Setelan jas hitam pekat yang selalu terbalut pada tubuhnya, membuat penampilan Randi semakin dikagumi para kaum hawa yang melintas di dekatnya.
"Siang Mr. Randi." Sapa salah satu wanita yang sedang menyodorkan segelas minuman.
Tapi, tidak ada yang menyambut pemberian itu. Randi malah menatap Trevor yang sedang menatap layar ipadnya.
"Please."
Sebuah kata permohonan yang terdengar layaknya kata perintah jika, Randi yang mengucapkan. Membuat Trevor langsung tersadar, "Sorry, Miss. Mr. Randi tidak meminum kopi." Jelasnya.
Mengembalikan segelas kopi pada pemiliknya dan menyilahkan Randi untuk berjalan lebih dulu.
"Mr..."
"Iya? Ada apa?" Tanya Trevor dengan menoleh ke belakang.
"Jika begitu, ini buat anda saja. Saya sudah terlanjur membelinya–tidak apa kan?" Tanya gadis yang sama, seraya mengelus dan merapihkan simpul dasi Trevor.
Ia tahu maksut serta tujuan dari gadis ini, hanya mau menggoda seperti biasa. Tapi, bodohnya. Mereka tidak tahu dan tidak menempatkam diri sebaik mungkin di hadapan orang yang digoda.
Membuat Trevor jenggah, tapi, harus terpaksa bersenyum ria.
"Baik, thank you for this coffe." Ia mengambil cangkir itu, dan buru-buru pamit.
Ia menyamakan langkah dengan Randi dengan menghembuskan nafas leganya. Semua itu terdengar, hingga membuat Randi terkikih.
"Gimana cewek-cewek sini ( Singapura ), Trevv?"
Pertanyaan menggoda dari Randi yang membuat Trevor bergidik ngeri.
"Liar banget! Masa berani-beraninya ngelakuin itu sama orang yang jabatannya di atas mereka." Ia bergidik umtuk kedua kalinya.
Membuat Randi bahagia luar dalam, akhirnya, temannya yang merangkap tugas sebagai sekretaris utamanya ini merasakan menjadi pria Singapura eksekutif seutuhnya.
"Lo kuat ya, Rand?" Tanya Trevor.
Semua itu membuat langkahnya terhenti, dan menoleh pada Trevor.
"Kuat, kalo yang gituin cantik. Kalo engga mah gua mending pindah." Jelas Randi, dengan suara baritone yang katanya penuh karisma.
Tapi, suara itu malah membuat Trevor mual dan mencerca sahabatnya tersebut.
"Gaya-gayaan lo! Buaya darat." Balasnya sambil membukakan pintu mobil.
Sebelum Randi masuk, ia menatap Trevor sebentar.
"Buaya kalo udah ketemu pawangnya jinak, nah, ini gua belom ketemu pawangnya aja. Jadinya begini."
"Halah, alesan aja lo. Buru masuk! Ntar telat." Jelas Trevor. Mendorong bossnya sendiri, dengan tekanan yang cukup kuat. Membuat Randi hampir terhuyung, namun, ia malah tertawa.
Sementara saat ini Becca sedang berada di dalam toilet. Terhitung sudag 2 jam lamanya.
Wanita itu sangat betah melakukan aktifitas apa saja di toilet. Mulai dari melakukam lulur tubuh, menyikat gigi yang padahal bisa dilakukan di wastafel. Dan, yang terakhir adalah berendam di bathup.
"Nanananan" Ia bersenandung kecil. Sebenarnya musik pada ponselnya melantunkan lagu dari Billie Ailish. Namun, sayangnya Becca tidak hafal lirik ya. Jadi diganti oleh nanana saja. Biar cepat. Toh juga nadanya sama.
Ting ting ting'
"Notif menganggu." Erangnya.
Ia berdiri, membalut tubuhnya dengan handuk, "Hallo, its Becca."
"Hallo, Becca. Ini saya Rey. "
"Halah! Anjir, ganti nomor lagi lo ya." Jelas Becca, menatap angka-angka tidak mempunyai nama pada layar ponselnya.
Di seberang sana, helaan nafas Rey terdengar jelas.
Ia memindahkan ponsel dari kuping kanan ke kuping kirinya, "Gak cuman ganti nomor. Gua jiga ganti hape." Ujarnya, dengan intonasi kegirangan layaknya orang mendapatkan lotre.
Becca hanya bisa terperangah melihat kelakuan adiknya. Ia tidak bisa mengomel atau sekedar mencibirpun tidak bisa. Karena apa? Ya, karena, sifat Becca serta kelakukannya sangat miripndengan Rey.
Boros. Itu yang paling utama. Tidak minimalis, dan suka mengikuti trend masa kini. Terlihat sendiri dari ponsel yang sedang ia pakai. Ponsel keluaran baru, sangat baru hingga Becca rela menunggu 1 bulan untuk masa pre-order. Yang padahal, ponsel lamanya masih bagus dsn masih sangat layak dipakai.
Hanya malas saja, katanta sudah ketinggalan jaman dan ia menyimpannya di lemari.
Sampai paa suatu saat, Rita, ibu dari Becca menemukan itu semua dan langsung membagikan pada sanak saudara, agar bisa bermanfaat kembali.
Dasar....
"Becc, rencana lo hari ini mau kemana?" Tanya Rey.
Membuat otak Becca memutar, untuk berfikir.
Awalnya ia tidak mau pergi kemana-mana, karena, dirinya mau menikmati seluruh fasilitas dalam apartementnya. Namun, sesaat Rey membicarakan rencana. Becca jadi berfikir untuk keluar untuk mencari udara segar.
Ting-ting-ting.
"Rey, bentar deh. Ada tamu kayaknya."
"Lo lagi nunggu orang?"
"Engga, paling house keeping yang gua minta kemaren."
"Oh. Okay." Balas Rey, serta mematikan sambunganny duluan. Membuat Becca mengeram, karena, kelakuan makim (-). Tidak pernah mengucap salam atau mengatakan selamat tinggal. Hm.
Becca hanya bisa menggeleng ria, serta memejamkam sebelah mata untuk melihat orang di luar, "Siapa dah? Make ngadep belakang segala." Gumamnya.
Hatinya ragu, bukakan pintu atau tidak usah. Kalau nanti dibuka, ternyata mafia yang datang, bagaimana? Becca kam sendirian di dalam sini.
"Rebecca!"
"Hah?"
Mulutnya menganga lebar layaknya kudanil. Hatinya masih belum percaya saat melihat orang yang berada di hadapannya.
"Saya mau masuk boleh?"
Tidak pakai basa basi, ia langsung menolak permintaan tadi. Mulutnya mencerca hebat.
"Rebecca, plis. Saya cuman mau balikkin ini."
"Balikkin apa si? Saya gaj ngerasa nitip barang atau apa-apa ke anda. Lagian, kita juga baru ketemu!" Teriak nya dalam interkom.
Membuat orang tersebut terkikih, "Gimana anda mau tahu, jika, anda melupakan bagian ini." Orang itu tetap mendesak. Melakukan segala cara untuk masuk ke dalam.
Hingga melakukan hal yang sedikit bodoh namun cerdik, hingga membuat dirinya kagum atas dirinya sendiri.
"Ini punyamu kan?" Tanyanya.
Becca melihat barang yang dipegang se-tinggi d**a pria tersebut. Rupanya itu adalag barang yang membuat dirinya kewalahan. Tapi, jika diterka lebih dalam. Becca langsung menyadari jika, barang itu adalah privasi yang sangat privasi.
"Dari mana lo dapet ini barang?!" Jelas Becca yang langsung merampas paper bag dari tangan pria yang sedang terkikih dengan setelan rapihnya.
Membuat mata Becca langsung terpikat serta terkesima.
Setalan mahal, yang terlihat jelas dari bahannya. Desain busananya juga tida main-main. Simple tapi, elegant. Menawan. Satu kata yang pantas untuk disanding pria yang kini di hadapannya.
Randi. Pria kemarin yang tidak sengaja bertemu dengan Becca. Pria yang sedikit membuat hatinya gemetar seketika atas semua bantuannya.
Tapi, semakin lama Becca memandang, rupanya hatinya semakin tak karuan.
"Saya tau kalo saya ganteng, tolong kondisikan pandanganmu." Ujar Randi.
Seketika membuyarkan fikiran Becca, serta menambah tempo detak jantungnya.
"Apa? Saya tidak melihat anda!" Jelas Becca. Membuang pandang, serta melipat kedua tanga di d**a.
Randi tertawa renyah dan bertolak pinggang, "Selagi gratis tidak apa. Pandang aja sepuasmu. Dan–"
"Dan apa? Jangan aneh-aneh lo ya." Tegas Becca. Mendahulukan omongan Randi yanh belum selesai. Dan, semua itu sukses membuat Randi terkesima.
Baru kali ini, ada wanita yang mampu membalap ucapannya. Baru kali ini ada wanita yang memalingkan mata daru hadapannya. Serta, baru pertama kali ada wanita yang tak terkesima dan terintimidasi olehnya.
Semua itu membuat Randi heran, dan berupaya lebih untuk menyakini diri lebih dalam.
"Maksutnya apa begitu?! Pakai jas anda kembali! Anda tuh orang asing, tidak pantas dan tidak etis melakukan semua itu di depan orang asing juga!" Hardik Becca.
Membuat Randi terkejut, dan langsung menundukkan kepala, "Bukan begitu maksut saya."
"Lantas apa? Anda mau apa? Coba jelaskan!" Becca semakin memimpin. Berdiri tegap layaknya prajurut di medan perang.
"Anda tidak bisa menjelaskan kan? Kalau begitu, cepat keluar! Saya masih banyak kerjaan!" Becca mendorong Randi sekuat tenaga, hingga sampai pintu, tiba-tiba Randi mengeluarkan semua tenaga untuk mempertahankan posisinya.
"Setidaknya berikan nomor ponsel mu." Jelas Randi.
Kali ini ia tidak mau berbasa-basi karena, Becca adalah seorang yang tidak menerapkan itu semua.
Akibat perkataannya tadi, setidaknya Randi masih bisa berada sedikit di dalam, "Untuk apa kau minta nomorku? Kalo hanya untuk sekedar 'punya' tidak usah!" Jelas Becca. Membuat Randi kembali terkesima dan tercengang.
Pasalnya, wanita itu main langsung menutup pintu dan tidak menunggu balasan darinya, membuat hatinya kagum dan sedikit menyakiti harga dirinya.
Tapi, peduli setan. Entah kenapa Randi malah merasa jika, ia telah menemuka wanita yang sangat ia cari selama ini.
"See you, Rebecca!"
Becca berdecih kesal, memanyunkan bibir, "Siapa dia! See you, see you! Gua ketemu lagi aja ogah!" Pekiknya.
Ia menjatuhkan b****g pada sofa super lembut fasilitas apartemen sewaan 2 digit angka, "Hai, gais... "
Becca menyapa semua followersnya dengan satu tangkapan video. Ia juga menyertakan produk PPL yang ia bawa dari Jakarta, "Pada makan sereal kan ya?" Ujarnya lagi.
Setelah menangkap video yang dirasa sempurna dari berbagai angle, Becca sedikit memoles dengan GIF yang begitu astetik, hingga memanjakan matanya.
Trink!
Suara notifikasi di bar atas mendistrack dirinya, hingga membuat jemarinya meninggalkan kegiatan pekerjaan, "Apasi lo, Yan, garink!" Tulis Becca dalam buble chat balasan.
Lengkung senyum tergambar sangat jelas, menghiasi wajah mungilnya yang terlihat dari pantulan cermin, "Bentar deh." Gumamnya.
Ia menghentingkan semua kegiatannya, untuk berfikir lebih jauh. Untuk apa ia melakuka semua ini? Terlebih saling membalas pesan singkat oleh Rian yang masih ber-notabena 'a stranger.'
Becca tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Saat ini otak dan hatinya tidak berjalan selaras. Mereka bersua saling beradu argumen mempertahankan pilihannya.
Tapi, Becca adalah pemegang wewenang utama. Yang, membuat dirinya langsung menegaskan.
Dirinya tidak boleh begini. Ia harus menjelaskan hubungan dengan Rian, jika, ingin berhubungan lebih lanjut.
Tut tut tut
"Hallo, Becc? Ada apa?" Suara baritone yang sekilas membuat hatinya bergetar, membuat Becca gagap membalasnya.
"Kita tuh–"
"Kita apa, Becc? Manusia?" Jawab Rian, menerka arah pembicaraan Becca.
Karena, orang utamanya tidak merespon apa-apa kecuali, hanya helaan nafas yang terdengar sangat berat.
Rian memindahkan ponsel dari telinga kanan ke telinga kiri, ia meminta temannya untuk bergantian menjaga meja kasir demi leluasa berbicara dengan Becca.
"Are you ok, Becc?" Tanya Rian lagi yang kini sudah berada di ruang khusus pegawai.
"Ummmm," Becca masih saja berbasa badi. Tidak seperti Becca biasanya, yang membuat seorang Rian bingung.
Dirinya bukan 'orang pintar' yang mampu menerka semuanya, terkadang ia juga butuh tanda-tanda demi rasa pekanya semakin terasah, "Yan.. "
Sesaat mendengar Becca sudag mukai membuka percakapan, Rian langsung menjawab, agar semua rasa penasarannya hilang.
"Lo nanya hubungan kita, Becc?" Tanya Rian, dengan suara yang sangat tekejut.
Buktinya, ia sampai berdiri dari posisinya dengan mulut yang menganga, "Kita temen, Becc. Emang lo kira apa? Musuh?"
DEG!
Dia bilang temen... Temen... Temen, Becc. Kita tuh cuman temen. Lo ngarepin apa si?
Masa orang baru kenal, tiba-tiba langsung punya perasaan. Jelas Becca dalam hati.
Becca meraih ponsel dari telinga dan menaruhnya di meja, "Becc... Masih disitu kan?"
Suara Rian terdengar dari speaker ponsel, membuat fikiran Becca buyar, "Masih dong, Yan." Balasnya dengan kikuk.
Becca tertawa untuk mencairkan suasana saat Rian mulai melontarkan bercandaannya, "Oh ya, Becc.."
"Kenapa, Yan?"
Rian menghela nafas, "Kalo boleh, gua pamit dulu ya. Masih di tempat kerja soalnya nih."
Untuk kedua kalinya, Becca merasa seperti pengganggu orang yang tidak tahu waktu. Membuat rasa bersalahnya semakin menjadi, hingga mengucap kata maaf berkali-kali.
Tapi, Rian malah tertawa dan menyebut tingkah Becca lucu. Namun, kali ini Becca sudah pintar dan cepat mengalihkan semua respon tersebut.
Ia tidak mau lagi salah kaprah atas semua ucapan Rian, ia harus pintar menempatkam posisi. Hingga, tanpa sadar Becca melambungkan respon yang biasa saja.
"Bye, Yan... "
Begitu selesai dengan panggilannya, Becca langsung meraih jaket jeans dari kamar dan memakai dengan sekenanya.
"Gila juga... Baru kali ini gua naro perasaan cepet banget." Jelasnya dalam hati.
Ia masih tidak mengerti dengan hatinya yang kenapa sangat mudah luluh dengan perlakuan Rian, hingga dirinya melupakan sifat serta sikap angkih biasanya.
Brughh!
"Ups, sorry." Pekik Becca yang sudah tersungkur ke lantai.
Entah kenapa, ia yanh ditabrak malah dia yang mengucap kata maaf. Maklum, namanya juga manner orang timur ya, jadi begitu.
Becca bangun dengan tangan menggubris debu yang singgah pada pakaiannya.
"Lo gakpapa?" Tanya wanita yang berpenampilan casual tapi, menawan.
Mengenakan pakaian kerja bewarna biru tua, dengan rambut pendek se-bahu.
"Its ok." Jelaa Becca sambil tersenyum.
Namun, nampaknya balasan dari Becca belum membuat rasa beraalah si penabrak hilang. Ia langsung mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya, dan diberikan pada Becca.
"Bisa tolong kirimkan biaya untuk membawa pakaian itu ke penatu." Jelasnya sambil menaikkan kacamata besarnya.
Becca sedikit tersentak, "Gak perlu dilaundry, gak kotot juga baju gua. Nih liat!"
Becca membusungkan d**a agar wanita itu melihat tidak ada kotoran yang nampak pada bajunya.
Wanita itu malah terkikih melihat tingkah Becca, "Itu karena lo punya baju warnanya hitam."
"Nah!" Becca menunjuk tepat di wajah, "Karena itulah, gua gak perlu bawa ini baju ke penatu. Lo juga gak perlu tanggung jawab. Clear kan masalah?" Jelas Becca.
Tanpa sadar, ada seseorang yang sedang memperhatikan Becca dengan senyum yang mengembang sempurna. Dirinya semakin kagum atas sikap Becca yang sangat supel serta tidak auka repot. Tidak tampak seperti wanita-wanita lain yang jika, berada dalam kondisi itu akan memperpanjang masalah layaknya karet yang senantiasa mulur terus menerus.