu berdeham pelan. Sejak tadi Mark menantikan Pangeran Air mengutarakan maksudnya, tetapi pangerannya itu belum juga memulai perkataannya.
"Mark," panggil Pangeran Air.
"Iya, hamba, Pangeran. Ada yang bisa hamba bantu, Pangeran?"
"Menurut kau, cincin ini cocok tidak untukku?" tanya Pangeran Air memperlihatkan cincin yang tersemat di jarinya.
"Cocok sekali, Pangeran."
"Tapi, kenapa Empu Eyang malah menyuruhku menukar cincin ini."
"Menukarnya dengan apa, Pangeran?"
"Dengan cincin seseorang."
"Siapa yang Pangeran maksud?"
"Kau tak perlu tahu. Menurutmu bagaimana? Apa aku harus menukarnya kembali?"
"Menurut hamba, jika itu yang diperintahkan oleh Yang Terhormat Empu Euang, maka lakukanlah, Pangeran, karena pasti itu yang terbaik untuk Pangeran."
"Hm, ya. Kau benar. Baiklah, Mark. Terima kasih pendapatnya. Tumben sekali kau bijak."
"Pangeran hamba bukannya bodoh selama ini, tapi kurang pintar saja."
"Makanya jangan main sama ikan," ucap Pangeran Air. Mark pun menghela napas pelan.
"Kok malah ikan hamba yang disalahkan, Pangeran?"
Pangeran mengabaikan saja apa kata Mark. Menurutnya pendapat Mark benar, ia harus menuruti perintah Empu Eyang.
***
Setelah pulang dari pantai tadi, Putri Api sudah kembali ke kamarnya, tetapi Yaya selalu mengawasinya.
"Duh, Yaya. Kau tak perlu menjagaku, aku tak-kan ke mana-mana lagi," ucap Putri Api.
"Tapi sudah menjadi tugas hamba, Tuan Putri."
"Aku ini Putri Van Vuur, aku juga bisa menjaga diriku sendiri. Jangan berlebihan," kesal Putri Api.
"Tapi hamba hanya menuruti perintah dari Yang Mulia, Tuan Putri."
"Huft, sudahlah."
Putri Api diam saja. Sebenarnya ia tadi hendak pergi ke istana Pangeran Air. Entah kenapa seperti ada tarikan saja ia ingin ke sana. Namun, bagaimana caranya mengecoh Yaya? Sedangkan gadis itu selalu menemaninya.
Putri Api pun memikirkan bagaimana caranya agar keluar istana tanpa sepengatahuan ayahanda dan ibundanya dan juga, mengecoh Yaya.
Putri Api pun berpura-pura memejamkan mata, ia hendak tidur, agar Yaya juga tidur.
Putri Api tahu, jika Yaya sangat mudah terlelap jika sudah terkena bantal.
"Ya sudah, aku tak akan ke mana-mana. Aku sudah mengantuk. Ayo kita tidur bersama," ajak Putri Api meyakinkan Yaya.
"Nah, benar, Tuan Putri. Lebih baik kita tidur saja. Pasti Tuan Putri lelah sekali."
"Iya. Ya udah, ayo!"
Sangat mudah bukan? Tak lama kemudian dengkuran halus terdengar. Yaya sudah terlelap. Akhirnya!
Putri Api pun dengan hati-hati turun ranjang, jangan sampai ia mengusik tidurnya Yaya.
Putri Api berhasil keluar dari kamarnya. Namun, masih ada lagi halangannya, yaitu pelayan yang berada di luar sana. Ah, pelayan itu pasti bisa Putri Api atasi.
***
Hai semua. Maaf pendek, ya. Sampai di sini dulu hehe. Semoga masih suka, ya. Baca terus kelanjutannya. See you next chapter
Thank you all.
Salam hangat,
~Amalia Ulan