BAB 4KARINA KABUR
"Seluruh penghuni rumah Hadiwijaya gempar mencari keberadaan Karina. Kepergiannya yang tanpa sebab membuat ayah dan ibunya kebingungan. Beberapa kali sang ibu mencoba menghubunginya, namun nihil.
"Sebetulnya ada masalah apa, Ma? Karina sampai kabur begini?"
"Mama juga gak tahu, Pa. Karina tak bilang apa-apa sama mama."
Semua sibuk menghubungi nomor teman-teman Karina. Lalu sebuah mobil memasuki garasi.
"Ujang, kamu kok baru datang. Lihat jam berapa ini?" Ayah Karina menegur sopirnya.
"Maaf, pak. Saya habis dari Bogor dulu mengantar non Karina,” jawab Ujang.
"Hah, Karina? jadi dia ke Bogor?" Ayahnya terkejut.
"Iya, Tuan ke rumah non Linda."
Keluarga Hadiwijaya memiliki tiga orang anak. Ardan putra pertamanya yang menetap di Amerika, Linda anak kedua yang telah menikah dan menetap di Bogor bersama suaminya. Lalu yang terakhir Karina si bungsu yang menghabiskan masa remajanya di Inggris tempat ia berkuliah.
"Cepat, Ma kita susul Karina ke Bogor jangan sampai Linda mempengaruhi hal yang salah sama Karina." perintah tuan Hadiwijaya.
Ujang si sopir mengeluarkan mobil lagi dari garasi, kini yang ia bawa dua majikannya untuk pergi ke rumah putri kedua-nya di Bogor.
Dilain tempat, kedatangan Karina disambut hangat oleh kakaknya Linda. Hubungan Linda dan papa mamanya jadi renggang karena Linda menolak dijodohkan dengan pria konglomerat pilihan orang tuanya. Ia lebih memilih menikah dengan Risman teman semasa kuliahnya.
Linda menerima konsekuensi melepaskan segala kemewahan keluarga Hadiwijaya. Ia terlanjur di cap anak durhaka oleh orang tuanya.
Kehidupan Linda di bogor memang tak semewah saat ia tinggal dengan orang tuanya, tapi ia merasa sangat bahagia sekarang. Suaminya yang seorang lulusan sarjana pertanian kini bekerja mengelola ladang dengan ditanami berbagai jenis sayuran. Ia memasok seluruh kebutuhan sayuran di mal-mal besar ibu kota.
Linda kini telah bahagia dan tak pernah menyesali pilihan untuk hidup sederhana di desa kini.
"Ada apa, De? tumben main ke sini? Ade ada masalah? Coba cerita sama Kakak?" sambut Linda hangat. Hanya kakaknya yang ini, yang tak pernah membahas karier, harta ataupun kekuasaan. Karina iri melihatnya.
Karina tak berani mengatakan masalahnya pada Ayah dan ibunya. Mereka pasti akan memihak Ardi dan ujungnya hanya membujuknya untuk tetap menikah. Linda dipilih sebagai tempat mengadu karena ia satu-satunya orang yang tidak materialistis di keluarganya. Pilihannya hidup sederhana di desa membuat Karina salut pada kakaknya itu.
"Aku dijodohkan, Ka,” ujar Karina
"Iya, kakak tahu, sama Ardi kan? Lalu?"
"Beberapa hari lalu, aku memergokinya berada di kamar hotel dengan mantan pacarnya, Ka."
Karina leluasa menangis kini.
"Astaga! Kakak gak menyangka Ardi seperti itu. Ayah dan Ibu tahu?"
Karina menggelengkan kepala.
"Apa sebelumnya Ardi pernah melakukan hal itu, di belakang Adek?"
"Tidak."
"Lalu apa penjelasan Ardi?" tanya Linda kembali.
"Dia bilang tak melakukan apa pun, hanya mengobrol sebentar. Tapi kenapa harus di kamar hotel? Kan bisa di kafe, restoran atau di lobi." Karina mengungkapkan kekesalannya.
Linda hanya memeluk dan mengusap pucuk kepala adiknya tersebut.
"Lalu keputusanmu apa sekarang? Masih mau lanjut atau membatalkannya?"
"Aku ingin membatalkannya, Ka. Aku tak ingin pernikahanku dilandasi ketidakjujuran sejak awal."
"Ya sudah. Kakak mendukungmu. Kamu bisa istirahat di sini. Biar Kakak yang bicara pada Ayah dan ibu."
Tak lama Tuan dan Nyonya Hadiwijaya sampai di depan rumah Linda. Sebagai anak Linda langsung keluar untuk menyambutnya.
Setelah mencium tangan, Linda mempersilahkan orang tuanya masuk.
"Tidak, kami hanya sebentar. Mana Karina? Dia harus bersiap-siap pernikahannya sebentar lagi di gelar." Ayah dan Ibunya seakan enggan menginjakkan kaki di rumah Linda.
"Walau rumahku sebuah gubuk reyot, tapi cukup nyaman untuk duduk dan beristirahat sejenak, Pa-Ma,” singgung Linda. Rumah Linda cukup luas, mungkin yang terluas di desa itu. Suasana bilik bambu khas pedesaan sengaja Linda pakai untuk dekorasi rumahnya agar terasa lebih alami.
Kedua orang tua Linda akhirnya mau masuk walau sepertinya enggan.
"Mana Karina?" tanya Ayahnya langsung.
"Ada Pah, dia istirahat di kamar. Pa. Karina ingin membatalkan pernikahannya," jelas Linda.
"Dibatalkan?! Apa dia gila? Mau mempermalukan orang tuanya seperti kamu waktu dulu. Cepat suruh Karina kemari, sebenarnya ada apa dengan anak itu." Perintah Ayahnya.
Mendengar suara keributan, Karina terbangun dan langsung keluar kamar. Ternyata benar itu suara ayahnya.
"Karina memergoki Ardi di kamar hotel dengan perempuan lain. Pa." Karina menjawab pertanyaan ayahnya itu.
"Kau lihat dengan mata kepalamu sendiri? Atau cuma gosip dari orang lain?"
"Karina melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri."
"Karina, Ardi adalah pebisnis seperti Papa. Harusnya kau tahu karena kamu juga tinggal lama di luar negeri. Kamar hotel bukan hanya kasur kan. Kamu harus mulai belajar menerima hal kecil untuk mendapat hal besar." Ayahnya seakan tak menganggap serius kekesalan Karina itu.
"Apa Karina harus menerima pria yang sudah tak jujur sejak awal? Bagaimana kalau dia berbuat itu lagi setelah menikah nanti. Apa Papa tak kasihan pada Karina?" Kini Karina tak mampu membendung lagi kekesalannya. Terutama karena ayahnya seakan menganggap hal itu sepele.
"Karina hanya kamu satu-satunya anak yang papa banggakan. Kau tahu dua kakakmu itu hanya pecundang saja. Jangan buat kami kecewa. Kau harus pandai menghitung untung rugi. Kau akan mendapatkan sebuah gedung dengan nilai hampir puluhan triliun jika menikah dengan Ardi. Papa hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak."
"Apa hanya karena gedung itu, Karina harus menikah dengannya? Kita juga kaya Pa. Kita juga punya gedung. Tak akan bangkrut kalau hanya membatalkan pernikahan saja. " Ibunya kini membela.
"Diam! Kau harusnya membujuk anakmu itu agar tak keras kepala. Ayah tak mau tahu, pernikahan itu tetap harus dilaksanakan. Suka atau tak suka. Undangan sudah disebar. Bukan nilai uangnya, tapi harga diri dan nama baik yang lebih penting. Kau harus mulai berpikiran dewasa Karina."
Karina, Linda dan ibunya menangis dan saling berpelukan. Itulah sifat asli Hadiwijaya yang sebenarnya, Egois.
"Kamu tenang saja, ibu akan berusaha bicara sama Widya. Ibu tak menyangka Ardi seperti itu." Hibur Ibunya.
Karina dipaksa pulang bersama ayahnya ke rumah. Karina tak bisa menolak. Ia akan memikirkan cara lain nanti setelah di rumah. Membantah ayahnya sama dengan memukul angin. Hal yang sia-sia saja.
Ibunya Ardi sudah ada di rumah menunggu kedatangan mereka. Ia seakan tahu segala masalah apa pun di rumah Hadiwijaya.
"Aku kemari hanya ingin memastikan, semua aman 'kan? Pesta kita tetap akan berjalan lancar, 'kan?" Widya datang karena khawatir Karina berbuat nekat.
"Tentu besan. Tak ada masalah apa-apa. Riak-riak kecil sebelum pernikahan itu hal biasa. Kami bisa mengatasinya," jawab ayah Karina.
"Sayang, pernikahan ini akan tetap berlangsung 'kan?" Widya menatap Karina dengan senyuman kemenangan.
"Ya, tetap akan berjalan, tapi aku ingin mengajukan perjanjian pranikah dahulu,” tantang Karina.
"Baik, tak masalah. Besok tante bawa notarisnya kemari." Widya menerima tantangan itu.
Karina memang tak bisa mundur tapi ia harus pintar memanfaatkannya. Inilah kehidupan sebenarnya kelas atas. Hanya perhitungan untung dan rugi.