#RF12

1930 Kata
Suara baritone penuh karisma memenuhi saru ruangan, membuat para kaum hawa bersorak gembira. Penampilan pembuka benar-benar epic, membut pemilik restoran memikirkan untuk memberikan bayaran lebih pada Rian. Prok prok prok Tepuk tangan super meriah membuat kepala Rian kian membesar, tapi, sayangnya semua itu tidak ada penampakkannya. "Good job, Yan!" "Becca." "Cieeeeeee" Gemuruh para pelanggan laim langsung memenuhi. Membuat Becca bingung. "Sorry, itu temen gua. Mau kasih apresiasi paling tinggi aja." Klarifikasi Becca. Namun, semua itu tidak ada apa-apany "Temen apa demen..." Celetuk pelanggan yang berada di dekat Becca. Dengan tawa renyah di belakang membuat Becca semakin mengerutkan dahi, "Temen lah, kalo demen mah, gua gak mungkin. Gacoan dia banyak, coii." Becca soo asik, agar menambah riuh suasana. Ia berada di kursi barus kedua, sehingga Rian mampu melihat jelas dari panggung. Begitupun sebaliknya, membuat mata mereka saling berhubungan sampai acara selesai. "Gua kira lo gak bakal dateng." Kata Rian. Menampik mata hazel Becca yang saat itu berkilau, "masa temen lagi lomba gua gak dateng." Balasnya. Menyeruput tonik energi di tangan, "Oiya, Yan... " "Kenapa?" "Gua pas itu ketemu sama cowok. Ganteng banget..." Deg! Jantung Rian berhenti sejenak, diikuti dengan tenggorokan yang tercekat, hingga air yanh keluar daru hidung. Ia tidak percaya ternyata Becca bertemu dengan pria selain dirinya. Jangan-jangan, inilah alasan dibalik Becca jarang bisa ditemui olehnya di rumah? Jangan-jangan Becca sudah termakan bujuk rayu para pria kelas kakap Singapura untuk tinggal bersama? Masa sih... apa Becca se-liar itu? Tanyanya dalan hati. Alih-alih membuka mulut, Rian hanya bisa menatao Becca dalam-dalam. Wanita dengan kurcir kuda, kotak lensa bewarna cokelat terang, serta sweater yang dipakai. Semuanya sangat cocoj dipadukan. Membuat Rian terperangah akan pesona casualnya. "Kayaknya gua suka deh sama dia." Semburan petir Dewa Zeus menghantam kepalanya. Mengakibatkan rasa pusing yang luar biasa atas ucapan barusan, "Lo cuman kebawa perasaan doang kali, Becc. Alias lo cepet bapernya." Dalih Rian. Mencoba menggoyahkan hati Becca. "Masa si?" Becca menganggat tangan yang sedari tadi menopang dagunya, menatap Rian dalam-dalam, dengan tujuan mencari perasaan untuk ditegaskan. Nihil. Becca tidak menemukan rasa cemburu dari matanya. Membuat hatinya semakin yaki jika, hubungan ini tidak bisa lebih dari teman. "Gua naksir dia, Yan. Kayaknya, emang gua harus nerima dia." Astga, ternyata si pria yang dimaksut Becca tadi sudah mengutarakan isi hati nya? Cepat sekali, membuat Rian kalah jauh dari garis start. Rian menghembuskan nafas berat, dan langsung dihardik oleh Becca. "Kalo emang lo gak punya solusi atau advice, gua mending balik aja lah. Lo juga mau kerja kan?" Becca berdiri dari kurai dan langsung keluar. Rian belum sempat berpamitan, tapi, rasanya tidak perlu. Becca tetaplah Becca. Dirinya tidak akan menoleh untuk melihat bagaimana kondisi Rian, dan akan terus menatao ke depan menuju mas depan yang lebih cerah. Untungnya, ia bertemu dengan pria pujaannya yang jauh di atas Rian. Membuat dia tenang untuk melepaskannya. Namun, ternyata hatinya belum siap hingga air mata menitih sempurna. "Kejat atau gak usah?" Rian menimbang terus menerus sampai jam kerja di salah satu bar ternama dimulai. Alunan musik kencang bertempo cepat memenuhi isi ruangan. Kaula muda dengan pasangan berjoget ria, hingga keringat bercucuran. Diantara mereka semua ada satu orang yang sedang mengatupkan daun telinga, menghujat DJ yang terlalu berlebihan memainkan musik hingga mengumpat orang yang membawanya kesini. Luna... wanita yang sedang duduk bersama para pria lebih muda dibandingnya. Entah untuk apa, katanya, biar ketularan muda. Padahal, umurnya pun belum terlalu tua untuk disebut tante-tante. "Mau keluar dari sini aja gak?" Ajak Trevor. Sekretaris Randi yang kerap diundang datang oleh Luna. Alasannya, biar ada tebengan pulang sekaligus masalah kerjaan selesai. Trevor mah nurut aja, siapa yang gak suka sih lama-lama sama orang yang disukai? Tentu saja tidak ada. Begitu juga dengan Trevor. Ia memilih untuk menuruti permintaan Luna, yang katanya mungkin bisa sedikit memggetarkan hatinya. "Lo begok tau gak si, Trevv." Desis Becca. Membuat raut wajah pria dingin menjadi warna merah, "Lo bisa cari cewek lain. Secara, cewek-cewek singapura sini pada lebih cantik dari Luna." Tambah Becca. Salivanya tertahan di kerongkongan, menolak tertelan ke tenggorokan karena, sanga empu yang masih tercekat. "I know, but, namanya hati kan gak bisa dipaksa, Becc. Gua tau kok gua udah lebih bodoh daru keledai kalo urusan cinta begini. Jangankan lo yang bilang, temen gua si Randi aja sampe ngasih gua deretan cewek, buat gua ajak main. Tapi, pas main bareng, gua gak ada feel. Malah kebayang mukanya si Luna. " "What?!" Becca terkejut dan salah fokus, "si Randi yang gua kenal juga kah? Or ada temen lain yang namanya sama?" Tanya Becca untuk memastikan. Melihat anggukan Trevor yang sangat yakin, hati Becca ikut yakin juga. Bisa-bisa dunia terasa sangat sempit, apa jangan-jangan, circle Becca saja yang sempit, bukan dunianya. "Gua gak tau, Becc kenapa bisa gini. Sekarang, gua aja gak ngerti kenapa bisa curhat sama lu, enteng bgt lagi." Suara khas orang mabuk terdengar jelas, hingga membuat Becca hanya bisa mendengarkan. Tidak bisa dihadang, dan diserobot. Percuma juga, orang mabuk kan selalu benar dan jujur perkataannya. Lebih baik di dengarkan saja, sampai dia sadar. "Wei! Bangun!" Bukannya sadar, Trevor malah tersungkur ke jalanan. Membuay Becca bingungg untuk membangunkan. Sekarang, ia harus apa? Meminta tolong pada siapa? Orang-orang sudah tidak ada dan bersibuk ria. Becca mengeluarkan ponsel dari saku, untuk menelfon Luna. Namun, semua itu tidak jadi. Dering ponsel Luna yang begitu keras malag terdengat jelas di telinganya. Rupanya, Trevor membawa tas Luna di sendi putar pundaknya. Becca langsung berdecig sambil memapah tubuh kekar Trevor. "Lo orang baik, tapi, kenapa naro hati sama cewe kurang baik si, Trev. Sayang banget kehidupan lo malah begini." Cibir Becca yang kali saja membuat Trevor tersadar. Rasanya berat badan orang mabuk menjadi dua kali lipat, membuat oranh yang memapahnya kesulitan. Begitu juga dengan kondisi Becca kali ini yanh kerap kali jatuh ke jalanan, karena, beban yang sedang ditahan. "Eeeeee mau kemana lo?!" Teriak Becca saat Trevor tiba-tiba melepas rangkulannya Trevot jalan susah payah, belok ke kanan dan ke kiri, layaknya juris kungfu Cina yang membuat gelak tawa, "Weh! Goblo dah lu emang!" Tegas Becca sambil berteriak oktaf tertinggi. Dia langsung menyusuk Trevor yang kini kembali tersungkur, setelah menavbrak mobil SUV yang mengakibatkan sebelah spionnya patah. "Aduuu mampus nih gua. Masa jual ginjal buat gantiin nih spion." Becca panik stengah mati. Wajahnya sudah rak karuan, antara mau marah atau menangis, ia tidak tahu. Tapi, otak cemerlangnya langsung memerintahkan tangan untuk menggeledah Trevor. Dia adalah pria mapan Singapura yang pasti mempunya uang lebih dari Becca. Tapi, kok susah banget nyari dompetnya. Di saku celana belakang tidak ada, di saku celana depan tidak ada. Masa mau buka tas Luna.. Tidak deh, nanti disangka mau maling lagi. Becca gusar hingga mengacak rambutnya, "Rebecca..." Suara baritone yang ia kenal terdengar telinga. Buru-buru ia menoleh dan langsung menghampiri. Dreeep! Becca memeluk Randi, "wah mabok lo ya." Tanya Randi kebingungan. Becca melonggarkan dekapannya. Menatap wajah Randi yang sedikit tak terlihat, "Tolongin gua. Temenlu matahin spion mobil mewah. Gua gak mau ganti rugi, Rand. Masa orang fakir negara berkembang harus jual ginjal." Ucap Becca dengan nada suara yang hampir menangis. Membuar Randi kembali menemukan sosok lain dari Becca. Sesungguhnya Randi ingin tertawa karena, melihat wajah Becca yang tak karuan. Ternyata, se-cantik-cantiknya wanita kalo sedang nangis, tetep aja aura kejelekannya ada. "Randi, ih! Kok diem aja si lo! Temenlo nih urusin. Nyesel gua diajak hangout sama temen-temen lo!" Pekik Becca dan melepas dekapannya. "Kok dilepas?" Sebuah pertanyaan yang sangat bobrok hingga membuat tangab Becca menepak pala Randi dengan santai, "Nyesel gua meluk lo. Nyesel gua mikir lo jadi bantuan gua. Gua nyesel ketemu lo hari ini dan begini!" Seru Becca sambil menangis sesenggukan. Dua terduduk menggelesor di tanah, membuat Randi memincingkan mata. Kenapa sih sebenernya. Ada apa sesungguhnya? Masalah Trevor yang ini saja belum selesai. Eh malah Becca yang aneh secara gantian. Randi merogoh saku celananya, menempelkan kartu nama pada kaca mobil. Dia juga menelfon salah satu staffnya untuk mr jrmput Trevor, dan langsung mendekap Becca untuk meluruskan semuanya. ** "Heh!" Bukannya segar, kepalanya malah terasa berat hingga membuat jatuh ke ranjang kembali. Ada apa ini, kok bisa-bisanya dia ada di sini, sama gua... Berbagi ranjang bersama. Becca langsung mengecek di bawah selimut. Untuknya ia masih memakai pakaian lengkap. Tapi, tunggu sebentar... Semalam ia memakai hoodie dengan celana panjang. Tapi, kok sekarang dia sudah memakao baju piyama. Astaga, jangan-jangan, Randi menggantikan baju? Astaga, Fikiran Becca melenceng kemana-kemana. Membuat dirinya langsung berdiri dan menjauh dari ranjang. Becca merenung se-jadi-jadinya. Mengharapkan semua yang tadi difikirkan tidak sama sekali terjadi. "Morning, sun shine.." "Aaaa!" Becca berteriak, membuat Randi membelakakan mata. "Gua gak ngapa-ngapain astaga! Baru juga bangun." Jelas Randi. Namun, Becca masih berteriak hingga membuat Randi lepas dari ranjang untuk membekap mulutnya tersebut. "Tenang... " Ia menatao mata Becca, "kita gak ngapa-ngapain. Gua gak mau ngapa-ngapain sama orang mabok juga. Feelnya gak dapet." Bisik Randi. Perlahan-lahan teriakan itu tidak terdengar, tapi, tetap saja mulut Becca dibekap. "Udah? Gak akan teriak lagi kan?" Becca melepas bekapan itu sendiri dengan paksa, "trs berarti lo yanh gantiin baju gua? m***m dasar." "Ehhhh, jaga yang omongan." Randi menunjuk Becca, "Gua gak mau ngeliat tubuh orang kalo gak ada izin." Tangannya dilipat ke d**a, "Fikiran lo liar banget!" Tambahnta lagi dan berjalan ke arah sofa. Randi mendaratkan bokongnya dengan cerita semalam. Semoga saja membuat Becca sedikit tenang, walaupun Randi yang menyesal telah melewati kesempatan. "Thanks, Rand. Dan maaf." "Bisa juga lo ngomong maaf." Pekik Randi. Tidak memandang Becca sama sekali, dan membuat wanita itu resah. Becca menyusul Randi, duduk di sebelah dengan tangan yang ragu-ragu. "Kalo mau pegang, gini. Gak usah gemeter." Randi mengenggam tangan Becca dan menaruhnya di lengan. "Gua mau kerja dulu. Lo jangan kemana-mana. Soalnya abis kerja gua mau ke sini. Bisa nurut?" Tanya Randi dengan suara yang mendadak lembut. Namun, Becca malah menggeleng. Ia beralasan jika, hari ini harus melangsungkan syuting pemotretan yang sudah dijadwalkan oleh manajernya. "Please... Ganti makasih lo sama ini." Pinta Randi dengan wajah pupy eyesnya. Ting ting ting "Buka!" Perintah Randi. Becca menurut saja, padahal, ia sangat jengkel dan mau duduk menatap Randi dengan sangat tajam. Namun, apa boleh buat jika, ia tidak membukakan pintu sekaranh, Randi akan mendesak untuk menuruti permintaan tadi. Becca yang tidak bisa memenuhi itu semua sedikit marah, Randi seperti bukan orang profesional dalam kelas pekerjaan. Membuat Becca jengah, "Terima kasih." Ia mengambil kiriman dari delivery man dengan wajah masam, "sama-sama." Balas delivery man tersebut dan lamgsung ngacir dengan getir. "Makan dulu. Baru kita ngomong lagi." "Engga! Gua rasa gak ada yg perlu diomongin lagi. Gua gak bisa batalin janji pemotretan. Gua ini talent, Rand, harus kerja buat agensi, dan menafkahi staff dan diri gua sendiri. You know that because you a CEO." Jelas Becca. Tangannya terlipat sempurna di d**a. Kepalanya ditegapkan agar terlihat percaya diri. "Oke. Kalo gitu, selesai pemotretan gua yang jemput. Gak ada tawar menawar lagi." Jelas Randi seraya bangun dari tempatnya. "Lo mau kemana?" Tanya Becca. Menghadang Randi di depan pintu, "Mau pulang. Hari ini ada rapat penting. Kenapa? Mau ikut ke rumah?" Tanyanya asal. Membuat Becca berdecih dengan bola mata malasnya, "Ohh yaudah. Bye." Bukannya pergi, Randi malah terdiam. Menatap bare face Becca yang entah kenapa memikatnya. "Gua jemput! Awal lo balik duluan." "Emang kalo gua balik duluan, lo mau ngapain gua?" Tantang Becca yang tak gentar dengan apapun itu. Randi menarik nafas dalam, mendekatkan bibir pada daun telinga Becca, "mau gua nikahin." "Gila deh lo! Udah balik sono lo!" Pekik Becca dengan mendorong tubuh Randi ke luar. Ia langsung menutup rapat pintu, berdiri memunggungi dengan jantung yang sudah melorot ke lambung. Bisa-bisanya tuh orang ngomong nikah kaya beli permen. Gampang banget. Gak mikirin apa yang diajak deg-degan begini. Becca senyam senyum sendiri. Layaknya orang gila di pinggir mampang yang sering ia lihat di Jakarta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN