Satu minggu kemudian
Hari pernikahan
Hanifa tersenyum menatap wajah cantik putrinya dari pantulan kaca. Wajah Thania semakin cantik dengan polesan make up di wajahnya. Beliau masih belum percaya jika putrinya akan menikah hari ini. Putri yang masih beliau anggap seperti anak kecil sebentar lagi akan menempuh hidup baru.
Hanifa berdiri tepat di belakang putrinya sembari memegang bahu Thania. “Sayang!” panggilnya dengan suara lembut.
Thania menatap Ibunya dari pantulan kaca yang ada di hadapannya. Ia tersenyum kecil, meskipun ada rasa kesal dan gelisah di dalam hatinya. Perasaannya saat ini campur aduk tidak karuan.
“Kenapa, Mi?”
“Kamu sangat cantik hari ini, sayang.” Thania tersenyum kecil mendengar pujian Ibunya.
“Gimana perasaan kamu saat ini?” tanya Hanifa
“Hmm.. campur aduk, Mi.”
Hanifa mengangguk mengerti. Beliau pernah berasa di posisi putrinya, dan tentunya tahu apa yang Thania rasakan saat ini. “Apa kamu sudah mulai menerima pernikahan ini?”
“Huft.” Thania menghela nafas.
“Mau bagaimana lagi, Mi? Thania tidak memiliki pilihan lain.”
Hanifa mengelus bahu putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Beliau dan suaminya melakukan hal ini karena tahu mana yang terbaik untuk putrinya. Meskipun Danish seorang duda tapi mereka yakin laki-laki itu mampu mencintai dan menjaga putri mereka dengan tulus. Firasat Orang Tua tidak mungkin salah.
Flashback
Setelah bicara dengan kedua Orang Tuanya, Thania tidak memiliki pilihan selain menurut. Lagipula Danish tidak seburuk itu. Dia tampan dan berkarisma. Banyak yang menginginkan Danish di kampusnya.
“Jadi, bagaimana sayang?” Hanifa menggenggam tangan Thania mencoba meyakinkan putrinya.
Thania terdiam sejenak, dan tidak lama mengangguk. “Thania mau menikah dengan Pak Danish.”
“Alhamdulillah.”
Danish tersenyum bahagia setelah mendengar jawaban Thania. Entah apa yang mereka bicarakan sampai Thania langsung menerima lamarannya. Padahal sebelumnya Thania menolak untuk menikah muda.
“Apapun itu aku bersyukur Thania tidak menolak lamaranku.” ucap Danish dalam hati
“Justru, aku pikir Om Arya dan Tante Hanifa yang akan menolakku karena aku seorang duda.”
“Baiklah.”
“Kalau gitu pernikahan kalian akan terlaksana minggu depan. Bagaimana Danish? Apa kamu tidak keberatan dengan keputusan saya?” ujar Arya
Danish menggelengkan kepalanya. “Saya sangat setuju, Om. Lebih cepat lebih baik.”
Flashback Off
“Apa Pak Danish dan yang lain sudah datang, Mi?”
“Semua sudah ada di bawah, sayang.”
Deg.. deg.. deg
Jantung Thania berdebar kencang. Sebentar lagi acara Ijab Qobul segera dimulai. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya setelah menikah nanti. Apalagi suaminya adalah Danish, Dosen’nya sendiri.
“Tenang, sayang! Semuanya akan berjalan dengan lancar.”
Thania tersenyum kecil mendengar perkataan Ibunya. Bukan hal itu yang ia pikirkan. Justru ia memikirkan bagaimana malam pertamanya dengan Danish nanti. Ia tahu bagaimana laki-laki itu. Bahkan sebelum menikah Danish sudah mencuri first kiss’nya.
“Huhh.. tenang, Thania!”
“Kamu nggak perlu takut. Karena jika Danish macam-macam kamu bisa memberitahu Papi dan Mami.” ucapnya dalam hati
***
Arya dan Danish sudah siap. Setelah ini acara Ijab Qobul akan dilaksanakan. Danish dan Arya duduk saling berhadapan. Hari ini Arya akan menikahkan putri satu-satunya sekaligus putri kesayangannya menikah dengan laki-laki yang berani menemuinya.
Arya akan melepas putri kesayangannya dan berharap Danish bisa menjadi penggantinya. Bukan hanya sosok suami, melainkan teman dan pelindung bagi putri kecilnya. Doa kebaikan terus mengalir pada keduanya.
“Kamu sudah siap Danish?”
Danish mengangguk mantap. “Danish sudah siap.”
“Baiklah. Kalau gitu kita mulai acaranya.”
Arya menggenggam tangan Danish. Beliau akan menikahkan putrinya tepat di hari ini. Jantung Danish berdebar kencang. Meskipun sudah pernah menikah namun debaran jantungnya tidak bisa berbohong. Ia merasa pernikahannya kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Kali ini jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya.
“Bismillahirrahmanirrahim.”
“Saudara Danish Alvaro Alvarendra bin Dava Alvarendra saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya Nathania Charissa Prasetya dengan mas kawin berupa satu unit rumah, emas, dan uang sebesar xxx dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Nathania Charissa Prasetya binti Arya Prasetya dengan mas kawin tersebut tunai.”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“SAH!”
“Alhamdulillahi rabbil’alamin.”
Mereka semua mengucap Hamdalah karena acara berjalan dengan lancar. Sekarang Danish dan Thania sudah resmi menjadi pasangan suami-istri secara Agama dan Negara. Sekarang Thania bukan lagi tanggung jawab Arya melainkan suaminya, Danish.
Arya tersenyum bangga. Mata beliau berkaca-kaca menahan tangis. Bahkan tatapannya memancarkan penuh harap agar Danish bisa menjaga putrinya dengan baik dan tulus. Karena selama belasan tahun beliau menyayangi dan merawatnya dengan baik.
“Sekarang kamu telah resmi menjadi suami putri saya, Thania.” ujar Arya
“Iya, Om. Terima kasih sudah percaya dengan Danish.”
“Jangan panggil Om lagi dong! Panggil Papi!”
Danish mengangguk sembari tersenyum kecil. “Iya, Pi.”
Arya menepuk bahu Danish berulang kali. “Jaga putriku dengan baik! Saya akan mengambilnya kembali jika putri saya tidak bahagia denganmu.”
Danish mengangguk. “InsyaAllah, Danish akan menjaga Thania dengan baik.” Arya tersenyum kecil sebagai jawaban.
Di sisi lain, Hanifa mengajak putrinya untuk turun. Acara Ijab Qobul telah selesai dan sekarang waktunya Thania keluar dari persembunyiannya. Para keluarga dan tamu undangan tidak sabar melihat kecantikan mempelai perempuan.
“Mi, harus banget keluar sekarang?” tanya Thania dengan nada gugup
“Iya dong, sayang. Yang lain sudah menunggu kamu di bawah.”
“Tapi Thania belum siap, Mi.”
Hanifa memegang kedua lengan Thania. Beliau menatap putrinya lekat sembari melempar senyuman manis. “Nggak papa, sayang. Semuanya akan baik-baik saja.”
“Gugup ataupun takut adalah hal normal. Tapi mau bagaimanapun kamu harus keluar.” Hanifa menyemangati putrinya.
“Sekarang tarik nafas panjang lalu keluarkan secara perlahan!” ujar Hanifa
Thania melakukan hal yang diperintahkan Ibunya. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Ia melakukannya berulang kali agar hatinya bisa lebih tenang. Dan, berhasil.
“Sudah tenang?” tanya Hanifa
Thania mengangguk kecil sebagai jawaban. “Kalau gitu kita turun sekarang!”
Hanifa menggenggam tangan putrinya dengan lembut. Perlahan keduanya menuruni tangga dengan cantik. Saat hampir di ujung tangga semua mata tertuju ke arah mereka berdua. Lebih tepatnya ke arah Thania, sang penganti perempuan.
Jantung Danish berdetak cepat. Ia menatap Thania lekat, bahkan enggan mengalihkan pandangannya. “Kenapa dengan jantungku?” ucapnya dalam hati
Thania berdiri tepat di hadapan Danish dengan posisi menunduk. Thania tidak sanggup menatapnya sekaligus menatap para tamu undangan. Saat ini perasaannya campur aduk. Bahkan telapak tangannya terasa dingin dan sedikit bergetar karena gugup.
Karena sebelumnya Danish sudah pernah menikah ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia menangkup wajah Thania membuat perempuan itu mendongak ke arahnya. Keduanya saling menatap.
“A-apa yang ingin Pak Danish lakukan?” ucap Thania dalam hati
Danish perlahan mendekatkan wajahnya, dan…
Cup
Danish mencium kening Thania cukup lama. Karena takut Thania memejamkan mata. Dan tidak lama ia merasakan ciuman di keningnya. Tanpa sadar ia tersenyum tipis. Entahlah, ia tidak tahu apa yang dirasakan saat ini.
Orang Tua Danish dan Thania tersenyum haru. Mereka mendoakan yang terbaik untuk hubungan keduanya. Yola menyandarkan kepalanya di lengan sang suami tercinta. Beliau harap kali ini pernikahan putranya berhasil. Kasihan cucunya, karena dia membutuhkan seorang Ibu.
“Mama harap pernikahan Danish kali ini yang terakhir, Pa.” ujar Yola
“Iya, Ma. Papa juga berharap seperti itu.”
Next>>