#RF7

1996 Kata
Gadis yang masih memakai seragam sekolahnya sedang berdiri menghadang wanita yang paling ia kasihi "Kalo ada masalah sama orang, jangan lampiasin ke rumah!" Jelasnya. Ia sudah naik pitam, hingga melupakan siapa lawannya sekarang. Yaitu, ayahnya sendiri. Pria yang kata orang cinta pertama putrinya. Namun, semua itu terdengar mustahil jika, melihat semua tingkahnya. "Diam kamu, Rey! Jangan berani membantah!" Tegas Rudi dengan suara melengking. Pria paruh baya yang masih berpenampilan necis, bugar, serta gagah. Image yang Rudi bangun begitu sempurna di depan khalayak banyak. Maklum, dirinya adalah pendiri perusahaan Hardinata Fashion and Makeup Corporation. Perusahaan ber-skala internasional dalam kategori kecantikan, semua itu membuat dirinya semakin bersinar di kalangan pengusaha Indonesia. Tapi, jika, di rumahnya sendiri Rudi diperlakukan layaknya orang asih yang hanya singgah sebentar. Lebih tepatnya, orang yanh menyewa kamar untuk ber-istirahat. Mirip-mirip lah kaya anak kost dari perantauan. Bibir Rey tersungging, menerka semua jawaban Rudi yang kali ini akan ia putar balikkan. "Papah kemana pas aku butuh papah? Papah kemana juga pas Becca butuh papa? Kemarin aja papah gak anter dia ke bandara." "Papah tuh kerja buat kalian. Emang buat siapa si. Saya cari uang banting tulang, buat menuhin kebutuhan kalian." "Emang aku butuh uang, pah?" Rey menyelak omongan Rudi, membuat tangan Rita menepuk bahunya dari belakang. "Sudah, dek." Lirihnya pelan. "Aku sama Becca emang butuh uang, pah. Tapi, aku lebih butuh perhatian papah." Rudi berdecih, menganggap ucapan putri bungsunya hanya bualan, layaknya sinetron, "Sekarang boleh kau bilang begitu, kau tidak tau kehidupan mendatang, Rey." "Tau! Aku tau, pah! Makanya, aku nyiapin itu semua. Papah gak tau kan kalo." Ucapan Rey menggantung, hatinya gusar. Apakah, moment ini harus dipakai untuk memberitahu semuanya? "Tau apa? Papah gak pernah ngajarin kamu jadi orang dengan penjelasan menggantung." Rey kembali mengangkat kepalanya, sejajar dengan Rudi. Ia menatap lekat manik mata hitamnya, "Aku juga gak pernah diajarin manner ngomong sama orang yang lebih tua." Melihat putrinya yang semakin bringas, mau tidak mau Rudi kembali harus berteriak. Memberhentikan laju jalan Rey untuk kembali ke posisinya semula. Tapi, Rey sudag malas untuk berbivara lebih lanjut. Ia enggan. Padahal, hatinya ingin. Dan, untuk kesekian kalinya juga otak Rey memberi harapan jika, nanti akan ada waktu yang tepat untuk menjelaskan semua pembicaraan menggantung tadi. "Liat kan? Didikan mu begitu!" Jelas Rudo dengan telunjuk yang sangat tegas. Membuat Rita mem batin serta menyesal, telah memilihnya sebagai suami. Maaf, tapi, ini kenyataan. Semenjak Rudi dipercayakan rezeki yang lebih dari semesta, ia menjadi semena-mena. Entah sama Rita, ataupun anak-anaknya. Awalnya, Rita masih menganggap ini adalah faktor lelah Rudi di perusahaan. Tapi, semakin lama.. Ia malah berfikir ini semua adalah cobaan seumur hidup karena, kelebihan harta. "Huh" Rita hanya bisa mendengus, mengharapkan suaminya tidak memancing amarah dengan omongan pedasnya lagi. Jika, Rudi melakukan itu semua, Rita akan meledak layaknya gunung berapi, karena, ia juga sudah tak tahan menampuh amarah di dalam hati. "Saya capek!" "Kalau capek istirahat, bukan malah keluar rumah." Tegas Rita pada suaminya yang sudah berada di pintu. Rudi menoleh, menatap mata istrinya dengan