#RF13

2045 Kata
Semua mata tertuju pada orang yang memakai busana paling neriah se-antero negara. Siapa lagi jika, bukan Angela. Superstar kelas kakap. Tapi, dia masih saja terua menghakimi rivalnya yang berada jauh di bawah. Becca, yang sedang memaksa matanya tetap menonton virtual meeting. "Gua gak bisa gitu out duluan? Muak banget." Jelasnya pada Riris yang sedang tertawa renyah. "Sayangnya gak bisa, Becc. Kalo lo out gua gak gajian." "Ngawur lo! Gaji lo gua transfer 2 kali lipat nih langsung. Tapi, gua out." Riris mendengus, terdengat oleh Rey yang seketika menampakkan jari tengahnya ke layar. "Heh itu jari siapa?" "Lo lagi sama siapa, Becc?!" Pekik Riris dan Rey bersamaan. Mata Becca bagaikan pisau belati yang menusuk korban, membuat orang yang kini di depan merasa terbunuh, "lo lagi sama siapa, Becc? Gila lo ya." Desak Rey untuk mencaru tau suara siapa tadi. Sssrtt! Riris serta Rey langsung berlagak tidaj tau apa-apa akibat, suara Angela yang menyinak keheningan. "Ngomongin apa sih kalian, sama Becca aja rame." Katanya dengan suara dingim Ea batu kalah dengan suaranya, membuat Becca berdecih dan disadari oleh Randi. Dia menatap Becca, mencari tahu alasan di baliknya tanoa bertanya. Ibarat mbah dukun, Randi itu. Alih-alih bertanya, ia lebih baik menerka. "Ngapain lo ngeliatin gua? Balik sono lo!" Tegas Becca. Randi bertopang dagu dengan kening yang berkerut-kerut, "ini kan kantor gua. Lo yang balik kalo gitu." Becca tersentak, ia langsung menatap Randi dengan mata yang penuk kilau, "Maapin." Katanya pelan. Setelah itu wajahnya kembali masam, merasa terkurung di jeruji akibat kelalaiannya sendiri. "Sumpah ya, Rand..." "Kenapa?" "Gak jadi deh." Apa apaan sih. Bisa-bisa nya ada orang yang mau ngomong tapi, dibatalin gitu aja. Becca membuat Randi senewen hingga akhirmya ia mengebrak meja. Rey serta Riris langsung tekejut, suata gebrakan yang begitu kencang membuat kuping mereka pengang. "Ngapain si lo, Bec? Gak bisa tenang dikit apa?" Serunya di mic. Becca yang sedang sibuk mendelik ke arah Randi membiyarkan itu semua, "Apasi, Rand? Mau ngapain? Tibang gitu doang." "Apaan yang gitu doang?!" Randi sudah memakai suara tingginya. Membuat Becca kesal dan mematikan micnya lebih dulu. Supaya, dua cecurut di Jakarta tidak mendengar percakapannya. "Lo mau ngomong apaan tadi? Kenapa gak jadi? Lo mai mainin gua? Iya? Jawab yang jelas!" Becca tidak menyangka jika, Randi bisa se-marah ini karena, tingkahnya tadi. Padahal, dia tidak bermaksut apa-apa. Becca hanya ingun curhat perihal Angela yang ia tidak sukai. Namun, tidak jadi... Karena, semua itu bisa membuat sudut pandang orang lain terhadap Angela buruk. Becca tidak mau menjadi manusia seperti itu. Kata Riris, jika, kita membicarakan keburukan orang lain, ibarat memakai bangkai sendiri. Ewwww, menjijikan. Becca bergidik ngeri. Kembali membuat Randi bingung, dan ber-api-api. "Sorry, Rand." Randi menatap Becca, "Kenapa minta maaf?" Sentaknya sambil duduk kembali. Tidak ada balasan sama sekali, "Rebecca..." "Apa?" Ia menoleh dengan malas. Bola matanya berputar, dahi Randi kembali mengerut. "Apansi lo, Rand!" Tegas Becca saat Randi memutuskan panggilan video dengan Rey. Becca mendelik tajam, merasa benci seketika. Ia berdiri bertolak pinggang, "Lo tau gak si kalo gua lagi kerja?" "Gua tau. Tapi, lo lagi gak kerja. Lo bosen kan? cuman dengerin orang ngoceh ngebanggain prestasinya sendiri? Sementara prestasi lo di sini gak dianggep? Iya kan?" Deg! Darimana dia tau, kelihatannya Randi tidak menyimak suara di Jakarta sana. Tapi, kenapa semua ucapannya menusuk ke relung paling dalam. Becca menyetujui itu semua, ia hanya bisa bergeming. Tidak tahu harus apa, sebelum akhirnya ada tangan Randi yang diulurkan padanya. "Mau jalan aja gak? Maafin suara gua hari ini." Suara Randi yang menjadi lembut seketika, membuat Becca bingung. Sebenarnya sikap asli Randi yang mana, yang tempramen atau yang lembut begini... Becca belum bisa memastikan dan mengenali. Padahal, ia sudah berjanji untuk mengenal Randi lebih jauh. Tempo lalu.... "Becc, lo mau gak jadi pacar boss gua?" Tanya Luna. Becca berdecih, "ogah. Si Randi gak bisa jadi pacar tipe gua. Dia udah didiskualifikasi." Dia menyeruput es latte, untuk sedikit memaniskan hari. Terlebih lagi, memaniskan wajah Luna yang kini 11-12 dengan rasa lemon. Asam, kecut sekali. Becca tidak tahu kenapa begitu. Tau si.. Tapi, lebih ke tidak percaya saja. Masa cuman gara-gara Becca nolak Randi. Jadi begitu, padahal kan Becca benar adanya. Masa ada orang yang tau-tau mau menjalin hubungan padahal, belum terlalu kenal. Orang kebelet pacaran aja gak mau... Apalagi, Becca yang harus tau bibit bobot sampai bebetnya.. Hufttt, ia mendengus kesal. Sementara Luna memutar otaknya, "Tapi, lo belom punya pacar kan, Becc?" "Belom–tapi, bentar deh gua mau nanya." Jelas Becca. Menghentikan lanu bibir Luna yang sudah siap melontarkan pertanyaan (lagi). "Lo dibayar berapa si sama si Randi buat jodohin gua sama dia? Kenapa, gak dia aja yang ngomong langsung ke gua. Kan feelnya lebih dapet." Astaga... Ngomong apa si Becca. Fikirannya melenceng nauh dengan rencana yang tadinya hanya ingin bertanya bayaran. Tapi, kenapa sampai ada embel-embel begitu, membuat raut wajah Luna kian merebahkan senyum indah. Sementara Becca sedang berkutat dengan fikiran, "Bukan gitu juga si maksut gua. Gua penasaran doang lo dibayar berapa. Itu dong. Gak melebar kemana-mana." Dalihnya dengan maksut me-revisi kata-kata. Tapi, percuka. Luna sudah keburu bahagia dan langsung meng-skak may semua. "Hallo, Rand. Becca bilang dia maunya lo yang ngomong langsung. Gak pake perantara segala." Shit! God damn! Luna! Astaga! Kok lo begitu banget si! Gua malu tau gak! Fikiran Becca berteriak sekeras mungkin. Namun, tidak ada suaranya. Memuat ia frustasi dan hanya bisa menaruh kepala di atas meja dengan putus asa. "Kelar, Becc." "Kelar apaan! Idup gua yang kelar! Maksut gua bukan gitu tau, Lun." Jelas Becca. Luna tertawa renyah, tidak memikirkan penderitaan Becca yang malu, "udah napa sii lo. Orang gua bercanda dong." "Hah? Apaan si lo, Lum. Tadi lo jelas nelfon Randi." Cibir Becca dengan bibir yang sudah maju lima centi. Hanya dibalas oleh bahakan ketawa oleh Luna kembali. Perutnya terasa dikocok akibat tingkah polos dari temannya ini. Mana ada dia nelfon Randi tanpa mengucap hallo atau bahasa yang sopan? Bisa dipecat tanpa kehormatan kalo begitu. Luna belum siap jadi pengangguran di negara maju. Ya, walaupun enak hidupnya. Dibiayayai negara. Tapi, tetap saja malu. Kaya gak bisa cari kerha ajaa, kan masih sehat dan bugar. Sudah-sudah, intermezzonya kejauhan Luna menatap Becca yang masih menundukkan kepalanya. "Randi orang baik tau, Becc. Gak ada salahnya lo kenal lebih jauh sama dia." Perlahan, kepala Becca terangkat. Diikuti senyum simpul yang sangat berat untuk dilukis, "Emang, Lum. I know dia orang baik. Tapi, kalo hati gua belum buay dia gimana?" Deg! Apa lagi ini... Kenapa otaknya seolag memikirkan ada pria lain yang Becca tunggu. Padahal, tidak ada sama sekali. Toh juga Becca di Singapura sini hanya mengenal dekat dua sosok pria. Randi dan Rian. Mata Becca terbelalak sempurna. Batinnya bertanya-tanya. Tidak mungkin Rian kan, pria yang Becca maksut. Masa lucu banget, hubungan teman yang sudah lama tidak tersambung kembali akibat penghalang waktu, merubah semuanya... Tidak-tidak. Becca menolak itu semua dan memastikan pada Luna. "Tapi, boleh deh gua ngenal Randi lebih jauh." Mendengar perkataan tadi, rasanya Luna tidak perlu menegaskan omongan sebelumnya. Hanya membuang-buang energi. Toh juga, maksut dan tujuannya sudah diselesaikan dengan baik. Itu semua sudah lebih dari cukup. Luna langsung kegirangan dan memikirkan helaian dollar di atas kepalanya sebagai janji Randi. Plak! "Sakit bangke!" Pekik Rian. Memegangi tengkuk yang habis ditabok oleh teman satu shiftnya. Januar. Abg labil yang sedang mencari jati diri. Teman satu-satunya Rian yang sudag bersama 2 tahun belakangan ini. "Bukannya ambilin minum, malah nepak lo. Temen apa bukan si lo." Desis Rian. Januar hanya terkikih. Dia melupakan job desk yang mengharuskan bahan baku rapih tersusun di counter. Trink! "Mr Randi." "Becca?" "Hah? Siapa, Becc? Itu Mr. Randi, bos kita." Rian menyenggol lengan Januar, memberikan kode untuk diam sejenak. Ia harus fokus menatap Becca yang sudah lama tidak dilihat oleh matanya. "Gimana penjualan? Bahan-bahan ada yang abis? Miss Veronika mana?" Tanta Randi bertubi-tubi. Becca hanya melihat dari belakang, ia belum menyapa Rian karena, pertimbangan sok taunya yang tidak mau menganggu Rian saat jam kerja. "Kamu duduk di sini aja dulu ya. Aku ke dalam sebentar." Wait.. Kenapa rasanya Mr Randi dan Becca sangat akrab? Padahal, rasanya Becca tidak pernah menceritakan sosok pria lain dalam hidupnya. Rian hanya bisa bertanya dalam hati, namun, setelah Randi masuk ke ruangan staff, ia dengan mudah bertanya semua pada Becca. "Hey! Yan! Sorry gak bjsa nyapa tadi, gak mau ganggu pas lo kerja." Sapa Becca saat Rian mendatanginya. "Lo akrab banget sama bos gua. Kok bisa? Jangan-jangan???" "Dia pacar gua, Yan." Jika, bisa jantungnya salto keluar pasti sudah diperlihatkan. Tapi, sayang tidak bisa. Membuat semua organ dalam Becca kecewa dan malah berterus terang. "Gua kira beneran anjirt! Kalo beneran, lu keren banget bisa dapet–" "Dapet apaan?" Serobot Becca sambil telinganya ditarik oleh Rian. "Kelas kakap." Rian menyelesaikan. Becca langsung menarik diri. Dia tidsk bisa dibisiki. Sudah berapa kali sih ia harus bilang semua ini. Membuat dengusan kesal semakin jelas terdengar. "Hei! Kau Rebecca Hardinata kan?" Pekik seoranh wanita yang mungkin usianya tak jauh daru Becca. Randi menoleh padanya, "kau kenal, miss?" "Tentu kenal! dia adalah influencer yang sudah lama aku tunggu buat mempromosikan kedai ini. Tapi, jadwalnya yang selalu full, aku belum bisa mendapatkan semua itu." Wanita itu Veronika, salah satu rekan franchaise Randi. Dia mendekatkan diri pada Becca, menatap dari ujung rambut dan behenti pada hidung mancungnya. "Jadwalmu kapan kosong, miss Rebecca, aku ingin pakai jasamu itu lho." "Hah?" Becca terperangah tidak percaya. Bukannya apa, Becca kan influencer Jakarta yang belum mempunyai banyak pengikut luar negeri, terutama Singapura. Namun, kenapa orang ini sangat ngotot untuk memakai jasanya. Dia akan dapat apa? Dapar keuntungan? Tidak mungkin... Becca tidak mempunyai pengaruh sebesar itu di sini. Oleh sebab itulah, Becca hanya bisa tersenyum kikuk tanpa balasan apapun. Namun, veronika adalah seorang yang ceriwis. Hingga dirinya sangat mudah untuk menceritakan hal apa saja. Sampai akhirmya, Becca meng-higlight jelas salah satu ucapan Veronika. "Kau benar asli Indonesia?" "Tentu! Aku lahirnya saja di jogja." "Omg!" Becca mengatupkan mulutnya, "Kenapa?" Membuat semuanya bingung. "Kita satu kota kelahiran!" Sambung Becca dengan sangat antusias. Mendadak suasana berubah... Tidak seperti yang difikirkan oleh Becca. Tidak se-ramai itu. Malah cenderunh heninhg, sepi, hingga suara jangkrik terdengar sangat jelas. Resah dan gelisah, memikirkan semuanya. Becca sangat menyesal telah ber-antusias. Untungnya, ada Randi yang kembali mencairkan suasana, "Thx, Rand." Bisik Becca. Lalu tangannya melingkar pada lengan Randi. Semua itu cukup membuatnya tersentak hingga mengulum senyum, "Kalau begitu, saya pamit, miss Ver." Pamit Randi. Menjabar tangan Veronika dengan senyum merekah. Sementara Becca? Masih dengan wajah tegang serta kikuknya. "Manager kau nomornya berapa? Boleh minta?" Tanya Veronika yang kembali menghadang kepergian. Langkah kaki terasa sangat berat, seperti ada rantai yang mengikat. Membuat Becca terhenti dan malah memandang Randi. Bukan Veronia si peminta semuanya. Randi mengangguk, mencoba menenangkan Becca dengan jemari mengelus punggung tangan. "Saya kasih kartu nama saja ya, kebetulan saya sudah dinaungi oleh agensi." Ujar Becca. Perlahan-lahan tapi, pasti. Ia mencoba mendekatkan diri tanpa terburu-buru layaknya tadi. "Oke, thankiyu." Balas Veronika yang malah menggunakan slang bahasa. Membuat Becca kembali pusing harus menanggapi bagaimana. Alhasil hanya garukan kepala, dan lamunan. "Kami pamit ya, selamat siang." Tangan Randi menarik tangan Becca. Membuat tubuhnya terbungkuk untuk berpamitan juga. Veronika melambaikan tangan, "Kalian ngapain?" Semua itu sontak membuat Rian dan satu pegawai lain terkejut, "Udah kerja lagi sana!" Tegasnya dan lalu ia pergi. Begitu saja, tanpa basa-basi dan hanya memalingkan wajah. Rian dan kawan-kawan sudah biasa. Mereka semua telah khatam dengan tingkah bossnya yang seakan mempunyai dua kepribadian. Menanggapinya juga biasa saja dan, malah bodo amat. Rian kembali ke tempat dengan suasana hati yang sedemikian rupa. Antara bahagia dan cemas. Entah kenapa. Selepas bertemu dengan Becca tadi, hatinya seakan ada gemercik api yang membuatnya kepanasan. Terlebih lagi saat melihat tangan Becca yang dilingkarkan. Arrghh! Ia hanya mampu berdesis dalam hati, seorang diri dengan tekad yang tak pasti. ** Tap tap tap Becca keluar dari walkin closet, menampakkan diri dengan balutan gaun merah muda yang sangat cantik. "Gimana, Rey? Bagusan ini atau yang tadi?" "Gak tau. Lo ngapaim nanya gua si? Kan lo yang mau make. Wasting time gua aja sih." Balasan yang keluar dari mulutnya tadi membuat Becca mendambakkan untuk menjambak rambut lurus serta memotongnya menjadi cepak. Agar tau rasa dan mementingkan norma kesopanan pada sang kakak. Lagi pula, memangnya salah meminta pendapat? Kan tidak. Wajar saja. Becca mau minta tolong pada siapa lagi jika, bukan keluarganya sendiri. "Tapi, lo kurang tau cara minta tolongnya, Becc." Mungkin itu balasan dari Rey jika, Becca mengutarakan perasaannya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN