Gemuruh di d**a Zivana makin membara mendapati sikap Bram yang tak acuh saat ia membahas kelanjutan rumah tangga mereka. Perempuan itu sudah menahan berbagai pertanyaan sejak sebelumnya.
Ia tak ingin menjalani rumah tangga penuh lindu dan prahara tak berujung. Demi sebuah keputusan, akan kemana nanti pernikahan itu dibawa, harus ada pembicaraan serius lagi dengan suaminya.
Namun, Bram seperti biasanya, tak pernah peduli dan lebih memilih merebahkan diri di atas ranjang selepas membersihkan badan.
"Aku mohon, Bram, kita harus membicarakan hal ini. Kau harus mau meluangkan waktu untuk membahas kelanjutan rumah tangga kita. Tak bisa seperti ini terus, hubungan ini sudah tak sehat," ujar Zivana duduk sambil menghadap suaminya.
Diam. Tak ada reaksi. Zivana menghela napas sejenak sebelum mulai berbicara lagi, "Aku tahu kau belum tidur, Bram. Jika sikapmu seperti ini terus, aku tak segan-segan melayangkan gugatan cerai."
Perempuan itu sempat tersentak saat Bram bangkit dan langsung menatapnya tajam.
"Kau yakin mau menggugat cerai aku?" tanyanya dengan nada sinis.
"Sebagai kepala keluarga, kau sudah hampir tak pernah menafkahi kebutuhan aku dan anak-anak. Setiap kali pulang, uang yang kau berikan hanya cukup untuk beberapa hari saja, selebihnya tak pernah mau peduli kami makan atau tidak. Kau seenaknya menghilang berminggu-minggu, tak ada kabar, dan bersikap seolah apa yang telah kau lakukan itu benar. Mana bentuk tanggung jawabmu sebagai suami dan ayah, Bram?" tanya Zivana menahan emosi yang hampir meluap bersmaaan dengan air atau yang hendak menyeruak.
"Kau saja yang tidak mensyukuri pemberian suami. Aku hanya mampu menafkahi segitu, sementara kebutuhanmu di luar kemampuanku. Apa aku yang salah tak bisa memenuhi keinginanmu itu?"
"Kebutuhanku jelas saja tak pernah melebihi batas, Bram. Hanya cukup untuk makan dan keperluan anak-anak sekolah saja itu sudah cukup. Sementara, apa yang kau berikan selama ini hanya untuk memenuhi makan kami selama beberapa hari saja. Padahal, aku tahu uangmu tak sedikit."
"Lalu, sekarang apa maumu?" tanya lelaki itu seraya menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Aku mau kau bisa lebih bertanggung jawab lagi sebagai kepala keluarga. Kebutuhan hidup kami bukan hanya sekadar untuk makan saja. Sekolah, kalau anak sakit, jajan mereka, dan keperluan rumah juga harus tercukupi. Apa kau memikirkan sejauh itu?"
"Jika itu maumu, maaf, aku tak bisa mencukupinya. Kebutuhanku juga banyak," sela Bram tak acuh.
"Kebutuhanmu yang mana yang lebih penting daripada memenuhi kebutuhan hidup kami?"
"Itu bukan urusanmu. Meski kita suami istri, kau tak berhak sejauh itu mencampuri urusanku, dan mengatur kemana saja pengeluaran uang yang kumiliki."
"Kau egois, keterlaluan kalau berpikir seperti itu. Kau tahu tanggung jawab sebagai kepala keluarga? Menafkahi dan mencukupi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya. Berdosa jika kau tak bisa melakukan itu."
"Kalau tidak mampu melakukanya, mana bisa dipaksakan."
"Entah harus bicara apa lagi agar kau bisa mengerti. Kau benar-benar suami yang pelit, bukan perhitungan. Kau tega menelantarkan kami demi memenuhi ambisi yang kau anggap itu penting. Mengabaikan kehidupan kami hanya demi keegoisanmu semata."
"Kau istri yang tak bersyukur. Sudah untung aku mau memenuhi kehidupanmu dan empat anak. Kau pikir mudah mencari uang? Aku pontang-panting kerja siang dan malam demi mendapatkan penghasilan, apa tak boleh aku pun menikmatinya?"
"Kau berhak menikmati hasil jerih payahmu, tapi setelah kau memenuhi kewajibanmu sebagai kepala keluarga."
"Seenaknya saja kau bicara. Jika aku terus memikirkan kalian, kapan aku bisa memikirkan diriku sendiri. Sudahlah, terima dan syukuri saja apa yang kuberi, jangan bertingkah macam-macam dengan sok-sokan mau menggugat cerai. Bisa apa kamu tanpa aku?"
Hati Zivana kembali nyeri dengan ejekan Bram yang seolah tak bisa berbuat apa-apa tanpa dirinya. Keangkuhan lelaki itu benar-benar telah meruntuhkan harga dirinya. Ia tak terima dan tak bisa tinggal diam begitu saja.
Jika Bram tak bisa memenuhi kewajibannya sebagai suami, ia pun akan bertindak agar tak diperlakukan semena-mena. Demi keempat anaknya, ia harus berjuang untuk memenuhi hak mereka sebagai istri dan anak.
"Inilah yang membuatku malas untuk pulang. Bukannya bisa istirahat dengan tenang, kau selalu saja membuat kepalaku serasa mau pecah. Aku lebih betah tinggal berlama-lama dengan Dayu yang tak pernah menuntut macam-macam. Ia lebih memahami keinginanku."
Hati Zivana terluka dengan ucapan Bram yang membandingkannya dengan perempuan itu. Kehidupan mereka jelas saja berbeda, kebutuhannya pun tak akan sama. Jika ia banyak menuntut, itu karena Bram yang tak pernah mau memenuhi kebutuhan hidup ia dan anak-anak selama ini.
Apalagi ia tak bekerja, tak ada penghasilan yang bisa diandalkan untuk membantu perekonomian keluarga. Maka, tanggung jawab itu jelas diserahkan sepenuhnya pada Bram sebagai kepala keluarga.
"Kau mau kemana?" tanya Zivana saat melihat Bram beranjak, lalu berjalan keluar kamar.
"Malas di rumah, aku mau cari angin segar," katanya enteng. Padahal, masalah keluarganya tengah kritis saat ini, bisa-bisanya lelaki itu seolah tak ada hal yang serius menimpa rumah tangga mereka.
"Kita belum selesai bicara, Bram," ucap Zivana seraya menyusul lelaki itu ke depan rumah.
"Bicara apa lagi? Semuanya sudah jelas, kan? Kau terima saja kodratmu sebagai istri. Kalau kau mau hidup kalian terjamin, ya kerja, cari uang sendiri agar tak menyusahkan suami."
"Seenaknya saja kau mengucapkan itu. Umurku sudah tak muda lagi untuk bekerja. Lagi pula, janjimu untuk bisa memenuhi semua kebutuhanku dan anak-anak saat itu, seharusnya kau tepati, bukan malah lari dari tanggung jawab."
"Apa katamu? Lari dari tanggung jawab? Kau pikir selama ini yang yang kuberi itu bukan bentuk tanggung jawabku pada kalian? Jika kau rasa tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-harinya, aku pikir itu wajar terjadi pada setiap rumah tangga."
"Tapi apa yang kau lakukan sudah keterlaluan, Bram. Kau sudah abai akan kehidupan kami. Mau mati kelaparan pun sepertinya kau tak peduli."
"Cukup, Zivana! Kau yang sudah keterlaluan."
"Aku tak akan bicara seperti ini jika kau mampu menjadi kepala keluarga yang bijak, Bram."
"Aku tak tahu jalan pikiranmu itu, Ziva. Banyak menuntut seakan cari uang itu mudah."
"Bukan hanya tentang uang yang ingin aku bahas, tapi tentang bentuk tanggung jawabmu sebagai suami dan ayah. Banyak yang harus kau pikirkan lagi tentang hal itu."
"Aku pusing. Tak mau terlibat jauh lagi dengan keinginanmu itu."
"Ini yang aku maksud, kau selalu lari dari masalah. Seharusnya kau bisa mengatasi pelik rumah tangga kita agar bisa teratasi dengan baik, jangan malah terkesan lari dari tanggung jawab."
"Hal itu lagi, bosan aku mendengarnya. Cukup ya, Ziva, aku sudah tak ingin membahas hal ini lebih jauh lagi. Kau membuatku tambah pusing."
Lelaki itu kemudian melangkah ke arah teras rumah, Zivana menyusul, ia masih harus mengajak suaminya bicara, karena jika tidak, tak akan ada lagi kesempatannya untuk membahas masalah ini.
Bram akan makin jauh ia jangkau, lari berminggu-minggu dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Mengabaikan ia dan anak-anak.
"Bram ...," panggil Zivana seraya meraih lengan lelaki itu.
"Apa lagi?" bentak Bram menepis tangan Zivana kasar.
"Pembicaraan kita belum selesai, kau jangan bersikap egois."
"Aku bilang sudah cukup, Zivana. Aku sudah muak."
"Apa kau pikir aku pun tak muak dengan tingkahmu yang lebih mementingkan gaya ketimbang anak istri?" teriak Zivana tak bisa menahan emosi. Bram sudah keterlaluan, tak bisa lagi ia hanya berpasrah dengan sikap suaminya.
Perempuan itu tak menyangka akan mendapatkan perlakuan kasar dari Bram. Kepalan tangan kekar itu melayang tanpa ampun, mendarat tepat di mulut mungil Zivana.
Seketika merontokkan gigi-gigi yang berderet rapi, memuncratkan darah segar yang bersimbah dan mengalir begitu saja. Tubuh itu sesaat limbung, merasakan penglihatan samar seperti bayang-bayang, lalu gelap dan tak lagi merasakan apa-apa.
_
"Kau berhak melakukan apa pun yang kau mau, tapi kau harus ingat satu hal, ada yang dipertaruhkan di sana," ucap seorang perempuan yang masih terlihat cantik dan anggun, meski usianya sudah memasuki kepala empat.
"Aku tahu hal itu, makanya tak ingin gegabah. Jika hal itu terjadi, tentu bukan salahku." Lelaki itu seolah diingatkan akan peran yang sebenarnya, tak bisa berbuat sesuka hati.
"Tentu saja itu bukan salahmu, tapi kau tak bisa berdiam diri begitu saja. Seharusnya kau bisa melakukan sesuatu."
"Hatiku masih terluka, tak mungkin bisa melupakan begitu saja perlakuannya padaku."
"Jangan jadikan hatimu diselimuti perasaan yang malah akan merugikan dirimu suatu hari nanti. Bersikaplah bijak dalam menilai masalah. Kau bisa melakukan itu?"
Lelaki itu hanya mengangguk. Membenarkan apa yang dikatakan perempuan di hadapannya. Ia menatap keluar jendela. Pikirannya berkecamuk tak menentu. Ia harus melakukan sesuatu. Tak bisa berdiam diri, sementara ada yang harus dikorbankan di sana.
Lelaki itu menghela napas panjang.