Pertemuan dengan Raja Rowned

803 Kata
"Dari mana saja kau?" tanya sebuah suara yang membuat Putri Api dan Pangeran Air terkejut. Putri Api dengan ragu menoleh ke belakang menatap Permaisuri Raqia yang berkacak pinggang. "A-abunda." "Eh, maksudnya Ibunda." Putri Api malah terkekeh pelan yang membuat Permaisuri Raqia mendengkus pelan. Kini, mata Permaisuri Raqia beralih menatap seorang pria yang datang bersama putrinya. "Kau siapa?" tanya Permaisuri Raqia menatap tajam. Putri Api langsung menyenggol bahu Pangeran Air, pria itu refleks membungkukkan badan. "Ampun, Yang Mulia. Hamba Dafta, teman Pricil yang menemaninya pulang, karena tadi tersesat di hutan." Mata Putri Api melotot tak terima dikatakan tersesat di hutan. Itu bukanlah alasan yang tepat. "Baik." Dengan mudahnya Permaisuri Raqia percaya yang membuat Putri Api melongo. "Silakan masuk!" suruh Permaisuri Raqia walaupun dengan nada datar dan tatapan dinginnya. "Terima kasih, Yang Mulia." Putri Api segera menarik tangan Pangeran Air dari sana. "Hei, kenapa kau memberikan alasan seperti itu? Ini tidak adil, sama saja kau menyalahkanku." "Aku tak mrnyalahkanmu." "Sama saja." "Tidak." "Arhh. Dafta!" *** Suasana meja makan tampak hening, hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring. Sesekali Raja Rowned berdeham untuk mencairkan suasana. "Siapa nama kau?" tanya Raja Rowned mulai menginterogasi Pangeran Air. "Dafta Van Wa--" Pangeran Air terdiam, hampir saja ia keceplosan. "Hekhem, Dafta Van Wafu, Yang Mulia." "Dari mana kau berasal?" "Negeri Bumitan, Yang Mulia." Raja Rowned menatap pria itu, sejak tadi Pangeran Air tak berani menatap matanya. "Bagaimana bisa kau bertemu dengan putriku?" "Pricil bermain di hutan, lalu terjerembab dan kakinya keseleo, Yang Mulia. Hamba membantunya berjalan dan mengantarkannya pulang." Sungguh, Putri Api ingin sekali membakar p****t Pangeran Air. Enak saja pria sombong itu, lihat saja nanti! "Kenapa kau bermain di hutan?" tanya Permaisuri Raqia. "Ak--" "Dia mengejar kambing yang lari dari istana, Yang Mulia," jawab Pangeran Air lagi membuat Putri Api semakin melotot. "Ada-ada saja kau. Tidak adakah kegiatan lain yang bisa kau lakukan? Ingat, kau bukanlah putri biasa lagi. Kau adalah Putri Mahkota Vuurland." Permaisuri Raqia mulai berceramah yang membuat telinga Putri Api terasa memanas. "Bukan seperti itu, Ibunda. Ak-u ...." "Ah, sudahlah. Lanjutkan makanmu!" Tatapan Raja Rowned tanpa sengaja akhirnya bertemu dengan Pangeran Air. Tiba-riba raja merasakan gejolak pada dirinya, begitu pula dengan Pangeran Air yang merasakan tangannya mulai bergetar. Ada apa ini? Pangeran Air merasakan kehangatan saat menatap Raja Rowned, kenapa ia merasa dirinya aman berada dekat Raja Van Vuur itu? Tiba-tiba Raja Rowned mengulurkan tangannya ke arah Pangeran Air. Pria itu terdiam sebentar. Raja Ronwed mengisyaratkan agar Pangeran Air menerima uluran tangannya. Dengan ragu Pangeran Air menjabat tangan Raja Van Vuur itu. Tiba-tiba sesuatu langsung muncul di sela tangan keduanya. Api memuncrat dengan besarnya yang membuat Pangeran Air segera melepaskan tangannya. Raja Rowned terdiam. Sungguh aneh, tak pernah ada seorang pun yang seperti itu ketika bersalaman dengannya. Pangeran Air segera menyembunyikan telapak tangannya ke bawah meja. Kenapa setelah bersentuhan tangan dengab Raja Rowned malah menghidupkan kembali api yang sudah ditutupnya. Apa mungkin api Raja Van Vuur itu yang pindah kepadaku? tanya Pangeran Air dalam hati. "Ada apa?" tanya Putri Api yang melihat Pangeran Air gelisah. "Ah, ti-tidak ada apa-apa." "Kenapa bisa muncul api seperti itu?" tanya Permaisuri Raqia yang heran melihat ketika suaminya bersalaman. "Aku pun heran. Siapa kau sebenarnya?" tanya Raja Rowned. Jantung Pangeran Air berdebar kencang, keringat mulai membasahi seluruh badannya. Ia menatap Putri Api meminta pertolongan. "Ayahanda. Bukankah, api Ayahanda begitu besar? Mungkin saja api Ayahanda ingin berkenalan dengan temanku." "Api-ku juga seperti itu ketika berkenalan dengan orang baru," lanjut Putri Api ketika semua mata menatapnya. "Ini pertama kalinya kulihat bisa seperti ini. Kau bukan berasal dari Negeri Vuurland?" "Bukan, Yang Mulia. Hamba hanya orang biasa yang tinggal di daratan Bumitan." "Sebentar, jika benar kau dari bumitan, kenapa kau bisa menemukan putriku di hutan?" tanya Permaisuri Delita heran. "Hamba memang sering bermain kemari, Yang Mulia." Pangeran Air menatap tangannya yang tak kunjung padam. Api itu masih bercahaya di telapak tangannya. Putri Api terkejut melihat itu. "Baiklah. Silakan dilanjutkan makannya!" suruh Raja Rowned. Pangeran Air menelan salivanya susah, bagaimana ini? Tak mungkin ia mengeluarkan tangannya dalam keadaan seperti ini. Putri Api yang melihat kepanikkan Pangeran Air menggenggam tangan berapi pria itu. Putri Api tak mungkin takut dengan api, bukan? Namun, keajaiban terjadi, api itu padam saat bersentuhan dengan tangan Putri Api. "Hei, kenapa bisa api itu padam?" tanya Pangeran Air berbisik. "Entahlah," jawab Putri Api menatap tangannya yang ternyata sudah bergelinangan air. Air? Kenapa air ini muncul lagi! batin Putri Api, jangan sampai Ayah-ibundanya tahu akan hal ini. "Silakan!" ujar Raja Rowned kembali, karena Pangeran Air dan Putri Api asyik sendiri. "Baik, Yang Mulia." *** "Lebih baik kau menginap di sini saja, karena hari sudah malam," ucap Putri Api. "Bolehkah?" "Siapa yang melarang?" "Baiklah." "Sebelum itu, aku mau mengajak kau berkeliling," ucap Putri Api. "Oke." **** Hai Guysss sampau sini dulu, ya! Semoga suka. Terima kasih yang udah mau baca. Salam hangat, ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN