Bab 11. Rencana Diam-Diam

1043 Kata
Tidak boleh gegabah dan salah mengambil keputusan, Rehan bukan terlalu mementingkan jabatan dan usahanya daripada Arkana, tetapi untuk bisa menghidupi dan menebus salahnya pada si buah hati, tentu Rehan membutuhkan pekerjaan itu. Dan nanti, masa depan Arkana juga harus ia pikirkan, jangan sampai tidak ada bisnis yang bisa Rehan turunkan untuk anaknya itu. “Kamu memang membuat saya bingung, Ndra. Tapi, saya paham ... lakukan diam-diam!” Rehan sudah memikirkan dan mempertimbangkannya. Karin? Entahlah, mereka tinggal di satu rumah, tetapi komunikasinya sudah kacau. Bahkan, keduanya tidur di kamar yang berbeda sejak pulang liburan. “Atur senatural mungkin sampai Kania tidak menyadarinya dan tidak membuat nama Kania buruk!” titahnya lagi, sebab statusnya sudah beristri, Kania bisa dianggap pelakor nantinya bila mendapatkan perhatian lebih. Indra mengangguk, sebisa mungkin dirinya akan mengupayakan keinginan atasannya terealisasikan dengan baik meskipun di bayangkan saja sulit. Kania bukan anak kemarin sore yang mudah dibohongi, kepekaannya tinggi. Hanya saja, bukan lelucon juga kalau yang lebih berkuasa bisa bertindak di atas ekspektasi. “Di acara Gathering, menurut data yang ada nona Kania tidak pernah mengajak Arka, Pak. Dia dikenal janda tanpa anak di sini,” kata Indra langsung menusuk relung hati Rehan, data Arka ada di bawah Adam-adiknya Kania, itulah kenapa asuransi kantor tidak bisa menutup keperluan biaya pengobatan anak itu dan Kania harus bekerja keras. “Saya bisa melanjutkannya, Pak?” “Hem.” Sebentar lagi, ada acara tahunan yang memang wajib diikuti semua karyawan di kantor itu mulai yang kontrak sampai tetap, bahkan petugas kebersihan pun ikut. Itu kali pertamanya untuk Rehan di sana, jadi harus menyimak degan baik supaya tak ada kendala. “Pak, istri anda?” Indra menggantungkan pertanyaan itu, lagi dan lagi terkendala karena Rehan sudah menikah, tidak mungkin lelaki itu bebas bisa memberikan perhatian pada wanita lain sekalipun itu karyawan. Ah, Rehan menekan keningnya. Karin bukan Kania yang menerima saja diperlakukan bagaimana dengan prasangka baiknya, bahkan dulu Kania tidak mengenal Karin dan teramat percaya padanya, mereka hanya saling mengetahui kalau Rehan bukan milik satu orang saja. “Pastikan Kania ikut atau tidak, Ndra!” kata Rehan berpikir nanti saja soal Karin, ia juga belum bertanya apakah wanita itu ada waktu untuk mendampinginya atau tidak. “Oh ya, berikan acara yang sekiranya ada reward dan Kania ikut di sana, semua tim atau divisi bisa ikut!” Indra mencatat semua sampai mereka tak sadar ada agenda rapat yang menunggu, keduanya sampai berlarian ke parkiran untuk segera pergi memenuhi undangan penting itu. Tak sengaja Kania melihat dua orang itu lari-lari, bahkan bahu Rehan sempat menyenggol karyawan yang tengah membawa berkas dan nyaris jatuh. “Mau ke mana?” gumam Kania lantas menegur dirinya sendiri. “Ngapain aku tanya-tanya, mau ke mana juga urusan mereka!” Bibir wanita itu mengerucut, diam-diam sebenarnya Kania kepikiran bagaimana Rehan yang tak pernah mengalah dan arogan itu mengalah padanya. Apa benar Rehan baik-baik saja dan tindakannya kemarin langsung dilupakan karena Arkana tidak terlalu penting. “Nia, ikut nggak acara bulan depan?” Anggar mendata karyawan yang pasti ikut. “Ikut,” jawab Kania asal saja tanpa bertanya data apa yang dibawa Anggar. *** Rupanya, kembali asing tidak selamanya membuat hati Kania tenang. Ancap kali melihat wajah Arkana yang terlelap di sampingnya selalu mengingatkan wanita itu pada sore hari saat Rehan memaksa ikut pulang dan kaki laki-laki itu berada di pelukan Arkana. Kania mengubah posisinya miring membelakangi anaknya, malam merangkak naik, bisa-bisanya wanita itu masih terbayang-bayang dan susah tidur. Membayangkan keluarga kecil itu lengkap, setiap pulang selalu ada adegan seperti waktu itu, disambut anak yang rindu bersama dan menjadi semangat mereka bekerja. Mata Kania mengembun pada akhirnya, menyesali kenapa harus membayangkan hal yang tidak mungkin. “Dia cuman butuh Arka karena belum punya anak sampe sekarang, bukan karena bener-bener menyesal dan sayang,” gumamnya. “Lagian, kalau dia menyesal memangnya bisa kembali seperti dulu? Dia’kan udah nikah sama pacarnya itu,” sambungnya sambil menguap. Detik berikutnya, Kania terkejut sendiri. Belum tentu juga dirinya mau, ia berkata seolah-olah semua akan diterima kembali dan siap membina rumah tangga lagi. “Enggak, nggak akan semudah itu! Aku juga nggak mau balikan!” kata Kania sampai membekap mulutnya, suara wanita itu meninggi tanpa sadar. Ia berbalik lagi memandangi wajah pulas anaknya, mengecup kening hangat itu cukup lama. Satu-satunya harta dan alasan Kania bertahan hidup usai hancur, hanya anak itu dan Kania tidak akan membiarkan tangan siapa pun menyakitinya. Kania mendekap Arkana lebih dekat lagi kemudian menyusul tidur. Namun, baru dua jam berada dalam lelapnya itu, mata Kania terpaksa terbuka lebar karena rengekan anaknya yang menyayat hati. “Arka, liat Ibuk!” pintanya, Arkana kejang mendadak. Wanita itu lantas menyambar ponselnya dan menelpon Adam untuk meminta bantuan, tetapi tindakan pertolongan pertama sudah Kania lakukan dengan menutupi kepanikannya sendiri. “Adam!” panggilnya dengan jantung berdetak menggila. “Adam, Arka kejang!” [Aku ke sana!] Beruntung hubungannya dengan sang adik sangat baik, jadi sampai sekarang pun tidak segan untuk meminta bantuan, mereka selalu saling melindungi dan membantu tanpa pamrih. Tak berselang lama, Arkana sudah mulai membaik, tetapi karena khawatir kejang lagi dengan demam yang masih ada, mereka membawa Arkana ke rumah sakit. Kania semakin cemas begitu melihat saldo tabungannya, gajian masih seminggu lagi, sedangkan ia butuh dana mendadak untuk anaknya itu. Mulutnya terkatup saat mendengar obrolan singkat ipar dan adiknya, mereka pun mencemaskan hal yang sama. “Gimana?” gumamnya tak mau menyusahkan adiknya kalau sampai berhutang, biar dirinya saja yang menanggung itu. “Tapi, aku utang ke siapa?” Kepalanya sakit sekali, sisa tabungannya tak cukup untuk penanganan lanjut. Kania terus berdoa supaya anaknya tidak perlu dirawat inap atau ada tindakan lebih, ia mondar-mandir dengan cemasnya. “Jangan!” teriak Kania saat mendengar ide iparnya untuk menjual kalung dulu. “Sandra, aku udah makasi banget kamu bantuin selama ini. Tapi, jangan! Ini mahar Adam buat kamu, gunain buat kepentingan kalian!” Kania tidak mau itu. “Tapi, Mbak ... aku masih bisa dibelikan Mas Adam lagi dari sisa uang belanja, Mbak tenang aja!” Kania tetap menolaknya, sebagai kakak ipar tentu hal seperti itu terkesan memalukan, apalagi selama itu juga Kania kerap merepotkan Sandra yang tak mau dibayar sama sekali, padahal menjaga Arkana selama dirinya bekerja. “Ak-aku bisa kasbon ke Kabag, oke! Tenang!” ucap Kania sembari mengeluarkan ponselnya, itu tidak mungkin, tidak ada yang namanya pinjaman. Indra?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN