01. Guess at The Midnight ❀
Panorama langit berhias ribuan bintang terpantul sempurna di permukaan danau, menciptakan pendar berkilauan yang sesekali bergejolak kala kerikil kecil di tangan Persephone lepas landas menciptakan riak.
Malam telah dimulai. Selena dan kuda bersurai panjang kesayangannya baru saja melintas di angkasa, membagi cahaya untuk menerangi dunia setelah serah-terima tugas dengan Helios di Ethiops, ufuk barat bumi.
Diam-diam Persephone mengagumi kerja-sama antara kakak-beradik yang mengambil peran sebagai dewa langit yang mengatur pergantian hari tersebut. Selena sang dewi bulan mengatur malam, Helios sang dewa matahari mengatur siang. Eos, adik mereka sebagai dewi fajar pun turut membantu dalam mengatur waktu transisi.
Persephone melambaikan tangan pada Selena yang tersenyum padanya. Mereka melakukan komunikasi sederhana tersebut hampir setiap malam, bila Demeter--ibunya tidak di ada dan melarangnya ke luar, seperti saat ini. Selena adalah salah-satu hal yang membuat Persephone merasa tidak begitu hampa sepanjang malam, meski tetap merasa kesepian.
Berbeda dengan dewa-dewi yang lain, karena sebuah alasan khusus, Persephone harus tinggal di pulau Sisilia dan terpisah dari dewa lain. Padang Sisilia tempat kastilnya berdiri adalah sebuah taman bunga yang indah, terletak di tengah pulau dan di antarai oleh tujuh danau yang dijaga oleh para nimfa Naiad. Persephone tinggal bersama Demeter, namun lebih sering sendirian sebab sebagai dewi Olympus, ibunya tersebut sangat sibuk.
Kereta Selena telah menghilang di ujung bumi dan keadaan kembali senyap seperti sedia kala. Samar-samar Persephone mendengar nyanyian para nimfa di kejauhan untuk menarik mangsa. Entah manusia atau demigod yang berusaha masuk.
Persephone menekuk lutut dan menopang dagu. Sisilia bukan tempat yang tidak berpenghuni. Selena dan Helios bergatian memantau dari angkasa. Kawanan nimfa sering datang membawakan kabar dari dunia luar. Artemis dan Apollo juga tidak jarang datang berkunjung. Demikian pula Hermes yang selalu berjanji mengajaknya jalan-jalan. Hanya saja, Persephone ingin seseorang yang menetap di sisinya, menemaninya, bukan hanya datang sebentar lalu pergi tak ubahnya seorang tamu.
Desir angin yang tiba-tiba berubah membuat Persephone berbalik. Punggungnya menegang menyadari reremputan di seberang danau terbelah, seperti disingkap oleh sesuatu.
"Siapa?" Persephone berdiri. Rumput yang ditanam khusus oleh ibunya tersebut mampu mendeteksi keberadaan makhluk halus seperti arwah jahat atau kekuatan gaib yang dikirimkan para tukang sihir.
"Aku Persephone. Putri Demeter. Dalam lindungan Zeus, raja para dewa." Persephone menelan ludah dengan kecut untuk mencegah suaranya bergetar. "Jangan macam-macam atau kau akan dikirim ke Tartaros selamanya."
"Tartaros?"
Sebuah suara di belakang Persephone membuatnya memutar badan.
"Tidak seru, Persephone! Tartaros tidak jauh dari rumahku."
Mata Persephone membulat sebelum sedetik kemudian napasnya terembus lega. "Hecate!"
Hecate yang sedari tadi mengamati Persephone dari seberang sungai tersenyum, jemari lentiknya yang berhiaskan kuku panjang berwarna hitam menerima uluran tangan gadis musim semi tersebut.
"Hecate, kenapa kamu datang diam-diam? Aku takut sekali! Kupikir arwah jahat!" Persephone memeluk Hecate. Rambutnya yang panjang dan lurus membagi aroma musk tajam. Hecate adalah dewi bagi para tukang sihir sehingga Persephone enggan menyinggung soal kemungkinan ancaman kekuatan sihir hitam seperti praduganya tadi.
"Tidak ada arwah jahat yang berani memasuki Sisilia, Persephone. Kamu tahu? Helios dengan cahayanya yang membutakan mata itu memberkati pulau ini."
Sebab itu ayahanda Zeus membuatkan padang bunga untukku di sini. Persephone meneruskan dalam hati.
"Ah, aku tidak bermaksud untuk menyinggung." Hecate menyibak rambut panjangnya lalu mengarahkan pandangan pada semak dan bunga di sekitarnya. "Tumbuhanmu butuh cahaya matahari."
Senyum tulus mengembang di wajah Persephone. Untuk alasan inilah ia senang berteman dengan Hecate yang notabenenya seorang dewi dari dunia bawah. Hecate punya pesona tersendiri. Kuat, tetapi penuh penghargaan. "Sungguh tidak apa-apa. Terima kasih sudah datang."
Hecate menghela napas. Mau tidak mau hatinya tergugah juga. Ia sudah tiba di hulu danau sejak sebelum Selena lewat, sepanjang waktu itu ia memperhatikan Persephone yang memandang danau dengan sendu. Kabarnya Demeter sangat menyayangi Persephone dan memutuskan merawat sendiri putrinya di padang bunga indah yang terjaga tersebut. Hecate paham Demeter memang lebih sering di bumi. Namun, melihat betapa sedihnya Persephone kala ditinggal sendiri, ia belum sepenuhnya bisa menerima alasan tersebut.
"Kamu tanya kenapa aku datang diam-diam?" Hecate menarik kursi di teras depan setelah dipersilakan oleh Persephone. "Aku tidak ingin menjadi bahan perbincangan para nimfa lagi. Mereka menertawakan warna rambutku. Bila saja mereka bukan penjaga, sudah kukunci mulutnya agar tidak bisa bersuara."
"Rambutmu cantik, kok." Persephone menuangkan nektar sambil meringis. "Jangan kunci mulut mereka. Para nimfa itu harus bernyanyi."
"Selama aku bisa menahan diri. Aku juga malas berurusan dengan Apollo." Dengkusan Hecate terdengar masih kesal. "Lagipula sepertinya Apollo sedang tidak ingin diganggu untuk sekarang ini. Dalam perjalanan tadi aku bertemu dewa pelindung nimfa itu dan saudarinya. Mereka sedang bertengkar. Artemis sampai mengancam dengan anak panahnya."
"Aretemis dan Apollo Bertengkar? Tidak biasanya. Mereka memang sering ribut, tapi tidak pernah bertengkar." Persephone yang terkejut menoleh sebentar pada Hecate.
"Entahlah." Hecate mengangkat bahu, suara dibuat pelan seperti berbisik. "Sepertinya Artemis meminta Apollo membaca masa depan."
Persephone lagi-lagi dikejutkan oleh perkataan Hacate. "Bagaimana mungkin? Artemis selalu fokus pada tujuannya sebagai pemburu terbaik. Dia tidak pernah mencampuri urusan Apollo."
"Aku juga tidak mengerti, Persephone. Aku tidak sengaja mendengar mereka berbincang saat melewati pemakaman untuk mencari arwah. Kurasa ini rahasia sampai mereka berbicara di tempat seperti itu." Hecate tertawa kecil. "Mereka tidak tahu saja, sebelum memasuki kolam Lethe untuk menghapus ingatan, arwah masih bisa bermulut ember."
"Tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka, kan?"
"Kabar baiknya, tidak. Hermes memandu arwah dengan baik kali. Pemakaman yang kudatangi sudah kosong."
Persephone mengurut d**a. Ia tidak tahu-menahu urusan di Olympus. Bisa jadi Apollo dan Artemis berseteru soal tugas mereka. Walau kemungkinannya tidak besar.
"Kalau kamu sangat penasaran, lebih baik tanyakan langsung pada mereka. Mereka tidak mungkin tersinggung bila kamu yang bertanya." Hecate mengeluarkan sebuah bungkusan kain dari saku jubahnya. "Ini herba tanaman yang kamu minta. Tumbuhan ini beracun. Berhati-hatilah."
Persephone mengangguk semangat dengan mata berbinar. "Terima kasih, Hecate!"
"Bukan apa-apa." Hecate mengamati Persephone yang kegirangan. Kelopak bunga di kepalanya semakin merekah. "Apa yang istimewa dari tanaman beracun itu sampai membuatmu senang seperti itu?"
"Justru karena beracun, tanaman ini istimewa. Aku akan meramunya menjadi obat."
"Obat?"
"Ya. Apollo bilang obat dan racun itu sepadan. Ramuan obat bisa menjadi racun bila digunakan tidak semestinya. Begitu pula sebaliknya." Persephone meletakkan tanaman tersebut dengan hati-hati. "Bagaimana aku membayar ini?"
Hecate menarik satu sudut bibirnya. Perbedaan kontras antara Persephone dengan para Olympian saudaranya adalah kerendahan hati yang dimilikinya. Persephone tidak menunjukkan jiwa ingin berkuasa dan ingin dihormati.
"Kamu tidak perlu membayar apapun, Persephone. Erebos adalah tanah yang baik bagi tumbuhan beracun. Tanaman itu tumbuh liar di hutan milikku. Beberapa kuambil di kediaman Thanatos, bibit di sana tumbuh dengan baik. "
"Thanatos sang malaikat maut?"
"Thanatos lebih senang disebut dewa kematian. Dia akan merasa geli bila dipanggil malaikat." Hecate terkikik. "Sebagai personifikasi maut, segala sesuatu yang memiliki aura kematian besar menyertainya dengan baik. Termasuk tanaman beracun itu."
"Apa dia tidak ... keberatan?"
Hecate kembali terkikik. "Thanatos memang sedikit menyeramkan, tapi percayalah, dia tetangga yang baik. Kalau kau mau, aku bisa memangkas semua tanaman beracun di halaman kastilnya."
Persephone ikut tertawa kecil. "Terima kasih, Hecate. Aku senang mendengarnya, tapi aku tahu tugasmu sangat banyak. Seandainya saja aku bisa bebas keluar dari sini, aku akan datang dan memetiknya sendiri."
"Underworld tidak semudah itu untuk dimasuki, Persephone." Hecate mengelus punggung tangan Persephone yang menatapnya tanpa prasangka. "Apa Hermes tidak pernah menceritakan hal ini padamu?"
Persephone mengatupkan bibir dan menggeleng. Ia memang tidak pernah bertanya.
"Persephone ...." Hecate meringis. "Underworld bukan tempat yang tepat untuk dirimu yang ...."
"Yang?"
Hecate tampak menimbang apa yang akan dikatakannya. "Yang penuh kehidupan."
Persephone memiringkan kepala sekian derajat.
"Intinya, sekali masuk, kamu akan terjebak di sana selamanya."
"Dan aku bisa bermain di rumahmu. Kita bisa menjadi teman sekamar. Sepertinya itu menyenangkan."
"Kamu terlalu polos, Persephone!" Hecate menepuk jidat dramatis. Ia mengamati sekeliling lalu menggerakkan jemari lentiknya di udara, menciptakan gelombang tak kasat mata yang melingkupi mereka dengan kekuatan sihir. "Yang Mulia Tuan Hades tidak akan mengizinkan itu."
"Hades?"
Hecate membelalakkan mata lalu membekap Persephone dengan tangan. "Jangan sebut namanya seperti itu! Yang Mulia Hades adalah penguasa dunia bawah. Dia raja bagi para arwah. Kekuatanya sebanding dengan raja Zeus, atau mungkin lebih.”
“Benarkah?” Persephone terperangah. Ia tahu banyak dewa dari berbagai bacaan, namun nama Hades tidak pernah ia temui dalam buku mana pun.
Hecate mengangguk. “Beberapa manusia bahkan takut menyebut namanya.”
“Tadi kau bilang dia penguasa dunia bawah.” Persephone tampak anic. “Lalu, bagaimana dengan benih tanaman ini? Apa dia tidak marah bila kita mengambil tanaman miliknya? Bagaimana bila kamu dihukum?”
“Jangan khawatir. Itu tidak akan terjadi. Yang Mulia membagi wilayah Underworld menjadi beberapa bagian dengan hak otonomi. Lagi pula, dia sangat kaya.” Hecate bangkit. “Aku harus bergegas. Masuklah ke dalam kastilmu. Aku meninggalkan jejak di sepanjang jalan jadi tidak perlu khawatir ada penyihir hitam yang datang kemari. Kamu tahu sendiri siapa aku.”
“Kamu dewi yang dipuja para penyihir.”
“Aku merasa tersanjung untuk itu.” Hecate tersenyum. “Selamat malam, Persephone.”
“Selamat malam.” Persephone membalas dengan suara rendah. Saat Hecate berbalik menuruni tangga, ia hanya mampu menatap nanar punggungnya. Perasan yang sama ketika melihat Artemis, Apollo, maupun Hermes bersiap-siap pergi menyergap hatinya. Persephone merasa … ditinggalkan.
Persephone membalas lambaikan Hecate yang melemparkan cium jauh untuknya sambil mengedipkan mata. Ia lalu melangkah ke tepi jendela, menatap angkasa. Saat sibuk menghubungkan gugusan bintang, kata-kata Hecate kembali terngiang.
“Yang Mulia Hades adalah penguasa dunia bawah, raja bagi para arwah. Kekuatanya sebanding dengan Zeus, atau mungkin lebih.”
“Underworld ….” Persephone bergumam sendiri. Selama ini ia terlalu fokus memikirkan kehidupan di langit. Membayangkan betapa menyenangkannya tinggal di Olympus sebagai seorang Olympian. Ia tidak memikirkan dunia lain yang berada di bawahnya.
Persephone melipat lengan kemudian membenamkan kepala di antaranya. Kelopak matanya perlahan terpejam. Ada satu pertanyaan yang tiba-tiba terlintasnya di pikirannya, atau mungkin di hatinya.
“Yang Mulia Hades itu … dewa yang seperti apa?”
***
❀❀❀
TBC