Pikiran Kecil Evalia

1267 Kata
Zivana tak tahu, kemana pernikahannya akan bermuara. Terlalu lelah memikirkan prahara yang tak berujung. Seperti terombang-ambing badai yang tak kunjung berhenti, ia seakan pasrah dengan keadaan. Tak peduli terhadap suaminya yang sudah jarang menafkahi. Bahkan, menanyakan kabar saja seperti enggan. Ah, seperti itukah sosok suami yang sebenarnya ia nikahi selama ini? Terlalu terburu-burukah memutuskan untuk mengarungi bahtera pernikahan, hingga ia harus menuai hasil dengan kenestapaaan? "Coba waktu dulu nurut apa kata Mama, mau dijodohkan dengan Andra, mungkin sekarang pernikahan Teteh akan bahagia beristrikan seorang kepala dinas," ucap Sari suatu ketika, saat Zivana mencurahkan isi hatinya yang tengah dilanda duka. Andra. Lelaki yang masih ada hubungan kekerabatan dengan pihak keluarga sang ibu itu, adalah lelaki baik hati dan sopan. Saat itu, ia masih menjalin hubungan dengan Lean. Namun, sang ibu gencar menjodohkannya dengan Andra yang baru bekerja sebagai pegawai pemerintahan. Zivana jelas saja menolak. Mana mungkin menerima perjodohan itu, sementara ia tengah merangkai mimpi indah bersama sang kekasih. Perempuan itu tak menampik, secara fisik Andra memiliki wajah manis dengan postur tubuh tinggi kurus. Lelaki itu pun sedikit pemalu dan begitu memegang teguh norma kesopanan. Jelas bukan tipenya jika dinilai dari kacamata Zivana yang menyukai lelaki cool, tetapi perhatian, dan tentunya tampan dan bertubuh tinggi tegap. Sebagai manusia, ia tak bisa menentang takdir yang sudah ditentukan. Bukan cita-citanya mengarungi bahtera seperti saat ini. Apalagi, kehidupan yang telah membawa dalam kesengsaraan, tak pernah dibayangkan akan terjadi. Justru yang membuat anak-anaknya ikut terseret dalam penderitaan. Sedih, hancur, dan terluka. Sebagai ibu, hal itu lebih menyakitkan dibanding hunjaman lara yang ia terima. "Sekarang, baru merasakan hasil yang telah Teteh tuai, kan?" imbuh Sari sinis. Makin menambah perih di hatinya. "Hal ini mungkin pelajaran hidup yang berharga buat Teteh, Ma. Ngga ada yang mau hal ini terjadi. Siapa pun orangnya, pasti mengharapkan pernikahan yang bahagia. Jadi, jangan terus-terusan menyalahkan Teteh, seolah yang terjadi saat ini adalah kesalahan Teteh sepenuhnya." "Memang itu kenyataannya. Teteh harus bisa menerima itu, karena keinginan Papa dan Mama kala itu, tak pernah didengarkan Teteh sama sekali," cibir Sari sinis, masih saja menyalahkan putrinya. "Cukup, Ma! Jangan makin menyudutkan Teteh dalam masalah ini. Sudah cukup penderitaan yang Bram berikan, jangan ditambah lagi dengan hujatan Mama yang membuat hati ini makin sakit." "Sekarang, setelah semuanya terjadi, anak-anak yang jadi korbannya. Pikirkan lagi, langkah apa yang harus ditempuh ke depan. Bertahan dengan lelaki macam Bram atau melepaskannya." Ada yang mencelus dalam hatinya saat sang ibu mengatakan itu. Terus saja menyudutkannya atas penderitaan yang sudah pasti menyeretnya pula dalam lembah derita. Namun, sebagai perempuan, ia sudah berusaha melakukan hal terbaik yang ia bisa. Menjadi istri sekaligus ibu. Mengabdikan diri pada suami yang ia percaya akan membawa dalam ruang lingkup yang penuh kedamaian. Sayangnya, semua itu hanyalah mimpi belaka, saat kenyataan membuat Zivana harus mengubur impian itu dalam-dalam, karena Bram ternyata tak sejalan dengan pemikirannya. Visi dan misi mereka jelas jauh berbeda. Hingga ia pun pasrah jika takdir kembali membawa dalam sebuah kegagalan berumah tangga. Sudah tak terlihat lagi titik temu, meski sedemikian keras berusaha untuk memperbaiki. Bram tampak tak peduli. Ia lebih mementingkan ego dan kebahagiannya sendiri. Sekarang, pilihannya adalah tetap bertahan atau melepaskan? Keduanya adalah jalan sulit yang harus ia tempuh, sama-sama mengandung risiko. Pikiran Zivana makin kalut memikirkan itu semua? Ia tak bisa berpikir jernih, apalagi memutuskan. Maka, ia pun memutuskan utuk menempuh sebagian perjalanan yang hatinya kini telah retak, bahkan hancur berkeping-keping. "Bunda lagi sedih, ya?" tanya Evalia seraya menghampiri sang bunda yang tengah duduk di sudut ruang tamu. Zivana tersenyum menyambut putri sulungnya yang kemudian duduk di samping sang ibu. "Bunda mikirin Ayah yang udah lama ngga pulang?" tanyanya lagi membuat hati perempuan itu kembali perih memikirkan sangat suami. "Bunda lebih memikirkan kalian, Nak," ucap Zivana sambil mengusap lembut kepala putrinya dengan penuh kasih. "Kakak sama ade-ade jadi beban Bunda, ya?" Polos, gadis kecil itu melontarkan pertanyaan yang seketika membuat kepala Zivana menggeleng cepat. "Tidak, Sayang. Kalian adalah permata hati dan belahan jiwa Bunda. Jangan pernah berpikir jika kalian adalah beban bagi Bunda, ya?" Evalia mengangguk. Mencoba memahami apa yang disampaikan sang ibu. "Ingatlah satu hal, Kak. Sepahit apa pun kehidupan kita saat ini, kalian adalah penyemangat hidup Bunda, yang membuat Bunda bertahan dari segala macam cobaan." "Kakak hanya sedih, karena setiap hari melihat Bunda nangis. Kalau Kakak sama ade-ade adalah penyemangat Bunda, kenapa Bunda tak pernah terlihat bahagia?" Kembali, ucapan polosnya membuat hati Zivana melesak jauh ke dasar hati. Kian perih hingga membuat bulir-bulir air mata tak terasa jatuh menetes. Bagaimana harus menjelaskan pada putri sulungnya itu tentang kesedihan yang ia saat ini? Gadis kecil itu masih terlalu kecil untuk bisa memahami keadaan yang terjadi pada ibunya. Tak mungkin menceritakan tentang permasalahan orang dewasa yang begitu rumit dipahami anak-anak seperti Evalia. Belum waktunya ia menjejali pikiran anak itu tentang arti sebenarnya hidup beserta permasalahan yang mengiringi. Sementara itu, dalam pikiran kecil Evalia, begitu banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan terhadap sang ibu, termasuk tentang ayah kandungnya. Ia sudah cukup besar dan bisa mengerti jika ayah yang selama ini bersamanya, hanyalah ayah sambung. Seumur hidup, tak pernah sekalipun ia diperkenalkan dengan sosok lelaki yang seharusnya menjadi lelaki pertama yang melindungi dan menjaga dari berbagai duka. Namun, ia tak bisa mengungkapkan semua itu terhadap sang ibu. Sudah begitu banyak penderitaan yang dirasakan perempuan yang telah berjuang nyawa untuk melahirkannya, tak ingin lagi menambah beban dengan semua keingintahuan yang selama ini bersarang dalam benaknya. "Maafin Bunda, ya, Sayang. Selama ini Kakak pasti bingung dengan apa yang terjadi dalam hidup kita. Seiring waktu, Kakak akan paham semuanya tanpa harus Bunda jelasin dari sekarang." "Iya, Bun." Hanya itu yang bisa Evalia katakan menanggapi ucapan bundanya. "Ada yang ingin Kakak katakan lagi sama Bunda, Nak?" tanya Zivana menatap lekat manik mata yang selalu mengingatkan pada ayahnya. Evalia menggeleng. Biarlah ia simpan berbagai tanya itu sendiri. Setidaknya, sampai kondisi bundanya terlihat baik-baik saja. Ia ingin memberikan ruang bagi perempuan itu bernapas sejenak, mengeluarkan beban yang selama ini mengimpit d**a, hingga membuatnya sesak. _ "Mungkin sebaiknya, Anda mulai menampakkan diri di hadapan mereka. Sudah saatnya mereka tahu keberadaan Anda selama ini," ucap seorang lelaki berusia dua puluh lima tahun itu kepada lelaki yang duduk di seberang meja. Ia memahami kegelisahan yang dirasakan lelaki yang sejak setahun ini selalu memerintahkannya akan sebuah misi. Namun, ia pun tak punya kuasa penuh untuk mencampuri urusan sang atasan. "Aku tak ingin memperlihatkan jati diriku yang sebenarnya di hadapan mereka. Cukup mengawasinya dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Hanya itu tujuanku sejak awal," ucap si lelaki dengan tubuh tinggi tegap dan suara yang berwibawa. "Apa Anda tidak ingin segera bertemu dengan orang yang selama ini Anda inginkan?" tanya si lelaki lagi membuat atasannya terdiam. "Tentu saja aku sangat ingin bertemu dengannya, tapi aku menahan diri sampai waktunya tiba. Sampai saat itu, kau tetap awasi keluarga mereka. Laporkam setiap gerak-gerik dan yang terjadi dalam hidup keluarga itu," perintah sangat atasan yang langsung menggunakan dapat anggukkan. "Saya akan melaksanakan sesuai perintah Anda, Pak." "Kembalilah ke sana! Jangan sampai ada satu orang pun yang curiga tentang keberadaanmu, karena jika sampai mereka tahu, gagal sudah rencanaku selama ini," imbuh si lelaki itu seraya menatap lekat sebuah pigura yang terletak di atas meja, tepat di hadapannya. Pigura seorang perempuan yang tengah menggendong bayi. Tampak tersenyum bahagia dan kala memandang potret itu, ia seolah merasakan rasa yang sama sebelum akhirnya menyesali perbuatannya. Tak ada lagi percakapan setelah itu. Si lelaki muda tadi segera beranjak pergi setelah mendapatkan perintah seperti biasanya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti perintah itu. Ia hanya berharap, suatu saat sang atasan akan mencapai apa yang sudah direncanakan selama setahun ini. Memastikan keadaan keluarga yang dipantaunya selama ini masih dalam keadaan baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN