Semua rencana jastip Becca alihkan ke hari lain, karena, dirinya membutuhkan healing atas semua masalah yang dihadapi nanti.
Beban di pundaknya sangat berat, rasanya ingin sekali membuang itu semua dan bertingkah biasa saja.
Namun... Semua itu tak semudah dibayangkan, jika, beban itu dibuang, Becca harus siap dengan semua konsekuensi terburuk.
Tinggal di Singapura dan menjadi gelandangan baru.
Hurrrgg, membayangkannya saja tidak sanggup. Membuat Becca menghiruo udara pagi dengan puas.
"It will past, Becc. Santai." Ia menegaskan hatinya.
Ia meyakini jika, bergabung dengan agensi demi dia dan timnya lebih bersinar rasanya, tidak apa. Dan malah menguntungkan.
Apa yang harus ditakutkan sih...
Ya, memang ada hal yang menakutkan jika, kita melihat jangka panjangnya.
Ketakutan Rey dan Riris sama seperti ketakutan Becca. Takut akan terikat, tercekat, serta sesak dengan kehidupan agensi yang sangat menekankan senioritas.
Boleh saya Becca dibilang senior, tapi, kala masuk agensi dengan kontrak baru. Maka, Becca adalah junior, dan junior harus tunduk dengan senior.
Hurggg, menyebalkan. Memikirkan nya saja membuat Becca jenggah dan lebih memilih untuk menatap langit, alih-alih menatap masa depannya.
"Lo pasti udah take off ya, Rand?" Tanya Becca pada pesawat yang melewati langit atas apartementnya.
Setelah mengutarakan semua itu, tubuh Becca bergidik kedinginan. Ia menggaruk bagian perut hingga lipatan lengan, "duh bahaya nih." Jelasnya sambil kembali masuk.
Dia langsung menutupi aekujur tubuh dengan selimut tebalnya. Tak peduli matahari yang kian meninggi. Karena, hanya ada satu permintaan pada semesta kali ini.
Jangan sampe sakit di negara orang... Becca belum akrab dengan siapa-siapa, belum punya apotek langganan, serta dokter yang menurutnya cocok untuk tempat bersinggah.
Ia tenggelam dalam selimut, matanya terus meneggerjap serta tangannya yang sibuk menekan-nekan layar ponsel.
"Lo bawa gak obat yang biasa lo minum?" satu bubke chat yang dikirimankan Rey dengan emot marah di belakangnya.
Dan bodohnya, dia hanya membawa kotak p3k yanh berisikan obat untuk luka. Seperti betadine, perban, dan alkohol. Becca tidak membawa kotak obat yang selama ini terpampang nyata di nakas kamar Jakarta. Dia lupa... Merasa tidak akan jatuh sakit, karena, sudah lama tidak berjumpa dengan penyakit langganannya.
Biduran. Penyakit gatal yang disebabkan oleh alergi dingin. Aneh banget ya... Padahal, cuacanya lagi panas beginu, tapi, kenapa alergi itu muncul.
Apa mungkin gara-gara semalam??? Tidak rasanya. Becca masih saja meng-denial semuanya. Yang, padahal sudah jelas keadaannya.
"Sudah lah, Rey. Gua mau bawa tidur aja." Tulis Becca.
Ia langsung menaruh ponsel dengan sembarang dan langsung memejamkan matanya. Meneagan semua gairah untuk menggaruk cikal bakal bentolan di sekujur tubuhnya..
Rasanya mantap sekali, lebih berat daripada menahan gejolak asmara.
Menagan gejolak asmara mah gampang, tinggal gak ketemu orangnya beres. Lah, kalo ini. Nahan rasa gatal, coy. Alamat tidak bisa deh.
Semua jarinya langsung meluncur untun menggaruk, hingga menyebabkan bentol bentol langsung banyak dan menyebar.
"Mati gua.... Mati aja deh, udah begini mah." Jelas Becca saat melihat keadaan perutnya dengan bentolan yang penuh.
Tanganya kembali menyambar ponsel untuk meminta pertolongan. Tujuan pertamanya ialag menelfon Rian. Karena, hanya dia satu-satunya teman yang Becca punya.
"Becc, sorry.."
"Lo lagi kerja ya?"
Helaan nafas berat dihembuskan Becca. Belum sempat ia menjelaskan tentang kondisinya Rian sudah meminta maaf dan menerka jika, dirinya ingin mengajaknya main.
"Yan, plis banget. Lu gak bisa apa–"
"Selamar datang di coffeshop ini, silahkan mau pesan apa?" Suara Rian terpantul jelas, membuat Becca menunggu jawaban.
"Maaf banget, Becc. Next time gua bakal nemenin lo–bye!" Jelasnya sambil menyelesaikan panggilan.
Becca hanya bisa berdecih, bergumam sejenak untuk meredakkan emosinya.
Memang sejak kapan si dia memaksa Rian untuk bermain dengannya. Kok dari pemilihan kata Rian terdengar sangat janggal. Lagipula, Becca tidak pernah meminta waktu Rian. Tidak pernah memohon untuk menemaninya jalan-jalan. Malah kebalikkan, Rian yang mau menemani Becca kesana kemari.
Entahlah, semua itu membuat Becca menggerakkan bahunya dengan kasar.
Sebagai wanita mandiri, Becca langsung bersiap diri pergi ke klinik terdekat yanh sudah ia cari di internet.
Ia berjalan ke arah lift dengan tangan yang terus menggaruk area gatalnya.
Brugg'
"You again? Seriously..."
Becca terperangah sebentar. Tidak tahu maksut ucapan dari seorang wanita berkulit eksotis di hadapannya.
"Maaf? Kita pernah ketemu kah?" Tanya Becca untuk menjelaskan semuanya.
Ia memundurkan langkah, tidak mau terlalu dekat karena, takut orang jahat.
Kan mencegah lebih baik dari mengobati, "astaga! Muka lo kenapa? Kok pada begini?" Sentak wanita itu.
Raut wajahnya khawatir, membuat Becca semakin heran.
"Sorry, gua Luna. Kita pernah ketemu kemarin lusa kali ya."
Akhirnya wanita itu membuka identitasnya, membuat secercah harapan Becca untuk membuka memori dan menemukan kejadiannya.
"Pas itu gua nabrak lo juga. Persiskaya sekarang. Sorry ya, btw."
Belum 10 menit berjumpa, Luna sudah mengatakan dua kali kata maaf. Membuat Becca kikuk. Masalahnya, orang ini tidak mempunyai kesalahan apapun. Kenapa harus minta maaf sih, kan Becca terlihay seperti penjahat.
"Its, ok. Kalau gitu gua duluan ya, mau ke klinik." Jelas Becca yang sudah tidak tahan dengan rasa gatalnya.
Ia mau secepat mungkin bertemu doker dan meminum obat yang diberikan, demi mengurangi rasa gatal ini. Dirinya tidak sanggup menunda lebih lama, rasanya lebih menyakitkan ketimbang putus cinta.
"Mau coba minum obat gua dulu aja gak?"
Becca menoleh, ini orang kenapa dah. Emang dia tau gua sakit apa, pake segala nawarin obat.
"Kebetulan gua juga pernah begitu. Jadinya, selalu stok obat alergi. Ketimbang lo jauh-jauh ke klinik. Dan, klinik di apartement ini lagi gak buka pelayanan." Jelasnya panjang lebar, seakan memaksa Becca untuk mendengarkan semuanya.
Sebenarnya Becca tidak masalah, toh juga Luna berniat ingin membantunya.
Hanya kaget saja, kok bisa ada orang asih yang sebegini pedulinya dengan orang yang baru ditemui. Terlebih lagi, pertemuan ini adalah tidak sengaja. Hanya bersenggolan pundak, "Boleh, kalo lo nge izinin." Balas Becca, menyambut niat baik Luna.
Raut eajahnya sangat sumringah, layaknya mendapat hadiah sepuluh juta, memaksa lengkung senyum Becca terangkat dan bersyukur.
"Lo tinggal disini sama siapa, Becc?"
"Ups" Tambah Luna yang tiba-tiba kebingungan, "Gua gak papa manggil lo Becca?" Jelasnya lagi.
Becca langsung tertawa. Baru kali ini ada orang yang se-sopan ini. Entah terbuatnya jadi apa. Tapi, yang jelas Becca menyukainya.
"Gapapa, astaga! Malah gua lebih pro kalo dipanggil Becca ketimbang Rebecca." Balas Becca.
Ia menenggak air putih yang sudah disediakan, "Kalo kenapa-kenapa gua bawa ke Rs ya. Takutnya lo juga alergi sama obat."
Entah kehidupan lama Becca berlakon sebagai apa, kok bisa-bisanya menemukan orang layaknya Luna.
Orang asing yang mengkhawatirkan dirinya. Becca seperti sudah kenal lama dengan Luna. Nyaman sekali... Lebih nyaman dari mantan pacarnya di Jakarta.
Ups,... Sorry. Becca keceplosan memikirkan masa lalu. Membuat otakhya muak, "Santai aja si, Lun. Oiya, gua tinggal sendiri. Perantauan nih." Kata Becca untuk menjawab pertanyaan Luna tadi.
**
Ke astetikan ruangan coffeshop memang tidak perlu diragukan lagi apalagi, wartu sore-sore begini.
Para pengunjung disuguhkan pemandangan langit jingga, serta pemandangan matahari terbenam.
"Ini pesanan anda." Kata Rian seraya menaruh dua gelas kopi espresso.
Pelanggan wanita menoleh dan membuat Rian kaget, "Maaf, miss. Matamu kemasukan debu kah?" Tanya Rian karena, tadi mata wanita tersebut berkedip-kedip.
Wanita itu langsung membuang pandang dengan malas, "Ganteng doang tapi, gak peka."
"Sorry?" Tegas Rian yang langsung dibalas dengan topangan tangan, "Malem ini kosong gak? Kalo kosong bisa kali nongkrong bareng." Jelas wanita tadi.
Menyembunyikan raut wajah yang barusan dan menggantikan dengan wajak manja yang dibuat-buat.
Membuat Rian jenggah setengah mati. Rasanya ingun sekali ia menghardijnya sekarang juga. Tapi, apaboleh buat... Saat ini wanita itu berada satu tingkat kelas sosial dibanding dirinya.
Secara, konsumen adalag raja, bukan? Hmmm malas sekalu. Fikiran Rian berdesis seraya pergi menjauh.
Ia lembali ke tempatnya, memberikan senyum ramah pada konsumen lain yang sudah sedari tadi menunggu, "Mau pesan apa?"
"Pesan kamu bisa?"
"Hah? Apaansi."
Mata konsumen itu langsung terbelalak. Keheranan dengan respon yang diberikan oleh Rian.
Rasanya, ini kali pertama ia mendapatkan respin se-dingin itu saat berkunjung ke coffeshop langgananya.
Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong, sangat mengejutkan sampai-sampai Rian menyadari itu semua.
"Apasi kamu, bisa aja deh." Ralatnya dengan mengandalkan raut wajahnya.
Konsumen tersebut dibuat luluh seketika, padahal, ia tidak mengetahui isi hati Rian yang sedang mencercanya habis-habisan. Mengumpat, mengutuk, dan apapun itu. Semua bersarang dalam hatinya, hingga ia menyesal menjadikan image sebagai laki-laki manis yang membuat coffeshop tempatnta bekerja digandrungi para kaum hawa.
"Menyebalkan!" Runtuk Rian selepas konsumen tadi pergi.
Ia langshng melepas apronnya dan menyambar ponsel dari tasnya.
"Rian out." Tulisnya sebagai tanda absen pulang.
Kaki jenjangnya langsumg bergegas meninggalkan ruangan, tangannya sibuk menelfon Becca untuk merencanakan kegiatan yang belum bisa terlaksana.
Namun, nampaknya semesta tidak bersahabat. Langit langsuny menangis sejadi-jadinya, membuat Rian berlari mencari atap terbuka untuk meneduh.
Tut tut tut
Panggilan juga tak kunjung diangkat oleh sang empu, membuatnya menyudahi semua dan kembali ke rencana semula.
Istirahat di rumah, menyeruput kuah ramen hangat sebelum kembali berangkat.
Iya, berangkat kerja.
Rian memang se-sibuk itu. Dia mempunyai 5 pekerjaan paruh waktu alih-alih mempunyai pekerjaan tetap.
Karena, baginya pekerjaan paruh waktu adalah pekerjaan yang paling mudah didapatkan di negeri maju sini. Ia tidak perlu repot-repot mempunyai pendidikan tinggi, setelan mahal, dan merapihkan semua dokumen persiapan.
Bermodalkan tenaga serta pengalaman adalah koentji.
Tak terasa permainan dadu sudah dimenangkan tiga kali beruntun. Membuat Rian semakin merasa sempurna dalam ukuran manusia.
Tes tes tes, mendadak tetesan hujan semakin terdengat di telinga. Membuat kepalanya terangkat dan menatap ke depan.
Terntya hujan sudah mulai berhenti, bisa untuk dilalui oleh orang yang lupa membawa payung.
Oleh sebab itulah ia melangkah dengan percaya diri. Bersiul dengan tangan dimasukkan dalam saku, untuk mensyukuri nikmat dunia yang sementara.
"Boleh tuh..." Gumamnya kala melihat toko kue di sebelah.
Otaknya langsung memikirkan orang pertama yang ingin ia berikan.
Siapa lagi jika, bukan Becca. Wanita cantik, lucu, yang mempunyai selera anak kecil.
Rian merasa kue yang dipajang di dalam sangat menggambarkan Becca. Membuat kakinya masuk ke dalam untuk membelinya.
"Bisa ditulisan pesan gak, miss?" Tanya Rian pada petugas kasir.
"Tentu bisa, tapi, dikenapan fee 2 dollar."
Tidak perlu lama-lama, Rian langsung menyetujui itu semua dan langsung menuliskan pesan untuk diberikan pada petugas tersebut.
Setelah selesai semua, Rian berjalan hati bahagia. Memikirkan bagaimana respom Becca saar menerima kue ini. "Awww" Ia sampai malu sendiri atas ekspektasinya.
Tap tap tap, langkah kaki yang terdengar sangat percaya diri memenuhi seluruh ruangan, "Spada, hello!" Teriaknya.
Rian yakin jika, hari ini Becca ada di tempat dan tidak keluar kemana-mana. Lagipula, sama siapa juga kalaupun Becca keluar.
Wanita itu tidak mempunyai teman selain dirinya.
"Becca!" Teriaknya lagi.
"Berisik! Tau gak ini apartemen yang kanan-kirinya penuh?!" Tegas penghuni yang berda di seberang unit Becca.
Wanita separuh baya yang menggunakan daster se-lutut serta poni yang di-roll.
Tampak seperti tuan tanah yang galak, membuat Rian bergeming, dan meminta maaf.
"Dua panggilan sudah cukup! Orang itu tidak ada di dalam." Katanya lagi. Membuat Rian tidak bisa melakukan apa-apa.
"Baik, kalau begitu saya pamit. Maaf sekali lagi." Lirihnya dengan tubuh yang membungkuk.
Semua espektasi di kepala langsung hilang seketika. Harapannta melihat senyum sumringah dari Becca pupus susag. Hanya tersisa cibiran dari wanita tua sepanjang kepergiannya.
BrrK!
Bantingan pintu membuat bulu kuduknya terangkat. Hati serta nyalinya mendadak keriput layaknya kulit tanpa produk anti aging, "Bec.. becc, gua samperin lo kabur. Kemana si lo?" Benaknya bertanya-tanya tampa menginteropeksi diri sendiri.
**
Kembalinya Randi ke Singapura membuat jalanan macet tak terkira, menerka apa yang sedang terjadi sebelum matanya menangkap semua penglihatan, "Pinggir!" Pekiknya pada supir.
Mobil mewah bermaskot macan berhenti di tepi jalan, si supir menoleh ke belakang, "Saya tunggu atau mr akan memakai mobil ini?" Tanyanya untuk memastikan.
Belum sempat mendapatkan jawaban, Randi sudah keburu pergi menghilang dari pandangan.
Membuat ia bertanya, apakah bossnga kini merangkap sebagai magician atau makhluk tak kasat mata.
"Huh" Ia hanya bisa menghela nafas, dan melajukan kembali mobilnya.
Sementara Randi, kini sedang berlari mengejar sosok yang ia kenal di depan sana.
"Luna!"
"Hai?"
"Eh! Rebecca?"
Luna terperangah, "Udah saling kenal? Tanya Luna pada Becca dan Randi yang saling berhadapan.
Becca menampilkan raut wajah kikuknya, entah apa yang harus disampaikan. Rasanya belum tepat jika, ia mengatakan kenal dengan Randi.
Sementara, orang yanh sedari tadi difikirkan malah dengan enteng menyebut kalau dia dengan Becca sudah menjadi teman.
Teman darimananya.... Dari Hongkong iya.
"Eh! Kok lo tau gua dari Hongkong. Baru banget balik."
Kenapa si telinga Randi sangat peka, membuay Becca malu setengah mati, "Indera ke-7 gua tu emang keren, Rand" Balas Becca.
Melihat dua interaksi yang menurut Luna absurd, membuat dirinya bingung. Harus melakukan apa dirinya? Haruskah ia menginterupsi perdebatan ini. Ataukah, tidak usah. Tunggu saja sampai selesai.
Tapi, jika, menunggu itu semua Luna tidak sanggup. Perut pengar akibat semalam semakin menjadi-jadi.