#RF11

2069 Kata
Kue lucu nan indah yang dibeku Rian masih menggantung di gagang pintu. Sang empu tidak pulang semalaman karena, begitu asyik terbawa suasa mengobrol ngalor ngidul dengan Luna. "Lo bersyukur kabur ke sini, Becc. Gua turut seneng." Tangan Luna menepuk pelan bahu Becca. Membuat senyum tersungging, "Bukan kabur anjir. Merantau." "Yailah! Gaya lo. Bilang aja kabur daru bokap lo." Tegas Luna lagi. Membuat Becca tertawa karena, merasa semua itu benar adanya. Rasanya mengalir begitu saja menceritakan semua kisahnya pada Luna. Padahal, cerita itu adalah hal privasinya yang tidak mau ia buka pada siapapun. Dan, anehnya.. Saat bercerita pada Luna, Becca begitu percaya dan sangat mudah untuk mengeluarkan unek-unek hingga menitihkan air mata. Apa... Pengaruh alkohol mempunyai pengaruh atas semuanya?? Ah sudahlah, biarkan itu semua. Becca tidak menghiraukan semuanya. Ia se-percaya itu pada teman barunya, Luna. "Lu kalo mau tidur, di sini aja. Gak usah balik ke kamar lu." Tegas Luna saat Becca sudah siap dengan hoodienya. Becca menoleh dengan senyum sumringah, "gitu dong. Jadinya kan gua gak cape-cape jalan 10 kamar dari sini." Balas Becca yang langsung berbaring di sofa depan tv. Luna tertawa renyah melihat tingkahnya, matanya yang sudah tak kuat membuka terpejam seketika. Dalam hatinya ia melatunkan pujian pada tuhan karena, akhirnya menurunkan seorang yang bisa ia anggap sebagat teman. "Oalah, bisa-bisanya lo pada nginep. Lo gak mau nginep di rumah gua?" Brak! Luna menabok Randi dengan menu restoran. Membuatnya mengaduh serta mendelik. Berani sekali dirinya melakukan ini semua. Jika, berada di Perusahaan, Randi akan segera memecatnta dari posisi manajer, karena, sudah melakukan hal tak terpuji pada atasan. "Aw! Kok lo juga ikutan?!" Desis Becca pada Becca. Dia menatap Randi dengan mata yang berkilau, "mau sekali lagi gak? Biat hatrick?" Pertanyaan di luar dugaan tersebuy membuat Randi menelan salivanya, "boleh. Tapi, taboknya di sini. Bukan pake menu juga." Becca berdecih, bersamaan dengab Luna yang menampilkan wajah jijiknya. "Udah-udah! Mesen-mesen! Laper banget gua." Jelaa Luna. Menyudahi semuanya karena, ada urusan perut yang lebih membahayakan. ** Wajah kenyang, hatipun senang. Sungguh ungkapan yang penuh makna setelah ditraktir Randi habis-habisan. Becca dan Luna ibarat anak kecil yang kelaparan hingga memesan begitu banyak hidangan. Mereka tadinya sudag gusar, memikirkan apakah ini semua bisa habis ataukah mereka akan membayar denda sisa makanan. Astaga.. Ternyata semua fikiran itu sia-sia. Hanya memenuhkam otaknya saja. "Thank to, boss." "Kalo begini aja baru manggil boss. Kalo gak ditraktir paling lu manggik gua, Randi." Cibirmya seraya memasukkan kembali card holder ke dalam clutchnya. Luna hanya terkikih, dan langsung berpamitan untuk bersiap pergi ke kantor. "Oh kalo gitu, gua balik juga ya–Lun, bareng!" Pekik Becca. Membuat Luna kembali menoleh. Tapi, sayangnya ada tatapan Randi yang seolah menahan kepergian Becca. "Duluan aja deh. Gua nanti aja." Tambah Becca, yang langsung menatap Randi. "Kenapa?" Tanyanya. Randi tersenyum puas, menaikkan alis tegasnya, "Lo mau kerja di tempat gua gak?" Tawaran semacam apa ini, astaga. Mentang-mentang dirinys CEO, rasanya mudah sekali untuk me&recruit orang laim Padahal, Randi sama sekali tidak mengetahui jurusan Becca untuk menyelaraskan pekerjaan apa yang cocok dengannya. Lagipula, Becca juga tidak ada niatan untuk menjadi b***k corporat yang sangat terikat dengan jam kerja. Becca bukan individu yang seperti itu, dia lebih menyukai pekerjaan berbasing lapangan agar bisa bersenang-senang sekalian. Oleh sebab itu, Becca menolak tawaran aji mumpung dari Randi mentah-mentah. "Yaudah, kalo jadi istri gua, ditolak juga gak?" "Heh! Apaan si lo! Macem udah kenal lama aja sama gua. Nikah tuh bukan perkara gampang, Rand." Tutur Becca. Randi bersedehem, menarik lengkung bibir atasnya, "Bercanda. Kalo serius, dan kita udah kenal lama, jangan ditolak ya." Randi masih terus berusaha. Semua itu hanya dianggap bercandaan semata oleh Becca, "Siap, bos. Siapa juga yang gak mau punya suami tahir melintir." Balas Becca dengan bercandaan juga. "Udah ya, gua mau balik. Cape banget. Mau tidur di kasur sendiri." Tangannya melambai. Menjauh dari hadapam Randi, hingga membuat hatinya sedikit resah. "Hati-hati, Rebecca! See you!" Pekik Randi. Restoran dengan apartemen Becca hanya berjarak 7 menit berjalan. Tidak terlalu jauh dan tidak dekat juga. Cukup lah untuk sekalian olahraga. "Home sweet home." Gumam Becca saat melihat pintu kamarnya semakin dekat. Matanya terkunci pada paper bag bewarna hitam gradasi putih. Desainnya menarik mata hingga membuat mata kantuknya sedikit segar. "Kue sapa dah. Emang gua mesen kue?" Ia bertanya sendiri seraya membawa masuk kedalam. Sebelum menjalankan ritual di kamar mandi, alangkah baiknya Becca menegaskan kiriman siapakah ini. Tangannya membuka kardus dan melihat tulisan pada kuenya. "Rian. Pasti ulahnya." Tegasnya dan langsung memanggil Rian. Tut tut... Ponselnya lowbatt, sehingga tidak biaa berfungsi sempurna. Becca berdecih dan membiarkan semuanya lebig dulu. Tubuhnya yang sudah lengket bagai lem, tidak bisa mentoleran waktu lebih lama lagi. Becca harus merendam tubuhnya dengan air dan menenangkan fikirannya yang sedikit kacau entah apa alasannya. Dia juga membiarkan orang yang sedang megkhawatirkannya gusar di pagi buta begini. Sereal bewarna warni bertumpah ruang di meja dapur, bukan ke mangkuk yang telah ia siapkan. Susuaan sel otaknya kacay balau karena, belum mendapatkan telfon dari Becca. Rian bertanya-taya perihal Becca. Kenapa dia belum merespon kue yanh diberikan, apa jangan-jangan Becca tidaj menyukai nya dan tersinggung atas kata-kata yang ia tuliskan? Arrrggg Rian mengacak rambut yang kian berantakan. Pantulan diri dalam cermin seolah menolaknya hingga membuat backlight yang menutupi sekujur tubuhnya. Tok tok tok Ketukan pintu yang sangat keraa membuyarkan semuanya, "Bayar sewa lo! Kalo gak bayar mending keluar!" Hardik seorang pria yang berperawakan tinggi besar. Raut wajahnya bertanya-tanya, kayaknya bulan ini uang sewa telah dibayarkan pada anak sekolah yang kemarin tinggal di rumah, namun, kenapa si tuan tanah menagih dengan cara tak sopak begini? Harga diri Rian seakan terinjak-injak. Ia tidak terina dengan semuanya, hingga membuat dia melupakan tatak krama, "Anak lo yang bawa kabur duit, kenapa gua yang disalahin! Makanya jangan main cewek terus! Gak ke kontrol kan duit lo!" Bugh! Tonjokkan keras mendarat di pipi Rian. Pria ity menyebutkan sebagai balasan antara interaksi dua orang. Mulutnya sudah tidak mampu berkata-kata karena, sudah mati langkah. Rian benar, tapi, dirimya juga benar. Tidak mau ada yang mengalah seperti beberapa waktu silam. "Kalo emang lo gak suka gua masih tinggal di sini, gua bisa nyari apartemen yang lebih layak dari tempat lo! Emang lo kira, gua mau tinggal di sini? Enggak!" Jelas Riam kembali. Kali ini air matanya menitih satu per satu. Moment saar mereka bersama-sama seolah terulang kembali. Rian seolah melihat itu semua sebelum akhirnya, ada dorongan yang membuat tubuhnya tersungkur ke lantai. Brrrggg! Pintu kembali tertutup rapat, meninggalkan sosok teman dekatnya yang kini malah menjadi rivalnya.. Rian tidak menginginkan semua itu terjadi. Namun, nampaknya semesta menginginkan itu semua, hingga membuat kesalah pahaman ini terus berlanjut tanpa arah serta penjelasan. Tok tok tok "Masuk." Mendengar hal itu, Rey serta Riris saling memandang. Menguatkan satu sama lain dengan senyuman walaupun, memaksa. "Ehhh, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang." Pak Xavier menyambut mereja berdua. Memberikan kesan pertama yang menyenangkan, meskipun hati tetap tak enak. "Ini portofolio talent kami, pak. Bisa tolong kamu baca lebih dalam isi kontraknya?" Kata Rey. Meminta waktu kembali untuk menindak lanjuti perjanjian. Padahal, sejak semalam dia dan Riris tidak beristirahat dari lembaran kertas yang mengacaukan fikiran. "Apadah lo, Ris." Gumam Rey. "Muka lo manisin dikit." Bisiknya . Membuat Rey langsung menatap layar ponsel untuk mengaca, "oiya. Gua kadang lupa, kalo bisa senyum." Balasnya pelan saat Xavier begitu sibuk dengan tumpukkan berkas di hadapannya. Entah... Keputusan untuk bergabung bersama agensi bensar seperti MYM apakah menguntungkan atau merugikan. Jika, dilihat dari bayaran serta gaji tim inti talent, memang jauh lebuh besar. Tapi, di balik gaji yang besar pun ada juga potongan besarnya. Membuar Riris selaku finance utama mengelus d**a semalaman. Sementara, Rey ia malah berlaku layaknya "orang bener" Yang selalu memikirkan hal positif. Dirinya selalu berfikir jika, Becca akan terbang lebih tinggi saat bergabung dengab MYM, ia akan menjadi influencer proffesional di bawah agensi besar serta banyak kuasa hukum. Sehingga, dirinya, Riris, dan Becca tidak perli repot-repot kala mempunyai masalah dengan pihak manapun. Toh juga, selama mereka menangani Becca, dirinya tidak pernag membuat masalah. Malah, masalah nya saja sampai minder kalau bertemu dengan Becca yang sangat acuh dengan semuanya. "Okey, kita call Becca sekarang ya, ready kan talent mu?" Tanya Xavier. Rey mengangguk, menyetujui panggilan Becca yang memang sudah dijadwalkan sejak lama. "Hallo, semuanya. Selamat siang, Pak Xavier, Manajer saya, serta finance utama saya." Becca menyapa mereka semua. Kini tampilannya lebih fresh dibanding biasanya. Rambut yang tergerai, serta ada bando scrunchie bewarna olive menghiasai kepalanya. Cantii sekali. Kesan pertama Xavier kala melihat Becca yang sudah lama tidak ia temui. Tanpa sadar, senyum sempurnanya tergambang sangat jelas. Membuat Rey kewalahan karena, Xavier yang diam saja. Harusnya, saat ini dia membagikan jadwal pemotretan yang akan dilakukan oleh Becca di Singapura sana, demi mempromosikan suatu minuman. Tapi, kok malah diam. Kaya patung pancoran, "Maaf, Pak Xavier..." Celetuh Riris. Membuat ibu jari Rey terangkat di bawah sana, karena, untung ia membawa Riris yang mempunyai sifat menegur serta ceplas ceplos. "Sorry-sorry, okekita back to the topik ya." Kata Xavier yang sudah tersadar. Becca hanya tersenyum, dengan hati yang mendongkol. Kalau saja jika, mereka berdua ada di ruangan terbuka. Maka, Becca tidak akan menampilkan senyum palsu begini. "Ohh berarti, saya gak usah siapin wardrobe ya, Pak? Udah dihandle sama orang sananya?" Tanya Becca. Xavier mengangguk dengan mata yang tetap menatap Becca. Membuat orang yang ditatap jenggah, dan memaksa menyudahi dengan alasan mau belajar bahasa Korea. Alasan macam apa itu... Random sekali. Mentang-mentang abis nonton crash landing on you. Rey serta Riris langsung melong, tidak percaya akan ucapan Becca tadi. Rey mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Becca untuk meminta penjelasan. Sebenarnya tidak perlu, tapi, ingin saha. Secara, Becca adalah seorang wanita yang tidak tertarik belajar lagi, setelah menamatkan pendidika sarjananya. Tapi, mengapa kali ini ia mau belajar. Terlibih lagi belajar bahasa tersulit di dunia. Bukan Becca banget... ** Setelah semuanya benar-benar selesai, waktujya Becca untuk membingungkan dirinya. Ia harus pergi kemana, mencoba makanan apa, dan bermain apa. Ting! "Lo minta gua temenin kemana?" Dia membaca pesan masuk yang dikirimkan oleg Rian. Matanya langsung memincing, menelaah kata demi kata. Kok gak enak banget pas dibaca ya, ada yang mengganjal. Seolah Becca itu merepotkan sampai-sampai Rian berkata seperti tadi. Becca menghembuskan nafas kasar, dan mengunci kembali ponselnya. Tidak lama kemudian, notifikasi kembalu membuat layarnya menyala. Kali ini ada buble chat di DM i********: dari username bernama Lunlun, Becca tau itu dari Luna. Karena, waktu itu mereka saling bertukan second acc demi kenyamanan,dasar. "Gabut gak, Becc? Kalo gabut jalan yuk, mumpung gua lagi cuti stengah hari nih." Lengkung senyumbya langsung tertarik, dan jemarinya menari sempurna pada keyboard. Melupakan pesan text dari Rian yang membuat sang empunya kebingungan dalam kamar. Tumben banget Becca tidak fast respin. Kenapa? Dan ada apa? Berbagai pertanyaan bersemayam dalam fikiran Rian. Membuat dirinya lupa jika, ini sudah pukul 9 pagi. Waktu untuk bekerja di kedai subway seberang apartementnya. Tapi, ia malah memilih untuk kembali berbaring dengan penampilan yang masih berantakan. Mendasak hatinya sakit, merasa terlupakan oleg Becca. Tapi, tetap fikiran narsistiknya tetap menggelegar. Rian tetap meyakini jika, Becca akan membutuhkan dirinya no matter what. Hanya tinggal menunggu waktu kapannya, dan Rian akan menjadi pemenangnya. "Haiiii! Omg! Gua gak nyangka lo kerja di perusahaan gede begini." Papar Becca di hadapan Luna. "Bentar deh." Tambahnya, membuat wajah Luna penasaran, "Kalo lo kerja di sini, berarti Randi yang punya perusahaan ini, Lun?" "Iya lah! Kan dia CEOnya. Gua kira lo udah tau." "Daebak!" Becca membekap mulutnya dengan mata yang membelalak. Sebenarnya ia bukan terkejut atas besarnya gedung. Kalau masalag gedung besar mah... Perusahan sang ayah di Jakarta juga sebesar ini. Becca terkejut atas pencapaian Randi yang bisa dibilang sangat sempurna. Kelihatannya juga ia masih muda, tapi, tidak sangka ia sudah mengemban tanggung jawan yang sangat besar. Perusahan besar pasti karyawannya juga banyak. "Hampir ribuan, Becc." "Masa?" Luna mengangguk, "Ini baru kantor pusat. Belom karyawan paruh waktu yang di tempatin di franchisenya masing-masing." Beber Luna seakan membanggakan Randi. Becca semakin penasaran akan pencapaian Randi, yang membuat dirinta seakan terlempar jauh jatuh ke jurang. "Dari ujung sini sampe sana, franchaise Randi ada 10 outlet, Becc. Karyawannya ada 5 yang tetap, yang paruh waktu ada 3." Luna mengambil nafas, "Bisa lo bayangin gak? Dari sini sampe sana aja udah ada 80an, belum lagi di persimpangan jalan, di belokkan sana." "Stop-stop." Becca mengibarkan bendera putih tak kasat mata pada Luna, "Jiwa iri plus kemiskinan gua meronta-ronta, Lun. Cukup sampe di situ aja." Tambahnya dengan tangan di d**a. Membuat Luna terbahak dan langsung merangkulnya, "Kalo gitu jadian aja sama boss gua. Enakdah, terjamin." "Gila dah lo. Lo pikir se-gampang itu." Balas Becca sekenanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN