Untung saja, Randi memilih untuk berjalan jalan sebentar sebelum kembali ke perusahaan.
Coba saja tadi jika, ia menuruti rasa emosinya yang sempat tersulut dengan salah satu pemilik outlet. Bisa-bisa ia melewati rejeki dari Dewi Fortuna yang teramat indah ini...
Thank god. Akhirnya, ketemu juga ini manusia.
Rasa syukur yang tidak terhingga semakin dijunjung tinggi olehnya. Membuat tangannya semakin berani hingga mengulurkan dari belakang.
Mengharap Becca meraihnya dan berjalan beriringan.
Nyatanya...
Wanita itu malah tersedak. Entah tersedah makanan apa.. Padahal, tadi mulutnya tidak memakan apa-apa.
Membuat Randi menoleh dan menurunkan tangannya.
"Mau gua beliin minum gak?"
"Engga. Orang gua mau makan kok. Ntar juga dapet minum." Jelasnya sambil mendahului di depan.
Kembali membuat Randi keheranan.
Bisa-bisanya dia nolak pemberian cowok idola kaya gua. Sifat narsistiknya kembali mencuat ke daratan.
Randi merapihkan rambut yang dipercayai sebagai simbol keberuntungan, "Gua ikut ya."
Suaranya pelan, memang sengaja. Randi tidak mau membiarkan Becca tau. Karena, jika tau, ia pasti sudah diusir. Dan wanita itu akan jalan dengan langkah besar serta tempo yang sangat cepat.
"Gua bayarin ya."
"Gak usah gua punya duit kok." Tegas Becca, seraya memanggil pelayan.
Ia memesan tiga porsi ciopan yang selama ini membuay air liurnya menetas kala menonton mukbanger menyantap.
"Ada lagi?" Tanya pelayan tersebut. Mata Becca menatap Randi, "lo mau mesen apa?"
"Mesen lo, bisa gak?"
"Ngaco deh lo. Cepet! Orang lg kerja jangan dibuat nunggu sama lo."
Jutek sekali hari ini si Becca. Kenapa sih... Ia juga tidak tahu. Ingin aja rasanya. Mau lihat respon dari pria yang berada di hadapannya.
Apakah sama dengan respon para pria yang mendekatinya ataukah beda.
'Kok malah gini si nih orang.' Batinnya saat melihat wajah tampan Randi.
Hasilnya malah Becca yang blushing perlakuan Randi yang tiba-tiba menopang dagunya.
Astaga... Tampannya bukan main. Mengalahkan aktor yang bernama Archie. Pemeran series Netflix.
Matanya dibuat menggerjap berkali-kali. Entah, Randi sadar atau tidak. Tapi, yang jelas Becca merasakan ini semua, hingga kepalanya tertunduk seketika.
"Lo sakit? Ke rumah sakit deh yuk."
"Pelayan!"
Bukan main... Suara lantangnya membuat Becca kembali salah tingkah, "Tidak... Sudah-sudah. Kok bikin ribut gini siii." Ujar Becca dengan tangan menepuk tangab Randi.
Drrttt-drttt-drrtt
Rabdi berdecih melihat ponselnya sendiri, "Angkat." Kata Becca yang mulai terganggu dengan getaran ponsel di meja.
Randi menggeleng, mengucap tidak penting. Tapi, raut wajahnya tidak mengatakan begitu. Membuat Becca mengambil alih ponsel tersebut.
"Mau ngapain?" Tanya Randi.
"Kalo gua yang angkat, trus si penelfon ini marah-marah gimana?"
"Coba aja. Dia gak akan berani marahin lo ataupun gua." Randi menatang Becca.
Apakah penilaian Randi yang berada di dalam kepalanya sukses? Atau gagal? Randi ingin melihat kelanjutannya.
Tapi, yang jelas. Ia bertaruh seratus sepuluh persen jika, Becca tidak berani berbuat demikian.
Ternyata...
"Mr. Randi?"
"Saya Becca. Bukan Randi. Tadi, orangnya bilang kalo ini bukan panggilan penting." Jelas Becca dengan tatapan lurus.
Hancur sudah... Otak Randi tidak lagi bernilai di hadapan hatinya kini. Ia sukses menunjukkan jika, Becca adalah sosok wanita yang melampaui jauh ekpektasinya.. Ya.. Walaupun perbuatan ini tidak mempunyai norma kesopanan. Namun, entah kenapa, Randi menyukainya.
Randi mengangkat sebelah alisnya diikuti juga dengan ibu jari, "Lalu, anda siapa?" Tanya si penelfon dengan auara baritone yang cukup membuat Becca teringat akan suara orang lain.
Baru kali ini ada yang berani menyentuh ponsel pribadinya. Ibunya saja tidak pernah. Jangankan, seorang ibu yang ber notabene keluarganya. Kekasih yang dulu pernah berhubungan lama dengannya pun, tidak berani melakukan ini semua.
"Saya..." Becca berdehem sebentar sebelum akhirnya tangan Randi merampas ponsel darinya.
"Hallo, Trevv"
"Cewek siapa lagi tuh? Gils kali ya, baru keluar sebentar udah dapt cewek lagi aja."
"Kirimkan saja semua berkas yang akan ditanda tangan. Nanti akan saya tandatangani lewat online." Tutur Randi dengan penuh karisma.
Ia harus menyudahi ocehan Trevor yanh tidak berarti, demi harga diri serta pesona CEO nya di depan Becca. Padahal, belum tau juga wanita itu mengetahui Randi CEO atau bukan.
"Biasa dari sekretaris gua." Kata Randi, menaruh kembali ponselnya di atas meja.
Becca hanya mengangguk, menyuap chiopan miliknya yang sudah habis, "Mau ke toko roti yang terkenal di Bugis gak?"
Becca langsung mengangkat kepala, menatap manik mata hitam Randi dengan antusias, "Yang masuk michellin bukan?"
Wow... Boleh juga pengetahuan kulinernya. Randi terperangah dalam hati, "Iya! Mau?"
"Tentu lah! Ayoo, kapan? Sekarang?" Becca bertanya bertubi-tubi. Membuat Randi langsung berdiri, "Mau kemana?" Tanya Becca.
"Hah? Katanya mau ke toko roti." Randi bertanya-tanya.
Terlebih lagi Becca yang kini tengah tertawa renyah, "Maksut gua nanti, abisin dulu chiopan lo. Nanti dia nangis lho."
God damn... Manis banget kaya tebu. Lesung pipinya sangat dalam, Randi serasa ingin berenang di dalamnya.
"Emang chiopan bisa nangis?" Ledek Randi yang kembali duduk.
Becca hanya tertawa kecil, ia pun tidak bisa mempertahankan kata-katanya sendiri. Bahkan, ia getir merasa kekanak-kanakan sekali pembicaraan tadi.
"Udah. Yuk!" Jelas Randi dengan mulut yang masih penuh. Dibalas dengan tatap mata aneh dari Becca.
"Satu lagi tanggung." Dengan cepat tangannya tersilang.
Mengusap perut yang sama sekali tidak buncit, "Lo aja deh. Kalori gua udah lebih dari cukup."
Apaan... Kalori dia bilang. Padahal, dia mau ngajak ke toko roti lagi. Tidak, tidak. Becca tidak bisa membiarkan itu semua.
Dirinya langsung memajukan piring dan mendesak Randi untun menghabiskannya.
"Yang terakhir tuh rejekinya, Rand."
Wait wait wait... Dia manggil nama, Rand.. Randi gua kan maksutnya. Ia menunjuk dirinya sendiri, "Iya lah! Emang disini yang nama Randi siapa lagi?" Tegas Becca.
"Oalah... Abisan bingung"
Becca kebingungan dengan perkataan Randi tadi, ia menatap untuk memastikan, "Soalnya iti panggilan buat anak kantor." Randi menjawab rasa penasaran Becca.
"Trus, kalo gua manggilnya apa kalo bukan Randi?" Rasa penasaran Becca semakin menjadi, membuat si narasumber menyunggingkan senyum konyolnya.
"Panggil sayang aja biar gampang."
Jantung Becca melorot hingga ke usus, membuat tubuhnya tekejut, "Edan!" Jelasnya sambil menggebuk Randi dengan sendok.
Randi mengaduh, dengan senyum yang dikulum. Hati memang tidak bisa bohong, baru kali ini kalimat cheese tadi terlontar dari mulutnya, membuat Randi sendiripun terperangah ngeri.
**
Ting tong ting tong
Dari 5 menit yang lalu pintu ini belum terbuka juga, kemana penghuninya? Apakah sedang jalan jalan? Tidak sepertinya, soalnya kalau mau jalan dia ngasih tau dulu kok.
Hah?
Sebentar...
Rian mengacak rambutnya, "Emang gua siapa? Kok bisa-bisanya mikir gitu?
Becca memang sering begitu, nyatanya. Mengabari Rian entah kenapa, seolah membicarakan daily lifenya pada orang yang tidak tahu apa-apa.
Benar kan? Rian benar tidak tau, orang saat dikirimkan pesannya pun, kondisinya sedang melakukan pekerjaan paruh waktu yang sangat padat.
Tapi, kenapa Becca tidak ada kala dirinya sedang ingin bermain dengannya.
Hari ini Rian aengaja menukar jadwan demi mengajak Becca berkeliling Bugis, katanya, itu adalah daerah kesukaan Becca yang sudah lama verada dalam wishlistnya.
Ting tong ting tong, Ia kembalu menekan bel berkali-kali.
Ssrkkk'
Terdengar suara pintu terbuka, membuat Rian seketika bersiap, "Om nyariin siapa?"
Suara khas dari anak kecil memenuhi telinganya. Rian menoleh, dengan senyum biasanya, "Om nyari tante yg tinggal di sini. Kamu tau?"
Mendengar balasan dari Rian, anak kecil tersebut tampak sedang berfikir, "Tau... Tante yang suka keluar cuman pake anduk doang ya, om?" Tanyanya.
Membuat mata Rian sukses membelalak sempurna, "Masa si Becca begitu?" Gumamnya pelan.
Ia menaikkan kembali pandangannya, "Masa sih? Kamu salah orang kali? Temen om kayaknya gak suka kaya gitu. Dia kalo keluar aja pakaiannya yg panjang-panjang kok."
Entah kenapa... Rian repot-repot menjelaskan semuanya pada anak kecil yang belum mengerti apa-apa, wong ngomongnya saja masih cadel disana sini kok.
Namun, anehnya juga anak kecil ini malah mengangguk-angguk. Seakan mendengarkan saksama senya penjelasan dari Rian. Wajah lugunya tercampur dengan wajah lucu yang semakin terlihat menggemaskan.
"Kalau gitu, makasih ya, kamu udah nemenin om ngobrol–kamu mau kemana?" Senyuman indah menghiasi wajah Rian, "Aku mau main ke bawah. Bye, om" Jelas anak kecil tadi yang langsung lari menjauh darinya.
Membuat Rian kembali ke depan pintu Becca. Tangannya ragu untuk menekan bel kembali. Tapi, hatinya juga tidak mau meninggalkan tempat itu, sebelum ada omongan dari orang di belakangnya.
"Tadi orang itu keluar, mr. Mr, delivery man ya? Soalnya saya dititipin pesan sama penghuninya."
Rian terkikih, rupanya ada yang menyangkanya delivery man. Padahal, tampilannya kini keren sekali. Pakai baju baru, celana baru, dan topi baru. Tapi, aura pekerja paruh waktunya masih ada saja. Dasar... Kaum-kaum kaya kita mah bisa apa, jelas Rian dalam hati.
Ia membalas ucapan orang tadi dengan sangat sopan, sekaligus menitipkan satu buah paper bag yang ingin ia berikan pada Becca, yang sedang kegirangan karena, diajak ke tempat yang di luar ekspektasinya.
"Welcome to hidden place in Bugis" Jelas Randi.
Ia membeberkan jika, tempat ini beneran nyata dan sangat lepas dari pesona Bugis yang dikenal oleh para turis hanya dari segi makanan atau jajanannya.
Akan tetapi, Bugis juga memiliki taman yang lapang, dengan rumput dan bunga-bunga yang indah. Taman Violen namanya, taman buatan yang diusung beberapa tahun lalu oleh pemerintah setempat untuk menjadikan Bugis rindang.
"Kok lo tau tempat beginian? Jangan-jangan, pemerintahnya kerjasama sama perusahaan lo ya?" Becca menebak-nebak.
Randi bertolak pinggang, memikirkan respon apa yang tepat.
Dirinya ingin mengenalkan siapa dirinya sebenarnya pada Becca, tapi, dengan cara yang tidak terlalu sombong.
