Kania ketakutan, ia selalu menyimpan sakit dan susahnya sendiri. Kalau Adam mengetahui kepada siapa dirinya meminjam uang, adiknya itu akan murka. Tetapi, sekarang tidak ada pilihan lain, Kania benci pada kelemahannya.
Baru saja berencana, ternyata sudah ada jawaban. Indra tidak mungkin menutupi hal itu dari Rehan, apalagi atasannya itu sudah jelas ayah kandung dari Arkana dan berhak bertanggung jawab.
“Kamu bilang ini berdampak bagi posisi saya, kan?” Rehan menatap lurus jam dinding besar di kamarnya, ia tengah menerima telepon dari sekretarisnya.
[Saya bisa membatalkan ini—]
“Dan kamu mau saya menjadi pria terburuk sepanjang masa, Ndra?” Rehan geram. “Masa bodoh dengan jabatan baru itu, atur nanti! Sekarang, berikan apa yang Kania butuhkan. Saya akan menemuinya nanti,” lanjutnya.
Ya, nanti. Karena tidak mungkin sekarang ia datang sebagai pahlawan yang nantinya hanya akan menimbulkan kebencian.
Kenapa harus ke Indra? Itu yang Rehan pertanyakan, Kania bisa langsung meminta tolong padanya.
Rehan menekan keningnya yang tampak berkerut, ia banyak berpikir dan tak tenang.
“Dia nggak punya nomorku?” Rehan berdecak, nomor telepon Indra saja langsung tersebar dan Kania mempunyainya. Sedangkan, dirinya tidak. “Huh, berhenti memikirkan yang tidak-tidak, Re!”
Sejumlah uang yang Kania butuhkan langsung berpindah ke rekeningnya dalam hitungan menit, Kania sampai takut sendiri dengan pertanyaan Adam yang tampak curiga karena mendapatkan pinjaman secepat itu.
“Mbak, aku bantu bayar bulan depan!” katanya.
Kania menggelengkan kepala. “Jangan! Kamu bantu aku jaga Arka di rumah aja, mungkin aku bisa cari lemburan, Dam.”
Lagipula, tidak semua uang itu akan Kania pakai, hanya berjaga-jaga saja kalau ada biaya tambahan yang melebihi sisa tabungannya.
Kecemasan bukan hanya melanda Kania yang menunggu di rumah sakit, tetapi Rehan pun merasakan hal yang sama. Adanya Karin di rumah juga tak membuat hati lelaki itu lega untuk bisa bercerita, jarum jam terus berputar dan nyatanya Rehan tidak bisa tidur karena terus menunggu kabar terbaru dari sekretarisnya tentang Arkana.
“Dari mana kamu?” tanya Rehan terkejut, ternyata Karin tidak di kamarnya, wanita itu baru saja pulang dengan gaun malam ketat.
Karin mengibaskan rambut panjangnya dengan tatapan malas. “Cari hiburan, Re. Emangnya, kenapa?”
Rehan berdecih dalam hati. “Apa belum cukup liburannya? Suamimu di rumah—”
“Re, udahlah! Mulai lagi kamu! Males deh kalau tau gini aku nggak pulang ke sini. Dah, ah!” potong Karin berlari ke kamarnya, kamar yang tentu saja berbeda dari kamar utama tempat Rehan tidur.
Tidak ada yang bisa Rehan lakukan, bahkan ia juga tak mungkin menceritakan rumah tangganya pada keluarga besar karena sejak awal mereka hanya mendukung perjodohannya dengan Kania. Jadi, kalau terjadi sesuatu yang buruk dari Karin, mereka tidak mau mendengar apa pun, itu risiko yang harus Rehan terima.
“Karin!” panggil lelaki itu, nyatanya ia masih ingin memperbaiki hubungannya bersama sang istri di tengah dilemanya atas Kania dan Arkana, bagaimanapun juga Karin itu pilihannya. “Kita bicara, Rin!” ajaknya.
Di kamarnya, Karin berdecak. Semakin lama dirinya semakin muak pada Rehan, ia ingin sekali kabur dan mengakhiri pernikahan itu, tetapi nama Rehan masih sangat dibutuhkannya untuk melebarkan sayap dan memperkaya diri.
“Apa?” Karin mundur karena Rehan langsung mendorong masuk. “Kamu kenapa sih?”
Rehan menatapnya tajam. “Kita suami istri, bukan?”
“Hem?” Karin cukup terkejut. “Kenapa?”
“Aku yang harusnya tanya, Rin. Kamu ada kamar sendiri, padahal di kamarku bisa. Kamu banyak waktu sendiri, padahal ada suami yang harus kamu perhatikan. Rin, pernikahan ini—”
“Yaudah, kamu mau tidur sama aku sekarang?” potongnya merasa omongan Rehan akan melebar ke mana-mana, ia belum siap melepaskan donaturnya itu.
“Bukan itu!”
“Terus apa? Anak?” Karin berdecak.
Rehan menggelengkan kepalanya. “Sederhana, Rin. Mulai seperti awal pernikahan kita dulu, bisa?”
Rehan akui dirinya dilema berat dengan kehadiran Arkana, tetapi ia tetaplah seorang suami dan kepala keluarga, sebisa mungkin ia mencari jalan terbaik untuk rumah tangganya meskipun harus merendah, berharap pasangannya mengerti dan mereka bisa lebih baik lagi. Rehan mengerti Karin tidak akan mudah diatur, wanita itu telah berubah, tetapi kesalahannya meninggalkan Kania dulu, tidak ingin Rehan ulangi meskipun ingin sekali meninggalkan Karin dan lelah. Dirinya akan berusaha dulu tanpa berat sebelah, tetap memperhatikan Arkana diam-diam dan memperbaiki hubungannya bersama sang istri yang siapa tahu nanti bisa menerima hadirnya Arkana sebagai anaknya.
Lalu, Kania? Apa benar hanya penyesalan tanpa ada sejumput cinta?
Rehan meraba dadanya, ia berbaring ke samping Karin. “Kalau nggak ada, kenapa aku terus kepikiran dan merindukannya? Aku bahkan berdebar-debar saat ditatap oleh mata beningnya itu.” batinnya.
***
“Kamu yakin baik?” Rehan memastikan ulang.
Indra mengangguk. “Anda mau saya mengunjungi nona Kania di rumah sakit, Pak?”
Telinga Rehan berkedut mendengar itu, ia merasa tidak rela kalau Kania terus berhubungan dengan Indra. Tetapi, dirinya tidak bisa apa-apa. Antara menjalin hubungan baik dengan istri atau mantan istri, rasanya tidak bisa berjalan bersamaan.
“Kamu perhatian sekali, Ndra,” kata Rehan lolos begitu saja, ia mengutuk dirinya sendiri kelepasan seperti anak kecil.
Dirinya’kan masih bingung dengan perasaannya itu, kenapa harus tidak rela alias cemburu?
Ck!
Indra hanya mengangguk singkat, tanda kalau dia akan patuh saja dengan perintah Rehan. Lagipula, tadi dirinya hanya menebak, tidak berniat ke sana tanpa perintah.
Sementara itu, kondisi Arkana mulai membaik pagi tadi, Kania meminta tolong pada iparnya untuk menemani Arkana di rumah sakit, dirinya harus pergi ke kantor karena tidak bisa izin lagi meskipun ia harus datang terlambat. Kania bergegas menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk sampai melewatkan jam makan siangnya, terus saja di meja kerja dan baru ke luar ke kantin menjelang sore.
“Tunggu!” Rehan melebarkan langkahnya menyusul Kania.
Kania yang tadi langsung memutar langkah merasa aneh sendiri, mereka sudah sepakat untuk asing dan selayaknya hubungan karyawan, tetapi ia reflek menghindar saat berpapasan dengan Rehan, hal yang seharusnya tak Kania lakukan.
Jangan mendekat!
Kania mau tak mau berbalik untuk menghormati atasannya meskipun mengumpat dalam hati ingin lelaki itu pergi saja.
“Sore, Pak Re,” sapanya santun.
Rehan mengangguk, tersadar kalau Kania tidak mengetahui laporan Indra padanya semalam, bibirnya berubah kaku, tidak tahu harus mengatakan apa.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Kania menunggu.
Apa ini? Kalau aku bertanya kenapa dia masuk, Kania bisa curiga kalau Indra melaporkannya semalam. Hash!