BAB 8

1182 Kata
“APA?!!” Barra tersentak kaget saat menerima telepon tengah malam itu. Julia yang masih tertidur di sebelahnya ikut terbangun mendengar suara Barra yang cukup keras. “Sialan. Apa-apaan cewek jalang itu. Kenapa tiba-tiba mereka sudah menikah!!” Barra melempar Handphone dengan marah. Terdegar suara berdebam saat handphone itu menyentuh ujung springbed yang sedang mereka tiduri. "Ada apa sayang?" Tanya Julia yang mendengar teriakan marah Barra. Dia mendengar tentang pernikahan. Siapa sebenarnya yang menikah sampai membuat Barra semarah itu.? "Kita harus pulang sekarang. " Kata Barra dengan nada dingin. Ini yang paling tidak disukai Julia dari Barra. Dia akan berubah menjadi sangat dingin saat sedang bad mood. Bahkan pada Julia sekalipun. "Tapi kita kan baru disini 2 hari sayang. Aku belum puas liburan. Masih banyak tempat yang belum kita datangi." Rengek Julia. Dia tidak suka kalau jadwalnya jadi kacau gara-gara urusan Barra. Dia juga ingin memamerkan liburannya pada teman-temannya. "Sudahlah! Kita bisa kesini lagi kapan saja. Sekarang aku ada urusan penting!!" Jawab Barra dengan nada yang semakin dingin. Julia merengut sebal. "Baiklah! Baiklah! Setidaknya katakan padaku apa masalahnya. Kenapa kamu semarah ini?!" Tanya Julia penasaran. Dia ingin tahu masalah apa yang membuatnya harus menghentikan liburannya. "Tadi pagi Ayah menikah dengan Anita!" Kata Barra penuh amarah. Sekarang dia sedang sangat membenci Anita. Beraninya cewek itu mencoba mengganti posisi ibu yang sangat disayangi Barra. Sudah puluhan tahun Ayahnya tidak menikah lagi, semua itu demi ibunya. Kenapa sekarang, saat dia sudah mulai menua, justru dia mencari istri lagi. Apa dia sudah tidak mencintai almarhum ibu lagi?! "Apa?!!!" Sekarang giliran Julia yang berteriak marah. Dia tidak terima sekarang Anita menjadi nyonya besar Keluarga Nofian. Julia yang sudah berusaha keras selama ini, berusaha bersikap baik pada Barra. Melakukan berbagai hal meski Julia tidak menyukainya. Semua itu demi agar dia menjadi nyonya Nofian dimasa depan. Tapi lagi-lagi, Anita dengan mudahnya mendapatkan apa yang Julia inginkan. Anita selalu mendapatkan semuanya dengan mudah. "Gimana nih sayang? Aku tidak mau cewek ular itu jadi ibu tirimu. Dia pasti mengincar harta keluarga Nofian. Dia pasti sudah merayu Ayahmu sayang." Kata Julia memanas-manasi. "Yang penting kita pulang dulu. Aku akan pikirkan cara untuk menyingkirkan cewek itu dari keluargaku. Dia tidak akan diterima di keluarga Nofian yang terhormat." Ucap Barra. Julia tersenyum licik. "Aku pasti akan membantumu, Sayang." Kata Julia. ******** Matahari tampak masih malu-malu memperlihatkan sinarnya pada dunia. Pagi yang syahdu dengan segar embun yang masih terasa setiap Anita menarik nafas. Namun wajahnya terlihat kusut bertolak belakang dengan pemandangan di belakang rumahnya yang asri dan penuh ketenangan. "Ada apa sayang?" Tanya Mentari yang datang ke teras belakang membawa tiga cangkir kopi. Kebiasaan mereka setiap pagi, bercengkerama dengan ditemani secangkir kopi Dan camilan ringan. "Ah, bukan apa-apa kok ma. Hanya pesan spam saja." Jawab Anita singkat. Dia tidak ingin mamanya ikut kepikiran dengan hal tidak penting seperti ini. Mentari tersenyum hangat. "Ingat selalu ya, Nak. Kamu bisa cerita apapun pada kami. Kapanpun. Kami akan selalu mendengarkanmu. Dan sebisa mungkin memberi saran padamu." Kata Mentari penuh perhatian. "Tentu saja ma. Tapi kali ini hanya masalah sepele. Anita bisa menyelesaikannya sendiri. Mama dan Papa tidak perlu kepikiran.” Kata Anita. Dia terlihat penuh percaya diri. Anita memanglah perempuan yang brilian dan selalu terlihat bersinar. “Nanti kamu jadi bertemu dengan pak Abraham, Nita?” Tanya Surya sambil menyesap kopi yang masih mengepul. “Iya, Pa. Pak Abraham meminta bertemu di kantor Asha Group. Sekalian mau mengenalkan beberapa orang kepercayaannya padaku nanti.” Jawab Anita. Dia tampak sangat tertarik dengan Asha Group. “Berhati-hatilah dalam bersikap, sayang. Bagaimanapun juga, Asha Group adalah perusahaan besar. Pasti banyak orang hebat disana.Dan pasti ada saja orang yang tidak suka dengan kamu yang datang tiba-tiba ke tengah-tengah mereka.” Ucap Mentari. “Baik, mama. Anita akan selalu mengingatnya.” Jawab Anita. “Sekarang kalian siap-siap dulu sana. Mama akan siapkan sarapan.” Kata Mentari yang melihat dua orang kesayangannya itu masih saja bersantai padahal hari sudah mulai beranjak siang. “Iya-iya.” Jawab Surya dan Anita berbarengan. Mereka tampak masih malas untuk bersiap. Ketenangan sederhana di pagi yang damai di belakang rumah mereka memang momen favorit bagi Surya dan Anita. Sumber semangat mereka sebelum memulai hari yang keras di luar rumah. ******* “Silahkan masuk, Nyonya.” Sapa Fery, asisten pribadi Abraham saat Anita turun dari mobil jemputan yang dikirim oleh Abraham. Anita mengenakan setelan blouse dan rok yang menawan dan mewah. Baju yang sengaja disiapkan oleh Abraham untuk momen pertama Anita memasuki Asha Group. Dia tidak ingin Anita dipandang rendah oleh karyawannya. Anita mengangguk dan mengikuti langkah Fery di belakangnya. Mereka berjalan dengan kecepatan sedang menuju lift khusus ke ruangan presdir. Sepanjang perjalanan, para karyawan memperhatikan Anita. Karena, Fery adalah asisten eksklusif yang hanya bekerja di samping pak Abraham. Dia tidak pernah mengerjakan hal sepele, apalagi hanya menjemput tamu yang datang menemui presdir. Bahkan Barra sekalipun tidak pernah dilayani langsung oleh Fery. Mereka semua bertanya-tanya siapa wanita yang datang itu sampai dia mendapatkan perlakukan istimewa seperti ini. Fery membukakan pintu berwarna hitam yang tinggi dengan desain minimalis nan elegan. Pintu itu cukup lebar untuk di lewati 5 orang sekaligus. Ruangan yang terlihat rapi dan apik terpampang di depan Anita begitu pintu terbuka. Dia masuk ke dalam ruangan dengan perlahan, sambil mengamati desain interior yang terlihat simple sekaligus berkesan tenang. Sama persis dengan image pak Abraham. Ada 4 orang termasuk pak Abraham yang sudah ada di ruangan itu. Ada 3 laki-laki dan 1 perempuan. "Selamat pagi." Sapa Anita pada semua orang dengan senyum ramah yang tersungging di bibirnya. Dia mengedarkan pandangannya melihat satu per satu orang yang ada di ruangan itu. Dan,.. Matanya membelalak lebar saat melihat sosok yang duduk tepat di samping pak Abraham. Karena dia sangat mirip dengan seseorang yang dikenalnya dimasa lalu. "Ah, Anita. Kamu sudah datang. Kemarilah, duduk di samping saya." Kata pak Abraham sambil menunjuk kursi kosong yang berada di sampingnya. Anita mengangguk dan berjalan dengan sangat elegan menuju kursi yang sudah disiapkan untuknya. Dia sangat luwes dalam berjalan, berbicara, maupun bertingkah laku. Seakan dia memang terlahir untuk menjadi seorang lady. "Ini adalah orang-orang yang ingin aku perkenalkan padamu." Kata Abraham. "Yang duduk di sebelahmu adalah Rosalin. Dia adalah ketua HRD di perusahaan kita." Lanjutnya. Rosalin mengangguk dan tersenyum sopan pada Anita. Sepertinya dia sudah tahu tentang siapa Anita. Dan merupakan orang-orang kepercayaan Abraham. "Dan yang sebelah sana adalah Wahyu. Dia adalah manager di bagian pemasaran. Dia juga merupakan keponakanku. Dia cekatan dan mudah menyesuaikan diri." Kata Abraham. Dia terlihat sangat menyukai keponakannya itu. Tampak jelas dari sinar mata dan pujian yang dilontarkan Abraham. Wahyu tersenyum dan mengangguk pada Anita. "Selamat datang di Asha Group, tante." Sapa Wahyu yang membuat Anita serba salah. Dia belum menentukan sikap bagaimana harus berlaku di hadapan mereka. Karena dia belum yakin sejauh mana Abraham mempercayai mereka. Dan sejauh mana mereka tahu tentang hubungannya dengan Abraham. "Dan yang terakhir adalah sekretaris saya, Evan. Dia yang nantinya akan membantumu dalam banyak hal, Nita." Kata Abraham. Anita kembali terbelalak saat mendengar nama orang itu. Bukan hanya mirip, ternyata dia adalah orang yang sama. Dia, yang dulu selalu mengisi hari-harinya. Dia, yang dulu selalu dinantikan kehadirannya. Dia... Cinta pertama Anita... Evan... --to be coninue--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN