Part 05.

1006 Kata
Alex masih bingung dengan perasaannya. Entah kenapa saat laki-laki itu dekat dengan Jihan ia merasa senang dan merasa nyaman sejak pertama kali bertemu. Dengan sedikit ragu Alex mulai mengirimkan pesan untuk Jihan lewat aplikasi hijau. Alex mulai mengetik di ponselnya. [Selamat sore Jihan, sedang apa?] Pesan itu kini sudah terkirim namun lagi- lagi Alex merasa aneh dengan perasaan yang ada di dalam hatinya. Sejenak ia mengingat saat Jihan selalu mengucapkan kata Assalamualaikum sebelum pergi. "Assalamualaikum, apa itu? Artinya apa? Kenapa akusenang sekali mendengar kata itu?" Alex merasa heran dengan dirinya sendiri. Entah kenapa Alex ingin sekali mendengar kata itu lagi dan lagi. Apa yang terjadi dengan dirinya sekarang? Kenapa ia selalu mengingat gadis cantik itu. "Apa saya sekarang sudah gila? Oh Jihan kamu sudah membuatku menjadi gila sekarang." Alex meracau sendiri di dalam kamarnya. Kemudian Alex berbaring menatap langit-langit kamarnya, laki-laki muda itu mengingat saat ia dan Jihan berada di dalam mobil miliknya. Senyuman kini menghiasi wajah tampannya saat mengingat gadis cantik berhijab itu. Beberapa menit berlalu namun gadis pujaan hatinya belum juga membalas pesan yang dikirimkan olehnya. Alex merasa risau sekarang, karena laki-laki itu sudah sangat merindukan Jihan tapi pesannya belum juga dibalas. Alex menunggu dan terus menunggu sambil melihat ponsel miliknya beberapa kali. "Kenapa kamu belum membalasnya juga Jihan?" Setelah lama menunggu Alex merasa sedikit lelah. Tanpa Alex sadari ia tertidur masih dengan sangat nyenyak. ***** Sore hari Jihan sibuk membantu Ummi memasak di dapur. Gadis itu mengiris sayuran untuk dimasak sedangkan Ummi sedang menggoreng ikan. "Mi, nanti malam setelah solat isya jadi ke pengajian Akbar teman Ummi dan Abah yang ada di kecamatan sebelah itu ya Mi?" tanya Jihan pada Ummi yang masih sibuk menggoreng ikan. "Ya jadi dong Jihan, kan yang punya acara itu sahabatnya Abah, nanti Abah juga akan ikut mengisi acara pengajian di sana, jadi kita harus ikut." jawab Ummi. "Mi, Jihan di rumah boleh ya Mi?" Jihan berhenti memotong sayur dan berjalan mendekati Ummi- nya. "Memangnya kenapa kamu tidak mau ikut Jihan?" tanya Ummi penasaran dengan anak gadisnya yang paling kecil dan sedikit manja. "Jihan sedikit capek saja sih Mi, boleh ya Mi, Jihan di rumah tidak ikut." ucap Jihan sedikit manja pada Ummi, karena Jihan anak perempuan satu-satunya jadi sedikit manja. "Tidak boleh, kalau kamu tidak ikut ijin sendiri sama Abah," Kata Ummi sambil menaruh ikan yang sudah matang ke atas piring yang ada di meja dapur. "Kalau begitu Jihan ikut saja deh, dari pada harus ijin sama Abah," jawab Jihan dengan tersenyum yang di paksakan. "Kenapa kamu berbeda dengan kakak kamu Jihan, lihat kakak kamu, dia mandiri sejak kecil tidak manja seperti kamu, kamu di pesantren sebentar saja tidak betah minta pulang, sedangkan kakak kamu dari lulus sekolah dasar sampai sekarang dia kuliah tetap saja di pesantren, lah kamu manja sekali Jihan," Ummi mulai berceramah panjang lebar pada Jihan, sedangkan Jihan hanya mendengarkan dan tersenyum malu. "Ih Ummi kok gitu sih sama Jihan, iya- iya Jihan ikut pengajian Ummi," ucap Jihan cemberut. "Oh iya Ummi, Jihan lupa, tadi siang kakak mengirim pesan, katanya tiga bulan lagi lulus dan akan pulang ke rumah," lanjut Jihan. "Alhamdulillah, anak Ummi mau lulus, Abah pasti senang." Ummi tersenyum bahagia mendengar kabar dari anak sulungnya yang beberapa tahun ini mencari ilmu di tempat yang jauh. "Katakan pada kakak mu, Ummi kangen," lanjut Ummi sambil tersenyum. "Siap Mi, nanti Jihan sampaikan." jawab Jihan dengan semangat. Jihan dan Ummi melanjutkan acara masaknya. Setelah selesai mereka menyusun makanan itu diatas meja makan untuk nanti mereka makan malam. Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore. "Mi, Jihan mandi dulu ya," "Iya sayang, Ummi juga mau mandi sekarang." jawab Ummi Selesai membantu Ummi memasak. Jihan segera pergi ke kamarnya. Di dalam kamar, Jihan mulai mengambil handuk di dalam lemari dan menaruh di pundaknya. Senjenak Jihan menatap ponsel miliknya yang berada di atas nakas, namun ia mengurungkan untuk melihatnya. Jihan segera masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sudut kamarnya. Butiran air dingin yang keluar dari shower, kini membasahi seluruh tubuh Jihan. Untuk sejenak gadis itu merasa segar saat tubuhnya tersiram air. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Ternyata azan magrib sudah berkumandang. "Alhamdulillah sudah Azan." Jihan mengucapkan syukur saat mendengar suara Azan. Tok Tok Tok! Suara seseorang mengetuk pintu kamar Jihan dari luar. "Jihan, ayo solat berjamaah di Masjid!" ucap Ummi yang berada di luar kamar Jihan. "Iya Ummi sebentar." Jawab Jihan, lalu ia membuka pintu kamarnya dan melihat Ummi berdiri di depan pintu menunggu dirinya. Ummi dan Jihan berangkat bersama ke Masjid untuk solat berjamaah. Abah dari sore sudah berada di Masjid ini. Solat berjamaah dimulai, seperti biasa Abah Abdul yang menjadi Imam saat solat berjamaah. Semua orang merapikan saf solatnya saat Imam sudah berada di depan. "Allahu Akbar." ***** Di dalam kamar seorang laki-laki muda sedang tertidur dengan ponsel berada di tangannya. Menunggu seseorang menjawab pesan darinya memang melelahkan, mungkin itulah yang sedang Alex alami saat ini. Jangan tanya kenapa Alex selalu ingin bersama dengan Jihan? Karena laki-laki muda itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Ceklek! Suara seseorang membuka pintu kamar Alex. Oma Rika yang kini membuka pintu kamar laki-laki muda itu. Untuk sejenak wanita paruh baya itu menatap cucu kesayangannya dengan tersenyum. Lalu ia berjalan mendekati Alex yang sedang tertidur dengan nyenyak. Oma kini duduk di samping cucunya yang tertidur dengan menggenggam ponselnya. Oma mengambil ponsel itu dan menaruhnya di atas nakas. "Puji Tuhan untukmu Alex, Oma senang kamu betah berada disini." Wanita paruh baya itu mengusap kepala Alex dengan lembut. Bahkan ia sangat ingat dulu awal Alex datang ke Indonesia katanya mau di disini seminggu. Dan Oma tidak menyangka kalau beberapa hari kemudian Alex meminta untuk pindah kuliah di Indonesia. Secara mendadak dan tiba-tiba wanita paruh baya itu menuruti kemauan cucunya tercinta mengurus surat- surat yang di perlukan untuk kuliah di Indonesia. Walaupun mendadak untung bisa diatasi oleh wanita paruh baya itu. Apa yang membuat Alex betah berada di sini, wanita paruh baya itupun tidak tahu. Selesai melihat cucu kesayangannya, Oma pergi meninggalkan kamar Alex dengan senyuman bahagia, karena saat ini ada cucu yang menemani dirinya di usia tua ini. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN