“Yah.. Aku tidak mensuyukuri itu sama sekali,” Gumam Nana pelan. Meski begitu, ucapannya di dengar oleh Frans dan membuat pria itu tertawa geli. “Lalu, apa kau mengenal orangtua kandungmu?” Tanya Frans lagi sebelum menerima suapan Nana. Pertanyaan itu memberikan rasa sakit singkat yang seakan meremas jantung Nana. Meski Nana sudah terbiasa mendapatkan pertanyaan serupa dari orang-orang yang baru saja mengetahui bahwa ia adalah anak yatim piatu, namun ia tidak pernah terbiasa dan terus merasa terganggu. Nana berdehem untuk mengembalikan dirinya sendiri dari lamunan. Ia menggeleng singkat, “Kau harus cepat mengunyah rotinya. Tempat ini sudah mulai ramai.” Frans melirik ke sekeliling sekilas, “Memangnya kenapa? Mereka tidak mengganggu kita, kan? Apa aku perlu mengosongkan tempat ini agar

