Kembali pada Putri Api dan Pangeran Air. Dalam perjalanan menuju daratan Vuurland. Keduanya tampak diam saja. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Dalam hati Putri Api gelisah tak tertahankan. Bagaimana jika Pangeran Air bertemu dengan Raja Rowned. Lebih parah lagi jika Raja Rowned mengetahui pria itu adalah Putra Mahkota Kerajaan Van Water.
Jangan sampai, jangan sampai Ayahanda mengenalinya! batin Putri Api berkecamuk.
"Hei, kenapa kau diam saja?" tanya Pangeran Air heran.
"Ah, ti--ya karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," ucap Putri Api.
"Aneh sekali kau diam."
"Heh! Kau pikir aku selalu berbicara, ha?!"
"Ya. Kau selalu berisik."
"Ih, dasar kau!" Putri Api ingin sekali memukul pria itu, tetapi posisi duduknya di depan, ia mengurungkan niatnya tadi.
Tiba-tiba, kuda yang dinaiki mereka berhenti begitu saja.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Putri Api mengusap kepala kuda itu. Namun, tiba-tiba kuda itu mengempaskan Putri Api dan Pangeran Air.
Bruk.
"Awhh!"
Kuda itu berbalik, pergi meninggalkan Putri Api dan Pangeran Air di sana berdua.
"Loh, kenapa kudanya meninggalkan kita?" tanya Putri Api heran.
Ia belum menyadari, jika tubuhnya tengah mengimpit Pangeran Air.
"Pria dingin itu juga ke mana?" tanya Putri Api tak melihat Pangeran Air.
"Aku di sini."
Putri Api terdiam sebentar, perasaannya jadi tak enak. Dengan ragu Putri Api menoleh ke belakang menatap Pangeran Air yang ada di bawah badannya.
"AAAAA."
Putri Api buru-buru bangkit. Sedangkan Pangeran Air meringis, merasakan badannya remuk. Sudah terjatuh dari kuda, dihimpit pula oleh gadis itu.
"Berat," dengkus Pangeran Air yang terdengar oleh Putri Api. Mata gadis itu melotot tak terima dikatakan berat.
"Hei! Aku sekecil ini kau bilang berat!"
"Emang berat."
"Kau saja yang tak kuat, dasar lemah."
"Sudah berat, suka marah-marah lagi."
Putri Apu berkacak pinggang, sedangkan Pangeran Air berpangku tangan.
"Terus, bagaimana caranya aku pulanh? Ayahanda pasti mengkhawatirkanku. Ini semua salahmu!"
"Kenapa salahku?" tanya Pangeran Air tak terima disalahkan.
"Kau yang bilang ingin mengantarkanku, tetapi kudamu pergi begitu saja. Pokoknya ini salahmu."
"Dasar wanita."
"Hei, emang kenapa kalau aku wanita, ha?"
"Tak mau disalahkan."
Pangeran Air jadi tahu bagaimana sifat wanita sejak mengenal Putri Api.
"Ah, sudahlah. Sekarang, pikirkan bagaimana caranya agar kita bisa sampai ke istana. Aku tak mungkin pulang larut!"
"Ya jalanlah."
"Jal-jalan kaki maksudmu?"
"Ya."
"Oh, tidak! Kau pikir tak lelah jalan kaki, ini masih jauh Pangeran Air terhormat."
"Mau bagaimana lagi? Tidak ada kuda atau kereta lagi, kan."
Putri Api lagi-lagi mendengkus. Cobaan apa lagi ini. Dengan malas ia melangkahkan kaki, berjalan mendahului Pangeran Air.
Pria itu langsung mengejar Putri Api, ia tak ingin terjadi apa-apa pada gadis itu.
***
"Lihat, sudah berapa lama kita berjalan. Kenapa belum masuk wilayah Vuurland juga?"
"Entahlah. Kau tadi ke Van Water bagaimana?"
"Aku diantarkan kereta pribadiku, tetapi kereta itu aku tinggalkan di istanamu. Harusnya aku kembali dengan keretaku, bukan dengan kuda pengecut kau itu."
"Hei, kuda itu tak salah."
"Iya. Kau yang salah," tajam Putri Api. Pangeran Air hanya bisa menghela napas pasrah saja.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan terdapat segerombolan orang yang menatap mereka. Bulu kuduk Putri Api langsung berdiri ketika mengetahui para manusia itu. Manusia Kanibal. Yang akan muncul perbatasan siang dan malam. Dan akan memangsa apa saja yang mereka temukan, termasuk manusia.
"Hei, bagaimana ini?" Putri Api segera berdiri di belakang Pangeran Air.
"Emang kenapa?"
"Kau tak lihat, ada mereka di depan sana?"
"Mereka siapa?" tanya Pangeran Air yang tak tahu apa-apa.
"Manusia kanibal!"
"Hah?"
"Dia akan menangkap kita dan memakan kita!"
Pangeran Air tertawa, bahkan tawanya begitu keras yang membuat Putri Api semakin merinding, bagaimana jika para kanibal itu mendengar suara Pangeran Air?
"Kau lupa siapa dirimu? Apa kau lupa juga siapa diriku?"
Putri Api mengangkat alisnya heran.
"Maksud kau?"
"Sudah, ayo jalan!"
"Ah, tidak mau! Aku takut!"
"Sudah, ayo!"
"Ish, tidak!"
"Ayolah!"
"Tidak!"
Pangeran Air menghela napas sebentar, lalu tanpa aba-aba ia mengangkat badan Putri Api dari depan yang membuat gadis itu berteriak dan refleks mengalungkan tangannya di leher Pangeran Air.
"Hei, turunkan aku!" pekik Putri Api menatap mata Pangeran Air yang juga menatapnya.
"Tatap saja mataku!" suruh Pangeran Air agar Putri Api tak merasa ketakukan lagi.
Putri Api menurut saja, tatapannya hanyut ketika melihat mata hitam elang Pangeran Air.
Pria itu mulai melangkahkan kakinya, menghadang para kanibal yang ada di hadapannya.
Para kanibal yang melihat ada orang mendekati mereka berteriak senang, karena mangsa pun telah datang. Mereka bersiap untuk menerkam. Mereka membuat barisan menghalangi jalan.
Pangeran Air menatap para kanibal itu dengan tatapan datarnya seperti biasa.
Para kanibal yang melihat ternyata yang menghampiri mereka ada dua anak raja dari dua kerajaan, langsung membuka barisan dan memberikan jalan untuk Pangeran Air. Mereka tak lupa menundukkan kepala dan membungkukkan badan saat Pangeran Air melewati mereka.
Putri Api tercengang melihat para kanibal itu yang menunduk. Ia tak menyangka jika bisa melewati mereka dengan keadaan selamat.
"Ken-kenapa bisa?" tanya Putri Api heran.
"Sepertinya kau lupa siapa dirimu dan siapa diriku."
Putri Api kembali mengernyitkan dahinya. Detik kemudian, ia baru menyadari apa yang dimaksud Pangeran Air. Seulas senyuman langsung terbit di bibir Putri Api, Pangeran Air pun ikut tersenyum kecil, walaupun sangat kecil, tetapi Putri Api terbuai pesona daru senyuman manis Pangeran Air.
Ya, begitulah menjadi Pangeran Kerajaan Air dan Putri Kerajaa Api. Mereka selalu dihormati di mana-mana selama masih di daratan Vuurland atau pun Land Water.
***
Setelah melewati pejalanan yang sangat panjang. Akhirnya, Putri Api dan Pangeran Air sampai juga di Kerajaan Van Vuur yang dipimpin oleh Raja Rowned. Kerajaan besar yang selalu bersinar dan membara, karena api ada di mana-mana.
Mungkin istananya tampak menyeramkan, lebih seperti neraka dunia, tetapi bagi anggota kerajaan. Api adalah darah daging mereka, tanpa api jiwa mereka tak akan hidup.
Pangeran Air langsung berdecak kagum. Walaupun ia dari kerajaan Air yang dingin dan selalu tergenang air, tetapi melihat api kenapa perasaannya ikut menghangat?
"Bagaimana, indah bukan istanaku?" tanya Putri Api.
"Ya."
Gadis itu langsung berubah masam, mendengar respons Pangeran Air yang sangat singkat.
"Ya sudah, ayo masuk!" suruh Putri Api.
"Bolehkah?"
"Emang tadi aku masuk ke istanamu, ada larangan? Mereka tidak akan mengusirmu, jika tak tahu kau dari Kerajaan Van Water."
"Ya sudah, ayo!" ajak Putri Api lagi sambil menrik tangan Pangeran Air.
"Dari mana saja kau?" tanya sebuah suara yang membuat Putri Api dan Pangeran Air terkejut.
****
BERSAMBUNG!
Hai guys. Maaf baru bisa up chapter terbaru sekarang. Semoga suka ya
Terima kasih yang udah mau baca.
Salam hangat,
~Amalia Ulan