Dentingan piano itu membuat Becca jenggah, bukan malah terkesima.
Karena pianis nya adalah orang yang saat asing buat nya, lantas untuk apa dipuja-puji?
"Hati hati, karma ya Rebecca." Kata Randi, seraya bangkit dari tempat nya.
Ia langsung menghampiri Becca, yang masih setia memakan coklat putih nya, "Jika kau tidak bisa main piano, kenapa benda itu ada dalam apartement mu?" Tanya Randi sambil menjatuhkan b****g nya di samping Becca.
"Kenapa kau memanggil ku Rebecca?" Kali ini rasa penasaran yang tidak mungkin Becca tahan lagi.
Tapi, dirinya sama sekali tidak mendapatkan jawaban yang berarti. Melainkan hanya kikihan dari Randi yang sedang berganti pakaian di depan nya.. "Tidak bisakah kau ganti di kamar tamu?" Becca melontarkan pertanyaan kembali pada Randi.
"Jika saya mau disini, kau bisa apa?" Mereka berdua seakan sedang bermain melempar pertanyaan, karena tidak ada satupun yang mau menjawab satu pertanyaan pun.
"Aku bisa mengusirmu! Kau lupa ini adalah apartement milikku" Ketus Becca seraya mendongakkan kepala nya.
Membuat Randi menampilkan kembali senyum nya, yang jarang terlihat oleh siapapun.
"See you when i see you, Rebecca." Ujar Randi seraya melangkah keluar dari apartement Becca.
"JUST BECCA!" Teriak nya.
Bukan tanpa alasan, kenapa Becca sangat ngotot untuk menyuruh nya memanggin dengan nama panggilan nya.
Karena selama ini Becca sudah mempersiapkan nama Rebecca hanya boleh dipakai, jika dirinya sudah berhasil memasuki perusahaan besar.
Karena nama Rebecca itu terdengar sangat elegant untuk dirinya yang sedang memakai pakaian formal nanti.
TING
TING
TING
Becca melupakan kekesalan nya terhadap Randi, dan langsung menyambar ponsel nya yang berada di nakas.
"Why Rey, sayangg?" Ia membalas chat dari Rey, yang mengirinkan boom chat padanya.
"Hallo?" Becca langsung menelfon Rey, karena gadis itu meminta nya dengan alasan urgent.
"Kau benar mentransfer uang papah kembali?"
Rupanya kabar itu sudah menyebar ke internal rumah, membuat Becca menghembuskan nafas berat nya.. "Calm down, Rey. Lagipula aku juga sudah menghasilkan, jadi untuk apa uang papah?" Jelas Becca sambil menyeruput secangkir latte.
"Bangga aku Bec, pada kau!" Suara Rey membuat senyum Becca mengembang, sampai sisa late di atas bibirnya terlihat jelas dari pantulan cermin.
"Rebecca! Jas saya ketinggalan, tolong buka pintu nya!"
"Shitt!" Batin Becca menggerutu, karena suara Randi yang mungkin terdengar oleh Rey, yang bisa menjadi bahan ledekan untuk seumur hidup.
"AAAAA MULAI NAKAL KAU YAAA, SAMPAI SUDAH BERANI MEMBAWA PRIA... "
"Sudah lah, Rey! Nanti aku telfon lagi." Becca menyudahi telfonan nya, dan langsung menuju layar intercomm nya terlebih dulu.
"Apa lagi?"
"Kau tidak dengar? Jas saya ketinggalan, Rebecca." Randi mengulang ucapan nya.
Membuat Becca terkikih, karena melihat ekspresi nya yang berubah menjadi sangat panjang, di intercomm nya.
"Panggil Becca dulu, baru aku buka." Goda Becca, seraya melipat kedua tangan nya.
Dan Randi yang tetap mempertahankan keputusan nya, untuk memanggil nya dengan nama Rabecca.
Hanya bisa mengancam nya kembali dengan kata-kata, yang membuat Becca memutar kembali mata nya.
"HAHAHAAHA, I catch you!" Kata Randi, setelah pintu itu terbuka.
Nampaknya, pria itu menyukai Becca. Bukannya terlalu percaya diri atau apa. Ini bedasarkan fakta serta realitas karena, kini mata Randi tidak teralihkan dai Becca yang sedang memainkan rambutnya.
"Kau mau main piano?
'Pertanyaan apa ini.' Batinnya menggerutu. Membuat Randi membelalakan mata mengikutu Becca, "Bisa. Memang kenapa?" Tanya Becca.
Randi mendekat pada Becca, melihat dari ujung kepala serta berpindah pada jari mungil wanita itu.
"Coba buktikan."
"Hah? Sekarang?'
" Iya." Seru Randi dengan suara bulat. Membuat Becca terkesima serta gelagapan.
"Kalo sekarang tidak bisa."
"Kenapa? Gak bisa atau gak mau?"
Becca mendelik tajam, menatap sudut mara Randi dengan seksama, "Gak bisa, pokoknya. Gak boleh maksa orang! Dasar, orang asing."
Balasan itu membuat Randi berdiri daru duduknya, "Kau sudah tahu nama saya, kenapa, masih bilang saya orang asing?" Tanya Randi.
Tubuhnya perlahan mendekat pada tubuh Becca yang masih duduk di posisinya. Ia tidak berpindah ataupun terusik dengan semua intimidasi yang Randi lakukan.
Mengapa begitu? Yang padahal, para gadis sini kalau diperlakukan dengan 'orang asing' akan merespon seperti yang ada di fikiran Randi.
Tapi, nyatanya Becca tidak. Seolah sudah biasa bertemu dan diperlakukan begini.
Klek'
"Rian?" Pekik Becca dengan sangat terkejut.
Ia langsung mendorong tubuh kekar Randi demi bisa menatap Rian dengan jelas, "Lo ngapain, Becc? Dia ngapain?"
"Aaaa"
"Saya pacarnya Rebecca."
"Hah?"
Mulut Rian terperangah tidak percaya. Bagaimana mungkin Becca bisa mendapatkan seorang kekasih dengan sangat cepat. Sementara yang dilakukan oleh Becca adalah, ia langsung menyuruh Rian untuk keluar dari apartementnya.
"Nanti gua jelasin. Nanti ya, gak sekarang, gak besok. Gak tau kapan. Tapi yang jelas, nanti."
"Becc! Damn it! Becca!" Teriak Rian dari balik pintu. Pergerakkan wanita itu cepat sekali, membuat dirinya tida punya kesempatan untuk mempertanyakan semua.
Tapi, untuk apa juga mempertanyakan semuanya. Memangnya ia punya hak apa atas kehidupan Becca?
Rian tahu diri jika, dirinya adalah sebatas teman yang baru kenal oleh Becca. Ya, sebatas itu saja. Tidak lebih dan mumgkin malah kurang.
Rian juga tau diri atas semua yang terjadi. Dirinya, adalah orang yang secara tiba-tiba bersinggungan dengan hidup Becca yang baru saja menetap di Singapura.
Ria mengacak rabut sembarang, sebagaimana hati Becca sekarang kala melihat Randi yang sedang bersenandung ria.
"Come join with me, Rebecca."
Becca memutar bola matanta dengan malas, "Just Becca, okay."
Entah sudah berapa kali dirinya memperingati Randi untuk memanggilnya hanya dengan nama 'Becca' bukan 'Rebecca.'
Tapi, dasarnya saha memang pala batu. Becca menghembuskan nafas berat dan duduk di kursi kesayangannya.
"Baik, saya kesana sekarang?"
'What, gua baru duduk dia mau pergi? Apasi maksutnya. Tadi, nyuruh gua gabung. Pas gua gabung dia kabur.' Cerca Becca dalam hati.
Randi menerima telfon dari sekretaris keduanya, katanya ada keperluan yang mendesak yang mengharuskan Randi kembali ke Perusahaan.
Entah apa itu, katanya bersinggunggan dengan kontrak kerja sama. Se-pendengaran Becca.
"Oke, saya akan segera kesana."
"Baik, Sir."
Randi mematikan telfonnya, dan menatap Becca, "Saya harus kembali bekerja."
"Ya silahkan, saya juga menginginkan anda pergi."
Deg!
Baru kali ini ada yang bilang begitu pada Randi. Membuat tubuhnya membeku seketika.
Ucapannya sangat tegas, dan tidak mencerminkan sifat wanita. Tapi, anehnya, semua itu malah membuat Randi terkesima.
Sudah lama ia menambakkan respon seperti ini. Dibandingkan respon manis dari mulut wanita-wanita yang terus menempel padanya.
"Berikan nomor anda!" Seru Randu. Memberikan ponsel pada Becca yang sedang asyik menatap lurus ke depan.
"Tidak! Memangnya untuk apa saya memberikan nomor pada anda?" Jelas Becca.
Jika, waktu Randi masih banyak ingin sekali rasanya ia memaksa wanita ini untuk memberikan nomor teleponnya. Dengan cara apapun, bisa beradu argumen atau cara yang lain-lain. Hayoo saja. Tapi, sayangnya ia sedang diburu waktu karena, ada permasalahan yang membuat kepala Randi pecah seketika.
"Kalau tidak mau, saya akan datang lagi nanti." Seru Randi, seraya melangkah pergi keluar.
"Dateng aja!" Becca yang pemberani di depan, membuat hatinya menciut seketika.
Toh juga, ia percaya dengan otaknya yang menyebutkan jika, pria itu tidak akan berani untuk datang ke sini. Lagian, untuk apa juga.
Cuman sebatas nomor telefon? Astaga, itu tidak mungkin. Randi adalah pria yang sangat sempurna. Dan, jika, ia bertemu dengan wanita lain selain Becca, juga pasti akan diberikan nomor telfonnya.
Jadi, nomor telefon Becca tidak akan ada apa-apanya.
Becca berdiri, menghirup udara bebas se-bebas-bebasnya. Ia masuk ke dalam toilet untuk mempersiapkan diri, karena, hari ini ia akan pergi ke salah satu tempat makan yang memakai jasa endorsenya.
'Lumayan, makan gratis dapet duit.' Jelas Becca dalam hati seraya menyenandungkan lagu dangdut yang sudah lama ia tidak dengar.
**
Kenyataan memang selalu berbanding terbalik dengan kemauan kita. Seperti halnya sekarang. Becca terpaksa me-reschedule ulang atas jasa endorsenya. Karena, Rey lupa memberitahukan jika, orang yang memesan jasanya tengah mengadakan renovasi besar-besaran.
"Lo gimana si, biasa juga kerja bagus. Kenapa begini?" Tegas Becca, dalam telfon. Membuat Rey yang sedang menutupi diri dengab selimut tebal bersabar lebih dalam.
"Yaudah si, kan bisa nanti lagi. Toh juga dia udah DP." Jelas Rey, menahan batuk yang ingin keluar dari tenggorokan.
Sebenarnya batuk itu tidak apa ia keluarkan, tapi, dirinya hanya enggan. Jika, ia batuk dan Becca mendengar itu, bisa-bisa Becca malah terdistrack. Menanyakan perihal kondisinya erua menerus, yang padahal tidak apa-apa.
"Huh"
"Kenapa lo hela nafas? Lo yang salah ini ya." Timpal Becca. Membuat teriakan Rey mencuat, "Sorry! Yaudah deh, kalo gitu gua mending jalan aja. Bye." Seru Becca. Mematikan sambungan telfon dan langsung membuka aplikasi peta online Singapura.
"Oke, kita ke sini aja."
Becca telah memutuskan untuk pergi ke tempat makan Hong Liong. Tempat yang cukup terpercaya serta terkenal.
Setelah sekian lama menunda, akhirnya ia pergi ke tempat ini juga. Salah saty destinasi terbaik yang ia tuju bedasarkan vlog salah satu content creator favoritnya.
"Oke, kita naik MRT." Jelasnya, melangkah pasti dengan senyum yang merekah.
Randi melihat sebentar mata Becca yang sudah menjadi candu baginya.
Entah kenapa, Becca bisa merubah kebiasaan nya yang membenci saat ada wanita memutar bola mata padanya.
Tapi kini, Randi malah berusaha menjahili Becca, agar dirinya bisa melihat putaran mata itu.
"Cepat kau ambil, lalu kau pulang." Tegas Becca, yang menahan pintu.
Seolah mengusir Randi, dengan sangat halus.
"Ok" Balasan dingin dari Randi, entah kenapa membuat Becca getir.
DRAP
Ia langsung terduduk di lantai tanpa sebab, "Kenapa perpindahan mood nya cepat sekali?"
Tanpa sadar Becca memikirkan Randi sejak tadi, tapi ia sendiripun tidak tahu apa alasan kuat fikiran tersebut.
**
Mereka semua membungkuk, serta mengucapkan salam pada Randi yang baru masuk.
"Sir, ada klien baru yang ingin berkonsultasi perihal tenaga kerja." Ujar Bimo, sekretaris Randi.
Bukan mya membalas ucapan dari Bimo, Randi malah sibuk dengan jas yang berada di tangan nya.
"Sir?" Panggil Bimo, dengan harapan Randi menyudahkan kegiatan itu, karena klien yanh dimaksutkam mempunyai pengaruh besar bagi perusahaan nya.
"Sorry, apa yang kau bicarakan sejak tadi?"
Balasan itu membuag Bimo menahan emosi nya, karena masih berada di jam kerja. Yang menuntut dirinya harus sopan dan menganggap Randi, sebagai CEO dan bukan sebagai teman karibnya.
"Baik, suruh mereka datang ke ruangan meeting di lantai 10." Akhir nya Randi memerintahkan, setelah Bimo mengulang percakapan nya satu kali.
Ting!
"Sir." Bimo membungkukan badan nya, untuk berpamitan pada Randi, karena dirinya yang harus menyiapkam ruangan meeting tersebut.
Tapi lagi-lagi, Randi mengacuhkan Bimo kembali.
Padahal sudah biasa, ia melakukan hal tersebut. Namun saat ini Randi terasa seperti bukan Randi.
Pertama dari cara berpakaian nya, yang terkesan compang-camping. Jas yang menunjukan kehormatan dari seorang Randi, tidak menempel pada tubuh nya.
Kedua, senyum tipis yang menggambarkan sikap angkuh nya, tadi tergantikan oleh senyum ramah yang membuat semua staff kebingungan.
Ketiga, hal yang paling krusial dari seoranb Randi CEO muda ternama Singapore, meminta Bimo untuk menggunakan ruangan meeting di lantai 10.
Yang biasanya, Randi menerima semua klien penting di ruangan nya agar menyempurnakan dirinya, sekaligus pelayanan perusahaan.
"Kemana itu semua hal itu?" Bimo hanya mampu menggelengkan kepala, seraya berjalan ke ruangan meeting tersebut.
**
Becca mengeluarkan ponsel dari saku celana nya, "Hai guys, hari ini aku mai ngajak kalian buat makan-makanan unik yang ada di Singapore...."
"Asik! Kenyang deh aku, Kak Bec"
"Duuuu, ngiler dehhh..."
"Aaa, Kak Bec bikin mau liburan deh...."
Semua komentar pada siaran langsung di media sosial Becca, membuat nya terkikih.
"Semoga kalian semua, bisa kesini ya... Aku doain, dan kalian juga jangan luoa menabung yaa. Karena doa aja gak cukup kalo uang nya gak ada.. " Kikih Becca.
Setelah Becca berpamitan kepada semua followers yang mengikuti siaran langsung tadi, ia langsung menuju jalur MRT yang bisa langsung diakses dari apartement nya.
Karena tempat makan unik yang mau dituju Becca, hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan MRT.
Sebenarnya bisa jika dirinya memakai uber atau taxi, tapi seorang Becca lebih memilih untuk merasakan naik transportasi yang lebih umum di negara ini.
"Thxyou." Ucap Becca, setelah membeli kartu MRT di salah sati merchand yang berada di dalam stasiun.
Ia langsunh berada di tempat menunggu kereta, yang ditunjukam oleh maps yang sudah ia baca tadi.
15 menit berlalu
Becca keluar dari kereta, dan langsung mencari pintu keluar Exit E, dengan terburu-buru.
Ia harus mengejar waktu yang sudah menunjukan jam 2 siang, untuk mencegah restoran yang akan tutup pada jam 4 sore.
"Sial! Coba jika tadi si Randi tidak membuatku memikirkan nya, pasti aku sudah berada di Hong Liem food center."
Becca berlari memasuki gedung yang berbentuk sama seperti mall di Jakarta, untuk mencari food court tersebut.
Sesungguhnya, food court itu buka dari jam 7 pagi hingga jam 9 malam. Tapi makanan yang Becca cari akan tutup sekitar jam 4 sore, sangat membingungkan, ya.
Pantas saja disebut makanan unik yang harus dicoba di Singapore, "ini dia!"
Nafas nya terengah-engah, namun hatinya sangat lega saat mengetahui toko ini belum tutup, yang padahal jam sudah menunjukkan jam 4 kurang 15 menit.
"Nyasar di negara orang, sangat tidak menyenangkan!" Batin Becca, seraya mengatur nafasnya.
Ia sangat kelelahan setelah mencari ke dua lantai food court tersebut, demi satu porsi makanan unik ini.
"Hai, bisa aku memesan ini?" Pelafalan inggris melayu Becca yang tergolong bagus, membuat si penjual tidak kesusahan untuk memahami nya.
"Sorry, miss. Untuk hari ini kami sudah menyelesaikan pesanan, sebagai gantinya kami akan memberikan ini untuk perjuangan mu." Ucap wanita paruh baya dengan celemek di tubuh nya.
"Oh, oke thx." Tangan Becca bergetar saat mengambil gelas dari wabita tersebut.
Cekrek
"Ini adalah makanan unik yang tadi aku pamerkan di siaran langsung, tidak terlihat ya? Memang benar.
Karena makanan nya sama sekali velum aku coba, karena toko tersebut telah close ordee. Mengesalkan bukan?
Tapi sebagai gantinya, aku di berikan minuman coklat banana, dari penjual nya." Tulis Becca, untuk postingan feeds sosial media nya.
Setelah mengumpulkan tenaga kembali, ia langsung meninggalkan food court tersebut untuk ke destinasi makanan unik lainnya.
Dengan senyuman yang kembali terpancar pada wajah cantiknya, serta kesiapan Becca untuk ditolak di tempat selanjut nya.
Sial...
Hari ini semesta tidak mengundahkan semuanurusan Becca. Ia dipersulit dengan maha pencipta. Entah apa alasannya.
Padahal, Becca sudah melakukan semua perbuatan baik. Namun, kenapa nyatanya semua urusannya tidak berjalan dengan mulus, seperti para kaki model yanb berjalan di cat walk.