"Apa tujuan kau kemari?" tanya Pangeran Air.
Kini, Putri Api diajak ke taman istana oleh Pangeran Air. Mata Putri Api menatap sekeliling yang sangat sejuk dipandang. Ia jadi betah di sini lama-lama.
"Hei? Kau mendengarkanku tidak?" tanya Pangeran Air gemas sendiri.
"Eh, kenapa?" tanya Putri Api yang memang tak mendengarkan tadi.
"Tidak jadi."
"Hih, kenapa kau malah merajuk? Sudah seperti gadis saja."
"Aku tanyakan sekali lagi. Pasang telingamu untuk mendengar!"
"Baik, Tuan Pangeran."
"Panggil aku Dafta saja."
"Baiklah, Tuan Pangeran Dafta."
"Pricil! Jangan bermain-main denganku. Sudahlah!" Pangeram Air menghela napas sebentar.
"Aku hanya ingin menemuimu. Ingin melihat keadaanmu."
"Aku baik-baik saja."
"Siapa yang bilang kau patah kaki?"
Pangeran Air mendengkus kesal. Sedangkan Putri Api terkekeh melihat pria itu kesal.
Mata Putri Api beralih menatap seekor kuda putih yang berdiri di dekat pohon. Kuda itu sangat menawan.
"Kuda siapa itu?"
"Kuda-ku."
Putri Api terkekeh pelan. Sangat tak percaya jika kuda itu milik Pangeran Air.
"Jangan tipu aku. Mana mungkin kuda cantik itu milikmu."
"Kuda itu punya Ibundaku, tetapi Ibunda memperbolehkanku untuk memakainya. Sama saja, bukan?"
"Hm."
Pangeran Air mengangkat bahunya, terserah apa yang dipikirkan gadis itu.
"Kalau begitu. Aku ingin menaiku kuda itu," ucap Putri Api beranjak dari situ, tetapi Pangeran Air menahannya.
"Tidak bisa."
"Ayolah. Aku ingin naik kuda cantik itu!"
"Aku saja belum pernah menaikinya, kenapa kau malah meminta-minta."
"Salah kau yang tidak mencoba mendekati kuda secantik itu."
Permaisuri Delita tersenyum dari jauh memperhatikan keduanya yang tampak sudah dekat.
"Lihatlah, mereka sangat akrab." Empu Eyang ikut bahagia melihat Putri Api dan Pangeran Air semakin dekat.
"Iya, Ayahanda. Mereka sudah seperti pasangan suami-istri."
"Semoga saja mereka tak berubah."
"Semoga tidak."
Putri Api tetap keras kepala ingin menaiki kuda itu. Pangeran Air akhirnya menghela napas, mengizinkan saja apa yang gadis itu mau. Ini bukanlah hal besar.
Pangeran Air membantu gadis itu naik ke atas kuda. Sebelum itu, Putri Api mengusap kening kuda itu melunakkan pikirannya agar tak mencelakai Putri Api.
Namun, tiba-tiba kaki Putri Api terpeleset saat menaiki kuda itu. Gadis itu memekik kencang saat badannya harus meluncur ke bawah. Ia menutup mata tak sanggup membayangkan badannya yang remuk jika terjatuh.
Namun, beberapa saat. Ia tak merasakan badannya sakit. Perlahan Putri Api membuka mata, penampakkan yang pertama ia lihat adalah ... wajah Pangeran Air yang sangat dekat dengannya.
Buru-buru Putri Api berdiri, jangan sampai tatap-tatapan itu berlangsung lama. Jantungnya sudah tak kuat menahan goncangan yang sangat hebat itu.
"Kalau tak bisa naik, minta tolong," ujar Pangeran Air.
"Aku bisa kok."
Putri Api kembali menaiki kuda tersebut, tetapi tangannya ditahan oleh Pangeran Air.
"Biar aku yang naik dulu," ucap Pangeran Air.
Pria itu lalu menaiki kudanya. Putri Api berkacak pinggang. Bukankah dirinya yang ingin berkuda? Kenapa malah pria itu yang menaiki kudanya?
"Hei, kenapa malah kau yang menaiki kuda itu?" tanya Putri Api merajuk.
Namun, tiba-tiba Pangeran Air mengulurkan tangannya. Gadis itu terdiam sebentar, tertegun dalam diamnya. Bibir Putri Api tertarik membentuk senyuman. Tanpa pikir panjang Putri Api menerima uluran tangan Pangeran Air. Pria itu menarik tangan Putri Api menaiki kuda. Gadis itu duduk di depan Pangeran Air.
"Kau bisa menaiki kuda tidak?" tanya Pangeran Air.
"Bi-bisalah!"
Pangeran Air merasa tak yakin, ia kemudian mulai melecut punggung kuda itu. Awalnya Putri Api berteriak karena terkejut. Tetapi setelah kuda itu berjalan normal ia bisa lebih santai dan menikmati duduk di atas kuda itu.
Namun, jantung Putri Api sekarang rasanya ingin melompat dari tempat, karena jaraknya dengan Pangeran Air sangat dekat. Pria itu berada di belakangnya. Pangeran Air menaruh dagunya di pundak Putri Api yang membuat gadis itu semakin susah bergerak.
Putri Api menoleh ke belakang, menatap mata yang kini menatapnya tajam.
Deru napas Pangeran Air terasa menyapu wajah Putri Api. Ternyata bukan hanya gadis itu yang merasakan jantungnya bergoncang, melainkan jantung Pangeran Air juga tak kalah kencangnya berdebar.
"Kenapa?" tanya Pangeran Air mencairkan suasana.
"Eh?! Ma-maaf."
Putri Api kembali menatap ke depan. Ia tak berani lagi menoleh ke belakang. Dirinya tak akan kuat ditatap seperti itu oleh Pangeran Air.
"Nanti kau pulang bagaimana?" tanya Pangeran Air.
"Pulang sendiri."
"Biar aku antar."
"Eh, tidak usah. Aku bisa sendiri."
"Biar aku antar," ucap Pangeran Air lagi penuh penekanan.
"Ya udah, terserah."
Ternyata mereka berdua telah menjadi pusat perhatian banyak orang. Terdiri dari pelayan-pelayan dan pengawal kerajaan.
"Siapa ya gadis yang bersama Pangeran itu?"
"Sepertinya mereka ada hubungan spesial."
"Apa mungkin, gadis itu kekasih Pangeran Air?"
"Ah, hatiku hancur melihatnya. Harapanku bisa bersama Pangeran Air pupus sudah."
Pelayan-pelayan itu asyik berkomentar.
"Eh, tapi cocok juga, ya. Gadis itu juga cantik."
"Aku sadar diri, jika aku tak secantik gadis itu."
"Mereka pasangan serasi."
Sejak tadi Pangeran Air mendengarkan komentar-komentar itu. Ya, ia tentu saja bisa mendengarkan semuanya. Tanpa sadar bibir Pangeran Air tertarik untuk tersenyum kecil.
"Aku akan mengantarmu dengan kuda ini saja," ucap Pangeran Air yang membuat Putri Api terkejut.
Kini, Pangeran Air pula yang akan berkunjung ke Kerajaan Api. Apa tanggapan Raja Rowned ketika melihat putrinya datang bersama Pangeran Air?
Nantikan di Next Chapter ya, Guys.
****
Hallo-Ha
Maaf ya, chapter ini sangat-sangat singkat. Soalnya aku usahain nulis setiap hari, kadang gak sempat juga guys. Jadi ini nyuri2 waktu buat up. Maaf banget jika gak bagus, maafkan masih banyak belajar hehe.
Makasih ya yang udah mau baca, aku gatau ada yang baca atau nggak hehe. But, makasih aja. Walau hanya satu orang yang baca gapapa, aku sangat mensyukuri itu.
Terima kasih Guys
Salam hangat,
~Amalia Ulan