#RF14

2048 Kata
Semua rundown sudah dijelaskan, Xavier berniat untuk menutup pertemuan hari ini yang cukup melelahkan, tapi, bukannya ditutup dia malah asyik menatap tonjolan yang terbuka lebar di hadapannya. "Boss lo kenapa begitu banget si. Geli gua!" Dengus Riris. Membuat Rey menghentikan kegiatan notulensi dan menoleh, melihat apa yang terjadi sebeluk akhirnya menyesal sendiri. Ia langsung saja berdehem. Menginterupsi secara sopan Xavier. Yang padahal, ia ingin sekali meneriaki pria tersebut karena, sudah tak senonoh. Tapi, Xavier juga tidak bisa disalahkan sendiri. Ia berbuat seperti itu karena, ada kesempatan yang diberikan. Pakaian Angela sangat terbuka seperti biasanya, bukan, menyalahkan gayanya. Tapi, alangkah baiknya kan bisa memilih pakaian yang lebih baik dari itu. Toh juga, Angela sudah tau watak daru Xavier yang "begitu" Tapi, tetap saja dia terus-terusan memberi kesempatan. Alhasil salah kedua belah pihak. "Menager Becca..." Jelas Xavier. Membuay Rey tersentak dan berdiri, "Tolong re-schedule pertemuan saya dengan dia ya. Saya mau bertemu langsung." "Lho, dia kan di Singapura, Pak. Bapak mau kesana? Dalam rangka apa? Bukannya jadwal bapak juga ketat?" Bukannya Rey menghentikan atasannya, tapi, semua itu benar adanya. Jadwal Xavier yang sangat penuh hingga akhir tahun membuat dirinya sesak sendiri. Ia jadi tidak bisa membuat jadwal bersama perihal urusan Becca. Mulai dari penerimaan awards, bintang tamu, hingga jasa endorsement. Rey harus bekerja sendirian. Tidak ada staff yang membantu kecuali Riris yang merupakan staff bawaannya sendiri. Sementara staff yang dijanjikan Xavier mana? Tidak nampak batang hidungnya. Jujur saja.. Semua itu membuat Rey jenggah, tidak adil, serta menyesal bergabung dengab agensi besar. Tadi saja gak usah... "Ihh kamu mau ninggalin aku ke sana (Singapura?) Nanti aku di sini sama siapa?" Angela bergelayut manja. Sedikit menempelkan tonjolan hingga membuat seisi ruangan ikutan sesak. Riris bergeming, melingkarkan tangan ke lengan Rey, sambil berbisik. "Anjayyy... Iya juga ya. Untung aja ada dia (Angela) kalo engga, Becca udah ketemu sama si-m***m ini." Balas Rey dengan pelan. "Nah kan. Gua bilang apa. Udah biarin aja. Kita mah yang penting ngelindungin Becca aja–udah yuk, pamit aja. Kali aja dia mau enak-enak, kan gak enak kalo masih banyak orang." Rey menahan tawa, tidak menyangka cewe se-alim Riria bisa kefikiran sampai sana. "Kita pamit ya, Pak. Terima kasih atas kerja samanya." Seru Rey. Riris juga begitu, bedanya ia hanya membungkukkan sedikit tubuh karena, malas membuka mulutnya. Mereka berdua tiba di luar ruangan. Langsung saja menuntaskan gelak tawa hingga dilihat para karyawan. Para karyawan yang tadi ikut pertemuan pasti tau apa alasannya, sehingga, mereka juga ikut tertawa dan ber-toss ria. Sudah menjadi rahasia umum jika, Xavier menjadi bulan-bulanan di Kantor. Karena, tingkahnya yang memang cocok untuk diperlakukan begitu. "Wohooo, anak baru!" Sapa Lee. Staff agensi akusisi Korea Selatan yang kini sudah me-lokal, "Makan siang bareng lah. Gua garing banget tiap kesini, makan sendirian terus." Perkataan itu membuat Rey dan Riris terkejut, berfikiran beda yang mengira Lee adalah orang yang cukup terkenal di agensi ini. Karena, setiap kedatangannya selaku saja diriungi. Layaknya lalat meriungi daging di pasar. "Huh... Lo gak tau aja si." Ia mendenguskan nafas berat seraya bersandar. Sebagai manusia ter-kepo se dunia, Riris langsung menyingkirkan Rey untuk berdekatan dengan Lee, "Kenapa sii oppa kita yang satu ini? Bukannya enak ya digerombolin begitu. Ketimbang kaya kita. Kemana-mana pasti berdua doang ya, Rey. Mobil van aja dapet yang kecil." Jelasnya. Memancing pertikaian agar Lee terbuka padanya. Lumayan... Jika, Riris bisa mengambil hati Lee. Kali saja nama Becva menjadi se-tenar talent Korea yang bernaung bersama. Lee kan juga salah satu pemegang saham di agensi ini. Jadi, wajar saja. Namun, tidak bagi Rey. Ia tidak mempunyai waktu untuk basa-basi. Ia lebih memakai caranya sendiri untuk langsunh mengajak Lee makan siang. Cara itu cukup membuat Riris terkejut. Tersenyum penuh makna dan langsung menyusul mereka. Bogguem Pab. Restoran semi Korea rekomendasi orang Korea asli. Interiornya cukup menarik hati, piring-piring kecil di atas meja juga tidak kalah menarik hatinya. Riria menatao Lee, "Ini buat lauk pauk ya?" Ibu jari langsung diacungjan oleh Lee, membuat Riris kesenangan. Drp! "Ini buat kalian!" "Hah? dalam rangka apa?" Kedua pasang mata Rey dan Riria menatap paper bag di atas meja. Mereka tidak mengambilnya lebih dulu. Bukan tipe mereka seperti itu. Mereka meminta penjelasan, kenapa dikasih? Memangnya untuk apa? Karena, pemberian Lee ini cukup menelisik hati. "Buat pengganti ongkos kalian. Belom dapet kartu kredit kan?" "Astaga! Lo bisa gak si naik jadi ke CEO nya langsung. Lo lebih better dari si Xavier." Jelas Riris. Dirinya tidak menyangka jika, Lee memikirkan kita semua. Ia memberikan se-kotak uang tunai yang katanya habis ditukar di money changer. Rey hanya terkikih, ia seperti sedang menjadi agent yang dibayar oleh seorang mafia. "Tapi, " "Kenapa, Rey? Kurang ya?" Mata Rey terbelalak sempurna, mana ada kurang. Yang ada malah lebih! Kelebihan banget! Kondisi terkejut darj Rey tidak jauh berbeda dengab kondisi Becca yang kali ini mendapatkan banyak kejutan. Mulai dari balon gas disertai bunga, tatapan manis serta senyum merekah, dan terlebih lagi ada seorang yang berdiri di hadapannya dengan wajah anehnya. "Buru deh, Becc. Gua gak bisa begini terus." Pungkas Trevor dengan tangan yang memegang bucket bunga. Becca tertawa geli, "mana yang nyuruh?" Trevor berdecih, menaruh tangannya ke bawah, "Biasa. Pdkt-an lo sibuk ngapain si kerjaannya." Anjay... Pdkt-an. Becca senyam senyum sendirian. Nampaknya dia belum tegar memanggil Randi sebagai pdkt-an atau calon pacar. Bukan karena apa, lebih ke hatinya saha yang belum sanggup mendapati calon pacarnya ini ya si Randi. Astaga.... Dalam hatinya berpesta ria. Membiarkan semua organ dalam lain kebisingan, "Lo ada agenda apa hari ini? Mau gua laporin ke Randi." Tanya Trevor. Becca diam sejenak, menimbang apakah Randi perlu mengetahui agendanya hari ini? Rasanya tidak perlu, toh juga Becca cuman akan berjalan-jalan menyusuri kota seraya mencari makanan Indonesia. "Oke. Kalo gitu gua pamit. Gua gini-gini banyak kerjaan, Becc. " "Gihhhh! Gak ada yg ngelarang lo cabut." Jelas Becca. Melambaikan tangan dengan maksut mengusir. Trevor yang kesal hanya membalas dengan acungan jari tengah yang ia tutupi dengan jas kerjanya. Membiat Becca tertawa dan masuk ke dalam. Bucket bunga mawar yang cukup besar juga menemaninys hari ini. Salah satu barang yang mendadak merubah suasana hati semalam yang cukup naik pitam. Mengingat hal itu, Becca jadi teringat pada Rian yang semalam menjadi korban amarahnya. Maafkan ya, Yan. Bukan maksut begitu. Tapi, kenapa si lo nyinggung masalah keluarga? Padahal, itu bukan ranah yang harus lo tau. Becca bersandar putus asa. Menggenggam ponsel pintar dengan layar menyala, "coba telfon aja deh." Jelasnya sambil menaruh ponsel di telinga. Tuk tuk, sambungan telepon tersambung dan langsung disambut boleh suara khas orang bangun tidur. "Gua ganggu gak, Yan?" Mendengar suara itu, Rian langsung mengubah posisinya. Menjadi dudum di ranjang dengan telanjang d**a. Ia mengetes suara sebelum membalas perkataan Becca, mencegah suara serak yang mungkin dinilai tidak semangat. "Nope! Kenapa, Becc?" Tanya Rian. Kini ia memakai singletnya lebih dulu, tidak enak dilihat begini. Siapa juga yang mau melihat? orang Rian hanya tinggal sendiri. Dasar... "Maaf buat yang semalem ya, Yan. Lo nyebelin banget si lagian." Cibiran itu terdengar jelas. Membuat Rian terkikih, "yailah, Becc. Kaya sama siapa aja. Udah santai aja. Gua juga minta maaf ya, gak enak semalem nanya-nanya tentang keluarga." Sedikit ragu-ragu, tapi, berhasil. Rian menyunggingkan senyumnya ketika deheman Becca memenuhi telinganya. "Oiya, Becc. Kalo masalah ini gua boleh tanya gak?" Becca mengerutkan kening, berbicara dalam hati pertanyaan apa lagi yang mau disampaikan oleh Rian. "Lo beneran udaj punya pacar?" Deg! Perasaan macam apa ini? Kok jadi tidak enak secara tiba-tiba? Becca menerka-nerka kembali fikirannya yang sebelumnya sangat yakin untuk mengenalkan Randi sebagai pacarnya. Ya, walaupun belum resmi sihh, tapi, kan nanti akan resmi. Dan, Becca tidak mau menutupi dari satu-satunya teman yang ia anggap sangat dekat dengannya. Rian menunggu terus-terusan, padahal, Becca hanya berdiam ria. Dan, alhasil ia malah membelokkan pembicaraan, "Lo doyan soto mie gak si, Becc?" "Hah? Soto? Kok lo tau-tauan soto? Emag di sini ada yang jual soto?" Balas Becca dengan cepat. Giliran diubah topik aja langsung cepet.. Rian mendengus dalam hati. Tak tau apa yang harus dilakukan, dan terpaksa berlakon sedemikian rupa. "Tau lah anjir! Gua kan penjelajah makanan. Trus gua inget, lo kan dari negara sana. Ya kali aja kangen gitu." "Truss maksutnyaa?" Becca berpura-pura tidak tau apa maksut Rian. Dirinya sebagai kaum hawa kan mau melihat tingkat kepekaan kaum adam, dasar.. "Ya lo mau ikut makan soto gak? Kebetulan gua off hari ini. Jadi, kita jalan-jalan yuk, kaya kemarin-kemarin." Rian to the point. Tidak mau kebanyakan basa-basi yang malahan membuat semuanya tidak jadi. Dirinya juga belajar dari beberapa waktu lalu yang membuat penyesalannya bersemanyam hingga sekarang. Oleh karena, itulah ia berlaku demikian. Dan ternyata, perlakuan Rian disambut sangat baik oleh Becca. Wanita itu sangat antusias dan langsung mengabari Rian jika, ia langsung siap-siap dan akan menuju titik ketemuan yang telah disepakati bersama. Rasanya seperti mendapatkan hadiah cuma-cuma, membuat senyum sumringah kian terpancar pada saat mematikan sambungan telfon. Rian berjingkrak layaknya bocah lima taun, sementara Becca juga girang buka kepalang. Kaki jenjangnya menuju kamar mandi untuk memulai ritual sebelum pergi, namun, saat ia memutar handle pintu otaknya serasa dihantam kabar yang mengenaskan. Randi... Bagaimana ia meminta izin untuk pergi bersama Rian? Padahal, dia jelas takut Randi merasakan gemercik api cemburu. Padahal, Becca tidak melakukan apa-apa selain makan soto. Hanya itu. Bohong! Otaknya mendengus kesal! Becca tidak sekedat makan soto saja. Ia mau bertemu kangen dengan Rian setelah sekian lama tidak jalan bersama. Iya kan? Benar begitu, Becc? Hati yang paling dalamnya bertanya, sementara otaknya menegaskan. Becca menoleh pada bucket bunga mawar pemberian Randi, "kalo gua izin lo bakal nge-bolehin gak ya?" ** Ketiga orang dengan perut kenyang keluar dari restoran, "Anjir!" Lee terkejut saat mendengat tahak dari seorang wanita anggun di sebelahnya. Riris tersenyum konyol, "Maapin ya. Emang kadang gak bisa dikondisikan nih." Itu semua membuat tangan Rey menepak kepala belakangnya, "Maafin ya, Lee. Kaget banget lo ya pasti liat cewek modelan begini." Balasan dari Rey membuat bibir Riris maju lima centi, serta bahakan tawa dari Lee keluar. "Santai! Itu manusiawi kok." Jelas Lee sambil jalan beriringan. Langkah demi langkah mereka ambil, tanpa menoleh kanan-kiri ataupun belakang. Padahal.. Jika, saja mereka melakukan itu, mereka akan mendapatkan kabar yang menggemparkan jagat raya. Kemungkinan juga, bisa menaikan kepopuleran sosial media mereka. Kalau begitu, tinggalkan sejenak mereka bertiga yang semakin akrab bercengkrama. Balik lagi dengab Becca yang sudah hampir kehilangan akal. Ia terua menggenggam ponsel dengan berbaring di bathub. Haruskah ia izin atau tidak usah, haruskah, tidak usah... Becca memotek satu persatu kelopak bunga. Layaknya princes belle yang terkunci di jeruji, "s**t!" Untung saja bathupnya belum diisi dengan air, jika, sudah... Habis sudah! Masa ganti hape baru lagi. Hmmm. Becca mengambil ponselnya yang terjatuh. Dengan wajah gusar ia membiayarkan sejenak layar ponselnya yang kian menyala. Ia harus menetapkan hati, serta mengetes suara agar orang yang menelfon tidak curiga ada apa-apa. "Hai, Rand!" Seru Becca yang akhirnya mengangkat. "Kok lama?" Astaga... Apasi Rand. Becca belum 5 menit membiyarkan panggilannya. Tapi, sudah diprotes saja. Namun, bukannya mencibir Becca malah terkikih, "Oiya, Rand.." "Ada apa?" Mungkin ini saatnya Becca izin kali ya. Daripada engga sama sekali, malah nanti jadinya berabe. Oke, Becca sudsh memutuskan dan berbicara dengan balutan bercandaan. Sepersekian detik, Randi langsung membalas hanya deheman. Membuat Becca khawatir tidak diperbolehkan. "Kalo gak boleh, gapapa lho, Rand. Kan yang penting gua udah izin. Ya-kan???" Jelas Becca dengan tangan meremas handuk. Semoga hari ini harapan Becca terkabul, terserah deh gimana jalannya. Yang pentinh semua itu terkabul. Dirinya juga perlu me-resfresh otak dengan jalan bersama teman bukan? Memang sih temannya lawan jenis, tapi, kan Becca tidak mempunyai niat apa-apa. Rian pun begitu, Becca rasa dia tidak mungkin akan melakukan apa-apa. "Yaudah boleh." "Yang ikhlas bolehnya." Nafas gusar Randi erdengar jelas, Becca mehanan laju bicaranya. Membiarkan keputusan diambil olehnya. "Iyaaa, boleh. Kamu hati-hati tapi. Kabarin gua terus ya." Becca mengulum senyum saat mendengar tatanan bahasa Randi yanh acak-acakan. Ia menyukainya, no matter what. "Tapi–" Randi menggantung ucapannya. Membuat Becca kembali penasaran. "Trevor ikut ya, buat jagain lo. Dia gak akan keliatan kok, ok?" "Rand... Seriuslah masa gitu." Protes Becca. Berharap Randi hanya sekedar bercanda. Dan... Ternyata tidak. Randi malah mengancam jika, Trevor tidak diperbolehkan ikut maka, Becca tidak boleh keluat sengan Rian. Karena, sifat cemburunya yang saat ini menguasai dan tidak bisa diredam. Becca mengetahuinya, dan hanya bisa menerima dengan sangat terpaksa. Lagi-lagi ia melayangkan harapannya pada tuhan.. Semoga saja Rian tidak tahu jika, nanti ada yang membuntuti kita. Karena, Rian juga adalah sosok yang teramat peka akan situasi serta kondisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN