BAB 1
Cup
“Uumhh..” Thania terkejut karena Danish tiba-tiba menyatukan bibir mereka berdua.
“Hmptt.. lewpasin!” Thania memberontak meminta untuk dilepaskan namun tidak bisa. Danish memegang kedua tangannya yang membuat ia tidak bisa banyak bergerak.
Danish bergerak sedikit kasar membuat Thania merasa tidak nyaman. Ia juga takut ada mahasiswa yang melihat mereka berdua. Sebisa mungkin Thania melepaskan diri dari Danish. Dan, berhasil.
PLAK
“APA YANG PAK DANISH LAKUKAN?” bentak Thania setelah berhasil melepaskan diri dari Danish.
“Huhh..” nafas Thania terengah akibat perbuatan Dosennya itu.
Ya, Danish adalah salah satu Dosen di kampusnya. Thania terkejut dengan perbuatan Danish yang cukup berani. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Bahkan tatapannya terlihat tajam dan menusuk.
Danish mengusap wajahnya kasar. Tepat di hari ini ia kelepasan. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Thania, mahasiswinya sendiri. “Apa yang telah kau lakukan, Danish?” batinnya berucap
Danish Arvano Alvarendra, seorang laki-laki berusia 27 tahun yang saat ini berprofesi sebagai Dosen di sebuah kampus ternama. Danish seorang Duda yang memiliki satu anak laki-laki bernama Zidan Alvarendra, yang saat ini berusia 7 tahun.
Danish Arvano Alvarendra, putra tunggal dari Dava Alvarendra dan Yola Alvarendra. Orang Tuanya memiliki sebuah Perusahaan yang bernama Alvarendra Group. Danish adalah sosok laki-laki yang tampan dan tinggi. Memiliki hidung mancung serta tubuh yang tegap dan gagah. Danish menggambarkan manusia yang terlihat sempurna di mata manusia lain.
Nathania Charissa Prasetya, mahasiswi yang berusia 23 tahun. Perempuan yang sangat cantik, kulitnya putih bersih, serta memiliki mata bulat yang sangat indah jika dipandang. Thania memiliki Orang Tua yang bernama Arya Prasetya dan Hanifa Prasetya. Thania terlahir dari keluarga kaya dan berkecukupan. Orang Tuanya memiliki beberapa bisnis di bidang makanan. Bahkan Orang Tuanya memiliki sebuah Restaurant ternama yang ada di Pusat Kota. Orang Tuanya adalah pembisnis hebat.
***
Danish mengukung tubuh Thania dengan kedua tangannya agar perempuan itu tidak bisa melarikan diri. Ia menatapnya lekat. Tatapannya terlihat lembut namun penuh arti. Jarak wajah keduanya cukup dekat membuat mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
“Saya tertarik denganmu, Thania.”
Deg
Thania melebarkan matanya terkejut setelah mendengar pengakuan dari Danish. Apa ia tidak salah dengar? “M-maksud Pak Danish apa?” tanyanya dengan nada gugup
“—“ bukannya menjawab Danish justru semakin mendekatkan wajahnya membuat Thania menahan nafas.
Tatapan Danish tertuju pada bibir kemerahan milik Thania. Ingin rasanya ia mencium bibir itu, namun ia menahan diri untuk tidak melakukannya. Ia perlu bicara serius dengan Thania. Ia ingin mengutarakan apa yang dirasakan akhir-akhir ini, karena hal itu sangat mengganggu pikirannya.
“Saya sepertinya menyukai kamu.”
Lagi-lagi pernyataan Danish membuat Thania terkejut. Di satu sisi, ia tidak percaya dengan apa yang Danish katakan. “Nggak mungkin.” sarkasnya
“Kenapa nggak mungkin?”
“Mana mungkin Pak Danish tertarik dengan Thania. Thania di sini hanya seorang mahasiswi, Pak.”
“Justru karena itu saya tertarik dengan kamu, Thania.”
Danish menyentuh pipi Thania membuat perempuan itu berpaling. Ia menahan nafas karena hidung Danish hampir menyentuh pipinya. Jantungnya berdebar kencang. Ia sedikit takut karena jarak keduanya cukup dekat.
“Pak Danish jangan macam-macam!” ucap Thania dengan nada gugup
“Saya tidak akan berbuat macam-macam, Thania. Saya masih bisa menahan diri.”
“Huhh.. baguslah!”
“—“
Danish terdiam sejenak. Ia memikirkan sesuatu. Posisi mereka saat ini membuat Thania merasa sangat tidak nyaman. Ia ingin mendorong tubuh Danish, namun kedua tangannya seolah terasa kaku. Thania justru menunggu apa yang ingin Danish katakan selanjutnya.
“Apa aku mengatakannya sekarang?” ucap Danish dalam hati
“Bagaimana jika dia menolak?”
“Pak, tolong menjaulah!” ujar Thania masih dengan wajah berpaling.
“Saya ingin mengatakan sesuatu, Thania.”
“Apa yang ingin Pak Danish katakan?”
“Menikahlah dengan saya!”
Jedarr
Seketika Thania menatap Danish. Matanya melebar karena terkejut. Apa mungkin dirinya barusan salah dengar? Jantungnya berdetak kencang seolah ingin lepas dari tempatnya. Nafasnya tercekat di tenggorokan setelah mendengar pernyataan Danish. Ini seperti mimpi baginya.
“A-apa?” gugupnya
“Saya ingin kamu menikah dengan saya. Menjadi Ibu dari anak saya!” lanjut Danish
Glek
Thania menelan ludahnya kasar. Danish tidak bertanya, melainkan sebuah pernyataan yang harus diterima oleh Thania. Thania mendorong d**a bidang Danish menjauh dari hadapannya. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Justru pernyataan Danish barusan ia anggap sebuah lelucon.
“Pak Danish sedang bercanda, ha?” ucapnya dengan tatapan tidak percaya
“Saya tidak sedang bercanda, Thania.”
“Nggak. Nggak mungkin!” Thania masih tidak percaya dengan perkataan Danish.
“Huhh..” Danish menghela nafas kasar.
Danish menangkup wajah Thania. Ia menatapnya lembut. “Saya tidak bercanda, Thania. Apa kamu tidak bisa melihat keseriusan di wajah saya?”
“—“ Thania terdiam sejenak.
Thania menatap ke dalam bola mata milik Danish. Ia mencoba mencari sebuah kebohongan, namun ia tidak menemukannya. Yang ia temukan adalah sebuah keseriusan di matanya. “Tuhan.. apa maksud semua ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini?” ucapnya dalam hati
“Kenapa kejadiannya begitu tiba-tiba? Sejak kapan Pak Danish tertarik denganku?”
“Tuhan.. apa yang harus aku lakukan saat ini?”
“Masih belum melihat keseriusan di mata saya?” tanya Danish membuyarkan lamunan Thania.
“Ck, saya nggak tahu, Pak.”
Thania menurunkan tangan Danish dari wajahnya. Kejadiannya begitu cepat membuat Thania bingung sekaligus tidak percaya. Bahkan ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Kepala Thania pusing memikirkan kejadian hari ini.
“Saya akan menemui Orang Tua kamu setelah ini.” ujar Danish dengan wajah penuh keseriusan
“Ha?”
“Memangnya Pak Danish tahu siapa Orang Tua saya?”
“Siapa yang tidak tahu sosok Pak Arya Presetya dan Bu Hanifa Prasetya?!”
Thania menganga tidak percaya. Dari mana Danish tahu Orang Tuanya? Danish tersenyum kecil melihat respon Thania. Tentu ia tahu semuanya tentang Thania. Sebelumnya ia sudah mencari tahu siapa keluarga perempuan itu. Dan setelah tahu siapa Orang Tua darinya Danish semakin yakin untuk memilikinya.
“Pak Danish tahu dari mana?”
“Saya tahu semua tentang kamu.”
“Bohong!”
Danish mengangkat bahunya acuh. “Bisa kita buktikan nanti. Kamu jangan terkejut jika saya menemui Orang Tuamu di rumah.”
“Tapi saya nggak mau nikah muda, Pak.”
Danish tersenyum smirk. Jika Thania menolak ia bisa melakukan cara lain agar perempuan itu mau menikah dengannya. “Kita lihat nanti! Apakah kamu masih bisa menolak saya atau tidak.”
“Apa yang ingin Pak Danish lakukan?”
“—“ Danish hanya tersenyum smirk sebagai jawaban. Ia memiliki seribu rencana jika menginginkan sesuatu. Apa yang telah menjadi targetnya harus tercapai. Apalagi hanya menginginkan seorang gadis, mahasiswinya sendiri. Itulah prinsip dari seorang Danish!
Next>>