Becca... Influencer dari ibu kota Indonesia yang mempunyai pemgikut lebih dari 2 juta. Angka cukup fantastis untuk ukuran imfluencer mandiri. Tidak tergabung dalam agensi manapun.
Mempunyai kepribadian layaknya orang Indonesia yang sanvat ramah. Baik langsung ataupun tidak langsung. Dengan ini juga, dirinya mendapatkan gelar yang dibuat oleh para followersnya.
"Cinta pertamanya Jakarta." Itu gelar Becca. Karena, dirinya sangat mencerminkan sosok cinta pertama para anak muda yang hanya bisa berada dalam ingatan, bukan kenyataan.
Baik dari segi penampilan ataupun sikap dan sifat. Becca terlalu sempurna untuk mereka, jadinya, malah dibilang mustahil untuk dimiliki.
Akibat semua itulah, dirinya masih sendiri hingga hari ini. Doa mungkin ya dari banyak orang, ataupun para pria di luaran sana enggan mendekati Becca?
Hmmm... Entahlah, tapi, pria ini kenapa suka sekali dekat dengan Becca?
Hingga dirinya rela untuk absen dari perusahaan, "Lo beneran gak kerja, Rand?"
"Bener." Randi menyesap vanilla latte miliknya, "Gua gak kerja aja udah kaya. Gimana kalo kerja."
Deg!
Apa-apaan sih. Kok jadi show on gini. Tadinya kan gak mau begini.. Apa banget deh! Tegas Randi. Mengomeli sang otak serta alam bawah sadarnya yang bertindak semaunya.
Namun, semua itu malah berbanding terbalik dengan Becca.
Wanita itu malah tertawa puas, "Yaudah kalo gitu, bagi gua saham perusahaan li, biat kita ketemu terus di RUPS."
Bercandanya orang kelas atas memang beda ya levelnya. Ketemunya langsung di RUPS, bukan di caffe ataupun restoran.
Sebuah pembicaraan yang cukup berat, selaras dengan salivanya yang tertahan di kerongkongan, "Lo kalo mau ketemu gua terus, jadi istri gua aja, Rebecca. Mau gak?" Kata Randi dengan santai.
Santai sekali... Layaknya orang yang sedang mengajak orang untuk nonton film.
"Lo jauh banget, Rand. Nawarin jadi istri. Gua jadi pacar lo aja belom tentu mau." Papar Becca dengan senyum simpulnya.
Ia tidak tahu kenapa begitu, padahal Randi kurang apa sih, untuk bisa menjadi pacarnya.
Tidak ada yang kurang sama sekali. Sama sekali. Semuanya sempurna. Sangat sempurna. Tapi, ya gituuu...
Masalah hati kan tidak ada yang tahu ya.. Beccapun sama. Entah kenapa hatinya belum bisa terbuka serta tertarik dengan sosok pria yang kini di hadapannya.
Pria yang sedang bertopang dagu, dengan simpul dasi yang berantakan.
Gaya rambut yang terkesan acak-acakkan serta kumis tipisnya yang semakin menambak maskulinnya.
"Itu bunyi hape lo?"
Pertanyaan Randi membuyarkan fikiran Becca yang sedang mengangungkan dirinya.
"Aneh banget si bunyinya. Ganti napa! Gua gak suka."
Becca menatap sinis Randi, siapa dia menyuruhnya. Becca terpaksa menarik kembali fikirannya tadi. Ia tidak suka pada Randi jika, sedang berlaku bossy seperti tadi.
"Bawel lo–hallo?" Jelas Becca seraya menerima telfon.
Ia menjauh dari Randi untuk berjaga-jaga kala dirinya ingin berteriak memaki Rey, manajer sekaligus adiknya sendiri.
"Kata lo restoran itu udah tutup ya, nyet!" Hardik Becca. Memindahkan ponsel dari kiri ke kanan.
Amarahnya mendadak berada di puncak. Matanya merah, seakan berapi ria, "Gua aja gak tau, Bec. Si ownernya tiba-tiba DM gua. Katanya nagih janji endorse. Padahal uangnya baru mau gua refund."
"Ya lagian kenapa baru lo refund?! Kan gua bilang kalo gak ada kabar pasti langsung refund aja. Lo si yang salah. Ah, gimana dong ini." Hanya amarah yang jelas dari semua ucapan Becca. Tidak ada solusi apapun.
Rey jiga begitu, ia juga sibuk mencari kesalahan Becca, bukannya mengintropeksi diri sendiri.
"Yaudah deh. Sekarang–lo dengerin nih." Tegas Becca.
Rey yang berada di seberang sana hanya bisa menghela nafas, menahan amarah sebisa mungkin karena, masih berada di lingkungan sekolah.
"Yaudah kalo itu mau lo. Nanti gua follow up."
"Gak pake ditunda-tunda ya, Rey."
Ia menatao langit cerah Jakarta hari ini, berdoa pada tuhan yang berada di atas sana untuk mengampuni dosa yanh akan ia lakukan kali ini.
"Bacot banget si lu ya, jing! Gua juga tanggung jawab kalo kerja. Gak cuman lo doang. Muka depan lo tuh ya, gua. Gimana si. Udah lah, Becc. Mending kita chatan aja. Buang energi suara gua aja lo." Hardik Rey. Mematikan telfonnya dan langsung berteriak.
"Untung lo ngasilin duit, kalo engga, gak akan gua anggep kakak lo!"
**
Loly's Corner, restaurant yang menjual berbagai macam yoghurt beku dengan berbagai macam rasa.
Dan kebetulan, owners nya meminta Becca menjadi influencer pertama yang mencicipi produk nya.
Sekiranya itu perjanjian awal. Karena, selama ini memang Becca yang menunda kepergian ke Singapura, agar bisa sekaliam saja. Tidak usah bolak-balik yang akan mengeluarkan biaya dua kali lipat
"Rey, gua udah sampai." Kata Becca yang berdiri di seberang Restaurant tersebut.
"Okay, gua sudah bicara dengan owner nya. Jadi kau tinggal masuk aja, gudlack Bec!" Balas Rey, yang membuat Becca kebingungan.
Karena saat ini dirinya mendapatkan kata-kata semangat dari seorang Rey, yang biasanya tidak pernah melakukan itu semua, sepanjang karirnya menjadi influencer.
Atau...kata-kata penyemangat tadi hanyalah sarkastik semata? Jangan-jangan, pas Becca masuk ke dalam, owber tersebut akan memaki dirinya atas ketidak becusan bekerja?
Padahal, semua ini bukan salah Becca saja. Semuanya mempunyai kesalahan yang sama beratnya.
"Huh" Becca menghela nafas kaaar sembari menyudahi telfon dengan Rey, ia bergegas masuk ke dalam Restaurant, karena sudah beberapa pasang mata melihat dirinya sedari tadi.
"Ms, Rebecca?"
"Just Becca" Balas Becca, dengan senyum tipis pada gadis yang berperawakan seusia nya.
Gadis itu menatap Becca dengan bingung, "Saya kira anda seorang diri. Ternyata bawa body guard ya?"
Mendengar hal tersebut, Becca tak kuasa menahan tawanya.
Ia melirik Randi yang sama kagetnya dengan dirinya, "kalo body guard saya begini mah, saya udah jatuh miskin, Miss."
Randi semakin bingung, ia memicingkan mata meminta kejelasan, "Kan bayarannya mahal. Trus juga mana ada CEO yang mau ngerangkap jadi body guard. Ya, kan?" Jelas Becca lagi.
Membuay senyum Randi dikulum, "Astaga... Maaf-maaf, bukan maksut saya lho, Mr. Habisan, tampilannya kaya body guard jaman sekarang. Pake jas, trs ganteng lagi..."
Astaga... Gadis itu pandai sekali berailat lidah. Ia mampu menerbangkan seseorang yang baru jatuh dari ketinggian. Membuat bibir Becca serta Randi tersungging dengan paksa.
"Kalau gitu, saya langsung to the point aja nih ya. Biar gak wasting time. Soalnya, saya juga ada keperluan lain lagi." Papar Becca.
Melambungkan kode agar gadis itu memanggil staff yang lain untuk memberikan produk yang akan diiklankan olehnya, "Btw, anda benar kan ownernya sendiri? Saya takut kesalahan kaya tempo hari lagi, katanya batal eh taunya jadi."
Becca sedikit menyinggung untuk menyadarkan dan membebaskan penyakit hatinya sedikit, "Iya.. Tidak apa, santai saja. Kalau begitu saya ke belakang dulu ya, Miss." Tutur gadis itu.
Setelah gadis itu pergi, Becca menatao Randi, begitupun ssbaliknya. Bibirnya tak kuasa menahan kata yang ingi terlontar, tapi, masih memikirkan hati yang belum leluasa untuk melambungkan godaan.
Sebelum akhirnya, Randi yang lebih dulu melakukan itu semua. Dirinya menjadi voluenteer untuk menjatuhkan namanya sendiri, "Seneng banget lo kaya di disneyland." Ujarnya dari lantai.
Randi tersungkur di lantai, saat kakinya melangkah di genangan air yang tak kasar mata karena, lantainya berwarna putih.
"Ngomel mulu lo kaya ibu-ibu gak dapet arisan." Becca mengulurkan tangan yang dengan cepat diraih oleh Randi.
"Ah! Ngadi-ngadi aja deh lo, Rand. Nariknya ke-kencengan. Gua jadi ikutan jatoh kan." Desisi Becca yang langsyng bangun.
Bajunya basah terkena cipratam air, membuat dirinya kesal dan terpaksa hanya bisa mengibas-ngibasnya dengan tangan.
Brggg, "dicover sama ini aja. Tampilan lk makin charming." Tutur Randi seraya menampikkan jas pada tubuh Becca.
"Coba foto gua dulu, pengen liat looknya sebelum endorse nanti." Pinta Becca bernada perintah.
Semua itu membuat Randi kembali terpukau ke sekian kalinya. Momen pertama disuruh oleh seorang wanita berhasil diklaim oleh Becca.
Jemarinya berselancar sempurna oada halaman ecomers, tatapan pemburu terpancar jelas dengan manik mata yang berkilau, "Lo pasti lg ikutan flash sale." Tanta Randi dengan sok tau.
Becca tidak bergeming, dirinya harus fokus melihat produk san mencocokan sebagai kebutuhan atau kesenangan semata, "Wei!"
"Apasi, Rand astaga!" Pekik Becca dengan sangat terkejut.
Randi malah terkikih karena, melihat wajah Becca yang sangat aneh namun cantik, "Lo serius banget lagian. Gua dicuekin. Gua gak suka."
Semua itu membuat mata sipit Becca semakin sipit, ia menatap Randi dengan aneh, "Trus gua harus bilang apa? W.o.W gitu? Kalo sepi ya buka hape aja. Gak usah susah deh, Rand." Ia kembaki fokus pada ponselnya.
"Gua lagi beli vitamin ini, mayan diskonnya."
Wow... Luar biasa.. Di antara wanita yang lebig mementingkan makeup, Becca malah mementingkan asupan vitamn tubuhnya.
Randi kembali dibuat terperangah, "Lo emang beda ya, Becc." Jelas Randi sambil menyeruput kembali kopinya.
"Basi lo. Lo mau gombal apa lagi si, Rand. Gua gak mempan deh pake gombal kacangan begitu." Kata Becca tak acuh.
Mendengar respon yang begitu tidak menjadikan seorang Randi berdiam diri. Ia malah memindahkan kursinya menjadi di samping Becca. Ia juga mendekatkan bibir pada telinga Becca, dengan tujuan untuk menggoda lebih dekat.
"Ini yoghurt stiknya. Silakhan dicoba dulu sebelum take."
'Eisss, gangu aja.. Baru mau melancarkan senjata.' Desis Randi dalam hati.
Melihat hal begitu, Becca langsung mengulum senyum dan melanjutkan kegiatannya.
"Woww inovasinya boleh juga ya." Jelas Randi seraya mengambil satu stik yoghurt.
"Apanya yang boleh, Rand? Di indonesia sana udah banyak yoghurt stik begini." Balas Becca yang tidak menemukan yang spesial dari produk tersebut.
Dirinya juga bingung dengan owner yang membutuhkan jasa endorsenya di Singapura sini. Secara, dirinya adalah influencer yang belum memiliki banyak pengikut internasional.
Terlebih lagi, ownernya cuman mau dipromosiin produk begini... Stik yoghurt yang maaf-maaf, banyak ditemui di supermarket negaranya.
Semua itu hanya membuat uang serta tenaga dari owner, menurut pandangannya.
"Ya kan di sana (Indonesia) di sini masih jarang, Rebecca! Dan juga, outlet yang menyediakan yoghurt bar seperti ini masih belum banyak. Dan–" Randi mendekatkan bibir pada telinga Becca, "Semua itu bisa membuat owner tadi mandi dengan uang dollar."
"Apasi, Rand." Cibir Becca.
Bukan karena pendapatnya yang berbeda, melainkan rasa gelinyang didapatkan dari stimulus Randi tadi.
Sejujurnya Becca tidak suka dibisiki, tapi, entah kenapa kali ini dia malah menyukainya.
Karena, bisa mendengar suara baritone penuh karisma dari Randi dengan sangat jelas dan lembut.
"Ya ya ya ya ya" Balas Becca sekenanya. Menenggelamkan wajahnya dengan tangan, "lo diem gitu, gua foto. Mayan buat feeds ig selepgram kaya lo." Seru Randi.
Becca yang tidak berekpektasi apa-apa hanya diam mengikuti perintah. Ia mau lihat seberapa lihay tangan Randi kala mengambil fotonya.
Apakah bisa mengalahkan tripod yang selalu ia bawa, atau mengalahkan tangannya sendiri.
Brgggg'
"Udah siap take, miss?" Tanya owner yang baru selesai berganti pakaian.
"Woah.. " Dengus Becca dengan tatapan tak percaya, "Ini masih orang yang sama kan ya? Kok beda banget si tampilannya."
Owner tersebut menenggelengkan kepala, "Masa si? Perasaan kamu aja kali." Jelasnya sambil menyelipkan anak rambut.
"Sungguh. Demi tuhan. Kalau tadi vibesnya cewek cewek yg kerja keras banget, kalo sekarang cewek-cewek sosialita kalangan atas."
Mendengar percakapam kedua wanita yang sedang beradu pujian, Randi hanya bisa menggelengkan kepala.
"Pada gak jijik apa ya saling muji gitu. Coba kalo gua sama Trevor yg begitu. Udah dikemplang kali."
**
"Gak usah diambil, beli yang baru! Mulai saat ini kita tidak perlu ke kantor dia lagi!" Tegas Becca, sambil mengelus perut nya yang sakit karena tertawa terus.
"Uangnya?"
"Aku transfer, tenang! Sekalian Riris, tanya dia mau ganti ponsel atau tidak?"
"Asikkk! Makasih bu bosss!!!" Teriak Riris, yang ternyata mendengar semua percakapan Becca, karena Rey menyalakan speaker nya.
"DASARRRR! Kalau begitu, lanjut via chat aja yaa, aku mau menyelesaikan kerjaan ku di sini. Bye, muahh." Kata Becca, dan menekan tombol merah nya.
Setelah percakapan termahal seantero negara itu, Becca merobohkan diri pada sofa apartemen yang membuatnya nyaman, "Lo mau balik kapan si, Rand. Gua mau tidur." Sery Becca pada sosok Randi yang masih terus berada di dekatnya.
Ia bingung dengan pria ini. Tidak adakah kerjaan lain, katanya orang sibuk Singapura. Tapi, kok seharian ini malah menemani kegiatan Becca yang sangat random. Dan pria itu mau lagi, aneh sekali.
"Ini mau pulang, kan gua nunggu aktivitas lo selesai, trs nganterin lo pulang dengan selamat. Baru deh gua bisa pulang dengan tenang."
Rasa aneh apa ini yang tiba-tiba menjalar ke sekujur tubuh, kenapa juga tiba-tiba hati ini seakan luluh lantah hanya dengan untaian kalimat?
Ada apa sebenarnya? Aneh sekali Becca ... Membuat otaknya bergidik tak percaya, "Yaudah kalo gitu lo balik gih." Jelas Becca.
Sebisa mungkin ia menutupi rasa keanehan yang belum ia ketahui sumbernya apa. Ketimbang sosok pria peka di hadapannya ini menebak-nebak, "Yaudah, ini gua mau pulang, tapi, "
"Tapi apa?" Becca menyerobot tak sabaran.
"Tapi, besok kayaknya kita gak bisa ketemu. Gua ada dinas ke luar negeri. But, cuman 2 hari doang kok. Gapapa kan?"
Becca terperangah tidak percaya, maksutnya gapapa bagaimana? Memang, jika, dirinya marah Randi akan membatalkan dinasnya? Kan tidak..
Lalu, siapa dirinya juga bisa menyuruh Randi untun membatalkan dinasnya? Kan bukan siapa-siapa.
Dan, kalaupun Becca adalah siapa-siapanya Randi, ia juga tidak mungkin menyuruh Randi demikian. Sangat tidak profesional. Becca tidak menyukai hal itu.
"Its ok. Bye, Rand! Safe flight buat besok."
Biarlah semua kemungkinan yang harusnya dibicarakan bersama Randi menjadi beban fikiran Becca malam ini. Toh juga, tubuhnya begitu letih untuk berbincang lama-lama. Becca ingin segera terlelap ke alam mimpi agar bisa merancang semua rencana semaunya. Bukan seperti di dunia. Tempat Becca dikendalikan oleh manusia lain.
"Aiss!" Desis Becca yang kembali teringat atas perkataan Rey tadi.
Bukannya malah istirahat ia kembali terjaga di bawah naungan bulan purnama.
Becca mengambil beer dari kulkas dan duduk di beranda. Memikirkan solusi untuk masalah yang akan dihadapi.
Menimbang-nimbang hukuman di negaranya jika, besok solusinya hanya dengan kekerasan.