Damn! im gay? - 05

2318 Kata
ADAM POV . . . . . . . . Akan lebih bagus jika aku berkonslutasi dengan dokter. Pikiran ku kacau gara-gara pangeran angkuh departemen sport itu! Aku mungkin akan terlihat tidak normal jika ada di hadapannya. Sialan kau Rava.. "Oi.. adam, apa yang kau lakukan?" Aku langsung menatap sahabat ku, Galan. Dan aku melihat diriku yang sedang mencoret-coret catatan matematika ku. Oh god.. Lihatlah ini, gara-gara memikirkan pangeran tenis angkuh itu aku sampai mencoret-coret buku catatan ku sendiri. "Btw, galan.. Apa kau pernah mencium seorang pria?" Sontak Galan langsung menyemburkan minumannya di lantai, dan lalu menatapku dengan kaget. "Apa? Pria? Kenapa kau ini adam.." Aku menaikkan kedua pundak ku dan menatap Galan agar cepat memberikan ku responnya. "Aku masih normal.. Dan aku bukan Gay." Apa hanya itu responnya..? "Jadi, kau belum pernah melakukannya?" tanyaku. Dan Galan mengangguk "tidak pernah dan aku tidak akan pernah mau melakukannya! Kenapa kau bertanya begitu?" heran Galan padaku. "kau belum pernah melakukannya, kalau begitu. Maukah kau berciuman dengan ku?" Galan langsung menatapku dengan terkejut, bahkan botol air minum yang Dia genggam jatuh. Setelah itu Galan langsung melempari ku buku tulis miliknya. "Hey! Hentikan! Aku hanya bertanya.." kata ku yang membela diriku sendiri, "kau sudah tidak waras Adam.. Mungkin sedikit karate bisa membuat otak mu kembali normal.." kata Galan yang kini siap dengan kuda-kuda karate nya. Dia mencoba untuk menghajar sahabatnya sendiri? Dia yang sudah tidak waras. "Hentikanlah.. Aku hanya bertanya.." Galan kembali duduk dan mengambil buku tulis yang dilempari padaku tadi. "Jika kau bertanya seperti itu lalu kalau aku menjawab Iya.. Apa kau ingin melakukannya?" Aku mengangguk dan tersenyum. "Tentu saja, jika kau mau.." kataku dengan santai. "Are you f*****g kidding me?! Oh god.. Kau benar-benar aneh adam! Dan itu menjijikkan! Meskipun memang sifat mu dari dulu Aneh, tapi kali ini sangat Aneh!!" Aku langsung pergi meninggalkan Galan yang berbicara itu, dan aku tidak memperdulikannya. "Adam! Aku belum selesai bicara! Mau kemana kau!" teriak Galan. "Mencari seseorang yang sama menjijikkannya dengan ku!" ucapku tanpa menolah ke galan, aku yakin kali ini galan sangat Shock dengan tingkah ku. Tapi aku yang lebih shock dengan diriku, aku harus tuntaskan masalah ku ini dengan cepat. . . . . . . . . . . . . . . . Aku melangkahkan kaki ku menuju ruangan klub ku yang begitu sunyi dan damai, mungkin jika berdiam Diri disini akan membuat pikiran ku jernih. akhir-akhir ini pikiran ku kacau gara-gara pangeran angkuh dari departemen sport ! saat memasuki Ruangan klub science, aku langsung teringat dimana Diri ku berciuman dengan Rava, si pangeran Angkuh itu. ciuman yang sangat panas.. bahkan bibirnya yang merah ranum seperti buah Plum itu benar-benar sangat Erotis. maksudku.. Dia dapat membuat kejantanan ku berdiri. bahkan desahannya.. ohh sial.. bahkan kali ini aku memikirkannya. apa mungkin ini hukum karma? aku selalu mengejeknya tiap kali kami bertemu, dan sekarang. begini jadinya? haah.. 'senpai...ahh..' bahkan desahannya masih bisa aku dengar. "keluarlah dari pikiran ku Rava!" teriakku. "Kak adam..?" suara itu lagi, apa kali ini aku sudah gila? "aku bilang-" mataku langsung menoleh kearah pintu keluar, di mana Pangeran tenis yang baru saja ku pikirkan itu kini berdiri disana, dengan wajahnya yang datar. ku hela nafas panjang, Dia menghampiri ku dan menatapku."umm.. kak adam." panggilnya lagi. "cepatlah bicara," kataku, Namun Dia hanya terdiam. aku menatap wajahnya. wajahnya terlihat begitu manis, bahkan bibirnya yang merah itu menggoda hawa napsu ku untuk melahap kembali bibirnya yang manis itu. segera ku tepis pikiranku untuk melahap bibirnya itu.. "hey.. mau berciuman sekali lagi dengan ku?" ada apa denganku? kenapa aku bertanya seperti itu padanya? Rava menatapku, aku tau pasti reaksinya akan sangat kaget seperti Galan dan Rei. bahkan pasti dia akan menatap ku menjijikkan— "i-iya.." mendengar responnya yang begitu cepat membuat ku kaget. bahkan saat ini wajahnya merona, sial Bocah ini benar-benar imut. ya aku bisa tau responnya akan seperti itu, lagi pula kami sudah berciuman. itu pun disini, lagi.. "kau serius?" tanya ku lagi dan Rava mengangguk mantap. kenapa aku yang canggung? Kenapa di saat aku menyarankan ciuman bersama Galan dan Rei aku tidak pernah merasakan perasaan ini? .... Semoga ini khayalan ku saja. "kemarilah" kataku sambil menepuk pahaku agar Dia duduk, dan dia menurut!? Wah.. pangeran angkuh ini patuh dengan apa yang ku intruksi kan pada nya. "kau kesini untuk melakukannya kan?" goda ku, dan dia mengangguk dengan wajahnya yang merona. "Kak adam kan tutorku, jadi aku tidak ingin melewati pembelajaranmu sedikit pun." For the sake of god! Jantungku berdenyut tidak karuan, ini akibat wajahnya yang berbeda 99% saat di tempat umum. Aku mengangguk dan tersenyum padanya, Tanganku mulai memegangi belakang kepalanya untuk menahan penolakan yang akan dia lakukan sewaktu-waktu. dan dengan perlahan aku memajukan wajahku dan memiringkan sedikit kepalaku dengan slow motion bibir kami bertemu dan saling bergesekan. Sensasi ini... yang sangat ku rindukan, gesekan bibir antara bibir nya begitu lembut sehingga dengan sengaja aku menggigit bibir bawahnya secara pelan, lidah ku memainkan bibirnya dan Dia meresponnya dengan membuka mulutnya dan memaksa lidah ku masuk kedalam mulutnya. lidah kami bertemu, dan saling berperang didalam. lenguhan milik Rava begitu indah di telinga ku. sehingga membuat ku mengulum bibirnya lagi dan lagi. aku sempat membuka mataku, melihat Rava yang wajahnya merona dan itu sangat imut. benar-benar imut! ku peluk erat pinggang Rava dan memperdalam ciuman ku. setelah mencium bibirnya. Aku menuju ke leher jenjang nya, menciumnya dan menjilat lehernya itu sehingga membuat Rava mendesah. tapi tetap saja kulanjutkan. Desahannya yang membuat ku gila, aku langsung melahap kembali bibirnya. Ini benar-benar nikmat, bibirnya sangat manis. setelah beberapa menit kemudian, ku berhentikan ciuman kami. dan menatap Rava yang saat ini mengatur napasnya "kau tidak keberatan kan jika aku mencium mu seperti ini?" tanya ku, dan Rava menatap ku dengan wajah yang merona. oh s**t! dia sangat imut. "ya.." setelah mengatakan itu, aku kembali menikmati bibirnya yang manis itu. . . . . . . . . . . sialan.. apa aku benar-benar Gay? ya.. mungkin saja aku Gay, tapi.. jika aku Gay aku mungkin akan tertarik dengan semua cowok yang ada disini, terutama Galan dan Bayu, Dia sahabatku, dan jika di pikir secara Logika maka orang pertama yang ku cintai adalah sahabat ku terdahulu kemudian orang lain. buktinya dengan santainya aku mencium Rava di ruangan klub ku. tapi, jika bersama Bayu ataupun Galan, aku biasa-biasa saja. mungkinkah aku Bisexual? oh tidak.. tapi bisa saja kan aku bukan gay? kemarin dulu aku hampir mencium seorang wanita. Jika saja saat itu aku tidak memikirkan Rava mungkin aku akan mencium Wanita itu. baiklah, ini sudah selesai.. mungkin jalan satu-satunya ialah berkonsultasi dengan dokter. aku membuka pintu ruang Osis, Di sana sudah ada yang beberapa yang datang. Galan, Rafael dan tentu saja Ketua Osis Rei. "ah.. kau sudah datang rupanya Adam.." Aku mengangguk, kemudian duduk. Duduk diam seperti ini pun tidak ada gunanya! aku merubah posisi dudukku, namun tetap saja aku tidak bisa berpikir jernih. Aku pun duduk di meja dan melipat kedua kakiku. Aku bingung.. jika 1 atau 2 orang pria yang kubajak untuk berciuman denganku. kenapa Hanya Rava yang Mau? Galan, bahkan Rei menolaknya mentah-mentah dan melihatku dengan tatapan yang menjijikkan. mungkin Galan dan Juga Rei mereka berdua cowok Normal makanya menolak mentah-mentah saranku. tapi aku kan juga Cowok normal! tunggu dulu.. bagaimana dengan Rafael? Dia selalu di sebut sebagai Man of Beauty di sekolah dan ku akui wajah nya cukup cantik untuk seukuran pria. mungkin kalau Dia yang ku ajak dia akan mau menerimanya. "Rafael.." panggilku, Rafael menoleh kemudian tersenyum padaku. "ada apa Adam?" tanya Rafael yang sedang asik menulis not lagu miliknya. "Mau berciuman denganku?" Tanya ku dengan santai. yang spontan membuat Rei dan Galan menatapku dengan ekspresi Kaget dan ngeri. Sontak satu pukulan mendarat di kepalaku, membuat ku meringis kesakitan dan melihat siapa yang melakukannya. "sakit.. g****k!" marahku, Ternyata yang memukul ku adalah Galan. "aku sudah bilang kan! kalau Adam berkata aneh dari yang aneh!" teriak Rei. Aku hanya bisa menekuk wajahku, namun pernyataan ku yang secara terang-terangan itu tidak membuat Rafael terkejut sedikit pun seperti Galan dan Rei. Rafael, Dia malah tertawa "aku mau melakukannya!" Respon Rafael sambil tersenyum padaku. "APAAAAA?!!" Serentak Galan dan Rei berteriak mendengar Respon dari Rafael. aneh.. Aku tidak gugup maupun canggung. bagiku ini seperti Gurauan saja. "apa kau baik-baik saja Rafael? kenapa kau menerimanya?!" tanya Rei histeris. "kau adalah Primadona dalam seni.. kenapa kau malah memilih jalan yang salah bersama adam?!" Histeris Galan, dan Rafael terlihat senyum-senyum bahagia. "ayolah.. itu hanya candaan Adam.." "Candaan apanya!! itu seperti pertanyaan seorang p****************g!!" teriak Rei "rafael, mulai sekarang berlindung lah di belakangku. aku akan menjaga mu dari Adam Alien Homo itu.." Aku menatap datar Galan dan Rei, Tingkah mereka seperti anak SD.. "Rafael, bagaimana dengan ngeseks denganku? apa kau mau?" tanyaku lagi, Dan sontak pertanyaan itu membuat Galan dan Rei menatapku tidak percaya. "WAT THE FAK!! Kau benar-benar sudah Gila Adam!! sangat Gila dan aneh!!" teriak Rei. "kau perlu cuci otak!! jangan pernah menodai Primadona kesenian sekolah ini!" teriak Galan juga. yang aku mau dengar saat ini respon dari Rafael, bukan Respon dari 2orang anak SD seperti kalian. "Rei aku mendapatkan-" yang datang itu adalah Bayu, sahabatku. Bayu menatap bingung Rei dan Galan yang sedang melindungi Rafael dari bahaya yang ada. "a-ada apa ini? apa yang terjadi adam?" aku menatap mereka berdua kemudian menaikkan kedua pundakku. "mereka tiba-tiba saja lari dariku dan berteriak tidak jelas.." jelasku "tentu saja kami lari dari mu! kau sudah tidak waras!" teriak Galan, aku tidak memperdulikan perkataan mereka. kali ini aku mulai bingung dengan diriku. "Rafael.." panggil ku, Rafael menoleh ke arah ku dan menyahut. "ya?" "berhentilah bicara dengan nya Adam!!" teriak Galan. Terus kapan aku bisa bicara? "dan berhentilah berteriak.." Ucap bayu yang kelihatannya membela ku. Mantap bayu! "benar-benar tidak sopan memotong pembicaraan orang, Galan.." "ta..tapi adam mengatakan hal yang sangat aneh.." "hal aneh yang bagaimana?" "mau kah kau seks dengan ku?" hening, aku melirik ke Bayu, Bayu tak bergerak sedikit pun. Sontak Bayu langsung melemparkan buku yang dekat dari jangkauannya pada Galan. Bukk! "kenapa aku yang di lempari?!" geram Galan yang tak terima "tidak mungkin adam dapat mengatakan hal seperti itu!" padahal aku memang mengatakannya, dan saat itulah terjadi perang antar mulut si Galan dan Bayu. di saat mereka sedang asik bertengkar, aku kembali ke tempat dudukku dan menulis sebuah rumus. Rafael langsung menghampiriku. "apa yang sedang kau hitung?" tanya rafael yang melihat beberapa coretan rumus di kertas. aku menghela nafas panjang dan menatap rafael dengan penuh harap "rafael! aku tidak tau dengan diriku sendiri.." Rengekku, rafael tersenyum hangat padaku kemudian mengelus-ngelus kepala ku layaknya anak anjing. "katakan saja adam." "Baiklah, dengarkan aku baik-baik rafaela, aku sebenarnya... huft.. punya masalah dengan seks.." kata ku jujur, karena hanya Rafael yang mau mendengarkan cerita aneh ku ini. Rafael pun duduk di samping ku dan menatap ku. "seks? yang bagaimana?" tanya Rafael, "selama beberapa hari ini.. aku merasa bahwa diriku ini berbeda dari yang kemarin!" Rafael terkekeh "kau memang berbeda dari yang lain kok, adam." "bukan berbeda itu!" selah ku, yang Langsung Rafael menatapku dengan bingung. "maksudku.." aku mendekatkan kepala ku di kuping Rafael dan membisikkannya "aku merasa kalau aku ini Gay," Saat mengatakan hal itu Rafael langsung menatap ku dengan tatapan tidak percaya. aku tau apa responnya. "benarkah? kenapa bisa? apa karena ketua dari departemen sport itu?" oh s**t! Dia mengetahuinya! bagaimana bisa dia mengetahuinya?! dan dengan tekanan batin yang sangat gugup aku mengatakan "i..iya... ta-tapi dari mana kau mengetahuinya?" tanya ku kaget. Rafael tersenyum "asal tebak saja('∀') ternyata benar.." Aku langsung berdengus kesal, tapi beruntungnya Dia tidak tau kalau aku dan si pangeran Angkuh itu sudah berciuman panas di ruang klub ku sendiri, mengingatnya saja membuat wajah ku mulai panas. "kenapa bisa dengan ketua sport departement itu?" Tanya Rafael lagi. "entahlah.. aku rasa ini karma," jawab ku dengan seadanya, Rafael memegang pundakku dan tersenyum padaku. "aku akan memberitahukan mu satu hal.. karma memang hal yang wajar buat manusia seperti kita, tapi kali ini kau tidak sedang mendapat karma." Aku menatap Rafael dengan heran "lalu apa kalau bukan karma?" Rafael sempat terkekeh, "itu karena kau tidak tahan dengan napsu seks mu, ahahaha!" aku langsung menatap datar rafael. "Rafael, kau benar-benar menyebalkan!" teriakku, yang membuat Galan dan Bayu berhenti saling memukul dan menatap ku begitu juga Rei yang mencoba menenangkan kedua orang itu. saat mereka menatapku seperti itu, aku langsung menatap rafael yang cengengesan dari tadi. "yang terpenting, Gender bukanlah masalahnya jika kau saling mencintai," saat Rafael mengatakan hal itu, hati ku langsung goyah dan legah, kini aku menatap Rafael layaknya Dewa Fortuna yang sedang mendukungku. sontak aku langsung memeluk Rafael "kau teman ku! benar-benar teman ku! terima kasih Rafael!" "oi! Adam jangan sentuh Rafael!" teriak Rei. "hati-hati virus homonya nanti muncul.." lanjut Galan, yang langsung kena timpukan buku lagi oleh Bayu. "Apa masalah mu!" Pekik Galan yang merasa kepala sakit di timpuk pakai buku, Bayu buru-buru lari keluar dari ruangan osis ini, dia kabur dan tentu saja Galan mengejarnya dengan membawa buku. "Jangan lari kau Bayu!!" "hei.." Aku menatap Rafael, dan Dia juga menatapku sambil tersenyum "jijik tau.." Ucap Rafael sambil tersenyum, yang membuat ku kaget setengah mati, dia bukan dewa fortuna.. di-dia iblis!! "aku akan membunuh mu Rafael!!" Teriakku, yang Langsung Rafael kabur dari tempatnya dan pergi keluar dengan berlari, tentu saja aku langsung mengejarnya dengan berlari sekencang mungkin. "RAFAEL!!" Teriakku sambil mengejarnya, "Adam! mau kemana kau! jangan coba-coba menyentuh primadonna kesenian sekolah!" teriak Rei, yang kini aku merasa kalau Dia juga sedang mengejarku. dan terjadilah adegan di mana Bayu di kejar oleh Galan dan di belakang mereka, ada Rafael yang kukejar dan di belakang ku ada Rei yang mengejar ku. kami berlima seperti anak SD, main kejar-kejaran di sepanjang koridor. entah apa yang ada dipikiran adik kelas saat melihat kami saling kejar-kejaran. "..kenapa dengan para kakak kelas itu?" "adegan ini pernah ku lihat.." "BAYU!!" teriak Galan sambil mengejar Bayu. "RAFAEL!!" Teriakku sambil mengejar Rafael juga. "ADAM!!!" teriak Rei pada ku dari belakang dengan aksi yang sama mengejarku. siswa/siswi: 'Mereka kenapa?' -To Be Continued-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN