Pelukan Hangat

834 Kata
Putri Api berjalan ke luar istana. Ia berniat untuk pergi ke Kerajaan Air menemui Pangeran Air. Putri Api penasaran, apakah penobatan pria itu berjalan lancar? "Ampun, Tuan Putri. Ke mana Tuan Putri akan pergi? Izinkan hamba mengantarkan Tuan Putri." "Tidak usah. Aku bisa sendiri." "Tetapi, sudah menjadi tugas hamba untuk mengantarkan Tuan Putri." "Aku tak perlu diantarkan olehmu. Aku hanya keluar sebentar. Sudahlah, jangan banyak bicara, aku buru-buru." Putri Api akhirnya membuka gerbang itu sendiri. Ia paling tak suka basa-basi. Putri Api menaiki kereta yang akan mengantarkannya ke ujung daratan Vuurland. Setelah itu, ia akan berjalan sendiri ke wilayah Land Water. Putri Api merasakan ia akan bertemu orang penting di sana. Bukan bertemu Pangeran Air, tetapi orang yang Putri Api yakini sangat dekat dengannya. Namun, siapa? Kenapa seolah ada magnet yang menarik dirinya untuk ke sana? "Semoga dia tak terkejut dengan kedatanganku." *** KERAJAAN AIR "Istriku Delita, apa yang sedang kau pikirkan?" Permaisuri Delita tersentak mendengar suara Raja Dafnas yang berada di belakangnya. Segera ia menoleh, menatap suaminnya itu. "Tidak ada, Yang Mulia." "Hanya ada kita di sini, kau jangan sungkan untuk bercerita." "Tidak ada hal yang perlu aku ceritakan." Raja Dafnas mengusap bahu istrinya pelan. Ia menatap mata Permaisuri Delita yang tampak lesu. "Kau kenapa? Ceritakan sajalah padaku." Raja Dafnas tidak akan tahu, apa yang dipikirkan oleh istrinya iti, karena Wanita itu sudah menutupi pikirannya agar orang tak mengerahui isi pikiranya. Prrmaisuri Delita memikirkan bayi yang tujuh belas tahun berada di gendongannya. Jujur, Permaisuri Delita sangat merindukan putrinya itu. Harapan sekarang bisa bertemu, pupus sudah, karena Putri Api ada acara pula di Kerajaan Api. "Apakah kau sakit, Istriku Delita?" tanya Rqja Dafnas berulang kali. "Tidak, Yang Mulia. Hamba baik-baik saja." "Lantas, mengapa kau selalu melamun?" "Ampun, Yang Mulia. Bolehkah, tinggalkan hamba sendirian di sini? Hamba benar-benar butuh waktu untuk sendiri." "Baiklah. Aku tahu, kau pasti punya masalah." Raja Dafta lebih baik mengalah saja, daripada kena amukkan istrinya itu. Pria bersatus Raja du Kerajaan Van Water itu pamit undur diri. "Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, Putriku Delita." Refles, wanita itu mengeluarkan air matanya. "Sebentar lagi kau pasti akan bertemu dengannya." "Tapi sampai kapan Ayahanda? "Bersabarlah, Putriku Delita. Kelak, kau akan bertemu dengannya. "Mohon Ampun, Yang Mulia dan Yang Terhormat Empu Eyang," ucap pengawal yang datang tuk memberi kabar. "Ada apa?" tanya Empu Eyang, sedangkan Permaisuri Delita menghapus jejak air matanya. "Ada seorang gadis yang memaksa masuk ke istana, Yang Mulia. Kami sudah melarang, tetapi tamunya tetap bersikeras." "Apa tujuannya kemari?" tanya Raja Dafta. "Lalu, siapa gadis itu? Rakyat biasa atau siapa?" "Sepertinya rakyat biasa, Yang Mulia. Hamba lihat pakaiannya seperti gadis desa. Dia mengaku teman sekolahnya Pangeran Air dan ingin bertemu Pangeran Air, Yang Mulia." Alis permaisuri Delita berkerut. Siapa gadis itu? Kenapa dia mencari putranya? Lalu, dia bilang jika dia adalah temannya Pangeran Air? Satu pikiran Permaisuri Delita yang langsung terbesit di benaknya, tetapi itu tak mungkin. "Menurut kau siapa?" tanya Empu Eyang. "Menururku dia adalah ...." Tatapan penuh kerinduan Permaisuri berubah cerah. Ia tersenyum lebar, walau kemungkinan firasatnya belum yakin 100 jika yang datang adalah putrinya. *** "Heh, botak! Sudah kubilang. Kau tak perlu mengawasiku seperti ini. Aku adalah teman Pangeran kau di sini." "Sudahlah, mending tarik paksa aja keluar." Baru saja tangan gadis itu disentuh, dua prajurit itu langsung membeku di tempat. "Makanya, gak usah kepo!" ucap Putri Api terkekeh pelan. "Bekunya hanya sementara kok. Nantu juga mencair sendiri." "Untung saja bukan aku bekukan permanen kalian!" ucap Putri Api masih bermonolog. Namun, setelah itu Putri Api heran, kenapa kekuatan airnya semakin kuat. Seolah kekuatan airnya melekat padanya di sini. Oh apa mungkin karena ia berada di Kwrajaan air. "Siapa di sana?" tanya sebuah suara yang membuat Putri Api terkejut bukan main. Ia langsung menoleh ke belakang. Seorang wanita cantik berparas anggun, memakai baju kebesaran kerajaan berjalan menghampirinya. Entah kenapa melihat wanita itu membuat perasaan Putri Api menghangat. "Hamba Pricil, Yang Mulia." Putri Api membungkukkan badan. Bagaimanapun juga ia tetap harus bersikap sopan, karena ini kerajaan orang. Degh. Pricil? Jantung Permaisuri Delita langsung berguncang hebat. Air matanya langsung menetes begitu saja membuat aliran sungai di pipinya. Wanita itu masih tidak percaya jika gadis yang ada di hadapannya sekarang adalah putrinya yang berpisah dengannya selama tujuh belas tahun silam. "Putriku ...." Ingin sekali Permaisuri Delita meneriakkan kata iu, tetapi sekarang bukanlah waktu yang tepat. Permaisuri Delita sudah tak tahan. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendekati Putri Api, lalu menghambur memeluk gadis itu yang membuat Putri Api tercengang. Kenapa wanita itu memeluknya? Jujur, Putri Api merasakan kehangatan seperti pelukan dari seorang Ibu. Akhirnya, tangan Putri Api ikut membalas pelukan itu. "Putriku," bisik Permaisuri Delita pelan, sangat pelan, hingga tak bisa tersengar oleh siapa pun. Sungguh, Permaisuri Delita sudah sangat merindukan putrinya itu. "Maaf, Yang Mulia. Anda kenapa memeluk saya?" tanya Putri Api heran. "Karena kau adalah ...." Putri Api senantiasa menunggu jawaban wanita itu. "Adalah ...." **** Hallo sampai sini dulu, ya. Buat ini ngantuk banget guys. Maaf jika typo berantakan. Terima kasih bagi yang udah mau baca. Love you. Salam hangat ya, ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN