“Selamat pagi.” Sapa Abraham kepada kedua orang tua Anita. Hari ini adalah hari Abraham dan Anita ‘melangsungkan pernikahan’.
Waktu berlalu begitu cepat. Abraham menyiapkan semuanya dengan cekatan. Semua dokumen dan hal-hal kecil lainnya sudah di handle dengan baik. Tinggal pemotretan saja yang akan dilakukan hari ini.
Abraham bercengkerama dengan Surya dan Mentari. Meski masih agak canggung, mereka sudah cukup mengerti satu sama lain. Apalagi orang tua Anita menjadi lebih lega setelah mengetahui bahwa tidak ada acara ijab qobul. Jadi Anita tidak benar-benar terikat pernikahan. Hubungan ini murni hanya kontrak dan hubungan kerja saja.
Sementara Anita masih dirias oleh Dania, sahabatnya sejak kecil yang sekarang menjadi make up artist ternama. Anita yang wajahnya sudah cantik alami disulap oleh Dania menjadi begitu menawan dan elegan. Kemampuan meriasnya memang tidak main-main.
“Ini kamu sudah benar-benar yakin mau menjalani pernikahan kontrak kayak begini nit? Kamu tu cantik tahu! Kalau kamu mau, kamu pasti bisa menggaet CEO muda nan tampan. Kamu tahu William kan? Teman TK ku dulu itu? Sekarang dia sudah mengambil alih perusahaan keluarganya. Perlu aku jodohin kalian? Aku yakin dia pasti langsung cinta mati sama kamu.” Ujar Dania yang tidak setuju dengan keputusan Anita. Dania bukanlah orang biasa. Dia adalah anak dari pasangan Herlambang. Artis papan atas yang sekarang lebih menekuni dunia balik layar. Kekayaannya sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Dania sudah sering disebut sebagai anak sultan. Dan berkat koneksi orang tuanya, Dania pun jadi memiliki teman-teman dari kalangan kelas atas juga.
“Kamu tahu bukan status yang jadi pertimbanganku kan? Aku murni hanya ingin membantu Pak Abraham. Aku juga ingin belajar di Asha group. Itu saja. Status sebagai istri presdir tidaklah penting untukku.” Jawab Anita.
Dania memeluk sahabatnya erat. “Ya... Aku tahu. Itulah yang membuatku betah berteman denganmu selama belasan tahun. Tapi aku tetap merasa sayang kalau kamu harus menikah dengan pak tua itu. Aku tidak suka kalau kamu sampai di caci maki seperti kejadian kemarin itu.” Kata Dania. Dia marah bukan kepalang mendengar cerita Anita yang diperlakukan dengan sangat buruk oleh anak-anak Abraham. Apalagi cerita tentang kejadian dengan Julia.
“Mereka cuma anak kecil menurutku. Badannya aja yang tumbuh gede tapi sifatnya masih seperti anak kecil. Lagian kan ada kamu. Apa sih yang kamu nggak bisa.” Kata Anita menenangkan.
Dania mengangguk setuju. "Benar, kamu punya aku. Jadi jangan ragu untuk langsung memberitahuku jika ada hal yang butuh bantuanku. Apalagi kalau si rubah Julia itu mengusikmu. Aku akan langsung memberinya pelajaran. Sudah dari dulu dia selalu mencari masalah dan berusaha menjelek-jelekkanmu." Kata Dania geram.
"Benarkah? Aku bahkan tidak ingat kalau dia teman SMA kita." Jawab Anita.
"Tentu saja. Aku yang selalu menghandle dia. Kamu tidak perlu turun tangan sama masalah sepele seperti itu Anita. Dia tidak layak dapat perhatianmu." Ucap Dania yang selalu protektif dengan Anita. Ada sejarah panjang yang membuat Dania begitu menyayangi dan melindungi sahabatnya itu.
Anita mengangguk singkat. Dia memang tidak suka membuang waktunya untuk hal sepele. Dia selalu berpikiran dewasa dan memanfaatkan waktunya untuk memikirkan masa depan. Dia sudah merancang semuanya sedari lama.
"Sudah selesai. Sekarang lihat dirimu di cermin." Kata Dania dengan raut muka penuh kebanggaan terhadap hasil karyanya.
Anita terpana melihat pantulan dirinya di dalam cermin full body. Dia sangat jarang berdandan, sehingga melihat bayangannya sendiri sekarang membuatnya pangling. Make up flawless yang dipoles sempurna oleh Dania. Dan kebaya cantik berwarna kuning gading koleksi pribadi milik Dania yang kini membalut tubuh sempurna Anita. Membuat gadis itu nampak seperti bidadari. Sangat sangat cantik.
"Ah.. Sayang sekali penampilan sempurna seperti ini hanya ditunjukan pada pak tua. Bukan pada pangeran berkuda putih." Komentar Dania dengan wajah ditekuk.
Anita tertawa kecil dan mulai beranjak keluar kamarnya. "Nanti, pasti pangeran berkuda putihku akan datang menghampiriku. Jadi sabar saja ya." Ucap Anita dengan kekehan. Dia bukan gadis naif yang begitu memuja cinta. Well, bukan berarti dia tidak pernah jatuh cinta. Hanya saja, dia lebih mencoba realistis. Cinta bukan segalanya baginya. Dan dia tidak ingin menghabiskan waktunya hanya demi cinta. Dia yakin, jika sudah saatnya, cinta akan datang dengan sendirinya. tanpa aba-aba, tanpa peringatan.
Anita dan Dania tiba di ruang tamu rumah Anita yang sudah di dekorasi sedemikian indahnya. Semua orang yang ada disana terpana melihat kecantikan Anita. Ada 10 orang yang ada di ruang tamu, termasuk fotografer dan beberapa model yang akan berakting menjadi penghulu dan saksi.
"Kamu cantik sekali sayang." Kata Mentari sembali memeluk putrinya erat. Selayaknya ibu yang hendak melepas putrinya untuk menikah. Tak lupa fotografer mngabadikan momen tersebut. Setelah itu giliran Surya yang memeluk Anita, tentu saja untuk keperluan pemotretan juga.
Setiap momen demi momen di peragakan dengan begitu baik. Tak sia-sia Abraham mencari talent terbaik dan dari agensi yang dapat dipercaya. Semua acara berjalan lancar dan semua kebutuhan dokumentasi terpenuhi. Mereka sengaja tidak mengambil video karena ini hanya pura-pura. Jadi tidak mungkin setiap prosesinya direkam.
"Terima kasih untuk hari ini." Kata Abraham kepada kedua orang tua Anita. "Terima kasih juga untukmu, Nak Dania." Lanjut Abraham penuh rasa terima kasih.
Dania mengangguk sopan. Anita benar, karisma pak Abraham memang tidak sembarangan. Sekali bertemu saja dia tahu kalau beliau orang yang bermartabat dan tidak mungkin melakukan hal-hal yang tidak baik. Pantas saja Anita percaya dengan beliau.
"Jadi nak Nita, kapan kamu akan tinggal di kediaman Nofian?" Abraham melontarkan pertanyaan yang paling enggan Anita dengar. Inilah hal yang menurut Anita paling berat dalam perjanjian. Harus tinggal di rumah keuarga Nofian dan setiap hari harus menghadapi kedua anak Abraham yang jelas-jelas membencinya.
"Bisa beri saya waktu seminggu, Pak? Saya ingin menikmati hari bebas saya dulu sebelum menjalakan perjanjian kita." Jawab Anita.
Abraham tersenyum arif. "Tentu saja, Nak. Ambillah waktu sebanyak yang kamu mau. Saya sudah merasa sangat bersyukur kamu mau menerima tawaran saya, jadi tidak mungkin saya membatasi kamu lagi. Nanti saat kamu sudah tinggal bersama kamipun kamu masih bebas pergi kemanapun. Kamu juga bebas kalau mau menginap dirumah orang tuamu." Jawab Abraham.
Kedua orang tua Anita tersenyum lega. Mereka sudah takut kalau nanti mereka jadi sulit bertemu dengan Anita. Sekarang Anisa sudah jarang berkunjung ke rumah. Kalau Anita juga jarang datang, maka merera pasti akan merasa sangat kesepian.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Sekali lagi terima kasih untuk hari ini. Oh, iya Anita, Apa besok siang kamu bisa meluangkan waktu? Saya ingin memperkenalkanmu pada sekretaris saya. Dia yang nantinya akan membantumu di perusahaan.” Tanya Abraham.
“Tentu saja bisa pak.” Jawab Anita cepat.
“Akan saya kabari nanti lokasi dan waktunya ya. Dan ini, black card untukmu. Gunakanlah sesuai keinginanmu. Ini salah satu privilege yang kamu dapatkan sesuai kontrak. Sekarang Saya pamit undur diri dulu." Pamit Abraham.
Mentari, surya, Anita dan Dania, semua keluar mengantar pak Abraham sampai ke mobil. Beliau hanya bertiga bersama sopirnya dan Fery, asisten pribadinya. Mereka sudah masuk ke mobil dan kemudian meluncur pergi meninggalkan kediaman Anita.
"Gila, kamu mendadak jadi konglomerat ya, Nit. Sampe punya black card segala." Celetuk Dania dengan mata berbinar menatap black card eksklusif di tangan Anita.
Anita memutar bola matanya kesal. "Aku harus bekerja keras sebagai ganti memakai kartu ini tahu." Kata Anita sebal.
Dania terkekeh. "Iya tahu. Itu kartu sakti. Tidak sembarang orang bisa memegang kartu itu. Meski dia kaya sekalipun, kalau dia tidak punya kekuasaan yang cukup, dia tidak akan bisa mempunyai kartu itu." Jelas Dania yang memang sudah kaya sedari lahir. Orang tuanya punya cukup koneksi dan kekuasaan di bidang entertainmen, makanya dia juga punya satu black card.
"Iya iya." Jawab Anita.
“Dania juga pamit ya, om, tante.” Kata Dania.
“Nggak nginep sini?” Tanya Anita setengah merengek. Belum puas rasanya dia mengobrol dengan sahabatnya itu. Karena Dania sekarang sibuk luar biasa. Waktu mereka bertemu jadi berkurang.
“Aku masih ada janji Nit. Aku pasti sisihin waktu minggu ini, sudah lama juga aku nggak makan masakan tante. Aku lihat jadwalku dulu, aku pastikan untuk nginep disini sebelum kamu kerumah pak tua itu.” Kata Dania.
“Hush..tidak baik memanggil orang dengan sebutan jelek.” Kata Mentari mengingatkan.
“Hehe, maaf tante. Maksud saya pak Abraham.” Jawab Dania cengengesan. Mereka tampak akrab dan nyaman dengan satu sama lain.
“Dania pamit ya, om, tante. Dah, Nita.” Kata Dania bermapitan.
Anita memeluk Dania erat. Dia begitu berterima kasih atas kehadiran sahabatnya hari ini. Meski bukan pernikahan sungguhan. Hari ini tetaplah menjadi pengubah masa depannya. Dan Dania menemani dan menguatkan hari ini.
--to be continue--