"Guys, ada yang mau jastip barang-barang lucu di sini gak?" Ujar Becca yang sedang melakukan siaran langsung di sosial media nya.
"Mau dong, Kak Becc"
"Kosmetik dan skincare juga gak, Kak?"
"Sneakers, Kakkk"
Semua followers Becca memenuhi kolom siaran langsung, hingga membuat Becca kewalahan.
"Tenang, gaiss. Semua nya pasti aku posting yaa. Tapi buka di akun ini, pada tau kan akun yang manaa???" Antusias Becca yang tidak kalah dari para followers nya.
Lagi-lagi, Engange antara Becca dengan followers terjalin dengan sangat mulus, hingga membuat Rey yang sedang menonton dari Jakarta bangga pada Becca.
"Okayy deh, sampai sini aja yaa. Jangan lupa pilih barang kalian yaa... See youu" Ia mengecup layar ponsel nya untuk memberikan kecupan sayang untuk para followers nya, yang sudah menemani dirinya selama ini.
Setelah itu, ia langsung merebahkan tubuh nya ke ranjang karena rasa letih nya.
"Kemana lagi ya..." Batin nya bertanya-tanya.
Tubuh nya sudah sangat lelah, setelah mengelilingi Bugis untuk wisata kuliner.
Tapi hati Becca, belum puas dan letih. Seolah meronta-ronta untuk membuat otak memerintahkan untuk berjalan-halan kembali.
"Orderan kau udah banyak ini! Cepat bangun dan jalan, ms Becca." Kikihan Becca terdengar sangat manis, saat membaca pesan dari Rey, yang seolah memburu karena kebanjiran order.
Rebecca merupakan salah satu imfluencer yang terkenal dengan keramahan nya.
Dan Becca juga mempunyai penampilan yang sederhana untuk sekelas influencer atau anak orang berada.
Namun dirinya juga sama sekali tidak mau, bergaya dengan berlebihan yang setiap saat memakai baju branded serta barang-barang mewah.
Dirinya sudah pernah mengalami kesusahan, saat perusahaan papah nya bangkrut. Dari situlah Becca belajar, apa arti cukup untuk dirinya sendiri.
"Taxi!" Ia memanggil taxi yang menghampiri nya.
DRAP'
"Olive young, sir." Ucap Becca pada supir .
"Baik, miss." Balas singkat si supir, yang langsung menginjak gas nya.
Cekrek cekrek cekrek.
"I love Spore, so much." Tulis Becca untuk caption fotonya.
Belum lama ia mengunggah beberapa foto, akan tetapi kolom komentar nya seolah penuh dengan banyak komentar yang mengatakan sama, yaitu "Cantik sekali, Kak Becca."
Mungkin terdengar narsistik, jika dirinya mengucapkan nya.
Tapi saat Becca bercermin, ia mengakui itu.
Drttt drttt drtttt
"Hallo" Ucap Becca saat menerima panggilan dari nomor tidak dikenal.
"Dengan Rebbeca Hardinata?" Suara lembut dari wanita itu seolah membuat Becca getir, karena takut.
"Iya, ada apa ya?"
"Begini, Bu Rebbeca. Saya ditugaskan oleh Bapak Rudi, agar memantau pengeluaran Ibu, dan Ibu juga diminta oleh Pak Rudi agar membuat laporan pengeluaran setiap bulan nya."
Mendengar penjelasan dari wanita itu, membuat Becca memutar bola matanya dengan malas.
Karena feeling nya terbukti, bahwa Rudi tidak akan melepas Becca begitu saja.
Buktinya, Rudi masih menyuruh salah satu pegawai nya untuk memantau pengeluaran Becca, karena takut jika anak sulung nya hanya akan menghambur-hambur kan saja uang yang ia berikan.
Padahal, seorang Rebecca masih bisa hidup tidak kekurangan tanpa uang dari Rudi.
"Begini saja, Bu. Tolong sampaikan pesan saya pada Bapak Rudi yang terhormat, bahwa saya akan mentransfer semua uang nya kembali, agar saya tidak direpotkan seperti ini. Terima kasih." Jelas Becca seraya menekan tombol merah dengan emosi yang berusaha ia tahan.
**
Becca terperangah dengan surga dunia bagi para wanita.
Olive young, perusahaan besar yang berasal dari Korea Selatan yang menjual semua produk perawatan wajah hingga makeup.
Dengan berbagai macam brand, harga, dan ukuran. Membuat para gadis menghabiskan banyak uang dan melupakan betapa sulit mendapatkan nya.
"Hallo, ada yang bisa saya bantu?" Seorang gadis berkisar usia 17-an mendekati Becca.
Tampak nya gadis itu adalah salah satu staff dari store ini, karena ia memakai rompi bewarna hijau muda dengan gradasi merah muda yang sangat identik dengan Olive Young.
"Hallo, tidak ada. Saya ingin berkeliling sendiri." Balas Becca dengan senyuman indah nya.
Gadis itu langsung memberi jalan pada Becca, yang merupakan pelanggan nya.
Sedangkan Becca yang masih berjalan-jalan, tanpa mencari produk-produk permintaan dari para followers nya.
Karena dirinya masih sangat terkesima dengan kerapihan tatanan produk nya, terlalu indah untuk dipandang.
BRUGH
"Sorry!"
Becca terjantuh ke lantai, "Tidak apa, lain kali tolong hati-hati."
Ia masih menepuk-nepuk jeans nya, untuk menghilangkan debu lantai yang mungkin tertempel.
"Saya bantu berdiri." Pria itu mengulurkan tangan kanan nya pada Becca.
Namun dengan cepat Becca menepis nya, karena sangat canggung bila ada orang asing yang menyentuh nya.
"Tidak apa. Aku baik-baik saja." Ucap Becca setelah berhasil berdiri.
Ia tersenyum pada pria di depan nya, dengan maksut beramah tamah.
Namun semua itu tidak diindahkan oleh pria tersebut, yang langsung meninggalkan dirinya setelah tahu Becca baik-baik saja.
"Whatheheck?!" Becca mencibir nya dari belakang.
Sampai akhirnya ponsel Becca berdering kembali, menampilkan nama Rudi yang memanggil Becca.
TUT
Dengan cepat ia me-riject telfon nya, karena ia tidak mau merusah mood nya yang yang sedikit berubah, akibat ulah pria tadi.
Ia tidak mau menyianyiakan surga yang ada di depan matanya kini.
Becca membuat notepad di ponsel nya, untuk melihat produk apa saja yang harus ia beli.
Sesungguh nya Becca tidak berniat benar-benar membuka jastip (jasa titip) para followers nya, karena mengingat ongkos kirim yang akan ditanggung akan sangat mahal.
Namun ternyata, para followers nya sangat gila dalam berantusias dengan bercandaan nya.
Mungkin karena Olive Young, tidak membuka store di negara nya, yang mengakibatkan antusias mereka yang sangat besar.
Membuat Becca merasakan senjata makan tuan, "Wheres powder lotion?"
"Powder lotion merk ini?" Seketika ada tangan laki-laki yang menyodorkan produk yang sama persis dengan gambar yang dikirimkan oleh Rey.
"Ya! Thank you." Ujar Becca sambil mengambil produk tersebut.
Dan pria itu membalas senyum Becca, seraya melihat kepergian Becca yang semakin lama menjauhi dirinya.
"Wow! Olive young punya pelayan cowok." Batin Becca, yang masih terkesima dengan pria tadi.
Setelah menyelesaikan pencarian nya, Becca langsung bergegas ke kasir untuk membayar semua pesanan nya.
"Thxyou yaaaa" Kata Becca pada salah satu staff yang membantu membawa keranjang nya.
Becca menunggu semua barang terscan, hingga ia pusing sendiri melihat tangan dari si kasir yang tidak henti-henti bergerak.
"Borong, yaaa?"
Becca menoleh karena mendengar ada suara yang mengajak nya bicara.
"Aaa tidak, ini semua titipan." Bibir nya bergetar saat membalas ucapan dari pria yang tadi membantu nya di rak powder lotion.
Tenggorokan nya mendadak kering, akibat pria tersebut.
"Owww, sini aku bantu." Ujar pria tersebut sambil memasukan beberapa paper bag besar ke trolley Becca.
"Thx" Balas Becca dengan singkat, karena sangat gugup.
"Kau tinggal dimana?" Pria itu kembali memulai percakapan, ketika menunggu taxi datang.
"Florence Apartment, kau?" Balas Becca, yang saat ini sudah mulai bisa mengatasi rasa canggung nya.
"Aku hanya tinggal di rofftoop prince, yang merupakan tempat tinggal para kaum buangan di negeri sini." Kikih pria tersebut, hingga membuat tangan Becca menepuk bahu nya.
"Eii, sama saja. Tidak ada kaum buangan di negeri yang super maju seperti ini. Jika kau main ke negaraku, pasti kau yang sangat berkecupan. Jadi, harus selalu bersyukur." Jelas Becca, yang mendadak menjadi seorang motivator.