Both of Them

1151 Kata
Becca berjalan menyusuri jalan Florence dengan sengaja, "Haii miss, kita temenin yaa." Dua orang pria itu langsung mengapit tubuh Becca. Ia tidak menjawab apa-apa selain menatap mereka dengan tajam, dengan harapan kedua pria itu takut padanya. Karena cara inilah yang Becca rasa mampu, dengan berbekal pengalaman yang sama di Jakarta. "Uwww, tatapan mu boleh juga." Goda pria bertopi converse. Membuat Becca berdecih, dan mengusap dagunya yang barusan dicolek, "Kau tau norma kesopanan pada negeri ini sangat ketat kan? Aku mampu berteriak dengan sangat keras, hingga semua orang datang untuk mengerubungi kalian!" Becca sudah mulai naik pitam, hingga mengancam mereka berdua. "Coba saja, silahkan! Kalau kau mau membuang suara indahmu itu di jalan sepi seperti ini." Ucap pria yang satu lagi, sambil tertawa geli. Naas, Becca baru menyadari bahwa tindakan nya salah. Karena dirinya masih sangat minim dalam mengetahui keadaan jalan kota ini. "Oh kalau begitu, biar aku habiskan saja tenagaku, untuk menghajar kalian! SEKARANG!" Becca menekankan kata terakhir nya, dan bersiap memasang kuda-kuda taekwondo yang sudah ia pelajari. BUGH BUGH Becca meninju perut masing-masing pria, dengan tenaga penuh yang ia miliki. Namun bagi seorang pria, tonjokan nya terasa seperti kelitikan yang hanya mampu membuat tawa nya pecah. "Giliran kami ya..." Pria berjanggut tipis itu bersiap, hingga akhirnya. BUGG Seorang pria memakai setelan jas, menendang nya dari belakang. Hingga pria tadi tersungkur ke lantai. "APA?!" Tanya pria berjas pada pria bertopi. "Hanya itu kemampuan kau?" Tanya pria bertopi. Dan pria itu langsun menghantam pipi nya dengan tinju keras nya. Hingha membuat Becca berteriak, "Kau tak apa?" Ia menahan kepala dari pria berjas. Hanya senyum yang dibalas oleh proa berjas itu, kemudian bangun kembali untuk memberikan pelajaran bagi pria bertopi tersebut. BUG BAMM POOM BUGH Mata Becca terbelalak sangat bulat, saat melihat betapa lincah serangan daripria berjas di depan. Padahal pria itu memakai pakaian yang membuat pergerakan nya sangat tidak nyaman, tapi kenapa dia mampu melakukan itu semua? Seperti hal biasa yang ia lakukan. "Apakah ia gangster?" Batin Becca bertanya-tanya. "Tidak mungkin, mana mungkin gangster memukul gangster juga." Batin Becca menjawab sendiri. "Ternyata kau yang sering menganggu wilayah saya." Ujar si pria sambil menanggal kam jas nya. "Tidak! Kami berdua baru melewati jalan ini, dan hanya iseng menggoda wanita itu." Pria bertopi memberikan sejumlah alasan, dengan tangan yang menahan darah segar yang keluar dari hidung. "Benar kan! Dia adalah gangster, bukti nya dia menyebutkan bahwa ini adalah wilayah nya." Becca kembali merubah keputusan nya. "Kalian tunggu di sini! Satu langkah mundur dari tempat kalian, akan aku habiskan." Selesai memerintah, ia langsung menoleh pada Becca yang terlihat kebingungan. "Apakah sekarang kau mau dibantu olehku?" Mendadak suara nya berubah menjadi sangat lembut pada Becca. "Siapa dia? Kok sok kenal dengan ku?" Gumam Becca dalam hati, seraya meraih tangan itu untuk membantu nya berdiri. "Randi, bisa panggil aku dengan nama itu." Perkataan itu membuat Becca mengerutkan dahi, karena kebingungan. Pria yanh bernama Randi ini, seolah membuat Becca terperangkap dengan kesan pertama nya. Dan Randi juga berbicara seolah sudah pernah bertemu dengan Becca, tapi Becca sama sekali tidak mengenal Randi. Bahkan wajah nya, yang terlihat seperti blasteran membuat nya semakin asing. "Cepat kalian minta maaf pada gadis ini!" Randi memerintah kembali. Kedua pria gangster itu, langsung membungkuk pada Becca dan meminta maaf karena telah mengganggu nya. Becca berdecih, seraya memalingkan wajah. Membuat senyum tipis Randi terlihat. "Kalian boleh pergi!" Setelah ucapan ini terlontar, kedua gangster tersebut langsung membalikkan tubuh dan berlari menjauhi Randi dan Becca. Sementara Becca masih setiap berdiri di samping Randi dengan kikuk. "Thank you" Kata Becca singkat. "Aku antar ke tempat tinggalmu." Becca sangat terkejut, hingga menatap Randi dengan dalam. Pasal nya, respon dari Randi barusan terdengar sangat agresif. Atau mungkin Becca yang menganggap nya lebih, "Tidak usah, aku bisa pulang sendiri." Tolak nya. Namun dengan cepat, Randi langsung menggapai tangan Becca dan mengajak nya berlari. "HEYYY!" Pekik Becca Senyum jahil Randi terlihat kembali, tanpa menghiraukan teriakan-teriakan dari Becca. ** "Kenapa ke sini? Aku kan bilanh ke Florence Apartment." Kata Becca menoleh pada Randi. "Im Hungry, Rebecca. Kau tidak kasihan dengan saya yang tadi membelamu?" Randi berhasil mengunci Becca, agar tidak membantah ucapan nya. Suka tidak suka, mau tidak mau Becca menurut denhan Randi. Karena dirinya berhutang budi karena tadi. "Kau memutar bola matamu?" Tanya Randi dengan tegas. Membuat Becca terkejut, "Memang kenapa? Ini mataku, maka aku bebas melakukan nya!" Kali ini dirinya tidak melunak pada Randi. DRAP Becca keluar dari mobil sedan mewah Randi, dan kembali dikejutkan oleh restoran yang sangat mewah di depan nya. "Apa aku mau diajak fine dining, kah?" Gumam nya dalam hati. Ia langsung membuka mbanking nya, untuk melihat saldo tabungan nya. "Oke, Rey sudah mentransfer gajiku." Becca kembali percaya diri, dan langsung memasukin restoran tersebut tanpa menunggu Randi. "Dia meninggalkan ku?" Cibir Randi, seraya menutup pintu mobilnya. Randi memasuki restoran tersebut, dan langsung disambut oleh semua pelayan di dalam nya. Membuat Becca menoleh kembali pada Randi di belakang, "Oh god! Apa orang itu sangat berpengaruh di negara ini?" Randi menyusul Becca yang sedang melipat kedua tangan nya, sambil mengembangkan senyum nya. "Kali ini kau dimaafkan." Ujarnya singkat, membuat Becca kembali kebingungan. Setelah mereka berdua menemukan tempat duduk, Becca langsung membuka ponsel nya agar tidak kikuk dengan Randi. "Heem, kau bukan orang asli sini kan?" Randi memulai percakapan, karena tidak kuat menahan rasa penasaran nya. Mendengar pertanyaan itu, membuat Becca menaruh ponsel nya ke dalam tas, "Aku perantau, dari negeri dengan banyak kepulauan." Balas Becca sambil menempelkan tangan pada dagu nya. Seketika kepala Randi mendekat pada Becca, akibar balasan nya tadi. "Indonesia?" Tanya Randi, untuk memastikan. "Heem--" "Enjoy your meat." Ujar pelayan seraya menaruh dua porsi menu yang sudah dipesan oleh Becca dan Randi. "RIYAN?" "BECCA?" Mereka saling beradu tatap, seakan tidak percaya akan dipertemukan kembali. Randi yang merasa tersisihkan, karena Becca yang terus mengobrol dengan Riyan, yang bernotabene adalah karyawan nya. "Bagaimana bisa, dia tidak menoleh pada saya?" Gumam Randi pelan. Namun telinga Riyan yang panjang, seperti kelinci membuat ia mendengar gumaman itu. "Sorry, mr Randi. Saya tidak bermaksut untuk menganggu pertemuan anda." Jelas Riyan yang langsung berpamitan pada Becca untuk kembali bekerja. "Kau kenal deng--" "Kau kenal dengan Riyan?" Becca memotong perkataan Randi yang belum selesai. Membuat nya memutarkan bola matanya dengan malas, sebelumia menjawab pertanyaan Becca. "Dia salah satu pekerja paruh waktu, dari karyawan ku." Jelas Randi sambil menyeruput wine nya. Mendengar penjelasan Randi, membuat Becca berfikir bahwa Randi adalah seorang yang sangat berkuasa. "Kau kenapa merantau?" Setelah menyecap wine nya, Randi bertanya kembali pada Becca yang sedang memakan pasta aglio lio. "Aku mau mencari kerja negara ini, karena aku baru saja lulus dari fakultas ekonomi dan bisnis." Ia menjelaskan semua itu, dengan pasta yang masih memenuhi mulut nya. Karena Becca rasa, Randi mungkin bisa memberitahu informasi yang diinginkan oleh nya. "Oh." Randi membalas dengan singkat, dan meneguk wine nya kembali. Dan Becca sama sekali tidak ambil pusing, dengan respon Randi seperti itu. Karena ia merasa bahwa masih banyak orang penting seperti Randi yang membutuhkan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN