Raja Dafnas dan Permaisuri Delita Part II
Sudah seperti anak muda saja. Raja Dafnas dan Permaisuri Delita memang keluar malam ini. Mereka turun ke jalanan sebagai rakyat biasa.
"Kau benar-benar mengingatkanku tentang zaman kita sebelum menikah dahulu," ucap Permaisuri Delita.
Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain, kaki sama-sama melangkah. Senyum sama-sama merekah. Cuaca malam ini pun sangat mendukung.
Raja Dafnas dan Permaisuri Delita keluar tanpa penjagaan dari satu pengawal pun, karena mereka menginginkan kebebasan berdua dan tak berperan sebagai raja dan ratu kerajaan malam ini.
Jalanan yang ramai, di pinggir kanan dan kirinya ada pedagang menjual berbagai macam makanan.
Raja Dafnas dan Permaisuri Delita memilih duduk di bangku yang kosong di taman ketenangan. Di sinilah tempat paling pas menatap indahnya langit malam. Angin malam terasa menusuk tulang, tetapi kedua sejoli itu sama sekali tak merasa kedinginan, karena kehangatanlah yang menyelimuti.
"Ingat tidak? Dulu, aku selalu menatapmu saat menari di istana. Penampilan yang lain seakan pudar, hanya kau yang menjadi pusat perhatianku." Perkataan Raja Dafnas membuat pipi Permaisuri Delita bersemu kembali.
"Tidak ada bedanya denganku. Saat ada acara di istana, aku selalu berlatih agar bisa terpilih untuk tampil lagi di hadapanmu."
Permaisuri Delita jadi teringat kenangan delapan tahun silam. Saat ia baru saja mendapatlan perintah dari Empu Eyang untuk menarik hati Raja Dafnas.
Permaisuri Delita menyelinap masuk ke grup para penari istana. Ia pun berlatih sampai bisa terpilih untuk tampil di istana.
Akhirnya, tak sulit bagi Permaisuri Delita, karena ia memang memiliki hobi menari. Ia pun bisa tampil di istana. Saat itu, mata Permaisuri Delita tak sengaja bertemu dengan mata Raja Dafnas. Itulah asal mula cinta mereka tertanam dan tumbuh.
Setelah selesai menari. Permaisuri Delita pun kembali ke ruangan persiapan. Di situlah Raja Dafnas mengikutinya dan bertemu secara empat mata dengan Permaisuri Delita.
Raja Dafnas pun memilih berkenalan dahulu dengan Permaisuri Delita. Di satu sisi, Permaisuri Delita bahagia, karena aksinya menarik hati Raja Dafnas langsung, tetapi di satu sisi lain, ia benar-benar telah jatuh hati, walaupun baru pertemuan pertama.
Perasaannya itu pun ia utarakan pada ayahandanya—Empu Eyang. Delita mengaku juga telah jatuh hati, jika Empu Eyang tidak setuju, ia akan membuang perasaan itu sebelum semakin dalam.
Namun, Empu Eyang sangat mendukung, karena jika mereka saling mencintai satu sama lain, lebih mudah baginya menjalankan misi.
Setiap akhir pekan, Raja Dafnas selalu mengundang Permaisuri Delita datang untuk menari. Ia ingin lebih dekat dengan wanita itu. Sampailah pada mereka menikah. Saat pernikahan itu, Raja Dafnas pun diangkat menjadi raja, karena sang Raja Dunas sudah sakit-sakitan.
Melihat Raja Dafnas-lah yang diangkat menjadi raja. Kakak Tertua Dafnas yaitu Pangeran Darni tak terima. Ia pun mempengaruhi prajurit agar menjadi pengikutnya dan melakukan pengkhianatan.
Satu minggu setelah acara pengangkatan Raja Dafnas sebagai raja, perang saudara pun terjadi. Serangan dari Pangeran Darni mengacaukan istana.
Raja Dunas yang saat itu masih hidup sungguh kecewa, karena anaknya yang bermusuhan. Sangat kecewa dengan Darni, ia pun mengusir Darni dari istana dan menghapus kedudukan Darni di istana.
Darni pun meninggalkan istana dengan dendam yang dibawanya. Ia pun berjanji untuk kembali menuntaskan balas dendam pada Raja Dafnas.
Tak lama setelah itu Raja Dunas pun meninggal dunia.
Panggilan dari Raja Dafnas membuyarkan lamunan Permaisuri Delita yang sejak tadi kembali membayangkan kejadian itu.
"Ma-maaf, aku tadi melamun."
"Apa yang kau lamunkan, istriku?"
"Tidak ada, suamiku. Aku hanya teringat saat kita pertama kali bertemu waktu itu."
"Aku terkadang juga sering mengingat hal manis itu." Raja Dafnas tersenyum menatap Permaisuri Delita.
Raja Dafnas lalu memutar tangannya memunculkan air yang memancur dari tangannya. Air itu melompat-lompat, menari dengan lihai di atas tangan Raja Dafnas.
"Bahkan air-ku selalu gembira berada di dekatmu, istriku," ucap Raja Dafnas membuat Permaisuri Delita tersenyum.
"Hanya airmu-lah yang menjadi penenangku, mendengar suaranya menyejukkan hatiku."
"Air-ku ini adalah air-mu juga. Kau bisa mengambil air-ku kapan pun kau mau."
"Terima kasih, suamiku. Kau benar-benar suami paling manis."
Raja Dafnas lalu membaringkan badannya di bangku itu, ia menjadikan paha Permaisuri Delita sebagai bantal kepalanya. Tangannya mengelus pipi istrinya itu.
"Kau permataku, Delita. Kau satu-satunya keindahan yang kumiliku."
"Untuk hal memuji kau juaranya," ucap Permaisuri Delita terkekeh.
"Hai, Bulan. Apa kau tak merasa tersaingi dengan keindahan wajah istriku?" tanya Raja Dafnas menatap rembulan yang bersinar terang. Permaisuri Delita terkekeh singkat.
Dalam hati Permaisuri Delita tiba-tiba merasa tidak karuan. Bagaimana reaksi Raja Dafnas nanti saat mengetahui jika anak mereka telah ditukar. Apakah suaminya itu akan marah besar?
Permaisuri Delita jadi merasa bersalah, ia tak sanggup membayangkan hal itu. Apakah kekecewaan yang didapatkan Raja Dafnas nantinya akan menyakiti hati Permaisuri Delita?
Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Bagaimanapun semua telah terjadi, waktu tidak bisa diputar kembali. Sekarang Permaisuri Delita hanya bisa menjaga rahasia itu sampai terbongkarnya nanti. Ini adalah misi Empu Eyang, ia pun tak bisa berbuat apa pun, karena semua telah direncanakan. Walaupu tantangannya adalah berpisah dengan anak kandung sendiri, berat? Tentu saja. Tetapi Permaisuri Delita tak bisa berbuat banyak, selain bersabar menunggu waktu yang akan mengupas semuanya.
"Hari sudah semakin malam, kau bisa masuk angin jika terlalu lama berbaring di sini, sebaiknya kita pulang sekarang, suamiku," ajak Permaisuri Delita.
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan, istriku. Terima kasih malam ini. Rasa kerinduanku denganmu sudah terobati."
"Sama-sama suamiku, aku pun merasakan hal yang sama."
"Ya sudah, mari kita pulang. Kembali menjadi seorang raj dan ratu kerajaan." Raja Dafnas terkekeh saat mengatakan itu. Permaisuri Delita pun ikut tertawa. Malam ini mereka tak disegani saat bertemu rakyat, karena pakaian yang digunakan keduanya pun pakaian samaran.
"Terima kasih bulan, semoga kau tak merasa tersaingi," ucap Raja Dafnas kembali membuat Permaisuri Delita terkekeh.
***