Masa tau-tau dia ngenalin kalo gua tuh CEO dari perusahaan franchise makanan terbesar no. 1 di Singapura. Aduuu, bukan Randi banget.
Ia ingin pelan-pelan tapi, pasti. Alhasil begini lah adanya. Yang ada malah rendah yang kerendahan.
"Halah, masa perusahaan kecil tapi, sibuk banget. Lo juga pake jas kok, berarti lo jelas orang penting." Desis Becca yang tidak percaya dengan semua ucapan Randi tadi.
"Kok lo gak percaya siii, beneran. Aslik dah." Tegas Randi, yang belum bisa membuat Becca percaya.
Buktunya kongkret sekali, hingga delikan mata yang begitu tajam.
Tapi, sudahlah biar saja. Yang penting Becca mau piknik dulu. Kapan lagi, bisa duduk-duduk di tanah lapang dengan bunga-bunga indah begini, "Rand..."
Ia menoleh atas panggilan namanya. Ternyata suaranya lembut juga, kalah kapas.
"Ada apa?" Tanya Randi yang sudah menoleh.
"Tolong ambilin minuman."
"Astaga!" Ia terkejut bukan main. Bisa-bisanya wanita ini menyuruhnya untuk mengambil minuman yang berjarak tidak sampai 1 meter.
"Tangan gua gak sampe, nih liat..." Becca mengulurkan tangan yang memang pendek. Jadi, wajar tidak sampai. Ditambah lagi dengan posisinya yang kini sedang tengkurap.. Terpaksa... Sebagai pria yang menawan, baik hati, dan tidak sombong tangan Randi meraih minuman, "ini?"
"Iya!" Becca mengangguj antusias. Tangannta mengadah namun, ternyata minuman tersebut malah dibuka dan ditenggak sendiri oleh Randi.
"Nyebelin bgt emang cowok-cowok." Decih Becca.
Randi hanya tertawa renyah, layaknya keripik kentang. Tangannya kembali mengambil minuman dan kali ini sungguh diberikan pada Becca, "Ledekkan lo another level ya, Rand." Tutur Becca, sambil membuka kaleng sodanya.
"Apasi lo, lo nya aja yang ke-recehan, Rebecca. Apa jangan-jangan... " Ia menggantungkan ucapannya dengan tatapan mata yang aneh, membuat Becca merubah posisinya menjadi duduk sejajar dengan Randi.
"Apaan? Mikir apaan lo?" Ketus Becca, membuat Randi langsung tertawa.
"Mikirin apaan si lo? Kok panik banget? Gua sengaja aja begitu, pengen tau reaksi lo." Randi tertawa teebahak-bahak, "Ternyata lo panik tu kek anak esde yang lg ambil rapot yaa."
Semua itu kembalu membuat tangab enteng Becca melayang sempurna ke bahu kekar Randi, "Garink lo, kaya gorengan."
"Kan jadi inget, di sini ada tukang gorengan enak banget.. Mau coba gak? Belom pernah nyobain kan lo s**u digoreng?" Ajak Randi yang malah salah fokus.
Rasanya Becca ingin sekali mengiyakan itu semua, tapi, ada yang menghalanginya, "Engga dulu deh, Rand. Berenti dulu ngemilnya, perut gua udah mulai membuncit nih." Jelas Becca sambil mengusap perut yang rata.
"Yaudaaa kalo gitu, kita makan salad aja deh yuk. Gimana?"
Si Randi kenapa sii... Hobinya ngajak makan orang terus, tapi, tingkahnya manis sekali... Ia repot-repot mencari makanan alternatif agar Becca tidak menghiraukan perutnya membuncit.
Jarang banget manusia begini.. Membuat hati Becca meleleh layaknya lilin.
"Kuy laaa, tapi–"
"Tapi apaan lagi? Salad lho ini salad. Makanan sehat."
Becca berdehem, "Bukan, tapi, bayarin kan nih?" Godanya.
Membuat Randi kembali menegakkan kepalanya, "gua bayarin tokonya sekalian, kalo lo mau." Sombongnya.
Becca hanya terkikih geli dengan tangab yang tetap menggebuk kecil pundak Randi.
Kenapa, sih kalo ketawa tuh harus ada tambahannya... Aneh banget. Tapi, semua itu tidak apa deh, kalo Becca yang ngelakuin itu semua bisa dibicarkan baik-baik. Tegas Randi pada otak serta hatinya.