BAB 5

1141 Kata
            Anita terdiam di belakang kemudi mobilnya. Dia sengaja datang lebih awal ke tempat perjanjian dengan Pak Abraham untuk merenung. Dia ingin memastikan sekali lagi, apa yang benar-benar dia inginkan. Anita tidak ingin salah mengambil keputusan karena ini adalah perjanjian jangka panjang. Mungkin butuh lebih dari 3 tahun untuk ‘mendewasakan’ anak-anak manja Pak Abraham.             “Hahhh...” Anita menghela nafas panjang.             Jika dia menerima tawaran Pak Abraham, dia bisa belajar di Asha group dan mendapatkan semua kelebihan sebagai Presdir. Belum lagi 10% saham Asha Group yang dijanjikan Pak Abraham. Dan dia juga bisa menggunakan resourse Asha Group untuk mengembangkan bisnis keluarganya. Triple untung baginya. Namun dia akan menghabiskan masa mudanya untuk berfokus pada Asha group dan keluarga Nofian. Belum lagi hal-hal negatif yang pasti akan datang menghadang jika dia menerima tawaran Pak Abraham.             Jika Anita menolak, dia memang bisa menikmati masa muda sesuai keinginannya. Namun dia akan kehilangan kesempatan untuk belajar dari Asha Group karena dia harus fokus mengelola bisnisnya.             “Hahhh...” Sekali lagi Anita menghela nafas panjang.             “Baiklah, memang menerima tawaran Pak Abraham yang lebih menarik bagiku. Semoga ini adalah keputusan yang tepat untukku.” Anita menetapkan hatinya dan beranjak keluar mobil menuju tempatnya bertemu dengan Pak Abraham.             Di salah satu ruangan di restoran tempat mereka bertemu. Abraham sudah menunggu kedatangan Anita. Dia senang karena tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan keputusan Anita. Dia tahu Anita adalah perempuan cerdas yang tahu mana yang baik dan buruk baginya. Dan terbukti, hanya dalam 1 hari dia bisa memutuskan hal sepenting ini. Abraham berharapjawaban Anita tidak mengecewakannya.             “Selamat siang, Pak.” Sapa Anita saat gadis itu memasuki ruangan VIP tempat mereka bertemu. Ruangan itu cukup luas dengan meja bundar dan beberapa kursi yang mengitarinya.             “Siang, Nak. Duduklah.”Jawab Abraham. Dia memberi isyarat pada pria berjas hitam yang sedari tadi berdiri di dekatnya untuk menarikkan kursi untuk Anita. Pria itu pria yang sama yang menunjukkan Anita ke kantor Abraham kemarin.             “Terima kasih.” Kata Anita pada pria itu.             “Saya sudah memesankan makanan untukmu. Tidak apa-apa? Saya memesan menu terbaik di restoran ini.” Kata Abraham.             “Tidak apa-apa, Pak. Saya bukan pemilih makanan.” Jawab Anita.             Abraham mengangguk mengerti. “ Jadi... Bagaimana nak? Kamu sudah mengambil keputusan?” Tanya Abraham.             “Sudah pak.” Jawab Anita tegas. “Saya menerima tawaran Bapak.” Lanjut Anita.             “Ah.. Syukurlah. Bapaksudah khawatir kamu akan meolak tawaran Bapak. Meski hanya pura-pura,menikah dengan orang tua seperti saya pasti akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi nak Nita.” Jawab Abraham dengan wajah tersenyum lega.             “Saya sudah mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya. Jadi saya tidak akan merasa tidak nyaman ataupun menyesal di kemudian hari. Karena ini adalah keputusan saya.” Jawab Anita.             “Baiklah. Kalau begitu kita bisa mulai menandatangai surat perjanjuan. Setelah ini kita diskusikan persiapan pernikahan. Meski hanya diatas kertas, kita harus pastikan semuanya meyakinkan agar semua orang percaya.” Kata Abraham.             “Baik, Pak.” Jawab Anita.             “Fery, berikan suratnya.” Kata Abraham pada pria berjas hitam ternyata bernama Fery itu.             Fery memberikan surat perjanjian yang sudah disiapkan sebelumnya kepada Anita. Sekali lagi Anita menyusuri kata demi kata dalam surat itu. Dia ingin memastikan sekali lagi setiap detialnya sebelum tanda tangan. Dia tidak ingin ada poin yang nantinya merugikannya kalau dia tidak membaca dengan teliti.Meskidia yakin, Pak Abraham bukanlah orang yang akan menjebaknya seperti itu.             Anita menandatangani surat perjanjian itu setelah memastikan semuanya benar. Lalu dia menyerahkannya pada Pak Abraham. “ Silahkan, tinggal Bapak yang tanda tangan.” Kata Anita.             Abraham menerima surat perjanjian itu. Dia menandatangani semua bagiannya dan memberikan dokumen tersebut pada Fery. “Baiklah. Dokumen sudah beres. Sekarang kita bicarakan tentang detail pernikahan?” Tanya Abraham.             Anita mengangguk dengan sopan. “Bagaimana rencana Bapak?” Tanya Anita.             “Saya berencana hanya akan membuat surat nikah saja. Saya punya kenalan orang dalam di KUA yang sudah siap memalsukan dokumen untuk kita. Jadi, kita tidak perlu melangsungkan ijab qobul yang sebenarnya. Tapi... Pasti akan ada orang yang menanyakan foto pernikahan. Jadi bagaimana sebaiknya menurutmu, Nak?” Tanya Abraham.             Anita tampak berpikir. Dia senang dengan rencana Pak Abraham. Jadi mereka tidak benar-bear menikah. Hanya dokumen palsu saja. Dengan begitu Anita tidak punya tanggung jawab sebagai istri. Dia juga tidak terikat pernikaha baik secara hukum maupun secara agama.             “Kita tinggal membuat foto seolah-olah kita sedang melangsungkan pernikahan kan pak. Tentu saja harus ekstra hati-hati. Kita harus memakai orang yang benar-benar bisa dipercaya.” Jawab Anita.             Abraham mengangguk. “Iya. Saya memang sudah memikirkan alternatif itu. Kalau begitu, apa kita bisa melakukan pemotretan di rumahmu? Karena kalau kita ke studio akan terlalu beresiko.” Kata Abraham.             “Tentu saja bisa pak. Orang tua saya sudah mengetahui hal ini dan mereka mendukung keputusan saya. Jadi tidak masalah jika melakukan pemotretan dirumah saya.” Jawab Anita.             “Baiklah, berarti masalah foto dan dokumen pernikahan sudah selesai. Apa orang tuamu juga sudah tahu kalau kamu akan tinggal di rumah saya setelah menikah?” Tanya Abraham.             “Sudah, Pak.” Jawab Anita singkat.             “Berarti semua sudah beres. Tinggal memperkenalkanmu pada kedua anakku.” Kata Abraham. Anita menghela nafas berat. Karena Anita tahu, kedua anak Abraham tidak akan menerimanya dengan senang hati. Mereka pasti akan membencinya.             “Iya, Pak.” Jawab Anita setelah jeda yang cukup lama. “Ngomong-ngomong, seperti apa keua anak Bapak?” Tanya Anita.             Abraham tersenyum dengan sangat teduh. Seakan sedang mengingat hal yang sangat berharga baginya. “Mereka sebenarnya adalah anak yang manis. Namun salahku yang salah membesarkan mereka berdua. Istri saya meninggal saat mereka berdua masih sangat kecil. Jadi saya berusaha memenuhi semua keinginan mereka tanpa terkecuali. Mereka sekarang menjadi anak yang manja dan tidak tahu bagaimana caranya berusaha. Mereka juga terlalu naif dan mudah dimanipulasi orang lain.             Anita mengerti maksud Abraham. Mencurahkan kasih sayang dengan cara yang kurang tepat memang bisa merusak anak. Seperti kedua anak Pak Abraham contohnya.             “Kapan rencananya Bapak akan memperkenanlkan saya dengan anak-anak Bapak?” Tanya Anita.             “Secepatnya.. Bagaimana kalau hari minggu ini?” Tanya Abraham. Anita menimbang-nimbang. Kalau hari minggu berarti dua hari lagi. Dia masih bisa menyiapkan mental untuk segala protes anak-anak Pak Abraham. Anita juga bisa menyiapkan jawaban untuk segala pertanyaan mereka.             “Baiklah, Pak. Bagaimana kalau minggu siang? Karena kalau minggu pagi saya biasanya menghabiskan waktu dengan kedua orang tua saya.” Jawab Anita.             Abraham tersenyum. “Kamu memang anak yang berbakti Anita. Anak muda lain pasti lebih senang menghabiskan waktu bersama teman-temannya ketimbang dengan orang tua mereka.” Kata Abraham.             “Orang tua saya sangat berharga bagi saya. Sudah sewajarnya mereka menjadi prioritas saya.” Jawab Anita.             Abraham mengangguk puas. Pilihannya memang tak pernah salah. “Saya akan menyiapkan semuanya untuk pertemuan di hari minggu siang. Sekretaris saya nanti yang akan memberi tahu detailnya lewat pesan singkat.” Kata Abraham.             “Baik, Pak.” Jawab Anita.             “Sekarang makanlah dulu sebelum pulang.” Kata Abraham. --to be continue--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN