Putri Api mengajak Pangeran Air berkeliling istana. Pria itu merasakan kehangatan yang luar biasa, karena di mana pun terdapat api yang menyala.
Namun, kenapa justru Pangeran Air merasa tenang, ketika dikelilingi oleh api seperti sekarang?
"Kau pasti merasa kepanasan, kan?" tanya Putri Api.
"Biasa saja."
"Sudahlah, jika kau tak tahan dengan kepanasan ini bilang saja, tak usah sok biasa."
"Aku tak merasa kepanasan."
Pangeran Air teringat ucapan Empu Eyang tempo hari, ia harus menukarkan kembali cincin yang ia tukar dengan Putri Api. Tangan Pangeran Air menahan tangan gadis itu.
"Tukar kembali cincin kita," ucap Pangeran Air. Alis Putri Api bertaut.
"Untuk apa?"
"Empu Eyang bilang, cincin kita sudah benar, tak seharusnya kita tukar."
"Kau kan tahu, tanpa cincin ini, kekuatan kita tak akan muncul."
"Entahlah, Empu Eyang menyuruhku kembali menukar cincin itu."
"Baiklah. Ini cincinmu." Putri Api memberikan cincin itu.
"Oke." Pangeran Air pun memberikan cincinnya.
Saat memakai cincin itu, sepercik api langsung menyambar dari tangan Pangeran Air. Sebaliknya, telapak tangan Putri Api langsung mengeluarkan mata air.
"Tuhkan, kekuatan kita jadi tertukar," ucap Putri Api.
"Ya. Kenapa bisa seperti itu?"
"Tak tahu."
Pangeran Air menghela napas, merasakan kehangatan yang menjalar ke tubuhnya.
"Kau pasti tak kuat merasa kepanasan?"
"Aku biasa saja," ucap Pangeran Air kembali.
Putri Api mencibir, ia saja yang merupakan Putri Kerajaan Van Vuur, merasakan kepanasan yang menyengat sekarang, entah karena apa. Biasanya gadis itu biasa saja.
"Lihat, ini adalah bekas pohon yang aku bakar waktu kecil," ucap Putri Api memberi tahu.
"Oh."
Singkat, padat, dan tak berperasaan, itulah respons yang diberikan Pangeran Air membuat Putri Api ingin sekali mengunyah pria itu.
"Pohon ini sangat besar."
"Ya."
Putri Api mendengkus. Percuma. Percuma saja ia bercerita atau mengajak pria dingin itu berbicara, jawabannya pasti akan sangat singkat.
"Aku akan mengajak kau ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Sudah, ikut saja!"
Putri Api menarik tangan Pangeran Air beranjak dari situ. Ia mengajak Pangeran ke aula tempat sumbu api unggun kerajaan.
"Kau harus percaya, aku bisa menghidupkan api unggun yang besar."
"Sebesar apa?"
"Sangat besar!"
"Coba!" suruh Pangeran Air ingin melihat langsung.
Putri Api tersenyum miring, membusungkan d**a, lalu bersiap meletakkan tangannya ke sumbu itu.
"Lihatlah," suruh Putri Api, lalu meletakkan tangannya di sumbu itu.
Namun tak ada api yang hidup. Pangeran Air menatap datar. Menunggu api besar yang katanya akan dihidupkan gadis itu.
Tetapi, mana? Sudah berulang kali dicoba Putri Api. Hasilnya nihil. Tak ada sepercik api pun yang muncul.
Pangeran Air tersenyum miring, "wah besar sekali apinya," ucap Pangeran Air.
"Heh! Kau mengejekku?"
"Tidak."
"Coba jika kau yang melakukannya! Pasti juga tak bisa."
"Boleh kucoba?" tanya Pangeran Air.
"Silakan. Aku yakin kau pasti tak akan bisa."
"Oke."
Pangeran Air berjalan mendekati sumbu itu. Jantungnya tiba-tiba bergetar hebat. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada saat kakinya berdiri di sini.
"Cobalah. Kau pasti tak bisa," ucap Putri Api.
Pangeran Air menghela napas sebentar, lalu meletakkan tangannya ke sumbu itu.
...
...
...
Api besar langsung menyambar yang membuat Putri Api melongo tak percaya.
BERSAMBUNG!
HAI Guysss
Makasih yang udah mau baca.
Maaf pendek, ya.
Salam hangat,
Amalia Ulan