Sepi merobek pekatnya senja tua
Mengungkung ego bersama buih nestapa
Mencerca nista dalam jelaga
Merintihkan perih, membuai asa
***
"Rasanya aku ingin menghilang saja dari muka bumi ini," bisiknya lirih di antara semilir angin yang masuk lewat celah jendela kamar yang sengaja dibuka.
Lelehan panas dari kedua netranya tak terbendung saat kata itu lolos begitu saja. Hatinya tengah tercabik pilu, terajam perih yang tak seorang pun dapat meredam.
Sudah kali kedua pernikahannya harus gagal. Sebuah pengkhianatan yang dilakukan suami keduanya berkali-kali dimaafkan. Telah banyak permakluman yang ia lakukan, hanya demi lelaki yang dianggap bisa menjadi tumpuan bahagia itu berubah. Menomorsatukan keluarga di atas keegoannya sebagai manusia penikmat dunia.
Zivana Almaira Yusuf. Kecantikannya hampir sempurna, meski hatinya belum tergerak untuk membungkus puncak kepala hingga ujung kaki dengan pakaian tertutup sesuai syariat. Sebagai perempuan asli Indonesia, kulit kuning langsat yang membalut tubuh mungil itu begitu digilai para lelaki. Wajah cantik dengan mata bulat, hidung bangir tak ada cela, dihiasi senyum tipis dari bibir yang melengkung sempurna.
Namun, semua itu tak berarti kala hati teriris sembilu. Ternyata kecantikan bukanlah modal untuk mendapatkan kebahagiaan. Ada hal yang tak akan pernah bisa dibeli dengan materi dan yang berbau duniawi. Ketulusan. Hal itu tak pernah ia dapatkan dari suami keduanya yang ia cintai sepenuh hati, yang telah memberinya tiga orang anak buah cinta mereka.
Sebagai seorang perempuan yang selama ini sudah dimanja dengan bergelimangnya harta orang tua, kedudukan disertai jabatan sang ayah yang seorang mayor polisi ternama, dikelilingi sahabat-sahabat dari kalangan kelas atas yang notabene berasal dari keluarga pejabat, tak lantas menjamin hati Zivana berbunga selayaknya perempuan merindukan surga dunia.
Ia justru terperosok dan terperangkap dalam kubangan lara yang entah bagaimana melepaskan diri dari sana. Sementara empat anak yang terlahir dari rahimnya menjerit meminta hak untuk tetap hidup layak. Gelap, sepi yang dirasakan perempuan itu tatkala penyiksaan demi penyiksaaan batin harus dirasakannya tanpa jeda.
Hingga akhirnya, perceraian menjadi jalan pintas mengubur lara yang disangka akan menjadi akhir penderitaannya. Namun, itu justru awal hidupnya yang kelam.
"Jalan seperti apa yang harus kau tempuh kala sudah terperosok jauh dalam kubangan lara yang kau anggap itu nista? Mungkin hanya kematian saja yang mampu melebur semua nestapa, hingga tak ada celah menangisi nasib yang kau anggap hina dina," ucap Zivana lirih di sela isak tangis, kala sahabatnya datang berkunjung setelah mengetahui perihal perceraiannya dengan Bram.
Tak ada yang bisa Amara lakukan. Sebagai sahabat, ia memahami keadaan Zivana yang pasti terpukul dengan kegagalan pernikahannya untuk kedua kali. Apalagi rumah tangganya itu diwarnai prahara yang menciptakan lindu. Mewarnai hampir setiap hari selama sembilan tahun usia pernikahan mereka.
Satu-satunya tumpuan harap dari berbagai luka pun sudah tiada. Meninggalkan bekas kepedihan yang tak akan pernah hilang meski waktu sudah berlalu sedemikian panjang. Lelaki cinta pertama dalam hidupnya harus lebih dulu pergi sebelum ia merasakan kebahagiaan. Bahkan, kala kesakitan ia alami, justru harus disaksikan oleh sang ayah yang selalu ia banggakan.
Perempuan yang telah melahirkannya tak bisa menjadi perisai dari setiap luka yang menimpa. Tak pernah bisa diandalkan untuk menjadi ibu yang senantiasa melindungi dan penenang saat masalah datang. Ia sendirian. Terbelenggu dalam kesepian yang melanda. Menjerit di setiap perenungan yang tiada habisnya ia rintihkan di setiap kelam malam.
Kemana harus mengadukan semua rasa yang menumpuk penuh dalam d**a? Sesaknya menimbulkan sakit yang luar biasa hebat, hingga hanya untuk bertumpu di kedua kaki saja seperti berdiri di atas bara api. Sayatan perih yang masih terasa akibat pengkhianatan dan perlakuan buruk lainnya begitu sulit hilang dalam ingatan. Sampai ke dasar hati terdalam, luka itu akan selalu terbawa hingga ajal menjemput nanti.
Zivana tak bisa berpikir apa pun saat surat cerai sudah berada di tangan. Sakit bekas luka pukulan di mulutnya masih terasa. Beberapa giginya yang rontok dan mengharuskan memakai gigi palsu itu pun masih belum kering bekas tambalannya. Kenangan terakhir yang paling menyakitkan yang harus ia terima, sebelum akhirnya melayangkan gugatan cerai pada lelaki yang hanya menciptakan neraka selama membangun bahtera rumah tangga. Ternyata, cinta begitu penuh misteri.
Dulu, saat ia menikah dengan mantan suami pertamanya, tak ada sedikit pun cinta yang tumbuh di hati. Hanya karena keegoan diri yang menjadikannya pelampiasan karena cinta pertama yang tak kunjung mengajaknya ke pelaminan. Tawaran pernikahan dari lelaki keturunan konglomerat, anak pemilik kebun cengkih di Manado yang juga memiliki rumah mewah di kawasan elit ibu kota, membuatnya tergiur untuk menerima tawaran gila itu.
Pernikahan yang tak berlandaskan cinta itu pun digelar meriah. Bak putri raja, kehidupan Zivana kembali dimanja harta dan takhta. Namun, ada yang hampa di hatinya seketika. Ia seperti bersandiwara. Berpura-pura bahagia di depan kedua orang tua dan juga saudara suaminya. Hingga anak perempuan tak berdosa itu lahir, semua harus kandas seiring keputusan untuk mengakhiri hubungan sakral itu di tahun kedua pernikahan.
Harus menampakkan wajah seolah baik-baik saja ternyata juga menderita. Ia tak bisa berlama-lama menyimpan duri dalam daging. Semewah apa pun kenikmatan dunia yang disuguhkan untuknya, tetap saja tak bisa menjamin bahagia yang begitu ia damba. Pernikahan yang dilandasi hawa nafsu, harus berujung perpisahan pahit yang membuat mantan suami pertamanya lepas dari tanggung jawab untuk menafkahi putrinya.
Pernikahan keduanya tak ada beda. Bertemu kembali dengan lelaki tampan teman SMA-nya ternyata menumbuhkan benih-benih cinta. Orang tuanya yang juga berada, menjadikan Zivana dengan suka rela melabuhkan hati pada duda beranak satu yang masih menebarkan pesonanya. Cinta yang pernah hilang seiring kepergian cinta pertamanya dulu, tergantikan dengan kedatangan Bram yang menawarkan kembali mahligai rumah tangga.
Awal-awal pernikahan sempurna seperti layaknya sepasang suami istri, pernah Zivana rasakan begitu indah. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Kepahitan demi kepahitan mulai terasa kala perangai suami keduanya terlihat seiring waktu. Ia tertipu oleh ketampanan dan kekayaan yang memikat. Hidupnya jauh lebih menderita diterpa prahara yang bagai neraka. Sembilan tahun mencoba bertahan demi anak-anak yang ia lahirkan. Berharap Bram akan berubah ketika melihat ketiga anaknya yang tumbuh sehat dan sempurna.
Namun, semua itu hanyalah harapannya yang tak pernah berwujud nyata. Cintanya mulai menguap begitu saja, berganti hujaman lara yang menyiksa hari-hari. Anak-anaknya pun ikut terseret arus ketidakpedulian lelaki yang dianggapnya malaikat. Kehidupan Zivana bak neraka dunia yang penuh prahara.
Semua kenangan pahit itu berkelebat dalam ingatan Zivana. Dalam kegelapan kamar, ia merintihkan hati yang kembali nyeri. Bagaimana ia bisa menghadapi kehidupan esok dengan keempat anak yang masih kecil-kecil. Sementara ayah mereka hilang bagai ditelan bumi. Lari dari tanggung jawab dan meninggalkan luka sayat yang begitu menyiksa.
Zivana menangisi nasib yang harus kembali menderita. Padahal, kehidupan masa mudanya begitu bahagia. Tak ada beban yang melingkupi hari-harinya. Dikelilingi teman-teman yang juga berstatus sosial sederajat, membuat ia bisa memaknai arti masa remaja hingga beranjak dewasa. Kasih sayang yang diberikan sang ayah sudah lebih dari cukup untuk ia bisa mewarnai indahnya masa sekolah hingga kuliah. Meski hubungan dengan sang ibu tak begitu dekat, tetapi ia tetap bisa menjalani masa itu dengan penuh suka cita.
Empat nyawa kini harus dipertaruhkan sendirian, justru di saat ia tak punya pegangan. Harta pun sudah tak ada. Tersisa pensiunan ibunya yang ditinggalkan almarhum sang ayah. Ia tak punya pekerjaan. Hanya menumpang di rumah peninggalan orang tua yang masih dalam sengketa. Kemana harus mencari sandaran hidup, di kala ia sudah pasrah akan kematian? Bahkan, ingin segera mengakhiri hidupnya yang sudah tak ada lagi pilihan.
Namun, bayang-bayang tangis tawa keempat anak-anaknya berkelabat seketika dalam ingatan, membuatnya urung melakukan niat itu. Bagaimana nasib mereka jika dirinya tak ada? Apa yang akan terjadi pada keempat anaknya jika mereka harus hidup tanpa orang tua? Kembali perempuan itu menangis lirih dalam gelap dan sepi yang kian beranjak.