pasti. "Saya mau istirahat di hotel. Biar tidak terganggu dengan kalian." Jelasnya, sambil menutup pintu sekenanya. Semua itu membuat Rita sakit hati, dan langsung terduduk di lantai. Dosa apa dirinya, sampai-sampai diuji dengan semua ini.... Perlahan tapi pasti, ada buliran air mata yang terjatuh diikuti sesaknya hati. Bukan hanya Rita yang begitu, dari kejauhan pun ada sorot mata kebencian yang menghardik Rudi. "b******n!" Pekik Rey, menyapu bersih lingangan air mata. Rudi tidak pantas mendapatkan ini semua. Ia juga tidak pantas menyandang gelar kehormatan dengan panggilan "ayah" karena, bisa merusak citra ayah di luar sana yang benar-benar memainkan perannya. Rey membanting pintu kamar, merampas ponsel dari nakas. Jemarinya menekan layar sangat keras, seolah menlampiaskan semua amarah. Si empu memang belum sadar, jika, semua itu adalah tindakkan merugi.. Tapi, ketimbang melampiaskan ke makhluk hidup, ya mending ke ebda mati saja ya, kan. "Dek... " Suara lembut dari luar membuat Rey menoleh. "Im ok, mah." Jawabnya. Rey berbohong dengan wajah suramnya. Ia tidak mau melihat wajah ibunya untuk sementara. Karena, jika, ia melihatnya bisa-bisa kejadian kemarin lusa akan terulang kembali. "Becca!" Sang empu nama gelagapan di atas ranjang. Matanya mendadak terbuka sempurna. Ia melirik ke kanan kiri mencari sumber suara yang membuatnya begini. Tapi... Untung saja hatinya tidak nge-lag seperti otaknya kini. Ia dengan mudah mengiri sinyal pada Becca jika, itu adalah hanya sesuatu hal. Dan, dengan cepat sinyal itu langsung di tangkap dengan sempurna. Becca meraih ponsel yang kini berada di bawah bantalnya, "Anjir, gua lupa ganti nada alarm." Gumamnya dengan tawa kecil yang memperlihatkan lesung pipinya. 2 message belum terbaca.... Bar notifikasi membuat dahinya berkerut kerut, matanya dipicingkan sangat tajam. Ia memeriksa satu persati deret angka yang berbaris rapi. Otaknya yang belum siap, mendaak difungsikan. Ia menghadap ke atas untuk mencari informasi atau kenangan, tapi, semua itu tak kunjung datang. Membuat Becca menyudahi dan bangkit. Ada hal yang lebih perlu dilakukan ketimbang semua tadi. Kaki jenjangnya melangkah ke dalam kamar mandi. Tangannya meraih gumpalan padat bewarna hijau tosca. Pyuuurrr' Becca melemparnta masuk ke dalam bathup yang sudah terisi, "Okay, mari kita ritual." Gumamnya. Tubuh indahnya ditenggelamkan ke dalam air yang sudah berubah warna. Senyuman indah melengkung sempurna diikuti dengan pejaman mata yang memperlihatkan kenikmatan. "Hah!" Becca kembali terbangung dengan tatapan aneh, "Kenapa gua mikirin muka Rian?" Tanyanya dalam hati. Jujur, ini adalah momen pertama dirinya membayangkan wajah pria selagi mandi. Apakah ini fikiran kotor, atau hanya sekedar memori sekelibat? Habisnya.. Senyuman manis yang melebihi madu iti membuat Becca terus terngiang akan sosok Rian. Belum lagi, bibirnya yang merona layaknya buah apel California semakin menambah pesonanya. "Hush!" Becca bergidik ngeri atas fikirannya. Ia langsung berdiri dan membalut kembali tubuh dengan handuk. Ritualnya belum selesai, malah belum 10% dimulai. Tapi, yang punya itu semua malah menyudahkan dengan tatapan putus asa. "Mikirin apaan si lu, Bec! Bisa-bisanya begitu." Jelas Becca pada dirinya sendiri yang terlihat jelas di cermin. Ia masih disitu, melihat sekujur tubuhnya yang kadang membuat kepercayaan dirimya menurun Padahal, lekukan dari atas ke pinggul begitu sempurna. Area dadanya maju dengan sangat natural, serta, wajahnya tidak menunjukkan satu kacang wijen satupun. Apa yang membuatnya tidak percaya diri. Semesta saja bingung, bila menampakkan raut wajahnya. Ya... Apalagi, jika, bukan pemikirannya sendiri. Yas! Benar. Becca adalah seorang individu yang selalu overthingking. Malah, semua itu saking seringnya bisa tercatat dalam jadwal secara rapih dan terstruktur. "Paket atas nama Rebecca!" "Hah? Paket? Gua gak mesen apa-apa dah. " Jelaa Becca mendekat ke pintu utama. "Ya.. Taruh disitu saja, mr." Jelasnya lagi pada layar interkom. "Baik.. " Balas petugas paket. Becca menunggu sekitar 2 menit sebelum mengambil paket tersebut, "Miss?" Becca menoleh dengan sanvat terkejut, "kamu tidak punya pakaian? Kok hanya pakai handuk?" Tanya seorang anak yang memakai seragam preschool yang bewarna kuning lengkap dengan topi yang bewarna senada. Becca masih tetap di posisi, berjongkok dan menatap kikuk anak tersebut. "Aaa, gimana ya jelasin ya. Jadi, akutuh abis–" "Astag! Rayen!" Tiba-tiba atang seorang wanita yang masih cukup muda langsung menutuo kedua mata anak tersebut, "Kamu tidak boleh melihat semua itu." Jelasnya. Membuat Becca semakin kikuk dan tidak tau harus apa. Bisa saja ia langsung masuk ke dalam, tapi, rasanya ia harus menjelaskan apa yang terjadi, agar wanita yang mungkin ibunya tidak salah paham. "Saya yang salah, mam. Saya, lupa masih memakai ini semua, dan langsung mengambil paket keluar." Mata wanita itu mendelik seolah mengatakan jika, Becca habis melakukan hal yang tidaj benar. "Masa?? Kau tidak mempunyai penyakit mental kan?" Pertanyaan menohok, yang cukup membuat jantungnya berhenti berdetak. Namun, Becca malah merespon dengan tawa. "Tidak, mam. Saya seratus persen waras. Saya orang baik, tapi, kadang anak aja kelakukannya." Becca berusaha meyakini dan membela harga dirinya. Akhirnya Becca berdiri, masih dengan tatapan kikuknya. "Kalau begitu, saya masuk dulu ya–Rayen... Maafin tante ya, suka aneh begini. Lain kali, kalo ketemu tante buang muka aja gapapa." Kata Becca, sambil langsung masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Becca malah bersandar di pintu, membuang nafas berat seakan mengeluh pada keadaan, "hari belum 24 jam, lu udah disangka orang gila, Bec. Nasip lu di negara idaman begini amat." "Tadi tante itu kenapa sih, mah?" Tanya Reyyen dengan polosnya. Membuat ibu tersebut mensejajarkan dengan Rayyen. "Tadi, tante itu lagi sakit. Jadinya, begitu." Jelasnya dan semakin menjelaskan jika, semua ocehan Becca di belakang pintu semakin terasa nyata. ** Berkeliling di negara orang memang seperti anak yanh kehilangan ibunya di tengah pasar. Bawaannya deg-deg-an mulu. Kaya ada gerombolan polisi di belakang, "Kan bener." Kata Becca. Menghentikan langkah karena, ada tangan yang menepuk bahunya. "Hai... Bener kan kita ketemu lagi." Becca tercengang, merombak raut wajah manisnya ke masam, "Lo ngapain? Katanya orang sibuk Singapore, kok ada di jalanan." Cibirnya. Membuat Randi yang baru selesai mengecek situasi pasar tertawa renyah. Astaga... Kenapa cuman celetukan dari dia yang bisa bikin gua begini. Kenapa, gak ada cewek lain yang bisa kaya dia. Kenapa mesti dia sih. Fikirannya melayang tinggi, mengalahkan balon udara. "Ngikutin lo lah. Emang lo gak sadar?" "Hah? Gila lo ya. Gua lapor polisi baru tau rasa lo!" Pekik Becca. Tatapan getir dan kesal bercampur jadi satu, membuat wajahnya semakin menunjukkan eskpresi yang diinginkan oleh Randi. "Ternyata lo gak bisa bercanda ya, anaknya." Balasnya, sambil berjalan. Becca mengekori di belakang, dengab mulut yang berkomat kamit dan tanpa sadar... "What???" "Kenapa, Rebecca?" Tanya Randi yang sudah menoleh ke belakang. Becca masih menunjukkan tatapan terkejutnya, matanya tidak beranjak dari bawah sana, "calm down, Becc." Gumamnya pelan. Namun, semua itu sama saja. Tidak membuat pendengaran Randi melewatkan suaranya. "Lo sakit?" "Engga, siapa yang sakit. Lo kali sakit." Kata Becca dengan cepat dan mendahulukan Randi di depan. Becca menepuk dadanya, menyuruh jantung secara tegas untuk menurunkan kecepatan detakannya, "Bisa-bisanya gua dikasih uluran tangan kaya tadi doang deg-deg an." Becca memijat pelipis sembari berjalan... Menjauhi Randi yang entah kenapa terus mengikutinya. Ia tidak tahu apa jika, Becca ingin ke Bugis untuk menikmati street food yang sudah lama ia dambakan. "Kenapa gua jadi di sini sama lo si." "Gak tau.. Jodoh kali." Becca berdecih. Mudah sekali mengatasnamakan jodoh, padahal, dia jelas menguntit. "Lo mau pesen apa?" Tanya Randi. "Lo mau pesen apa?" Becca berbalik bertanya. Membuat Randi bertopang dagu, "Terserah." "Idihh.... " "Kenapa si lo?" Randi kebingungan atas respon Becca yang terlihat jijik atau balasannya tadi. "Aturan kata itu diucapin sama gua, yang cewek. Bukan malah lo, gimana si lo, Rand. Ah." Jelas Becca seperti guru yang sedang mendikte. Habis menjelaskan, ia menyuap chiopan full ke dalam mulutmya. Tanpa rasa malu karena, berada di hadapam kaum adam. Padahal, biasanya para kaum hawa suka malu malu kucing membuka mulutnya secara full. Membuat Randi kembali tercengang dan kembali menemukan kelebihan Becca dibanding wanita-wanita yang pernag ditemui. "Awas naksir... " "Udah, gimana dong?" Deg! Gila kali ini orang, baru berapa kali ketemu bisa-bisanya enteng banget ngomong begitu. Mulutnya kebanyakan dipake buat nge gombalin orang. Cerca Becca dalam hati, karena, mulutnya sibuk ber batuk ria. "Ati ati dong kalo makan. Masa gitu aja keselek." Kata Randi. Dibalas hanya dengan tatapan tajam mata Becca yang kini sangat sempurna. Karena apa? Karena, hari ini Becca baru bisa membuat eye liner dengan sempurna. Dan, malah Randi yang melihatnya lebih dulu. Bukan orang yang berada di rencana otaknya. "Lo sih!" Decak Becca. "Lo yang keselek gua yang disalahin. Dasar cewek." Desis Randi dengan tatapan kesal. Mendadak sesaat Becca melihat itu semua, entah kenapa ada peraaaan aneh dalam benaknya. Ia tanpa sadar memuji wajah tampan yang semakin tampan Randi jika, sedang kesal begini. "Ais! Apasi." Batinnya membuyarkan seisi fikiran. Kenapa sih, hari ini otak Becca selalu memikirkan para pria? Kaya engga ada yang lain ajaaa. Padahal kan, kerjaan Becca hari ini menggunung layaknya cucian di laundry-an. Seharusnya saja, hari ini Becca melakukan syuting endorse produk makanan ringan yang sudah memesan jasanya dari satu bulan yang lalu. Tapi, apa boleh buat. Mood untuk syuting belum ada. Becca lebih baik jalan-jalan dulu sembari mencari hiburan. Tapi, bukan hiburan yang didapat malah petaka yang diraih. Iya... Petaka berbentuk orang. Ini orangnya. Pria tampan yang sedang melepaskan jas dengan gaya yang sangat seksi. Oomaygoooddd... Desisi Becca dalam hati. Kalo ada suaranya, bahaya... Bisa-bisa si Randi mikir yang engga-engga...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN