love 365 day's part 5

1796 Kata
MENCOBA BERTAHAN ponselku berdering berkali-kali tapi aku tidak mendengarnya, ku lihat ada 18 panggilan tak terjawab dari mas Riko, dan 3 panggilan dari trian. ya memang trian masih menghubungi ku, dia sama sekali belum tau tentang aku dan Riko. sesekali dia menanyai kabarku, meminta pendapat, dan menanyakan kapan aku pulang . entahlah, karena apa rindu atau hanya sekedar perlu . yang jelas merahasiakan keadaanku adalah keputusan kami antara aku dengan Riko. termasuk kehamilanku. hari ini sudah 2 bulan lebih aku tinggal di Jogja. tidak ada yang berubah memang dengan ku, selain perut ku yang mulai membuncit. suasana Jogja membuat aku merasa belum pernah meninggalkan nya. seperti merasa tidak pernah punya kehidupan di Jakarta, dan aku masih melanjutkan kehidupanku sebelum bertemu dengan Riko apa lagi trian . sesekali Siti mengajakku keluar, walau hanya sekedar berbelanja di pasar dekat rumah. bernostalgia dengan jajanan-jajanan pasar yang hampir ga ada di Jakarta. seperti yang akan kami lakukan pagi ini, "mbak vloi, sudah siap belum? jangan lupa di pakai jaket nya, biar gak masuk angin " kata siti yang sudah siap menenteng tas belanja dari anyaman plastik. "udah sit. ayo berangkat" ajakku. jujur sejak aku tinggal di Jakarta, aku hampir ga pernah lagi keluar naik motor, terlebih setelah kami melakukan program hamil. tapi kali ini Siti mengajakku berkeliling Jogja naik motor karena tujuan kami hari ini cukup jauh, pasar Beringharjo di Malioboro . "pegangan Yoo mbak, aku takut kalau sampe lepas nanti bisa-bisa aku di pecat sama ndoro" Siti bergurau sambil menarik pegangan ku ke perutnya. pelan-pelan sekali siti membawa motor Scoopy yang kami naiki, aku tau dia tak hanya takut kena marah ibu atau Riko, tapi karena aku sedang hamil, dan Siti tau aku mendapatkannya setelah perjuangan dan waktu yang lama. "nah, sampai mbak, ayo sini lepas helm nya aku tak cari parkiran" Siti memberhentikan ku di depan pintu masuk pasar. "o ya sit, aku mau cari burung puyuh dulu. kamu tau to tempat nya? nanti ku tunggu di situ ya" Siti mengangguk dan mengerti tempat makanan favorit ku itu . aku berjalan pelan diantara gerai kaki lima dan toko sepanjang trotoar pasar Beringharjo, hingga sampai pada ibu-ibu penjual burung puyuh siap goreng . ku pilih yang paling kelihatan montok, belum selesai ku bayar aku merasa ada cairan yang keluar dari vaginaku . lekas aku memberikan uang pada ibu penjual dan bergegas mencari toilet, karena aku merasa ada yang ga seperti biasanya di celana dalam ku. karena sebelum dan sampai hamil aku tidak pernah keputihan. (drett drett drett) bekali-kali ponsel ku bergetar aku tau itu pasti Siti yang sedang bingung mencariku . tapi aku tetap melanjutkan langkahku hingga sampai di toilet umum di dalam pasar. benar saja, darah segar yang ku lihat menodai celana dalamku. aku gemetar antara cemas dan sedih . takut terjadi apa-apa pada kandunganku . ku ambil ponselku yang dari tadi masih terus bergetar, dan ku angkat . "haduh mba vloi. kemana to aku bingung ini nunggu di tempat burung puyuh tapi Mbak vloi ga ada" tampak suara Siti khawatir dari seberang telpon. "sit, aku di toilet bisa kamu kesini sekarang" aku menjawab dengan intonasi dan nada hampir menangis . tak lama setelah itu Siti datang, menghampiri ku yang termenung di bangku depan toilet pasar sambil menangis, "ono opo mbak, kok nangis" tanya siti menyerengitkan kedua alisnya karena cemas. "pesan gocar sit, kerumah sakit sekarang. aku pendarahan" jawabku singkat. Siti langsung memesan gocar dengan ponselku, dan memapahku sampai ke luar pasar . " janin nya masih bagus, detak jantung nya baik, hanya saja karena guncangan atau kelelahan mangkanya ada sedikit pendarahan, bedrest ya Bu" dokter menulis rujukan rawat inap di salah satu RSIA Jogja. sedari tadi Siti terlihat bolak balik meremas-remas tangannya, tampak takut sekali dari raut wajahnya. setelah dokter selesai memeriksa Siti mendekatiku. " piye mbak? aman to? aku tak telpon bukne ya?" dengan muka yang kebingungan . "gausah sit. kamu tenang aja, biar aku yang telpon ibu, dan mas Riko, ga perlu cemas kata dokter semua baik-baik aja, aku cuma disuruh istirahat" jawabku menenangkan. ada rasa cemas dalam hatiku lebih dari sekedar takut bayi kecil yang ku kandung kenapa-kenapa,aku khawatir jika bayi ini tidak selamat maka selama nya mas Riko tidak percaya kepadaku . syukurlah, tuhan masih kasih kepercayaan Nya untuk ku. "assalamualaikum bu aku di rumah sakit, emmh tapi ibu ga perlu khawatir, cuma kecapek an mangkanya ada sedikit perdarahan, tapi udah di tangani dokter kok. tapi mungkin Siti pulang nya agak telat bu. tadi vloi sudah order bubur ayam Bandung lewat gofood, ibu gak papa kan kalo makan itu dulu" karena pasti ibu lapar menunggu kami pulang. setelah jawaban yang sangat panjang antara nasehat dan rasa khawatir seorang ibu kepada anaknya dan khawatir nya nenek kepada cucunya akhirnya aku menyudahi telpon. aku harus menghubungi riko, karena bagaimanapun selama aku dirawat di rumah sakit tagihannya pasti akan smapai ke Riko, dia akan marah bila aku tidak mengabarinya. ku coba telpon beberapa kali, panggilannya tidak terhubung . akhirnya aku memutuskan menelepon salah satu temannya, dan dia mengatakan bahwa Riko sedang meeting sampai nanti jam 2 siang. (message from vloi) "mas, aku di rumah sakit, ada sedikit perdarahan" send a message. aku memutuskan mengirimkan pesan melalui w******p, agar nanti Riko bisa menghubungiku setelah selesai meeting. aku menyuruh siti untuk pulang, dan memastikan keadaan ibu baik-baik aja . karena aku khawatir tensinya naik setelah mendengar kondisiku. berkali-kali air mataku tiba-tiba menetes sendiri, ini mungkin namanya menangis tanpa suara. aku terbaring sendiri di ruangan 5x4 m, dengan infus hanya suara tv yang menemaniku, sesekali perawat datang mengecek keadaanku. terasa sekali dalam kondisi seperti ini harusnya aku ditemani Riko, tapi aku sendiri yang membuat keadaa seperti ini. aku hanya bisa menjalaninya dan menoba bertahan karena mengeluh tidak ada hasilnya . (drett drett drett drett drett) aku terbangun dari ketiduranku, dan meraih ponselku dari atas nakas rumah sakit di sebelah ranjangku. "assalamualaikum, vloi gimana keadaan kamu, anak kita baik-baik aja kan" Riko tampak sangat cemas dari seberang telpon. aku termenung sejenak sebelum menjawab pertanyaan riko, dia menanyakan kondisi anak kita, dalam hatiku seperti ada power yang menguatkan tubuhku yang hampir tumbang tak bertenaga sedari tadi . karena belum makan karena tidak berselera. "waalaikum salam sayang, Alhamdulillah aku dan bayinya baik semua, aku dirawat karena harus bedrest beberapa hari kedepan sampai darah nya bener-bener berhenti" aku memberikan penjelasan. "aku kesana nanti malam ya?kamu perlu apa?mau di bawakan apa gitu?" tanya Riko beruntun. " mas, gak perlu kalau memang masih banyak pekerjaan, aku bisa sama Siti disini. nanti kamu capek kalo harus perjalanan jauh bolak balik" ada rasa ingin mengiyakan tapi Jakarta Jogja jauh sekali apa lagi jika nyetir sendiri. "gak gak gak...aku kesana naik kerera malam, pokoknya kamu tunggu aku ya sayang, jangan khawatir aku akan datang nemenin kamu" Riko menenangkan ku. ada rasa bahagia, dari semua yang pernah ku impikan setiap melihat wanita hamil di temani oleh suaminya saat periksa di klinik dokter Andre . dan kali ini aku merasakan nya, kalau saja tidak ada cerita antara aku dengan trian, mungkin cerita ku sudah sempurna . tapi mungkin inilah jalan takdir dan cerita yang harus aku lalui . coban berat yang aku dan terutama Riko alami adalah ujian untuk mendapatkan bonus yang paling kami nantikan. yaitu anak. malam itu aku tertidur cukup nyenyak, dan bangun lebih fresh, "selamat pagi Bu vloi. saya periksa dulu ya" sambut perawat pertama yang mengecek tensi ku pagi ini. "semuanya bagus, tensinya normal, nanti akan saya taruh obat perdarahan nya lewat bawah ya Bu, mungkin akan terasa agak pusing ketika obatnya bekerja jadi ibu baring saja selama obat nya saya masukan sampai sensasi pusingnya hilang" penjelasan perawat . benar saja seperti mutar kepalaku, sensasi dari obat yang perawat katakan tadi, aku tetap tenang di atas ranjang sampai pusing aku hilang. aku yang dari tadi menahan buang air kecil, berusaha bangun dari tempat tidur. baru menurunkan satu kaki aku merasakan pandanganku kabur dan hampir jatuh . "astagfirullah vloi, kamu kenapa" tiba tiba riko sudah ada di depanku menangkap tubuhku yang hampir Rebah. "aku mau kencing mas" jawabku lirih dengan sigap Riko membopong ku menuju kamar mandi di ikuti siti yang memegang botol infus ku. ternyata mas Riko sudah tiba di Jogja, dari semalam memang aku tidak melihat ponsel ku. karena tidur terlalu nyenyak . "sudah makan?" tanya Riko melihat piring makan ku masih penuh "belum mas tadi aku habis di kasih obat pencegah perdarahan dan efeknya bikin aku pusing, mangkanya aku tadi baring dulu. dan aku fikir sudah ga pusing karena aku kebelet pipis jadi aku mencoba bangun" aku memberi sendikit penjelasan . Riko menyuapiku dengan telaten hingga makan ku habis tak tersisa. "aku mengambil cuti 2 Minggu kedepan, sampai kamu benar-benar sehat" Riko menyisiri rambutku yang acak2an . "maafkan aku ya mas, merepotkan mu" aku sedih karena setelah yang aku perbuat Riko masih sangat perhatian kepadaku. " kamu tanggung jawabku sayang, sampai kapanpun. dan aku harus ada ketika kamu butuh aku" Riko menghentikan laju sisir dan menggenggam tanganku. Alhamdulillah selama 4hari aku dirawat di rumah sakit, akhirnya dokter mengizinkan aku pulang. dengan catatan tetap harus bedrest sampai usia kandunganku 5 bulan. "sayang, boleh ga? aku kangen" Riko mendekatkan kepalanya ke leherku. bulu kuduk ku berdiri tanda signal nya sampai ke ujung kakiku, aku juga sangat merindukan nya. apa lagi goyangan nya . di lumat nya bibirku, hingga tak ada ampun, tangan Riko terus berkeliaran bebas dari dada hingga ke bagian bawah perut, tak sanggup aku menahan tubuh ku untuk tidak menggeliat, "sstttooopp sayang" aku mendorong tubuh Riko dari atas tubuhku. Riko menghentikan gerakannya yang sudah siap memarkirkan mobilnya ke garasi ku. "aku takut sayang, pelan-pelan ya, kata dokter gak boleh dalam-dalam dulu sampai 5 bulan" aku menatap bola mata Riko yang sudah membulat . "iya sayang" Riko melanjutkan permainannya . sejak aku berada di Jogja aku begitu merasa bahwa kita saling membutuhkan, dan masih saling mencintai. hampir tidak ada trian di dalam fikiranku, hanya saja rasa khawatir jika semua ini harus sampai ke telinga trian yang menjadi beban fikiranku. aku merasa menjadi wanita yang sempurna selama Riko menemaniku di Jogja, dia menemani ku kontrol ke rumah sakit dan memijat kaki ku setiap malam . terasa aku ingin sekali ikut Riko pulang ke Jakarta dan menjlani hari-hari ku sebagai istrinya yang sedang mengandung. tapi lagi-lagi masih ada alasan yang menahan ku untuk tetap tinggal di Jogja. akhirnya Riko kembali ke Jakarta, sebelumnya Riko berpesan pada Siti untuk kemana-mana naik gocar saja jika membawaku. aku merasakan semakin hari hubungan kami makin membaik, meskipun masih ada yang mengganjal, tapi aku tau semua di lakukan Riko karena ingin membuatku sehat selama hamil dan mencoba melupakan semua yang tejadi demi memperbaiki rumah tangga kita kembali. jika berjauhan membuat kami saling menumbuhkan rasa cinta dan dapat membangun rasa percaya lagi. maka dengan senang hati aku akan menjalaninya sampai anakku lahir. dan aku akan tetap bertahan di jogja seperti rencana kami sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN