Bukan hanya gigi-gigi Zivana yang rontok akan sikap Bram yang sudah berani main tangan, tetapi hati perempuan itu juga makin merasakan nyeri dengan perlakuan yang di luar dugaannya. Ternyata suaminya sudah berani melakukan kekerasan.
Ia tak bisa lagi bertahan dengan pernikahannya saat pasangan sudah berani main tangan. Meski sebelumnya ia memikirkan anak-anak, tetapi kali ini sudah tak lagi. Ia ingin menyudahi semua penderitaan yang diterima.
Sudah cukup baginya bertahan selama ini dari rasa sakit. Sudah waktunya memutuskan apa yang sudah seharusnya ia lakukan sejak dulu.
Kondisi Zivana sudah mulai membaik. Bengkak di bagian mulutnya memang masih terlihat dan giginya yang lepas di bagian atas tinggal proses penggantian dengan gigi palsu.
Luka dalam hatinya jauh lebih sakit. Perlakuan Bram sungguh tak bisa lagi diampuni. Ia siap melayangkan gugatan cerai setelah keluar dari rumah sakit nanti.
"Kamu serius gugat cerai Bram, Zi?" tanya Dani, kakak lelaki Zivana saat menjenguk keadaan adiknya yang sudah mulai membaik.
"Iya, Kang, jadi," jawab Zivana seraya mengatur posisi tubuhnya lebih tinggi, hingga bisa leluasa berbicara dengan kakaknya.
"Sudah dipikirkan matang-matang? Kalau kau bercerai dengan Bram, bagaimana dengan anak-anakmu nanti?"
Zivana bergeming. Hal itu memang yang selalu dipikirkannya hingga berat untuk memutuskan berpisah dengan suaminya. Namun, perlakuan Bram minggu lalu, sudah sangat keterlaluan. Lelaki yang seharusnya menjadi pelindung, malah tega berbuat tindakan kekerasan.
"Aku sudah memikirkan itu jauh sebelum masalah ini terjadi, Kang. Anak-anak memang yang menjadi alasan tetap bertahan bersama Bram, tapi sikapnya yang sudah berlaku kasar, tak bisa lagi kumaafkan. Bagaimana bisa menjalani rumah tangga dengan lelaki yang sudah berani main tangan. Aku tak mau hal itu menjadi contoh bagi anak-anak jika masih tetap dengannya."
"Jika itu sudah menjadi keputusanmu, Akang hanya bisa mendukung dan mendoakan agar hidupmu lebih baik setelah ini."
"Terima kasih, Kang. Hal itu sudah lebih dari cukup untukku melangkah ke persidangan."
Zivana menghela napas panjang seolah ingin mengeluarkan semua beban. Langkah ini adalah awal dari kisah perjalanan hidupnya dengan anak-anak.
Ada kekhwatiran saat memikirkan perpisahan dengan suaminya. Bagaimana kehidupannya nanti setelah menjanda untuk yang kedua kali? Bagaimana pula dengan anak-anak yang otomatis makin jauh dari kasih sayang dan perhatian ayahnya?"
Ah, memikirkannya saja sudah membuat d**a Zivana sesak. Memang banyak ketakutan yang menguasai jiwa, tetapi tekad untuk tetap berpisah dengan Bram tak bisa ditawar lagi. Lelaki itu sudah tak layak menjadi suami.
Mungkin sebagai ayah, ia masih memberikan kesempatan untuk bisa mengubah sikap agar lebih hangat dengan anak-anak, tetapi sebagai suami, lelaki itu tak punya lagi peluang untuk bisa kembali membina rumah tangga dengannya.
Zivana sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Beban yang masih menggelayut karena permasalahan rumah tangganya yang belum selesai, sedikit memengaruhi kondisi pemulihannya.
Ia jadi kurang makan. Jangankan untuk menelan makanan, mengurus anak-anaknya saja mulai terbengkalai. Seperti tak ada kekuatan meski hanya untuk bangkit dari tempat tidur.
Gugatan cerai yang sudah dilayangkan ke Pengadilan Agama Majalengka, sudah mulai diproses. Namun, sejak kasus pemukulan itu, Bram belum kelihatan batang hidungnya. Seperti biasa, ia seperti hilang ditelan bumi, tak bisa dihubungi.
Menurut teman-teman dekatnya, lelaki itu memang sudah tak terlihat sejak beberapa Minggu lalu, baik di tempat biasa ia nongkrong atau tempat yang biasa dikunjungi.
Terpaksa Zivana menyuruh orang untuk mencarinya di rumah Dayu, tetapi lelaki itu tak ada. Entah kemana perginya. Masih takutkah dengan apa yang telah dilakukan padanya?
Hingga untuk meminta maaf saja sulit dilakukan. Ketidakhadiran Bram, sedikit menghambat jalannya proses cerai, karena ada berkas yang harus ditandatangani lelaki itu.
Zivana tak tinggal diam, ia menghubungi Mami, ibunya Bram beserta keluarga yang biasa dikontak lelaki itu. Usahanya membuahkan hasil. Bram berhasil dihubungi dan terpaksa diseret pulang oleh Dani dan Amran, adik lelaki Zivana di rumah ibunya.
Bram tak berkutik. Ia seperti kerbau yang dicucuk hidung saat keluarga Zivana menyudutkan dan menyalahkannya.
"Maafkan aku, Kang. Aku benar-benar khilaf memukul Ziva saat itu," ucap Bram terlihat menyesal.
"Minta maaf sama Ziva. Lukanya tak akan pernah hilang meski gigi-gigi itu sudah bisa dipasang dengan gigi palsu," ucap Dani sinis.
"Kalau ngga lihat anak-anak, aku sudah pukul kamu abis-abisan, Bram," geram Amran sambil mengepalkan tangan. Amarahnya memuncak dengan perlakuan Bram yang sudah berani memukul kakaknya.
"Aku pasrah. Mengakui salah dan siap bertanggung jawab," ucap Bram penuh ketakutan.
"Tanggung jawab apa? Selama ini saja kau sudah tak bisa memenuhi tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga. Di saat masalah seperti ini terjadi, apa yang mau kau lakukan?" tanya Dani menyelidik.
"Saya tidak akan mengulangi lagi kesalahan kemarin. Saya akan berubah dan lebih peduli terhadap istri dan anak-anak, Kang," janji Bram membuat Amran berdecih.
"Janji saja yang kau umbar, tak pernah bisa menepatinya dengan benar," sindir Amran sambil mengalihkan pandangannya.
"Aku tak ingin lagi mempertahankan pernikahan. Tanda tangani saja surat gugatan cerai ini." Tiba-tiba Zivana keluar dari kamar sambil membawa berkas gugatan pisah yang sudah lama ia tanda tangani.
"Kau serius mau menggugat cerai aku, Zi?" tanya Bram masih belum bisa menerima keputusan istrinya itu.
"Ya, sudah tak ada lagi sisa apa pun dalam pernikahan kita. Soal anak-anak, aku tak menghalangi jika kau ingin menemui mereka." Zivana berkata tegas, Solah ingin meyakinkan hatinya jika ia bisa lebih tegar dengan keputusan itu, sekaligus ingin memperlihatkannya pada Bram yang selama ini menganggpanya lemah.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita, Zi," sesal lelaki itu seraya memohon-mohon.
"Sudah berkali-kali aku memberikanmu kesempatan, Bram, tapi kau selalu menyia-nyiakannya percuma. Aku sudah lelah, tak ingin lagi melanjutkan hubungan yang sudah tak sehat lagi."
"Pikirkanlah anak-anak. Mereka masih terlalu kecil jika kita harus berpisah."
"Justru karena aku memikirkan mereka, akhirnya aku harus memutuskan ini. Jalan terbaik bagi kita adalah perpisahan," imbuh perempuan itu tegas. Tak akan ada lagi kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya.
Bram telah menyia-nyiakan banyak kesempatan yang ia berikan. Kini saatnya harus memutuskan tanpa berpikir panjang.
Bram tak bicara lagi. Ia menunduk dalam penyesalan.
Entah benar-benar menyesal atau hanya kepura-puraan. Zivana tak bisa membedakan itu. Ia sudah terbiasa dengan kebohongan lelaki itu dan sudah tak lagi peduli dengan apa yang dilakukan ayah dari anak-anaknya itu.
Dengan berat Hati, Bram pun menandatangani surat gugatan pisah. Tak ada lagi yang tersisa selain luka dan penyesalan dalam hati Zivana. Meski ia sendiri yang memutuskan untuk menikah dengan lelaki itu, tetapi ia menyesali harus mendapat perlakuan tak menyenangkan darinya.
Bulir bening menyeruak dari sepasang netra redup itu. Bagaimanapun, ia pernah menjalani biduk rumah tangga bersama Bram, pasti ada sekelumit kenangan manis yang pernah mereka cipta bersama.
Ada sakit yang merayap menyesali d**a. Akhir dari pernikahan yang tak dipikirkan dengan matang itu harus berujung dalam selembar surat cerai. Kini, ia siap menyandang status janda beranak empat.
_
"Aku tak berharap hal ini terjadi, tapi apa yang terjadi adalah hasil yang kau tuai dan kau harus mempertanggungjawabkannya," gumam lelaki itu seraya menatap keluar jendela kamarnya.
"Ingin aku mengobati luka itu, tapi aku pun tak tahu, cara apa untuk bisa mengobati rasa sakit yang kau derita. Kau tak pernah memberi ruang dalam hatimu untukku bisa masuk ke sana dan sedikit mengobati perih yang kau alami. Seandainya saja kau tahu dan memahami, betapa cinta ini tak pernah mati."
Ada perih menjalar dalam hatinya. Pernah, suatu ketika kebahagiaan menghampiri. Dengan ketulusan cinta yang ia punya, semua terasa indah, tanpa kepura-puraan. Namun, semua sirna karena satu kesalahan.
Ia pun menyesal dan ingin memperbaiki keadaan, tetapi semua sudah terlambat. Ia terlempar dalam ruang gelap dan sepi saat tak ada lagu kesempatan yang diberikan. Meratapi nasib dalam penyesalan yang tak berkesudahan.