“Uumhh..” “Pak, lewpass!” Thania mendorong d**a bidang suaminya untuk menjauh setelah melihat kepergian Talia. “Huhh..” nafas Thania terengah karena perbuatan Danish. “Pak Danish apa...” “Sstt.. lebih baik kita ke kamar!” Tanpa menunggu jawaban Thania, Danish menarik tangan istrinya menuju kamar. Nafas keduanya terengah karena aktivitas barusan. Di lubuk hati Danish yang paling dalam ia masih marah dengan kedatangan Talia ke rumahnya. Padahal sudah lama wanita itu tidak berkunjung ke rumah ini. Bahkan untuk sekedar mengingat Zidan, sepertinya tidak. Ceklek Danish menutup pintu kamar lalu menguncinya. Setelahnya ia memeluk Thania dengan erat. Jantungnya berdebar kencang. Debaran jantungnya kali ini bukan rasa cinta, melainkan amarah yang terpendam. Danish sangat membenci mantan

