“Selamat pagi, Boy!” sapa Danish sembari tersenyum sumringah. Zidan menoleh ke sumber suara. Ia tersenyum melihat kedatangan Orang Tuanya. “Pagi, Pa!” Cup Danish mencium kepala putranya, sontak hal itu membuat Zidan dan para pembantu terkejut melihatnya. Sudah sangat lama mereka tidak melihat moment tersebut. Bahkan Zidan mengerjapkan matanya berulang kali karena speechless dengan perbuatan Ayahnya. Apa ia tidak salah? “Papa cium aku?” Zidan bertanya-tanya dalam hati karena masih belum percaya dengan perbuatan Ayahnya. “Makan yang banyak, Boy.” Perkataan Danish membuyarkan lamunan Zidan. “Ah, i-iya, Pa.” Zidan kembali memakan roti di tangannya. Pikirannya masih tertuju apa yang dilakukan Danish barusan. Moment langkah yang sudah lama tidak pernah Danish lakukan pada putranya.

