Cinta Pertama

1406 Kata
Laksana pekatnya langit berhiaskan gemintang Memancarkan keindahan bak pualam membentang Lebih indah dari bayangan Memeluk bahagia dalam genggaman *** Februari 1982 Langkah kecilnya terayun seiring lengkung tipis yang tak lepas menghiasi bibir tipisnya. Berbagai pasang mata memandang kagum kecantikan yang membalut tubuh semampai perempuan berambut panjang sebahu, dengan kerlingan mata yang membuat siapa pun terpesona. "Zivana ...." Teriakan Luna, sahabat satu kampusnya di jurusan komunikasi massa itu membuat Zivana menoleh. Luna, gadis imut dengan tampilan modisnya yang mengenakan oversized t-shirt dipadu dengan high waisted jeans itu bergegas menyejajarkan langkah sahabatnya. "Tumben, kamu dateng jam segini," cetus Luna seraya menenteng tas punggungnya yang agak keberatan. "Habis ketemuan sama Lean," ujar Zivana dengan wajah semringah. Beberapa hari ini, ia memang terlihat dekat dengan lelaki yang berasal dari fakultas hukum kampus UI. Mereka tak sengaja bertemu dalam sebuah jamuan makan malam yang digelar salah satu mahasiswa publisistik yang terkenal tajir dan orang tuanya mempunyai kedudukan tinggi di pemerintahan. Tak hanya mahasiswa publisistik yang datang ke sana, di luar itu pun banyak yang menghadiri. Terutama anak para pejabat dan artis ternama. Zivana yang juga seorang model, tentu banyak digandrungi para anak muda yang merasa kagum akan kecantikan dan pesona yang dipancarkan perempuan itu. Sebagai anak seorang mayor polisi, ia cukup disegani dan dihormati. Terlebih lagi, sikapnya yang sopan dan rendah hati, membuat siapa pun merasa senang dekat dengannya. Ia tak pernah memilih dengan siapa berteman. Namun, memang kebanyakan sahabat-sahabatnya berasal dari keluarga berada. Termasuk Luna yang anak seorang pengusaha garmen. "Kamu jadian sama Lean?" tanya Luna membuyarkan lamunan Zivana yang masih menampakkan rona bahagia. "Iya," jawab Zivana singkat. Mereka berdua telah memasuki ruangan kelas yang sudah dipenuhi para mahasiswa, tetapi Luna tak hentinya memberondong dengan berbagai pertanyaan. Rupanya rasa penasaran dalam benaknya menumpuk hingga tak henti ia menyuarakan isi kepala pada sahabat yang sudah dikenalnya sejak setahun terakhir itu. "Ayo, Zi, jawab pertanyaanku. Kapan Lean nembak kamu? Di mana? Ko bisa secepat itu sih kamu terima dia?" Pertanyaan Luna yang seperti kereta api membuat telinga Zivana pengang. "Bisa ngga sih nanyanya satu-satu, Lun?" protes Zivana memberengut, membuat sahabatnya itu tersipu malu. "Abisnya, kaget aja. Baru kenal dua bulan ini, tapi kalian udah jadian aja. Aku yang kenal udah lama sama Arga, sampe sekarang belum juga ada tanda-tanda buat kami bersama," ujar Luna sendu. Zivana tahu, sahabatnya itu begitu setengah mati mengejar cinta Arga, anak publisistik tingkat akhir. Namun, lelaki itu selalu menanggapi dingin setiap perhatian yang diberikan Luna. "Sebaiknya kau cari saja lelaki lain. Arga tak pernah mencintaimu," ucap Zivana seraya merangkul sahabatnya itu. Kisah cinta Luna tak pernah berjalan mulus. Sejak pertama kali masuk kampus, ia sempat menjalin hubungan dengan anak kampus lain, tetapi lelaki itu hanya memanfaatkan kekayaannya saja. Hingga Luna harus rela mengubur cintanya yang tak berbalas tulus. "Sudahlah, jangan bahas tentang Arga, kini kembali pada hubunganmu dan Lean. Bagaimana ceritanya kalian bisa jadian?" tanya Luna mengalihkan pembicaraan. Tahu kalau Zivana tak suka jika ia masih mengharapkan Arga akan membalas cintanya. Zivana mendesah. Ditatapnya sekeliling ruangan yang masih dipenuhi canda tawa teman-teman sekelasnya. "Di sini ramai. Nanti aja sepulang kuliah aku cerita, ya!" Luna menggeleng seraya berkata, "Sekarang!" Perempuan dengan lesung pipi itu pun mengembuskan napas kasar. "Baiklah," ujarnya sambil merapikan rambut yang jatuh di keningnya. "Aku dan Lean jadian dua hari yang lalu saat dia malam mingguan ke rumah. Waktu itu, aku tak menyangka kalau dia bakalan nembak, karena kupikir kami baru kenal, tapi ternyata, dia menyatakan cintanya tepat di depan Om Alex dan Tante Farah," "What?" Luna spontan membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangannya. "Seperti yang kau dengar, aku pun masih belum percaya, dia serius menyatakan cintanya. Lalu, apa aku sanggup menolak lelaki tampan yang memiliki masa depan cerah seperti Lean?" Lean memang memiliki karisma tersendiri hingga membuat Zivana jatuh cinta sejak pertama kali bertemu. Namun, sebagai perempuan, ia tahu batasan. Tak mungkin menyatakan cinta terlebih dulu. Sampai satu hari, lelaki itu menawarkan diri untuk mengajaknya pulang dari kampus bersama. Kebetulan rumah mereka pun searah. Dari sanalah Lean mulai sering berkunjung ke rumah Zivana yang memang selama di Jakarta, tinggal bersama om dan tantenya. Sebagai pengacara, Om Alex memiliki kedudukan dan kekayaan yang berlimpah. Kehidupannya mapan, ditunjang dengan istri yang selalu bisa membawa diri dalam segala situasi. Mereka pasangan yang serasi. Satu prinsip dan juga modern. Mereka dikaruniai tiga anak yang lucu lagi menggemaskan. Zivana tak jarang mengajak mereka berjalan-jalan di sekitar kompleks. Rumah Om Alex dan Tante Farah sering dijadikan tempat kongko teman-teman Om Alex yang kebanyakan dari kalangan artis, jurnalis dan pengacara. Suasana yang nyaman dan berada di kawasan elit ibu kota, membuat mereka menghabiskan waktu senggang di sana. Apalagi jika malam minggu tiba. Alunan musik dari petikan gitar akustik dan suara merdu salah seorang di antara mereka, menjadi penghibur yang tiada duanya. Sambil menikmati segelas kopi dan kudapan buatan Tante Farah yang memang pandai membuat camilan. Itulah kenapa Lean merasa senang menghabiskan waktu selepas kuliah atau di waktu senggangnya untuk berkunjung ke rumah Om Alex. Di sana ia bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai kalangan yang membuat wawasannya pun otomatis makin bertambah. Sebagai mahasiswa hukum tingkat akhir, merupakan kesempatan untuk lebih dekat dengan pengacara senior yang tak jarang nongkrong di sana. Zivana pun merasa senang tinggal bersama adik lelaki dari ibunya itu, karena di sana ia bisa bebas tanpa harus diatur seperti saat tinggal di rumah. Keseharian yang kebanyakan bersama sang ibu, membuat ia tertekan dengan segala aturan ningrat yang masih diberlakukan dalam keluarganya. Tata Krama dan adat istiadat, apalagi sebagai seorang perempuan harus benar-benar diperhatikan. Cara berjalan yang anggun, duduk dengan badan tegak dan kaki rapat, bicara sopan dan lemah lembut, makan yang sesuai table manner dan lain sebagainnya, selalu dalam pengawasan sang ibu yang masih memegang teguh warisan dari orang tuanya yang pernah menjabat sebagai camat di daerah tempat tinggalnya, Majalengka. Hubungannya dan sang ibu memang tak begitu dekat. Sering kali mereka bersitegang hanya karena masalah perbedaan pendapat. Jika ayahnya pulang dari bertugas, barulah Zivana merasakan ketenangan tinggal di rumah. Pemikiran sang ayah yang tidak kolot seperti ibunya itu membuat ia lebih relaks. "Kau memang beruntung mendapatkan Lean," ujar Luna mendesah. Meskipun baru sekali bertemu dengan lelaki itu, ia bisa menilai jika Lean orang yang baik. Lean adalah mahasiswa cerdas jurusan hukum semester akhir yang tinggal menunggu wisuda. Wajah tampannya yang memikat setiap kaum hawa tak menjadikan ia ajang aji mumpung untuk mendapatkan perempuan yang dengan suka rela mau melabuhkan cinta padanya. Lelaki itu adalah anak pertama dari dua bersaudara keluarga Pramudya, seorang pengacara kondang yang sudah lama meninggal. Itulah sebabnya keinginan Lean menjadi pengacara adalah cita-cita sang ayah yang ingin dilanjutkannya. Lean memilih Zivana sebagai pilihan hati. Perempuan yang mampu menariknya dalam debar jantung yang tak biasa. Cantik, apa adanya, sederhana meski berasal dari keluarga berada dan juga cerdas, telah mampu membuat Lean jatuh cinta. Begitu pun sebaliknya. Dari sekian banyak lelaki yang menawarkan madu cinta, hanya Lean yang mampu membuat Zivana terpana. Tak ada alasan menolak permintaan lelaki itu untuk menjadi pacarnya. Bagi Zivana, Lean adalah cinta pertama dalam hidupnya. Kali pertama ia jatuh ke dalam pelukan lelaki yang ia anggap sempurna. Hatinya sudah yakin akan ketulusan yang diberikan Lean. Meskipun baru beberapa minggu saja mereka berkenalan, tetapi rasa itu sungguh berbeda. Obrolan antara Zivana dan Luna harus terhenti karena dosen mata kuliah sudah datang. Suasana kelas pun seketika sepi. "Aku tagih cerita lengkapnya sepulang kuliah," bisik Luna seraya melirik sahabatnya yang duduk tak jauh di sebelahnya. Zivana hanya mengangguk. Membuka buku yang diperintahkan dosen di depan kelas. Urusan pelajaran, perempuan itu selalu menomorsatukan. Itulah kenapa ia memilih jurusan komunikasi massa atau jurnalistik dalam menempuh pendidikan lanjut selepas SMA. Ia menyukai dunia komunikasi. Meskipun tak ada orang tuanya yang bergerak di bidang yang sama, tetapi Zivana mantap memilih Sekolah Tinggi Publisistik ketika ayah ibunya menawarkan pilihan. Sang ibu jelas menolak keinginan putrinya itu. Baginya, jurusan itu tak menjanjikan masa depan yang menarik. Namun, kebebasan yang diberikan suaminya pada Zivana, membuat ia tak bisa berkomentar apa-apa lagi kala keduanya sudah mantap memutuskan. Sari lebih bangga pada putra pertama kesayangannya yang sudah lebih dulu mengambil jurusan pertanian di Institut Pertanian Bogor. Kecerdasan dan keinginannya sesuai harapan perempuan paruh baya itu. Sejak kecil, ia sudah menggantungkan mimpi besar pada anak sulungnya. Lain halnya dengan Zivana, sejak kecil, Sari memang seperti menjaga jarak dengan putri satu-satunya itu. Pendapat mereka selalu saja bertentangan, keingiann keduanya pun tak pernah sejalan. Hingga akhirnya Zivana lebih dekat dengan sang ayah. Keterangan: Sekolah Tinggi Publisistik, sekarang berganti nama menjadi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP).
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN