"Siapa di sana?" tanya sebuah suara yang membuat Putri Api terkejut bukan main. Ia langsung menoleh ke belakang.
Seorang wanita cantik berparas anggun, memakai baju kebesaran kerajaan berjalan menghampirinya. Entah kenapa melihat wanita itu membuat perasaan Putri Api menghangat.
"Hamba Pricil, Yang Mulia." Putri Api membungkukkan badan. Bagaimanapun juga ia tetap harus bersikap sopan, karena ini kerajaan orang.
Degh.
Pricil?
Jantung Permaisuri Delita langsung berguncang hebat. Air matanya langsung menetes begitu saja membuat aliran sungai di pipinya. Wanita itu masih tidak percaya jika gadis yang ada di hadapannya sekarang adalah putrinya yang berpisah dengannya selama tujuh belas tahun silam.
"Putriku ...." Ingin sekali Permaisuri Delita meneriakkan kata iu, tetapi sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Permaisuri Delita sudah tak tahan. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendekati Putri Api, lalu menghambur memeluk gadis itu yang membuat Putri Api tercengang.
Kenapa wanita itu memeluknya?
Jujur, Putri Api merasakan kehangatan seperti pelukan dari seorang Ibu. Akhirnya, tangan Putri Api ikut membalas pelukan itu.
"Putriku," bisik Permaisuri Delita pelan, sangat pelan, hingga tak bisa terdengar oleh siapa pun. Sungguh, Permaisuri Delita sudah sangat merindukan putrinya itu.
"Maaf, Yang Mulia. Kenapa Anda memeluk saya?" tanya Putri Api heran.
"Karena kau adalah ...."
Putri Api senantiasa menunggu jawaban wanita itu.
"Adalah ...."
"IBUNDA." Sebuah suara memanggil Permaisuri Delita yang membuat kedua wanita itu menoleh.
Pangeran Air terkejut melihat Putri Api berada di istananya sekarang. Lalu, mengapa ia bersama Permaisuri Delita?
"K-au? Kau mau apa kemari?" tanya Pangeran Air heran.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, Pangeran," ucap Putri Api jujur.
"Untuk apa?"
"Putraku, hendaknya kau menyuruh temanmu ini masuk. Ayo, Nak! Kita makan bersama," ajak Permaisuri Delita.
"Tidak us--"
"Baik, Yang Mulia. Kebetulan saya memang belum makan," sahut Putri Api memotong ucapan Pangeran Air.
"Ya sudah. Ayo, Nak!"
Permaisuri Delita menarik Putri Api dan Pangeran Air menuju ruang perjamuan tamu di istana.
Putri Api tersenyum singkat, tetapi sejak tadi kenapa ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya?
***
Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Putri Api, ketika makan bersama di ruang perjamuan tamu istana. Bagaimana tidak? Di sana ada Raja Dafnas yang ikut makan bersamanya. Jantung Putri Api berdegup kencang saat Raja Dafnas menatap ke arahnya. Bagaimana jika Raja Dafnas tahu, siapa dirinya yang sebenarnya? Putri Api tak bisa membayangkan, pastinya ia akan habis di tangan Raja Dafnas.
"Kau tinggal di mana?" tanya Raja Dafnas menatap Putri Api. Gadis itu langsung menunduk, tak berani menatap mata pria paruh baya itu langsung.
"Di ...." Putri Api menatap ke arah Pangeran Air meminta bantuan. Tidak mungkin ia mengatakan sejujurnya, sudah pasti Putri Api akan diusir secara tidak hormat jika Raja Dafnas tahu, ia berasal dari Negeri Vuurland.
"Dia dari Negeri Bumitan, Ayahanda. Teman sekelasku di sekolah," jawab Pangeran Air.
Permaisuri Delita tadinya juga takut mendengar pertanyaan suaminya. Untung saja Pangeran Air ikut membantu.
"Oh. Apakah kau pertama kali datang ke sini?" tanya Raja Dafnas lagi.
"Iya, Ayahanda."
Semuanya terkejut, karena Putri Api tak sengaja menyebut Ayahanda. Putri Api juga baru menyadari jika ia salah.
"Ma--maaf. Mak--maksud saya, Yang Mulia."
Entah kenapa, bukannya marah. Raja Dafnas merasakan perasaannya menghangat mendengat gadis itu memanggilnya Ayahanda.
"Sekali lagi, ampunkan hamba, Yang Mulia."
"Tak masalah," jawab Raja Dafnas.
"Ya sudah. Silakan dilanjutkan makannya," suruh Raja Dafnas yang diangguki oleh Putri Api, "baik, Yang Mulia."
Permaisuri Delita tersenyum menatap putrinya itu makan di hadapannya sekarang. Baru kali ini Permaisuri Delita bisa melihat bagaimana putrinya itu sedang makan. Hatinya menghangat, rindunya terlepaskan. Tinggal menunggu Putri Api tinggal di sini, menjadi Putri Air.
"Cepat habiskan makananmu!" suruh Pangeran Air berbisik pelan.
"Iya-iya. Sabarlah!" dengkus Putri Api.
Pangeran Air mengkhawatirkan gadis itu ketahuan. Ia tak ingin itu terjadi. Bisa-bisa ia juga mendapatkan hukuman.
"Cepat," bisik Pangeran Air tak sabaran.
"Sabar!"
"Ayo, tinggal sedikit lagi."
"Kau bisa bersabar, kan?!"
Putri Api mendengkus kesal, karena pria itu menggegasnya seperti sekarang.
****
"Apa tujuan kau kemari?" tanya Pangeran Air.
Kini, Putri Api diajak ke taman istana oleh Pangeran Air. Mata Putri Api menatap sekeliling yang sangat sejuk dipandang. Ia jadi betah di sini lama-lama.
"Hei? Kau mendengarkanku tidak?" tanya Pangeran Air gemas sendiri.
"Eh, kenapa?" tanya Putri Api yang memang tak mendengarkan tadi.
"Tidak jadi."
"Hih, kenapa kau malah merajuk? Sudah seperti gadis saja."
"Aku tanyakan sekali lagi. Pasang telingamu untuk mendengar!"
"Baik, Tuan Pangeran."
"Panggil aku Dafta saja."
"Baiklah, Tuan Pangeran Dafta."
"Pricil! Jangan bermain-main denganku. Sudahlah!" Pangeram Air menghela napas sebentar.
"Aku hanya ingin menemuimu. Ingin melihat keadaanmu."
"Aku baik-baik saja."
"Siapa yang bilang kau patah kaki?"
Pangeran Air mendengkus kesal. Sedangkan Putri Api terkekeh melihat pria itu kesal.
Mata Putri Api beralih menatap seekor kuda putih yang berdiri di dekat pohon. Kuda itu sangat menawan.
"Kuda siapa itu?"
"Kuda-ku."
Putri Api terkekeh pelan. Sangat tak percaya jika kuda itu milik Pangeran Air.
"Jangan tipu aku. Mana mungkin kuda cantik itu milikmu."
"Kuda itu punya Ibundaku, tetapi Ibunda memperbolehkanku untuk memakainya. Sama saja, bukan?"
"Hm."
Pangeran Air mengangkat bahunya, terserah apa yang dipikirkan gadis itu.
"Kalau begitu. Aku ingin menaiku kuda itu," ucap Putri Api beranjak dari situ, tetapi Pangeran Air menahannya.
"Tidak bisa."
"Ayolah. Aku ingin naik kuda cantik itu!"
"Aku saja belum pernah menaikinya, kenapa kau malah meminta-minta."
"Salah kau yang tidak mencoba mendekati kuda secantik itu."
Permaisuri Delita tersenyum dari jauh memperhatikan keduanya yang tampak sudah dekat.
"Lihatlah, mereka sangat akrab." Empu Eyang ikut bahagia melihat Putri Api dan Pangeran Air semakin dekat.
"Iya, Ayahanda. Mereka sudah seperti pasangan suami-istri."
"Semoga saja mereka tak berubah."
"Semoga tidak."
Putri Api tetap keras kepala ingin menaiki kuda itu. Pangeran Air akhirnya menghela napas, mengizinkan saja apa yang gadis itu mau. Ini bukanlah hal besar.
Pangeran Air membantu gadis itu naik ke atas kuda. Sebelum itu, Putri Api mengusap kening kuda itu melunakkan pikirannya agar tak mencelakai Putri Api.
Namun, tiba-tiba kaki Putri Api terpeleset saat menaiki kuda itu. Gadis itu memekik kencang saat badannya harus meluncur ke bawah. Ia menutup mata tak sanggup membayangkan badannya yang remuk jika terjatuh.
Namun, beberapa saat. Ia tak merasakan badannya sakit. Perlahan Putri Api membuka mata, penampakkan yang pertama ia lihat adalah ... wajah Pangeran Air yang sangat dekat dengannya.
****
Hallo. See you Next Chapter Guys! Maaf ya jika alurnya terlalu lama dan ngebosanin. Ini cerita fantasi pertamaku, jadi harap maklum ya, Guys.
Love You! Thank u All.
Salam,
~Amalia Ulan.