#RF5

2312 Kata
Setelah mengalami penolakan di restoran pertama, Becca memutuskan untuk lompat ke destinasi ketiga nya, yaitu Vivo city. Tempat yang ia ketahui dari video youtuber favorite nya, yaitu Ria Sw. "Eiii, ada ice cream!" Pekik nya. Becca salah fokus untuk kedua kali nya, karena ice cream tersebut sanagt menggoda untuk dilewati begitu saja. "Tiga dollar?" Tanya Becca, seraya memastikan harga dari ice cream vanilla yang ia tunjuk. Penjual itu mengangguk, menandakan jika harga nya benar. "Boleh aku mengambil fotomu, untuk produk kami? Dan kau akan mendapatkan imbalan gratis 3 kupon ice cream?" Jantung nya seolah berhenti, saat mendengar perkataan dari si penjual. "Apakah dirinya tidak salah, ingin mengambil fotoku?" Batin Becca bertanya-tanya, seakan tidak percaya. Karena saat ini dirinya hanya memakai kaos polos, celana jeans pendek, dan kemeja untuk luaran nya. Kondisi Becca saat ini, sangat tidak layak untuk difoto sebagai ajak promosi produk tersebut, yang mempunyai cita rasa manis pada ice cream. "No problem, miss. Wajahmu yang memancarkan aura sudah lebih dari cukup, untuk dipasang di sini." Penjual itu tetap bersikeras, untuk meminta Becca menjadi model dadakan nya. Dan mau tidak mau, siap dan tidak siap dirimya mengindahkan permintaan pnjual tersebut, karena mengingat dirinya adalah seoranh model yanh harus siap dengan segala kondisi. Cekrek Cekrek Cekrek Setelah mengambil tiga foto, menggunakan kamera polaroid nya. Becca kembali disuruh oleh penjual untuk memilih 1 foto terbaik nya, untuk dipasang di tempat telah ditunjukan tadi. "This!" Kata Becca, dengan simpul di bibir nya. "Okey, kalau begitu ambil kedua foto ini sebagai kenang-kenangan, beserta kupon yang telah aku janjikan." Balas si penjual dengan senyum yang mengembang. "Thxyou...." Balas Becca, dan melanjutkan kembali perjalanan menuju destinasi berikut nya. 10 menit berjalan, tidak membuat kaki nya letih sama sekali. Padahal jika di Jakarta, seorang Rebecca paling anti dengan jalan kaki. Tapi, setelah 1 minggu berada di sini, kehidupan lama di Jakarta telah ditinggalkan begitu saja. Malah saat ini, dirinya sudah sangat terbiasa berjalan kaki untuk jarak yag lumayan jauh. "Finally..." Saat ini batin nya terasa sangat puas, karena telah sampai di depat loket tempat bermain gokart serta kereta gantung. Becca langsung mengantre untuk membeli tiket masuk, yang seharga 5 dollars Singapore. Sambil menunggu, dirinya membuat stories di sosial media untuk memberitahukan kepada seluruh followers nya. Ting! Ting! "Anjir, kau ke Vivo City?" Becca membaca pesan dari Rey, yang disertai beberapa emotikon devils. Alih-alih membalas pesan, Becca lebih memilih untuk langsung menelfon Rey. "Jika aku tau kau akan kesana, aku akan terima endorsement, Bec!" Ujar Rey, yang langsung menyerbu Becca dengan pekerjaan. "Sorry, coba kau hubungi kembali mereka untuk katakan aku bersedia," "Memang produk apa? Dan apa jenisnya? Hanya stories atau postingan feeds?" Kali ini gantian Becca yang menghantam Rey dengan banyak pertanyaan. "Hanya stories, tentang es yoghurt yang baru launching, akan aku kirimkan lokasi detail nya. KALAU MEREKA MASIH MAU MENGGUNAKAN JASA KAU YANG TARIF NYA SUDAH NAIK!" Ucap Rey, dengan penekanan pada akhir. "Kalu begitu, urusan kita sudah selesai. Bye, Rey." Tut "Sudah biasa~" Sambung Becca, melihat perlakuan Rey, yang tidak pernah memberikan kalimat perpisahan. Tidak terasa, hanya tinggal satu orang di depan Becca. Dan sebentar lagi, dirinya akan masuk ke tempat bermain yang selama ini hanya bisa ia nikmati pada youtube. "5 dollars, miss" Becca memberikan kartu debit milik nya, "Rian?" Seketika ia melontarkan saat melihat wajah yang ia kenali. "Ha? Becca?!" Ternyata benar, itu adalah Rian, karena ia langsung mengenal Becca. "This. Kau tunggu di situ, nanti aku akan keluar, ok?" Pinta Rian, sambil mengembalikan kartu Becca. "Ok." Balas Becca singkat, dan langsung pergi ke sisi lain, seperti permintaan Rian. "Hai!" Akhirnya Rian datang, dengan pakaian hijau-biru sebagai salah satu staff tempat ini. "Hai! Kau bekerja juga disini?" Tanya Becca dengan hati-hati, karena takut menyinggung Rian. "Iya! Sangat menyenangkan bekerja di tempat seperti ini." Namun orang nya sendiri, malah menuturkam sejumlah alasan dan memperlihatkan betapa bagganya. Rian terlihat sangat berantusias, dan sangat bahagia ketika Becca mengetahui pekerjaan nya satu lagi. "Wajah itu, tampak tidak lelah sama sekali. Padahal tubuh itu melakukan banyak pekerjaan dalam 1 hari." Batin Becca, terenyuh saat menoleh pada Rian yang sedang menjelaskan beberapa arena bermain yang seru, sepanjang jalan. "Kau mau naik gokart?" Tanya Rian. Becca memgangguk dengan sangat antusias, "Hmm, tapi kau harus mengeluarkan uang kembali, jika ingin ke arena sana." Rian kembali menjelaskan. "No problem, aku telah menyiapkan dana lebih untuk berjaga-jaga." Balas Becca, yang langsung diberikan acungan jempol oleh Rian. ** "Seru banget! Aku mau 1 putaran lagi." Kata Becca, dengan helm yang masih bertengger di kepala nya. "Kau yakin? Mahal lho, 15 dollars?" Sebagai salah satu staff, Rian harus memastikan pada konsumen. Karena ia merasa permainan ini cukup merogoh kocek yang cukup mahal untuk 1 putaran nya. "Tidak masalah, Yan. Aku harus menikmati semua uangku, setelah kerja keras selama ini!" Ujar Becca, seraya memberikan kartu debitnya kembali pada Rian. Melihat antusias Becca, jauh di lubuk hati Rian berfikir, jika Becca hanya mengghamburkan uang untuk kesenangan nya. Namun jika ia melihat wajah Becca yang kegirangan, Rian merasa bahwa saat ini Becca sedang melepas kepenatan yang selama ini ia tahan dengan cara seperti ini. "Sorry, aku juga ingin memainkan 1 putaran kembali." Ucapan itu membuat Rian fokus kembali, dengan tugas nya selaku staff. "Enjoy!" Kata Rian, pada seorang gadis kecil tersebut. Setelah 15 menit bermain, Becca yang masih bersemangat berfikir kembali untuk memainkan 1 putaran lagi. Namun dirinys juga berfikir, itu semua tidak akan ada habis nya. Dan juga itu membuang 15 dollars nya kembali, yang bisa ia alokasikan untuk bermainan permainan lainnya. "Lagi, miss?" Goda Rian, dengan tangan yang siap menerima kartu dari Becca. "Tidak, 15 dollars ku nanti melayang, padahal aku masih ingin bermain di arena lainnya." Ucap Becca, sambil melepas sebentar helm nya. Membuat Rian terkikih, akan perlakuan dari Becca yang seperti anak kecil yang sudah disuruh pulanh oleh orang tua. "Tunggu aku, Becc!" Pekik Rian, seraya berlari kecil menyusul Becca di depan. "Arena itu beraa harga nya?" Becca menunjuk kereta gantung di atas kepala nya. "15 dollars untuk satu orang," "25 dollars untuk satu kereta" Jelas Rian. "Jam kerjamu selesai kapan?" Becca membelokkan pembicaraan, "Emm 1 jam lagi shift ku selesai." Namun Rian juga langsung membalas nya setelah melihat jam tangan nya. "Oke, kita naik itu bersama ya! Karena jika aku sendirian, pasti tidak asyikdan juga tidak ada yang bisa aku suruh untuk mengambil fotoku." Tawa Becca langsung pecah, saatm melihat perubahan ekspresi dari Rian. "Kau mengharapkan apa?" Tanya Becca kembali, sambil mengatur nafas nya. "Nothing." Balas singkat Rian, dan meninggalkan Becca yang masih setia dengan tawa nya. Untuk kedua kalinya, Becca sangat merasakan aura dari Rian yang merupakan seorang pekerja keras. Dirinya bahkan masih melayani seorang gadis kecil yang menangis karena gulali nya jatuh ke lantai. "Aku belikan yang baru, mau?" Rian menoleh pada Becca, yang seketika berada di sampingnya. "Sudah ketawanya?" "Suuut!" Pekik Becca, dan langsung menggandeng gadis kecil untuk mencari toko penjual gulali. ** Hari ini sebenarnya bukan hari dimana ia harus pergi bekerja. Ia hanya menggantijan salah satu temannya yang sedang melakukan tes interview pada pekerjaan cadangannya. Saat pagi menjelang, rasa malas menghadang sekujur tubuhnya, gaya tarik tempat tidur sangat sulit untuk dihindari. Entah kenapa, bisa begitu. Otaknya saja bingung. Namun, hati kecilnya berbanding terbalik sejak awal. Ia menentang semua rasa malas, rasa kesal. Karena, ia mengetahui jika, Rian akan mendapatkan durian runtuh saat bekerja nanti. Dan, ternyata semua itu benar. Ia mendapatkan rejeki yang tidak terduga dari mana asalnya. Bukan berupa uang, bingkisan, ataupun makanan. Melainkan, ia mendapatkan waktu plus satu makhluk hidup yang akrab dikenal dengan Manusia. Namanya, Rebecca. Seorang wanita yang lusa kemarin ia kenal secara tidak sengaja, dan dipertemuan kembali di area permainan gokart. "Lo ada urusan lagi gak abis ini?" Tanyanya pada Becca yang sedang asyik mengemut permen lolinya. Becca hanya menggeleng, membiat Rian langsung to tgr point. "Mau jalan lagi gak?" "Ke mana?" "Hong Liong." Seru Rian. Ia mengharapkan respon yang sangat antusias dari Becca, tapi, malah helaan nafas yang ia dapatkan. Nasippp.... Nasip... "Percuma, Yan. Toko itu tutup sampe 2 hari mendatang. Kemarin gua udah kesana. Tapi, nihil hasilnya." Beber Becca, dengan raut wajah murungnya. Melihat dari respon sedihnya, Rian langsung kepikiran untuk mengembalikan senyum Becca ke tempat asalnya. Ia mengeluarkan ponsel, serta menekan layar dengan jari lentiknya, "w*****p, Yan? What going on?" Suara cempreng menggema pada gendang telinganya. Membuay senyum simpul indah nan manis berada pada wajahnya, "Ini lho, gua mau nanya. Resto lo kenapa tutup sampe lusa? Kebanyakan duit lo ya?" Jelasnya sambil tertawa. Becca juga mengikutinya, habisan kan ketawa itu nular. Apalagi, jika sumber utamanta terus menatap mata. Jadinya ya begini... Membuat perut Becca diterbangi oleh banyak kupu-kupu. Dan, rasanya.... Woah, mantap! Geli-geli gimana gitu... "Okedeh, gua nanti main ya. Kabarin kalo lo udah siap." Kata Rian. Ia mematikan sambungannya dan menatap mata Becca semakin dalam, "Hong Liong gak bakal tutup, Becc. Percaya ama gua." Mendengarnya membuat mulut Becca menganga, "Percaya sama lu, nanti gua musyrik, Yan." Kikihnya. Becca menyeruput latte kesukkannya dari cangkir putih bersih, "Yee, lo kalo dibilangin ngeyel." Jelas Rian kembali. Kali ini Becca, hanya memberikan respin dengan menggerakkan bahunya ke atas dan ke bawah, "Who knows. Kita liat nanti aja." Balas Becca. Rian mengulum senyumnya, entah sampai kapan. Yang jelas, ia belum mau menunjukkan pada Becca. Ia masih malu untuk memperlihatkan semuanya. Sampai akhirnya, malah Becca yany mengambil satu lanhkah mendahuluinya. "Minta nomor lo deh, biar kalo gua buruh sesuatu di sini jadinya gampang." Ia mendorong ponsel pintar berlogi aper tergigit ke dekat tangan Rian. Hanya melihatnya saja, membuat detak jantung Rian bertingkah. Apalagi, ditambah dengan perkataan Becca yang menyebutkan jika, ia jarang meminta nomor seseorang lebih dulu. Berarti, yang artinya.. Dirinya merupakan orang spesial bagi Becca, hingga membuat Becca meminta nomor telfonnya lebih dulu. "Oh ya, tapi, Yan--" "Kenapa?" "Sabar dong, gua belom selesai ngomong." Rian tertawa kikuk, rupanya ia begini jika, sedang gugup, "Yaudah, lanjutin-lanjutin." Jelasnya. Becca bercerita perihal kedatangan Rian ke apartemennya kemarin, bagaimana caranya, dan tahu dari mana? Padahal, sebelum itu ia hanya berjumpa denga Rian di pusat belanja Olive Young, dan, saat itu juga ia dengan Rian belum bertukar informasi pribadi seperti sekarang. Semua itu membuat Rian menelan ludah, tenggorokannya mendadak tercekit serta kering. Ia tidak mau harus menjelaskan dari mana dan bagaimana. Pasalnya, ia mendapati alamat apartement Becca dari formulir pengajuan pemvuatan karti member di Olive Young. Dan, jika, ditanya untuk apa dirinya kesana. Rian tidah tahu. Sama sekalu tidak tahu. Karena, langkah kakihya yang membawanya sampau sana saat jam pekerjaannya usai. Tidak ada maksut atau urusan lain. Benar+benar pure rasa aneh saja. "Lo boleh kok main ke apart gua, tapi, seengaknya kabarin dulu. Jangan tiba-tiba lo nonggol. Gua tipe orang yang gak suka kejutan." Beber Becca. Setelah berjalan cukup lama, mereka tiba di persimpangan jalan. Stasiun MRT atau pemberhentian taxi. Persimpangan jalan yanh begitu astetik hingga membuat para turin kebingungan. Namun, untungnya Becca sudah tidak terhitung sebagai turis lagi. Ia sudah tidak tergiur dengan keimdangan persimpangan ini dan membuatnya langsung menentukan pilihan. Tapi, lagi-lagi pilihan itu diprotes dengan Rian, temannya kali ini. Ia memaksa untuk menggunakan taxi dengan dalih membuat Becca nyaman. Karena, MRT pada jam segini kondisinya melebihi jalanan bugis. "Gua udah tau, Yan. Tapi, gua malah suka dengan keadaan itu. Ketimbang kita naik taxi, trs cepet banget sampenya. Eh, pas sampe tuh restoran tutup." Becca meringis. Melipat kedua tangannya di d**a, "Sakit hatinya kaya lebih berasa, Yan." Tambahnya. Membuat Rian terbahak, "Lo dibilangin gak percaya sih sama gua. Gak bakalan tutup." Balas Rian dengan keyakinan penuh. Semya itu hanyalah kata penenang bagi Becca, belum bersifat pasti. Membuat dirinya menegaskan ucapannya kembali. "Udah naik MRT aja. Kalo lo mau naik taxi ya, gih! Kita misah berarti." Pungkas Becca sambil menyebrang jalan. "Ye! Gak gitu maksut gua! Siapa yang mau misah sama lo!" Pekiknya. Ia mencoba menyusul Becca yang sedang menggodanya dengan berlalri kecil dan mendahulukannya masuk ke dalam stasiun. Membuat otak Rian memaksa memasukkan kembali moment ini sebagai moment yang tidak boleh ia lupakan. Rekam juga bagaimana cara Becca tersenyum, tertawa, serta saat menguncir rambut ekor kuda. Semuanya sangat indah. Mengalahkan pelangi sehabis hujan turun. "Gila, lo larinya kaya setan. Cepet bgt!" Kata Rian dengan nafas yang masih tergopoh-gopoh. Becca hanya tersenyum, dan sama sekali tidak menunjukkan raut wajah kelelahannya. "Ini namanya masih jogging, Yan. Kalo gua lari yang sebenernya. Lo gak bakal bisa ngejar gua." "Gaya lo!" Tangan Ruan mengacak rambut Becca. Membuat detal jantungnya kini layaknya orang yang kelelehan. Kenapa sanbat cepat. Padahal, tadi biasa saja. Oh come on! Gak lucu. Masa jantungnya begitu lemah. Padahal, di Jakarta sudah biasa melakukan ini semua. Becca meng-denail semua perasaan yang dikatakan oleh hatinya yany paling dalam. Ia merasa dan harus menganggap Rian hanya sebatas teman. Tidak boleh lebih karena, jika, ada perasaan lebih menghampiri. Semuanya akan kacau. Becca adalah tipe wanita yang tidak bisa memulai hubungan dengan pondasi hubungan awal sebagai teman. Namun, semua pergerakkan Rian nampak mengarah ke sana, buktimya sekarang ia melindungi Becca dengan cara berdiri di belakangnya. Menghindarkan Becca dari pria di belakang yang berperilaku aneh. "In the few minute we will arrive in Stone Station." Suara bulat dari rekaman Mrt terdengar jelas, membuat tangan Rian semakin meng genggam tangan Becca. "Kita pindah kereta ya." Jelasnya. Membuat Becca hanya bisa mengangguk ria. Ia tahu apa maksut dari Rian. Tapi, menunggu kereta selanjutnya memerlukam waktu 15 menit. Becca menyayangkan itu. Padahal, ia mengejar waktu demi restoran Hong Liong. Itupun juga kalau buka. "Huh--" "Kenapa, Bec? Kok hela nafas mulu?" Sontak membuat Becca kikuk, nafasnya terdengar sampai telinganya kah? Masa sebegiytu kerasnya. Hmm... "Gapapa, Yan." Becca memgeluarkan jawaban andalan para kaum hawa. Membuat Rian menoleh padanya, "Kalo gapapa, artinya ada apa-apa tau, Becc." "Hah? Sok tau deh lo." Becca menyambar dengan kecepatan cahaya. Lalu dibalas dengan tawa Rian yang begitu khas, "Emang bener. Kalo menurit kamus cewe yang gua baca ya, arti gapapa tuh kenapa-napa." "Lo bukan kebanyakan baca buku itu namanya. Tapi," "Tapi apa?" Rian mendekatkan wajahnya, membuat Becca memalingkan memandang jalan kosong. "Kebanyakan baca quotes picisan lo mah!" Katanya. Menahan detak jantung yang semakin kurang ajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN