Alex dan Jihan masih berada di dalam mobil. Setelah beberapa saat melakukan perjalanan kini mereka sudah sampai di depan gedung Universitas. Alex segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Jihan.
Jangan tanya bagaimana perasaan Alex saat ini, karena inilah yang selama ini di tunggu oleh laki-laki muda itu, yaitu bisa bertemu dan berkenalan langsung dengan gadis yang telah mencuri hatinya saat pandangan pertama.
"Terima kasih,Assalamualaikum." ucap Jihan saat keluar dari mobil Alex, lalu gadis berhijab itu berjalan meninggalkan Alex yang masih tersenyum melihat kepergian Jihan.
"Jihan." ucap Alex lirih, sambil tersenyum saat melihat Jihan dari kejauhan.
Di dalam ruang kelas Wilda sudah duduk di atas kursi miliknya. Gadis berhijab sahabat Jihan itu sibuk dengan ponsel miliknya hingga tak melihat Jihan duduk di depannya.
"Assalamualaikum Wilda," ucap Jihan pada sahabatnya saat ia duduk di depan wilda.
"Wa'alaik ... Jihan, kapan datangnya? Kok aku tidak tahu ya?" Kata Wilda, ia sangat terkejut saat melihat sahabatnya sudah duduk di depannya.
"Jawab dulu salamku Wilda, baru nanti aku jawab pertanyaanmu." Kata Jihan sambil tersenyum pada sahabatnya yang suka bicara semaunya.
"Hihihi, iya deh, iya, Wa'alaikum salam Jihan sahabatku yang cantik, manis imut dan..." ucapan Wilda terhenti, gadis itu tersenyum geli melihat Jihan sahabatnya.
"Dan ... Dan apa Wilda?" tanya Jihan penasaran.
"Dan jomblo, hihihi," Wilda tersenyum geli saat melihat wajah Jihan yang memerah akibat malu dan marah.
"Ih, Wilda, awas ya kamu..." tangan Jihan menggelitik perut Wilda sahabatnya.
Mereka berdua tertawa bersama tanpa memperdulikan teman yang ada di ruangan kelas itu.
*****
"Mau pulang bareng?"
Deg!
Jantung jihan serasa berhenti saat mendengar suara yang tidak asing lagi baginya. Ketika Jihan menoleh kebelakang ternyata Alex sudah berada tepat di belakangnya.
Sedangkan Wilda melihat Alex tanpa berkedip sedikitpun, gadis itu seakan tak percaya Alex anak baru yang super tampan berwajah blesteran Indonesia Belanda, bertubuh tinggi dan berhidung bangir itu menghampiri mereka sekarang.
Jihan akan menjawab tidak dan menolak tawaran Alex namun ternyata Wilda sahabatnya sudah terlebih dahulu berkata. "Mau kak Alex, aku ikut juga dong." Sambil cengar- cengir.
"Oh iya kak Alex, kenalkan namaku Wilda, sahabatnya Jihan, salam kenal ya..." lanjut Wilda sambil menjabat tangan Alex.
Laki-laki muda itu hanya tersenyum melihat tingkah Wilda sahabat Jihan, yang Alex perhatikan hanya Jihan yang masih menunduk malu karena diperhatikan olehnya.
"Kalau begitu ayo kita pulang bareng." ucap Alex ramah sambil membukakan pintu mobil belakang untuk Jihan dan Wilda.
Mereka- pun masuk kedalam mobil itu warna hitam milik Alex.
"Wah ... kak Alex ternyata orangnya baik ya tidak sombong, ganteng lagi."
Ucap wilda sambil cengar- cengir anak itu memang selalu ceplas ceplos kalau berbicara.
Jihan hanya memandang wilda yang ada di sampingnya.
"Masak sih, dari mana kamu tahu kalau aku baik." Jawab Alex sambil menyetir dan tersenyum ramah.
Sesekali Alex mencuri pandang pada Jihan yang duduk di belakang dengan kaca kecil yang ada di depannya.
Saat melihat Jihan masih saja diam kini Alex mulai bertanya pada Jihan.
"Jihan kok kamu diam saja apa kamu sakit?"
"Aku tidak sakit kak alex." Jawab jihan menatap Alex yang sedang menyetir di depan, kini sejenak pandangan mata mereka bertemu dari kaca depan.
"Wilda, rumah kamu dimana? aku akan mengantar kamu dulu ya?" tanya Alex pada Wilda.
"Iya kak Alex, itu di depan lurus aja terus bentar lagi sampai kok." jawab Wilda, gadis itu selalu tersenyum riang tanpa ada beban.
Mobil milik Alex terus melaju dijalan raya. Kini Wilda sudah sampai didepan rumahnya, dia mulai turun dari mobil Alex.
"Aku duluan ya Jihan, kak Alex terima kasih banyak sudah mau mengantar pulang." kata wilda sambil melambaikan tangannya pada Alex dan Jihan yang masih berada si dalam mobil.
Jihan dan Alex yang masih di dalam mobil juga melambaikan tangan mereka pada Wilda.
Didalam mobil kini hanya ada Jihan dan Alex. Jihan masih duduk di belakang sedangkan Alex masih duduk di depan.
Tiba-tiba saja Alex turun dari mobil dan membuka pintu belakang mobilnya.
"Jihan, bisa pindah ke depan?" pinta Alex.
"Em, memang kenapa kak?" tanya Jihan bingung.
Alex tersenyum ramah saat mendengar ucapan Jihan. "Kalau kamu duduk di belakang, nanti di kira saya supir kamu lagi,"
"Oh, i-iya kak Alex," karena merasa tidak enak, Jihan kini turun dan pindah duduk di depan bersama dengan Alex.
Mobil hitam milik Alex mulai melaju di atas jalan raya.
"Jihan rumahmu di mana?" Alex memulai bertanya.
"Rumahku masih jauh kak Alex."
Mendengar jawaban jihan, Alex tersenyum senang, karena mereka akan bisa mengobrol lama di mobil.
"Kamu sudah lama ya berteman dengan Wilda?" tanya Alex basa- basi.
" Iya, aku sama Wilda berteman dari SMA dan sekarang kita satu kampus jadi kami selalu bersama."
"Wah ... senang ya mempunyai sahabat dekat bisa curhat- curhat ya?"
Alex senang karena ia sudah mulai akrab dengan Jihan, bahkan sekarang Alex lihat Jihan sudah tidak canggung lagi dengannya.
"Gang depan itu gapura warna merah berhenti ya kak, rumahku di situ." Jihan menunjuk ke gang yang ada di depan.
"Oh iya, oke." kata Alex sambil memarkirkan mobilnya.
Jihan turun dari mobil Alex dengan perasaan senang, namun hatinya terasa berlomba- lomba ingin keluar.
"Terima kasih kak Alex, sudah mau mengantar jihan pulang. Assalamualaikum." ucap jihan dengan wajah bersemu merah yang tidak bisa di Sembunyikan lagi.
Alex yang melihat wajah merah jihan malah semakin gemas.
Jihan mulai melangkah pergi tapi tiba-tiba Alex turun dari mobil dan memanggil dirinya.
"Jihan, tunggu!"
Suara Alex membuat Jihan berhenti melangkah. Gadis itu kini memutar tubuhnya ke belakang.
"lya kak Alex, ada apa?" tanya Jihan penasaran, kenapa ia di panggil oleh Alex.
"Boleh minta nomer ponsel nya?" kata Alex sambil memberikan ponsel milik nya pada Jihan.
"Oh, iya boleh kak, ini." setelah selesai mengetik Jihan memberikan kembali ponsel pada Alex.
"Tanks you, Jihan," Alex merasa sangat senang karena bisa mendapatkan nomor ponsel gadis impiannya.
"Iya, sama-sama, permisi Assalamualaikum," ucap Jihan setelah itu ia berjalan kembali meninggalkan Alex yang masih menatapnya.
"Assalamualaikum, Kenapa aku baru dengar kata itu? Apa mungkin itu bahasa orang Indonesia yang aku tidak tahu? Tapi Oma dan saudara lainnya yang ada di Indonesia tidak pernah mengucapkan kata itu? Nanti aku tanya sama Oma saja," Alex bicara sendiri setelah kepergian Jihan. Laki-laki muda itu masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Jihan yang beberapa waktu lalu ia potret di taman kini ia bisa berkenalan langsung dan bisa mendapatkan nomor ponselnya.
Alex terus memandangi punggung gadis cantik berhijab itu, sampai Jihan memasuki sebuah rumah yang ada di gang tersebut. Alex tersenyum terus- menerus, dia merasa sangat senang bisa mengenal jihan lebih dekat seperti ini.
*****
Alex sudah sampai di depan rumah keluarganya. Tepatnya rumah Oma Alex yang ada di kota Jakarta.
"Oma ... Alex pulang..." ucap Alex saat ia berada di dalam rumah.
"Maaf Tuan muda, Oma sedang pergi keluar," jawab asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu.
"Oh oke- oke," kemudian Alex pergi menaiki anak tangga menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Alex sangat senang dan tidak sabar lagi ingin segera menghubungi Jihan dan berbalas pesan dengan gadis impiannya.
Setelah sampai di dalam kamarnya Alex menaruh tas dan ponselnya di atas nakas. Sejenak laki-laki muda itu menatap layar ponselnya sambil tersenyum. "Kenapa aku selalu memikirkanmu Jihan, lebih baik aku mandi dulu." ucap Alex. Lalu laki-laki itu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Butiran air dingin yang membasahi tubuh laki-laki itu membuatnya lebih segar.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian kini Alex mulai duduk di samping tempat tidurnya dan mulai menatap layar ponselnya.
Alex mulai ragu, ia sangat ingin menghubungi Jihan namun ia belum berani untuk menghubunginya sekarang.
"Kenapa diriku segugup ini sekarang? Apa yang terjadi denganku?" Alex bicara sendiri di kamarnya.
"Jihan, kenapa kamu membuatku gila?" Alex menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mata laki-laki itu masih saja menatap layar ponselnya yang tertulis nomor Jihan di aplikasi hijau itu.
Untuk sejenak laki- laki muda itu tersenyum sambil menatap foto gadis cantik yang memakai hijab berwarna merah muda itu.
"Cantik sekali kamu Jihan, kamu beda dengan gadis- gadis cantik yang pernah ku kenal, kecantikanmu berbeda," ucap Alex, lagi- lagi ia bicara sendiri di dalam kamarnya.
*****