Hari minggu pun tiba. Anita sudah berdandan dengan pakaian yang nyaman dikenakan namun masih terlihat formal dan sopan. Dia mendapat informasi dari sekretaris Abraham bahwa pertemuan hari ini akan diadakan di restoran di sebuah mall terkenal di kota A.
Anita sudah menyiapkan hati dengan apapun reaksi kedua anak Abraham. Anita hanya diberi informasi yang sangat minim tentang kedua anak Abraham. Yang anak pertama laki-laki, seumuran dengan Anita. Yang anak kedua perempuan, selisih 2 tahun lebih muda darinya. Dari umurnya saja Anita sudah membayangkan bagaimana reaksi mereka. Mana ada anak yang mau menerima perempuan yang seumuran dengannya menjadi ibunya?
“Anita..” Panggil Abraham begitu Anita terlihat di depan pintu ruangan VIP yang memang sengaja dibiarkan terbuka karena menunggu kedatangannya.
“Selamat siang..” Sapa Anita pada Abraham dan kedua anaknya yang duduk membelakangi pintu masuk. Anita belum bisa melihat wajah mereka.
Abraham memberi instruksi pada Anita agar duduk di sebelahnya. Anita menurut dan melenggang dengan anggun menuju kursi di samping Abraham. Anita langsung mencium tangan Abraham, dengan penuh hormat. Mereka harus berakting semeyakinkan mungkin agar tidak ada yang curiga dengan pernikahan mereka.
Anita terhenyak begitu dia duduk di hadapan kedua anak Abraham. Wajah itu tidak asing baginya. Barra. Dia memang sempat mendengar bahwa Barra adalah anak orang kaya. Namun dia tidak menyangka kalau Barra adalah anak dari keluarga Nofian. Keluarga paling berkuasa di kota A.
Anita segera menguasai ekspresinya. Dia harus tampil meyakinkan agar mereka percaya dengan pernikahan bohongan ini. Demi mengelabuhi musuh-musuh dalam selimut dipihak Abraham.
“Selamat siang.” Sapa Anita dengan senyum merekah indah pada Barra dan adiknya. Mereka yang belum mengerti dengan situasinya hanya membalas dengan tatapan sinis pada Anita. Kedua anak itu memang tidak mudah dekat dengan orang asing.
“Perkenalkan, ini Anita. Perempuan yang ingin Ayah kenalkan pada kalian. Calon ibu baru untuk kalian.” Kata Abraham yang sukses membuat kedua anaknya terkejut tidak percaya.
“Lelucon apa ini Ayah!!” Kata Barra dengan wajah penuh keterkejutan dan kemarahan. Bagaimana mungkin teman sekolahnya dulu menjadi ibunya? Dan bahkan itu Anita. Perempuan yang selama ini dianggapnya sebagai perempuan yang penuh kebanggaan. Meskipun Julia setiap hari menjelek-jelekkannya, Barra masih tetap menganggap Anita itu penuh kebanggaan dan percaya diri tinggi. Tapi ternyata penilaiannya salah. Ternyata benar semua perkataan Julia selama ini. Bahwa Anita itu wanita rendahan dan penjilat.
Melisa, adik Barra langsung menyiramkan gelas berisi jus miliknya pada Anita. Dia memandang Anita penuh kebencian. “DASAR w***********g!! MAU APA KAMU MERAYU AYAHKU!!!” Teriak Melisa penuh kemarahan.
“Melisa!! Jaga sikapmu.” Bentak Abraham yang tidak menyangka putrinya akan bersikap kelewatan seperti itu.
“Ayah sekarang bentak melisa demi w************n ini?!” Tanya Melisa masih dengan nada tinggi. Dia tidak terima Ayahnya yang selama ini selalu memanjakannya, sekarang membentaknya demi perempuan yang tidak jelas asal usulnya.
“Jaga bicaramu Melisa! Anita bukanlah perempuan sembarangan. Dia akan menjadi ibumu. Jadi bersikaplah yang sopan dan hormati dia.” Bentak Abraham. Dia merasa tak enak pada Anita yang harus menerima perlakuan seperti ini dari anaknya.
“Hah!! Ibu?! Siapa yang akan menerimanya jadi Ibu? Dia hanya p*****r yang menjadi simpanan Ayah. Selamanya kami tidak akan menyebutnya sebagai ibu!” Kata Barra dengan tatapan jijik pada Anita.
“Barra!!” Bentak Abraham. Dia sampai menggebrak meja karena marah mendengar Anita yang tidak salah apa-apa diperlakukan seburuk itu oleh anak-anaknya.
“Ayo pergi Mel, aku tidak tahan berada satu ruangan dengan orang rendahan.” Ucap Barra sinis sambil beranjak berdiri diikuti Melisa.
Anita tersenyum tenang. Dia sudah memperkirakan seperti apa mereka akan bereaksi. “Hati-hati di jalan ya anak-anak. Kita akan segera bertemu lagi.” Ucap Anita dengan suara riang dan senyum mengembang. Yang membuat Barra dan Melisa bergidik ngeri, tak percaya perempuan itu masih bisa tersenyum setelah semua yang mereka lakukan.
*****
“Kenapa wajahmu cemberut begitu sayang?” Tanya Julia pada Barra yang duduk di sebelahnya. Mereka sedang berada di pesawat menuju Dubai. Mereka akan berlibur sesuai keinginan Julia.
“Hahh...!! Kamu tidak akan percaya apa yang kualami tadi siang.” Jawab Barra. Moodnya benar-benar sedang jelek sekarang.
“Memangnya apa yang terjadi?” Tanya Julia tanpa minat. Dia tidak benar-benar peduli pada kehidupan Barra. Selama Barra tidak bangkrut, hal lain bukanlah masalah bagi Julia. Karena hanya kekayaan Barra lah yang menarik baginya.
“Ayah mau menikah lagi.” Kata Barra dengan suara yang sangat terlihat dia sedang menaha amarah.
“Apa?!” Tanya Julia. Ayah Barra yang dia kenal sangat loyal dan sederhana tiba-tiba mau menikah lagi? Bagaimana kalau nanti posisi Barra terancam di Asha Group? Dia tidak mau kalau Barra sampai jatuh miskin.
“Dan yang paling menyebalkan dari itu, yang akan dia nikahi adalah Anita. Teman SMA kita, Anita.” Kata Barra.
Julia mengerjapkan matanya tak percaya. Anita?! Orang yang sangat dibencinya itu?! Orang yang selalu membuatnya tak terlihat! Orang yang selalu menghalangi jalannya untuk menjadi yang terpopuler, yang paling bersinar. Sekarang dia juga ingin merebut posisi sebagai istri presdir Asha Group darinya?! ‘Dasar perempuan murahan.’
“Maksudmu.. Anita yang kemarin kita ketemu di resto itu? Anita yang itu?” Tanya Julia memastikan.
“Iya. Teman kita yang namanya Anita kan cuma 1 itu. Kupikir dia itu anak baik-baik. Ternyata benar perkataanmu sayang. Dia itu cuma perempuan murahan yang rela melakukan apa saja demi harta.” Jawab Barra dengan nada sinis.
Julia tersenyum senang. “Benar kan apa kataku? Dia itu dulu populer pasti karena merayu cowok-cowok kesana kemari. Tampangnya aja yang sok polos. Padahal sebenarnya cewek nggak bener!” Kata Julia. Dia yakin dia pasti bisa menyingkirkan Anita dan mengamankan posisinya menjadi istri presdir Asha Group di masa depan.
“Benar. Aku sangat jijik saat melihatnya tadi. Dia tanpa tahu malu malah tersenyum bangga saat dikenalkan pada kami.” Kata Barra sambil bergidik.
Julia tersenyum licik. “Tenang saja Barra sayang, aku akan membantumu menyingkirkan w************n itu. Aku akan membuatnya tidak betah menjadi ibu tirimu. Dan akan pergi dengan sendirinya.” Bisik Julia tepat di telinga Barra. Julia sengaja menggoda Barra, karena telinga Barra sangat sensitif.
Barra yang lemah dengan godaan Julia langsung menariknya ke dalam pelukannya. “Sudah, berhenti membicarakan wanita itu. Ayo lakukan hal lain yang lebih menarik.” Bisik Barra yang sudah menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Julia.
Julia tersenyum senang. Memang itulah yang diinginkannya. Dia tidak ingin berlama-lama membicarakan orang yang dibencinya.
“Ahh... Sabar sayang. Ah... kita masih ada di pesawat.” Kata Julia di sela desahannya.
“Siapa peduli, ini pesawat pribadi. Tidak ada orang lain. Jadi tenang saja.” Kata Barra yang sudah tidak sabar ingin segera melepas semua pakaian Julia. Dia ingin tenggelam dalam kenikmatan bersama kekasihnya untuk melupakan masalah tentang ibu tiri barunya. Bersama kekasihnya yang sangat sangat dicintainya.
--to be continue--