Bagian Tiga Puluh Dua

802 Kata

“Cepet banget sih main ke Jakartanya.” ucap mama sambil mengoleskan selai kacang di roti papa. “He’eh iya, tan. Habis gimana, Syifa sama Bimo kan gak bisa cuti lama-lama.” “Ngomong-ngomong soal Bimo, dia sudah sampe mana sekarang?” tanya papa. “Katanya sih udah….” belum selesai Syifa bicara, seseorang muncul dari balik pintu. “Assalamualaikum, Rania.” salam Bimo. “Noh, pangeran lo udah dateng.” ledekku pada Syifa. “Waalaikumsalam, masuk nak Bimo.” sambut mama. “Yuk sini sarapan bareng, belum sarapan kan pasti.” ajak papa. “Hehehe si om bisa aja, udah sarapan sih sebenernya di hotel, tapi kalau diajakin sarapan lagi ya siapa yang nolak hehehe.” Bimo segera mengambil nasi goreng yang sudah disediakan. “Masih yakin Syif mau pacaran sama dia?” aku melirik Bimo, yang dilirik cuek saja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN