“Te.. ra.. pi,” Gumam Frans menggunakan lidahnya yang sudah mampu ia gerakkan meski terasa sangat kaku. Ia membenci ini karena ia jadi kesulitan berbicara dengan Nana. Namun ia segera menoleh saat sebuah tangan lembut menggenggam tangannya. Nana tersenyum lembut pada Frans, “Terapi. Tentu saja kau membutuhkan itu. Aku sudah bilang kau koma selama hampir dua minggu. Otot-ototmu itu sudah tidak keras lagi,” ia menekan pundak Frans dengan jarinya lalu tertawa kecil. Tentu saja ia hanya bercanda. Mungkin butuh beberapa bulan bermalas-malasan untuk membuat semua otot keras itu menjadi lunak. Meski Nana tertawa, Frans tahu bahwa gadis itu merasakan kegundahan di dalam hatinya. Ya, Frans kesulitan menggerakkan semua anggota tubuhnya. Ia bahkan berbicara layaknya anak berumur dua tahun. Ia yaki

