Raja Dafnas dan Delita

954 Kata
Di balik itu, pikiran Raja Dafnas tal tenang akhir ini karena selalu tertuju pada istrinya—Permaisuri Delita. Senyum manis yang tergambar di wajah ayunya sudah jarang terlihat. Raja Dafnas hanya melihat istrinya itu diam, melamun, merenung—entah apa yang tengah dipikirkannya. Sudah beberapa kali Raja Dafnas menanyakan ada apa dengan istrinya itu, tetapi jawaban Permaisuri Delita selalu mengatakan tidak ada apa-apa. Walaupun Raja Dafnas tahu ada yang disembunyikan oleh istrinya itu. Untuk itu, Raja Dafnas harus menuntaskan rasa penasarannya itu sekarang. "Tapi, tadi kulihat saat Delita menatap anak gadis desa, temannya Dafta, ia terlihat sangat bahagia. Apa mungkin karena Delita menginginkan anak seorang putri?" monolog Raja Dafnas. Tak lama kemudian, Permaisuri Delita masuk ke kamar. Raja Dafnas diam saja, istrinya itu lalu duduk di ranjang. "Istriku Delita," panggil Raja Dafnas. "Ada apa, Yang Mulia?" "Aku ingin mengajak kau berbicara malam ini." "Ampunkan hamba. Bicara tentang apa, Yang Mulia? Apakah aku berbuat salah padamu?" "Tidak. Aku hanya rindu makan malam bersamamu, nanti kita berbincang-bincang santai saja." Permaisuri Delita merasa aneh, tidak seperti biasanya suaminya itu mengajaknya makan malam. Bukankah selama ini Raja Dafnas selalu sibuk, sehingga tak ada waktu untuknya? "Baik, Yang Mulia." Raja Dafnas tersenyum. Ia harus menyuruh pelayan untuk mempersiapkan ruang makan yang indah untuk malam ini, jika diingat-ingat, sudah lama juga Raja Dafnas tak memanjakan istrinya itu, karena sibuk mengurusi kerajaan. *** Malam pun tiba. Raja Dafnas memilih taman belakang istana yang digunakan untuk momennya malam ini bersama sang istri. Pelayan-pelayan istana sudah mendekor sebaik mungkin. Sangat istimewa, tentu saja, yang akan duduk di sana adalah Raja dan Permaisuri Kerajaan Van Water. Permaisuri Delita juga berdandan tak seperti biasa malam ini, ia berdandan sangat berbeda, lebih cantik tentunya. Para pelayan juga ikut serta membantu Permaisuri Delita berdandan. "Jika dilihat-lihat, Yang Mulia mirip dengan gadis yang bersama Pangeran Air tadi, ya," ucap salah satu pelayan yang sedang menyanggul rambut Permaisuri Delita. Mendengar itu Permaisuri Delita tersenyum. Ya, Putrinya itu sangat mirip dengannya waktu muda. Namun, kesedihan kembali menyelimuti Permaisuri Delita, karena sejak kecil bukan ialah yang membesarkan putrinya. "Wah, Yang Mulia sangat cantik malam ini, pasti Yang Mulia Raja Dafnas terpesona," ucap Pelayan Riri memuji, membuat Permaisuri Delita tersenyum. "Kalian terlalu hebat dalam memuji." "Kami hanya berkata sejujurnya, Yang Mulia." "Ah, bisa saja. Sudahkah?" tanya Permaisuri Delita. "Sudah, Yang Mulia." Pelayan itu membungkukkan badan. Permaisuri Delita pun bangkit dan berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya di sana. "Baiklah, terima kasih semua." Permaisuri Delita menarik napas dalam, lalu berjalan keluar ruangannya, untuk menemui suami tercinta yang sudah menunggu di taman. Dalam hati Permaisuri Delita terkekeh geli, sudah seperti anak muda yang bergelut asmara saja. Saat kakinya melangkah di taman, percikan air mancur di sekililing taman pun terdengar. Air itu melompat antusias saat Permaisuri Delita datang, bak penyambutan. Permaisuri Delita tersenyum menatap Raja Dafnas, karena suaminya itulah yang membuat air mancur di sekitar taman melompat begitu girangnya. Raja Dafnas bangkit, lalu menarikkan kursi, mempersilakan sang istri duduk di hadapannya. Perlakuan manis itu sudah tujuh belas tahun tidak dilakukan lagi oleh Raja Dafnas, karena mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Permaisuri Delita pun duduk, sembari menatap Raja Dafnas di hadapannya yang trngah tersenyum. Perlahan, Raja Dafnas menarik tangan Permaisuri Delita. Ia pun menggenggamnya pelan. "Wahai istriku Delita ... maafkan aku. Aku tahu kesalahanku, karena terlalu sibuk selama ini, sehingga jarang menghabiskan waktu bersamamu. Mungkin kau tak lagi melihat perhatianku. Aku minta maaf istriku ...." Permaisuri Delita tersenyum singkat. Sebenarnya bukan itulah yang dipermasalhkan oleh Permaisuri Delita, tetapi jika Raja Dafnas menganggapnya begitu, tidak masalah, karena itu lebih baik daripada ia tahu perihal sebenarnya. "Aku melihatmu belakangan ini terus melamun, maafkan aku jika sudah menyakitimu, istriku." Permaisuri Delita menghela napas pelan, lalu mengembuskannya. "Yang Mul--" "Malam ini aku bukan sebagai rajamu, tetapi sebagai suamimu. Maka panggillah aku sebagaimana kau memannggilku dulu." "Aku dulu memanggilmu Pangeran Dafnas." Permaisuri Delita tertawa pelan, tidak mungkin sekarang ia memanggil pangetan lagi, bukan? "Maksudku, kau bisa memanggilku dengan nama saja, Delita." Permaisuri Delita mengakhir tawanya lalu berdeham pelan. "Suamiku, Dafnas," panggil Permaisuri Delita yang malah terdengar aneh di telinganya, karena tak terbiasa. "Iya, istriku Delita." "Aku sama sekali tak mempermasalahkan kesibukanmu karena mengurus kerajaan dan tak memperhatikanku," ujar Permaisuri Delita menatap mata Raja Dafnas dalam. "Tapi ...." Telunjuk Permaisuri Delita langsung menutup bibir Raja Dafnas. "Aku hanya rindu masa-masa kita yang dulu, bukan berarti aku tak memaklumi kesibukanmu," ucap Permaisuri Delita lebih baik tidak bercerita hal yang sebenarnya terjadi. "Sama saja, Delita. Berarti aku kurang memperhatikanmu." "Tidak, suamiku. Selama ini aku tahu kamu juga masih mencintaiku. Aku hanya ingin putra kita memiliki kisah yang manis seperti kita dulu," ucap Permaisuri Delita. "Maka dari itu aku mendekatkan putra kita dengan salah satu putri kerajaan Van Water yang lain, tetapi sepertinya putra kita tak tertarik." Raja Dafnas menghela napas lega. Ternyata bukan semua salahnya. "Ya sudah, aku hanya meminta maaf padamu, aku sadar karena selama ini juga kurang memberimu perhatian." "Aku juga minta maaf padamu suamiku, mungkin selama ini aku jarang membantumu mengurusi kerajaan." "Tidak masalah, istriku. Itu sudah menjadi kewajibanku, yang terpenting kau selalu menemaniku." "Tentu saja, suamiku. Aku akan terus bersamamu." Raja Dafnas lalu mengecup punggung tangan istrinya itu lama, seolah menyalurkan semua rasa cintanya. Pipi Permaisuri Delita merona malu dibuatnya. "Bagaimana kalau malam ini kita jalan-jalan? Sudah lama aku tak keluar dari kerajaan." "Boleh." "Baik, kita makan dulu saja, istriku." Raja Dafnas lalu mengambil gelas dan mengisi gelas itu dengan air dari tangannya, karena itu merupakan air kesukaan Permaisuri Delita. "Terima kasih, suamiku. Air-mu lebih manis daripada apa pun." "Sama-sama, istriku. Hanya kaulah yang bisa menyicipi air-ku." Permaisuri Delita pun tersenyum dengan pipi yang sudah memerah, karena tersipu. "Ayo, habiskan makananmu, setelah ini kita jalan-jalan." "Baik, suamiku." Ke manakah mereka akan berjalan-jalan malam ini? See you next chapter. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN