Lelaki Misterius

1252 Kata
Rumah tangga yang diharapkan akan membaik seiring waktu, ternyata malah tak pernah berujung titik temu. Bukannya berusaha memperbaiki keadaan, Bram malah menghilang tak bisa dihubungi. Alasan sebelum ia pergi malam itu, ada pekerjaan di luar kota yang mengharuskannya beberapa hari tinggal di sana. Namun, ternyata seperti biasa, lelaki itu tak memberi kabar sama sekali. Satu-satunya nomor kontak temannya mengabarkan jika sang suami sudah tak lagi bekerja di sana sejak dua bulan lalu. Hilang sudah harapan Zivana untuk bisa berkomunikasi dengan suaminya. Kebutuhan ia dan anak-anak yang hanya mengandalkan uang pensiunan sang ibu, tak bisa menjadi tumpuan untuk keberlangsungan hidup mereka. Uang itu hanya cukup untuk memenuhi keperluan dapur sehari-hari. Itu pun sering kali kekurangan. Tak jarang Sari harus meminta terlebih dulu lauk ke warung, dan membayarnya saat menerima uang pensiunan awal bulan. Barang-barang berharga di rumah, satu per satu terpaksa harus dijual demi memenuhi isi perut. Zivana nelangsa harus menyaksikan harta peninggalan sang ayah yang berpindah tangan menjadi milik orang lain. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain melakukan itu. Meski berat hati, Sari pun turut mengikhlaskan barang berharga yang selama ini dikumpulkan dari hasil jerih payah dari pekerjaan almarhum suaminya. Sebagai nenek, ia tak bisa berdiam diri menyaksikan cucu-cucunya kelaparan. Barang bisa dicari, tetapi isi perut tak bisa diajak kompromi. Sari hanya bisa melakukan yang ia bisa. Sementara Zivana, ia terlalu larut dalam kubangan nestapa yang sudah melingkupi rumah tangganya. Di lain sisi, ia pun sedih memikirkan nasib ia dan keempat anaknya yang masih harus menyusahkan sang ibu. Namun, di sisi lain ia pun tak bisa berbuat banyak selain pasrah. Selama hidup, Zivana tak pernah merasakan bagaimana mencari uang. Kuliahnya yang tak selesai karena mengungkung ego akibat patah hati dengan cinta pertama, telah menyeretnya pada lembah derita saat ini. Ia bingung harus melakukan apa demi mendapatkan uang, selain menjual satu demi satu barang yang bisa dibelikan beras dan lauk nasi untuk menyambung hidup. Memiliki suami ternyata masih saja merasa sendiri, tak pernah bisa merasakan bahagia. Hampa dan tersiksa dengan semua perlakuan yang ia terima, membuatnya kian menderita. Dengan empat anak yang masih membutuhkan banyak biaya, ia makin kalut harus melakukan apa. Kemana harus mencari sumber penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidup yang makin besar. Pada siapa harus menggantungkan diri di saat tak ada yang bisa ia andalkan. Ia malu jika harus meminta pada sahabat-sahabatnya. Pada keluarga, tak ada yang bisa ia harapkan dari mereka. Kedua saudara lelakinya pun tak ada beda. Hidup mereka hanya mengandalkan dari pekerjaan yang cukup untuk makan sehari-hari saja. Jangankan untuk membantu, memberi sekadarnya saja kadang tak mampu. Bersyukur tak merongrong uang pensiunan sang ibu yang memang sudah habis untuk kebutuhan hidup ia dan anak-anak. Keluarga besar sang ayah yang rata-rata mapan dari segi materi, tak bisa diandalkan. Selain malu, ia pun tak ingin terkesan mengemis dan mengumbar penderitaan yang kini ia alami. Mereka mungkin mencibir nasib yang menimpanya kini. Terburu nafsu untuk segera menikah di saat tengah menempuh masa kuliah yang tinggal beberapa bulan lagi selesai. Tak dijadikan pelajaran, ia melakukan kesalahan yang sama dengan menjalani rumah tangga bersama Bram, yang ibunya dikenal sebagai simpanan pengusaha kaya. Zivana terperangkap dalam pernikahan yang tak sesuai harapan. Berisikan onak dan duri yang menyakiti. Tak bisa lagi lari dan berpaling untuk melepaskan diri. Ia harus tetap menjalani. Suka ataupun tidak, hal itu sudah menjadi keputusannya yang harus dipertanggungjawabkan. Ia malu jika harus berterus terang tentang keadaan rumah tangganya pada seluruh keluarga besar. Belum siap untuk dihujat di saat kehidupan tengah menjatuhkannya dalam kubangan nestapa. "Bun, Abang lapar." Tiba-tiba suara Prima, anak lelaki satu-satunya mengembalikan pikiran Zivana pada kenyataan. Segera ia hapus basah di pipi dengan punggung tangannya. "Bukannya tadi siang sudah makan?" tanya Zivana heran, karena dua jam yang lalu, ia baru saja menyuapi anak-anak makan dengan nasi yang disiram kuah mi. "Makannya sedikit, Bun, Abang laper lagi," ucapnya polos dengan wajah memelas. Zivana tersenyum sekaligus menahan perih. Anak-anaknya tengah dalam masa pertumbuhan. Jelas saja mereka membutuhkan asupan makanan yang cukup dan bergizi. Hampir setiap kali persediaan uang yang menipis, hanya mi rebus yang sengaja diperbanyak airnya, menjadi alternatif lauk nasi yang sudah pasti diburu anak-anak. Terkadang miris harus menyaksikan penderitaan mereka yang jauh berbanding terbalik dengan kehidupannya di waktu kecil. Sebagai ibu, ia tak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi mereka. Bahkan, seringkali harus menahan perih di perut karena sudah tak ada lagi yang bisa dimakan. "Sabar, ya, Bang, Bunda lagi usaha dulu buat cari uang. Nanti, kalau uangnya sudah ada, kita bisa beli makanan," ucap Zivana menenangkan. Ia tahu, saat ini tengah berbohong pada putranya, tetapi ia tak punya cara selain mengatakan itu. Prima masih terlalu kecil untuk bisa memahami keadaan yang sebenarnya. Berbeda dengan Evalia dan Virna yang sudah bisa mengerti, jika kehidupan ekonomi mereka sangat terbatas. "Kapan, sih, kita makan enak, Bun. Abang pengen kaya temen-temen lain yang bisa makan enak sama ayam atau telor." Zivana mengurut d**a pilu. Hatinya mencelus menahan sakit yang merayap. Kedua netra sudah siap menumpahkan lahar panas, tetapi ia coba tahan, tak ingin anak lelakinya bertanya yang macam-macam. "Sabar, ya, Sayang. Nanti kalau Bunda punya uang lebih, kita bisa beli makanan yang enak-enak." Prima menunduk. Zivana meraih tubuh kurus itu, lalu memeluknya erat. "Maafkan, Bunda. Belum bisa ngasih apa yang Abang mau," bisiknya di telinga Prima. Anak lelaki itu mendongak. Senyum terkembang di bibir mungilnya, membentuk segaris lengkung tipis yang mampu membuat hati Zivana menghangat. "Kalau gitu, Abang mau maen lagi sama Kakak dan Teteh," ucapnya kemudian sambil melepaskan diri dari dekapannya. "Main apa?" "Rumah-rumahan dari tanah, Bun. Tadi Kakak ajarin Teteh bikin rumah yang besar kaya rumah kita," ujarnya sambil berlalu pergi. Zivana tersenyum. Begitu sederhananya permainan mereka. Dulu, hampir tak pernah ia melakukan permainan dari tanah. Teman-temannya kebanyakan berasal dari keluarga berada yang hanya diperbolehkan bermain di dalam rumah dengan mainan yang dibeli di toko. Berbeda dengan kegiatan anak-anaknya kini. Mereka tak pernah memiliki mainan yang sengaja dibelikan di toko. Namun, kebahagiaan itu masih dirasakan meski sangat sederhana. Beruntungnya, halaman rumah peninggalan sang ayah begitu luas. Pohon mangga manalagi tumbuh rindang di tengah halaman depan. Di pinggirannya tumbuh beberapa bunga melati yang selalu berbunga indah dan menebarkan harumnya. Jika tidak di halaman depan, anak-anak biasa bermain di bagian belakang rumah yang juga ditumbuhi pohon mangga, jambu air, nangka dan sirsak. Zivana beranjak dari duduknya menuju dapur. Memastikan jika persediaan beras masih ada untuk esok hari. Sisa nasi tadi siang akan ia olah untuk dibuat nasi goreng dengan bumbu seadanya. Anak-anak pasti tak akan protes dengan makanan yang ia sajikan. Meski hanya itu-itu saja menu yang tersedia, tetapi mereka masih bisa menikmatinya. _ "Teh, tadi Mama abis dari warung Bi Imah. Katanya kemarin ada laki-laki yang nanyain Teteh." Sari yang sengaja mendatangi Zivana di kamarnya menyampaikan apa yang dikatakan pemilik warung tempat biasa ia berbelanja bahan masakan. "Siapa laki-laki itu, Ma?" tanya Zivana mengernyit heran. "Bi Imah juga ngga tahu, tapi dia bilang, laki-laki itu nanyain siapa suami Teteh sekarang." "Siapa laki-laki itu, ya? Mau apa dia tanya-tanya tentang suami Teteh?" gumamnya seraya melipat baju-baju yang berantakan di atas kasur. "Mama juga ngga tahu. Ati-ati aja, Teh, takutnya orang yang ngga suka sama Bram," ujar Sari sambil melengos pergi. Meninggalkan pertanyaan di benak Zivana. Jika lelaki itu adalah orang yang tidak suka dengan Bram, lalu kenapa mengincar dirinya, sampai menanyakan hal itu pada pemilik warung di belakang rumah. Apakah selama ini ia dan keluarganya tengah diintai? Zivana berharap, tak akan terjadi sesuatu yang buruk pada keluarganya. Apalagi tak ada lelaki dewasa di rumah. Bram yang diharapkan bisa menjadi pelindung, tak pernah bisa diandalkan dengan kepergiannya yang tak jelas dan tak menentu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN